GEN Z. GENERASI TOLOL
Di media sosial, video "tes matematika dadakan" selalu jadi ajang buat ngetawain Gen Z. Saat mereka gagap ngitung tujuh kali delapan atau bingung pada soal penambahan dan pengurangan, kolom komentar langsung penuh dengan makian: "Generasi tolol!" atau "Generasi malas!"
Mari kita telaah lagi lebih dalam. Benarkah mereka tolol? Saya nggak setuju.
Kita dulu jago ngitung luar kepala bukan karena kita lebih pinter, tapi karena kita "disiksa" sistem. Dulu kita disuruh berdiri di depan kelas ditanya guru tentang perkalian. Gak bisa jawab? Cetar! Telapak tangan kita dihajar pakai penggaris. Malu? Pastinya. Itu sebabnya kita terpaksa belajar menghitung di luar kepala. Tuntutan zamannya memang begitu.
Sekarang? Pelajaran kayak gitu sudah dianggap fosil. Sekolah merasa hal itu nggak relevan lagi. Sama halnya dengan tulisan tangan mereka yang sering diejek kayak cakar ayam. Mereka bukan nggak mampu, tapi mereka tumbuh di era di mana jempol lebih sering menari di layar HP daripada jari menjepit pulpen.
Ada juga HRD yang curhat di medsos, ngeluh soal Gen Z. Saat diwawancara, mereka bilang gak mau dateng ke kantor tiap hari dan minta di hari-hari tertentu kerja dari rumah.
Buat para HRD ini indikasi malas dan mau kerja seenaknya. Padahal, ini adalah cara pikir yang sangat logis dan efisien. Kalau tujuan akhirnya adalah hasil kerja, buat apa buang waktu dua jam di jalan cuma buat duduk di kursi yang sama?
Kesimpulannya: Kita mengejek mereka karena nggak jago di hal-hal yang sebenarnya sudah nggak dibutuhkan lagi di dunia nyata. Termasuk keharusan hadir secara fisik di zaman digital.
Kalau kita bedah pakai neurosains, ini sebenarnya tanda otak mereka sangat cerdas dalam mengelola energi. Neokorteks manusia itu organ yang sangat pelit energi; dia nggak akan mempertahankan kemampuan yang sudah bisa dikerjakan oleh teknologi. Otak punya prinsip neuroplasticity: apa yang nggak dipakai, bakal dipangkas (pruning).
Karena sekarang semua jawaban ada di kantong celana, neokorteks anak muda secara otomatis membuang sirkuit saraf buat "kerja kasar mental" seperti aritmatika dasar atau menulis indah.
Kapasitas kognitif yang tadinya habis buat hafal tabel perkalian, sekarang dialihkan buat hal yang lebih krusial: memproses arus informasi digital yang seliweran tiap detik dan navigasi sistem yang kompleks.
Mereka melakukan cognitive offloading alias memindahkan beban memori ke gadget supaya otak punya ruang lebih luas buat berpikir strategis dan kreatif. Jadi, mereka bukan tolol; otak mereka cuma lagi melakukan efisiensi besar-besaran agar nggak habis buat hal-hal receh yang sudah ada solusinya di HP.
Menyebut mereka tolol karena tulisan jelek atau nggak bisa ngitung cepat itu ibarat ngejek chef karena dia nggak bisa nyambel pake cobek. Padahal memang lebih efisien pakai blender.
Kita terjebak bangga sama "penderitaan" masa lalu yang harus serba manual, padahal itu cuma masalah tuntutan zaman yang sudah lewat. Kita merasa superior karena bisa ngitung di luar kepala, padahal itu adalah tugas receh kalkulator. Anak muda sekarang sudah bebas dari beban kognitif jadul itu.
By the way, saya nggak pernah percaya perilaku dan kecerdasan manusia bisa dikelompokkan cuma berdasarkan label "Gen Z", "Millennial", atau "Boomer". Itu sebenarnya cara malas buat memahami manusia. Terlalu menyederhanakan masalah.
Intelegensia nggak bisa dikotak-kotakkan pakai tahun lahir; itu cuma alat pemasaran biar iklan lebih gampang dijual. Jadi, siapa sebenarnya yang ketinggalan? Kita yang bangga jago di hal yang sudah digantikan chip, atau mereka yang fokus mengendalikan masa depan?
Berhenti merasa pintar hanya karena kita bisa melakukan apa yang mesin lakukan lebih baik dari kita. Karena pada akhirnya, dunia nggak butuh tulisan tangan yang bagus atau label generasi, Dunia butuh otak yang bisa bikin perubahan.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



