REVOLUSI MENTAL DI ATAS REL

REVOLUSI MENTAL DI ATAS REL

Saya gak pernah menyangka, di usia sekarang, saya akan resmi menyandang gelar "Anker" alias Anak Kereta. Ke mana-mana sekarang andalan saya adalah LRT dan MRT. Mobil lebih banyak terparkir di garasi, kalah pamor dengan efisiensi transportasi publik.

Ada perasaan merdeka yang unik saat bisa membelah kemacetan Jakarta tanpa harus lelah menginjak pedal gas. Di dalam gerbong yang dingin dan melaju stabil itu, saya merasa sedang berada di masa depan yang akhirnya tiba di Jakarta.

Namun, yang membuat saya takjub bukan hanya kecanggihan teknologinya, tapi juga perilaku manusianya. Di peron saat jam sibuk: orang-orang antre rapi di belakang garis. Di eskalator, sebuah hukum tidak tertulis dipatuhi dengan sakral; berdiri diam di sisi kiri, dan membiarkan sisi kanan kosong untuk mereka yang harus mengejar waktu.

Buat saya ini luar biasa. Biasanya orang Jakarta gak ada sungkan2nya melanggar peraturan. Pemotor dengan semena-mena naik ke trotoar. Di Jalan Tol, mobil2 lewat bahu jalan. Lampu merah diterjang. Bahkan jalan satu arah diterobos. Ampun deh...

Kenapa di LRT dan MRT semua orang mendadak jadi disiplin? Bukan! Ini bukan hijrah masal. Secara neurosains, fenomena ini dapat dijelaskan melalui mekanisme Contextual Priming. Lingkungan yang bersih, modern, dan teratur mengirimkan sinyal kuat ke prefrontal cortex kita untuk mengaktifkan mode kendali diri.

Saat mata menangkap keteraturan visual, otak secara otomatis menekan impuls primitif untuk berebut. Kita menjadi disiplin bukan karena ancaman hukuman, melainkan karena otak kita melakukan adaptasi sosial agar selaras dengan standar lingkungan yang ada.

Di sinilah berlaku Broken Windows Theory (Teori Jendela Pecah). Teori ini menyebutkan bahwa jika satu jendela pecah dibiarkan tanpa diperbaiki, orang akan merasa tidak apa-apa untuk memecahkan jendela-jendela lainnya.

LRT dan MRT menjaga "jendela"-nya tetap utuh dan bersih sejak hari pertama, tidak ada celah bagi masyarakat untuk memulai kekacauan. Sekali kita membiarkan pelanggaran kecil dianggap sebagai kewajaran, otak publik akan mencatatnya sebagai kebenaran baru yang menyesatkan.

Bagaimana kalo kita bandingin dengan KRL Commuter Line?

Meskipun KRL saat ini sudah sangat membaik, tingkat kedisiplinannya belum semaksimal dibanding "saudara mudanya". LRT dan MRT adalah anak yang baru terlahir. Keduanya tidak memiliki warisan kekacauan masa lalu.

Mereka tidak punya memori kolektif tentang pedagang asongan yang masuk ke gerbong, aroma pesing di stasiun, ancaman copet atau pemandangan mengerikan orang-orang yang bertaruh nyawa duduk di atas atap kereta.

Alasan lainnya, KRL adalah transportasi "sejuta umat" dengan harga yang sangat terjangkau dan jangkauan yang sangat luas dari segala penjuru. Akibatnya, pada jam kantor, kepadatan di peron KRL audzubillah.

Ketika ruang personal terhimpit dan rasa takut tidak terangkut muncul, otak manusia secara alami masuk ke mode bertahan hidup (survival mode). Dalam kondisi sesak yang ekstrem, prefrontal cortex yang mengatur logika disiplin terkalahkan oleh amygdala yang memerintahkan kita untuk berdesak-desakan masuk,

Dalam ilmu perilaku, terdapat konsep Path Dependency, sejarah itu mengikat. KRL harus bekerja sepuluh kali lipat lebih keras karena mereka harus "membongkar" sisa-sisa trauma dan kebiasaan lama yang sudah karatan di jalur saraf masyarakat.

Ini pelajaran berharga: disiplin harus ditanamkan secara mutlak sejak hari pertama, sejak baut pertama dipasang. Membangun peradaban jauh lebih mudah dimulai dari nol daripada memperbaiki kesemrawutan.

Ternyata rakyat kita bukan tidak bisa disiplin. Mereka hanya terlalu lama hidup di sistem yang memberi privilege pada kekacauan. Fenomena LRT dan MRT adalah bukti bahwa sebuah sistem yang tertib harus dibangun sejak hari pertama. Jangan pernah berkompromi pada kekacauan, sekecil apa pun.

 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.