Kunjungan Situs

Tulisan ini pernah ditayangkan di Catatankaki.net pada 15 Desember 2024, dengan judul: Menggali Candi-candi Muarajambi (Catatan Perjalanan dari Borobudur Writers & Cultural Festival ke-13)

Kunjungan Situs
 
Siang sehabis ceramah umum oleh Seno Gumira Ajidarma, di hari terakhir Borobudur Writers & Culture Festival ke-13 di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, beberapa orang tampak masih tetap duduk di tenda di mana ceramah tadi berlangsung. Selang beberapa waktu, dari luar mulai terdengar pengumuman, bahwa Podium Sastra-3 akan segera dimulai. Dalam waktu yang agak bersamaan, di dalam tenda terjadi gerakan yang luar biasa. Dalam arti, sejumlah anak-anak muda berbaju kaos BWCF crew tiba-tiba dengan sigap mengangkuti kursi-kursi dari dalam tenda dan dibawa keluar.
 
“Lho, tendanya sudah mau dibubarkan ya,” tanyaku cemas sebab masih ingin melanjutkan istirahat sejenak sebelum ke podium sastra.
 
“Tidak, bu, kursi-kursinya saja yang mau dipindahkan, buat penutupan malam nanti di depan Candi Kedaton,” jelas seseorang.
 
“Oooh…,” sambutku sambil berdiri dari kursi yang kududuki.
 
Semua orang yang semula masih duduk-duduk di kursi juga berdiri, karena tak mau menyusahkan kerja anak-anak yang hendak mengangkuti kursi-kursi. Mereka lalu keluar dari tenda, dan sepertinya, melihat mereka berbelok ke arah kanan, mereka menuju ke panggung podium sastra di tengah-tengah lapangan rumput Candi Kedaton –ceramah umum tadi berlangsung di halaman luar candi yang sama.
 
Tak semua keluar sebenarnya. Tiga orang peserta alih-alih keluar malah melanjutkan duduk-duduk di panggung dalam tenda. Aku salah satunya. Dua orang lagi aku spill ya nama-namanya: Riama dan Pipit. Hehehe…
 
Kami bertiga lalu berbincang-bincang santai. Membicarakan hal-hal dari yang penting sampai yang tak penting namun menyenangkan hati. Pada intinya, kami hanya lelah. Jadi, masih ingin menunda hadir di arena podium sastra sebentar lagi.
 
“Eh, katanya mau antar ke Candi Gumpung,” tiba-tiba Riama berucap ke salah satu anak muda yang berseragam BWCF crew –kalau tak salah ia adalah Raffi.
 
“Mau donk ikut,” Pipit dan aku nimbrung tak mau rugi.
 
“Ada teman lain dua orang yang bisa antar juga?” tanya Riama akomodatif.
 
“Eh, jangan ah, mereka lagi kerja, kan,” kataku sok prihatin tapi rasanya mupeng-ku kelihatan sekali.
 
“Tidak apa-apa, kami sudah selesai,” anak itu berkata. “Saya cari teman dulu, ya.”
 
“Asiiik…,” seruku dengan bahagia.
 
Tahu-tahu, kami bertiga sudah meluncur digoncengi motor. Masing-masing di satu motor, bukan satu motor bertiga lho. Riama dengan Taufik, Pipit dengan Raffi, dan aku bersama Jorgi.
 
Kenapa tidak menyetir motor sendiri? Ya maaf, bukan hanya karena kami ini sejenis princess yang tak bisa mengendarai sepeda motor atau sepeda listrik. Tapi, KCBN Muarajambi ini tidak seperti, misalnya, Candi Borobudur dan kompleks Candi Prambanan yang sudah pasti ke mana jalanannya yang beraspal mengarah. Lingkungan sekeliling KCBN Muarajambi adalah hutan liar. Kalau tersasar, ya tersasar saja di tengah hutan. Tak bisa memanggil ojol. Pun masih banyak binatang liar yang hidup di situ, dari kera sampai ular. Dan, entah apa lagi.
 
Candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Pariduku. Sewaktu Dr. Agus Widiatmoko, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Kota Jambi, memaparkan ceramahnya, beliau bercerita tentang salah satu candi yang baru selesai dipugar. Kami para peserta sudah tahu dan sudah melihat akar-akar yang menembus badan dan tembok candi di Candi Kotomahligai. Tapi, ada satu candi yang menurut cerita Pak Agus mempunyai cerita sendiri yang serupa tapi tak sama.
 
“Kalau candi yang satu ini, setelah selesai pemugaran, pohon-pohon besarnya jadi seperti tumbuh dalam pot raksasa,” kata Pak Agus dalam ceramahnya di hari pertama BWCF 13.
 
Rupanya, yang dimaksud oleh Pak Agus adalah Candi Pariduku yang baru selesai dipugar. Waw, ketika mendengar ucapan Pak Agus, saya membayangkannya seperti pohon-pohon biasa yang ditanam di rumah teman-teman saya, yang hobi bertanam tapi tak mempunyai lahan cukup sehingga menanamnya di dalam pot. Paling-paling ketinggiannya sekitar semeter atau dua meter. Nah, di Pariduku ini, pohonnya tinggi sekali. Namanya juga tanaman keras, pohon kayu. Ia tumbuh di atas sebentuk susunan atau struktur batu bata, dan menjulang tegak lurus menunjuk langit. Pohon raksasa di pot raksasa.
 
“Oh, ini candi yang disebut-sebut Pak Agus, yang pepohonannya bagaikan tumbuh dalam pot,” seruku seperti mendapat pencerahan.
 
“Iya, bu,” jawab Jorgi, BWCF crew yang tadi memboncengiku.
 
Ia tak sekedar mengiyakan, ia lalu juga menjelaskan berbagai hal tentang Pariduku khususnya, dan KCBN Muarajambi pada umumnya.
 
“Wah, kamu tahu banyak! Sudah pas jadi pemandu wisata!” seruku kagum.
 
Jorgi yang asli Muarojambi lalu menjelaskan bahwa dia memang sudah biasa memandu tamu. Aktif pula membuat konten tentang kompleks candi ini. Ah iya, saya ingat, dalam film dokumenter Unearthing Muarajambi Temples produksi Kalyana Shira Foundation, ada adegan di mana sekelompok anak muda belajar membuat konten tentang Muarajambi. Salah satunya pasti adalah Jorgi! –maaf kalau salah ya, Jorgi.
 
Di Candi Pariduku itu kami bertiga yang peserta BWCF 13 ’24 menjadi seperti anak kecil yang bahagia karena keinginannya terpenuhi. Kami merinding-merinding, karena terharu melihat kemegahan tinggalan arkeologi tersebut. Ah, sungguh kami bersyukur bisa melihat kemegahan ini dengan mata kepala kami sendiri!
 
Koq aku rasanya seperti putri yang pulang kembali ke rumahnya yang sudah lama ditinggalkan ya,” kata Pipit dengan terharu.
 
Ah, saya paham perasaannya yang membucah itu, yang diucapkan seperti bercanda padahal saya yakin ia serius sekali.
 
Belum puas mata dan hati melahap suasana sekitar dan berfoto-foto, kami sudah harus meninggalkan Candi Pariduku. Masih banyak lagi candi yang hendak kami lihat. Setiap candi yang ditawarkan untuk kami kunjungi oleh pengantar kami; Jorgi, Raffi, dan Taufik; kami mau semua. Tak ada yang kami tolak. Duh…
 
Tujuan berikut adalah Candi Gedong I dan II. Dua kompleks candi yang berdekatan ini masing-masing areanya sangat luas. Semula kami hanya memandang dari luar saja, tapi Raffi cs. tanpa ragu mengajak kami untuk masuk ke area dalam. Maka kami pun masuk, melewati gerbang bertangga yang terbuat dari batu bata.
 
“Memangnya bata-batanya boleh diinjak?” tanya kami karena ragu.
 
Ternyata, boleh. Masuklah kami ke ruang dalam Candi Gedong I. Kami sebut ruang, tapi sebenarnya dindingnya tidak tertutup. Di tengah-tengahnya kulihat ada struktur batu bata persegi yang sangat besar, dan kebetulan saat itu di atasnya ada tiga ekor anjing yang sedang bersantai menikmati sore.
 
“Hallo,” sapaku sok ramah pada tiga anjing itu, tapi bukan saja tak ada yang menjawab, mereka malah membuang muka. “Permisi ya,” kataku sambil melanjutkan langkahku di hamparan rumput.
 
Kami bertiga sibuk mengagumi keagungan lokasi purba itu. Pipit mengulang lagi kata-katanya tentang dirinya yang merasa bagaikan seorang putri yang pulang ke rumahnya. Aku mengiyakan. Siapa sih yang nggak akan menjadi syahdu saat berada di situasi yang luar biasa dan megah ini?
 
“Itu bu, yang tadi saya sebut menapo,” kata Jorgi sambil menunjuk ke sebuah bukit kecil di bagian luar struktur Candi Gedong I. Bukit kecil itu penuh ditumbuhi pepohonan.
 
Menapo adalah sebutan untuk gundukan tanah yang mengandung reruntuhan batu bata kuno. Atau, kalau memakai kata-kata Jorgi, “Menapo itu gundukan tanah yang belum digali.”
 
Maksudnya belum digali adalah, penggalian arkeologi belum pernah dilakukan di situ. “Candi-candi di sini umumnya merupakan menapo sebelum digali dan lalu dipugar,” kata Jorgi lagi.
 
“Di Candi Gedong II pernah ditemukan arca Dwarapala andesit lho,” Raffi dan Taufik menjelaskan pada kami yang tengah terbengong-bengong melihat keindahan Candi Gedong I.
 
Candi Gedong II lokasinya berada di sebelah barat Gedong I, kira-kira 150 meter saja jauhnya. Arca tersebut ditemukan saat berlangsungnya ekskavasi arkeologi di depan reruntuhan gapura.
 
“Tetapi,” sambung Raffi lagi, “Dwarapala yang ini wajahnya ramah, dia tersenyum.”
 
“Ada dua ya? Sepasang?” tanyaku.
 
Pertanyaanku ini didasarkan pada pengetahuan bahwa arca Dwarapala biasanya ditemukan sepasang, penjaga kiri dan kanan pintu atau gerbang masuk ke sebuah candi. Itu yang di Pulau Jawa. Biasa digambarkan sebagai raksasa berperut besar, dengan mata melotot. Mulutnya yang bertaring menyeringai seram. Terbuat dari batu andesit.
 
Sebagai penjaga, ia sering digambarkan memegang berbagai senjata seperti pedang atau gada. Posisi duduknya jengkeng, satu kaki dengan lutut menempel di lantai sementara kaki lainnya dalam posisi jongkok. Satu telapak tangan, yang tak memegang senjata, biasanya terletak di atas lutut yang berjongkok.
 
Penggambaran di atas adalah Dwarapala di Jawa. Sementara, arca Dwarapala dari Gedong II ini posisinya berdiri. Satu tangan memegang gada, satu lagi menggenggam perisai. Tak hanya berwajah ramah dan tersenyum, ia pun tampak lebih sederhana penampilannya dibandingkan dengan rekannya di Pulau Jawa, yang biasanya berhiasan raya. Dwarapala di Jawa digambarkan dengan perhiasan lengkap. Memakai mahkota, gelang-gelang di kaki dan di tangan termasuk kelat bahu, dan lainnya.
 
Dwarapala tunggal Gedong II sementara ini disimpan di kantor BPK Wilayah V Kota Jambi. Apabila museum di Muarajambi sudah selesai dibangun, maka rencananya di situlah si Dwarapala akan disemayamkan.
 
Oh, ada juga yang menarik kulihat di Candi Gedong. Sebuah struktur persegi yang terbuat dari bata juga, seperti kolam kecil tak dalam, dengan dasar yang cekung. Bathup kah? Haha, tidak tahu juga. Jorgi menjelaskan bahwa struktur itu ditemukan saat dilakukan ekskavasi (penggalian) arkeologi di situ.
 
Hati sebenarnya belum puas menghirup nafas di Candi Gedong, tapi perjalanan harus dilanjutkan. Banyak candi yang masih ingin kami lihat. Yah, tentu saja kami tidak bakal sempat mengunjungi seluruh candi di kompleks yang seluas 3.981 hektar ini. Karena keterbatasan waktu, candi-candi yang ditawarkan oleh adik-adik BWCF crew pada kami adalah ke candi-candi yang tak terlalu menjauh dari Candi Kedaton.
 
“Jambu bol!” seruku saat kami hendak beranjak meninggalkan Candi Gedong.
 
“Mau, ya?” tanya Raffi yang segera meraih galah berpisau yang tersandar di pohon jambu bol itu. Beberapa buah jambu bol jatuh dipetiknya.
 
“Sepet!” kataku setelah mengigit sebuah. “Sudahlah, lupakan!”
 
Pepohonan di kompleks Muarajambi ini sepertinya kebanyakan merupakan pohon buah-buahan. Sayangnya, sedang bukan musimnya. Kalau iya, buah duku bisa sangat berlimpah. Cerita seorang teman di Jakarta, kalau sedang musim duku di Muarojambi, takkan habis-habisnya kita makan buah itu. Sampai-sampai melihat buahnya saja sudah muak. Duku itu kesukaanku, jadi kupikir aku mungkin malahan akan merasa berada di surga tertinggi kalau sedang musim duku di situ.
 
Tapi saya bersyukur bahwa di sini sedang tidak musim durian. Pertama, sungguh saya takut tertiban durian yang kulitnya tajam-tajam apabila ia jatuh. Kedua, duh, aromanya bisa bikin saya puyeng! Ya, saya tak suka durian!
 
Kembali ke pokok persoalan, kami semua melanjutkan perjalanan untuk sowan ke Candi Gumpung dan Gumpung 1; Candi Tinggi dan Tinggi 1. Perjalanan yang menyenangkan, sambil melewati kanal-kanal purba, dan telaga yang juga purba bernama Kolam Telagorajo di dekat Candi Tinggi 1.
 
Di empat candi ini, kunjungan dilakukan dengan cepat. Berhubung hari semakin mendekati magrib. Gerimis yang sempat turun pun tak kami pedulikan. Untung alam berbaik hati dan gerimis berhenti tanpa sempat menjadi hujan deras. Hadiah yang luar biasa dari semesta bagi kami para pencari ketenangan hati dengan melihat candi-candi!
 
Lambang dari BWCF 13 adalah sesosok arca tak berkepala dan tanpa kedua lengannya. Itu adalah sosok arca Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan dalam aliran Buddha Mahayana, yang ditemukan di Candi Gumpung. Sosok arca ini mirip sekali dengan arca Prajnaparamita yang berasal dari Singasari, yang disimpan di Museum Nasional Indonesia (MNI) di Jakarta. Bedanya, arca Prajnaparamita dari Muarajambi ini tak memiliki sandaran seperti yang berada di MNI.
 
Prajnaparamita tanpa kepala ini merupakan satu dari sejumlah temuan penting di Candi Gumpung. Temuan penting lainnya antara lain adalah peripih benda-benda ritual upacara yang terbuat dari emas, perunggu, dan batu permata —peripih adalah benda-benda isian yang berada dalam sebentuk wadah, dan biasa ditemukan di candi-candi.
 
Seperti juga arca Dwarapala dari Candi Gedong, arca Prajnaparamita dan temuan peripih dari Candi Gumpung sementara ini juga disimpan di kantor BPK Wilayah V Kota Jambi.
 
Masih ada satu lagi candi yang sempat kami lihat tanpa mampir, Candi Kembar Batu. Berada di sebelah utara Candi Tinggi. Kami hanya lewat. Gerimis memang sudah tuntas, tapi matahari sudah dekat dengan peraduannya. Dari atas motor yang berjalan perlahan, kami memuaskan mata memandang candi terakhir buat kami ini. Sebelum kemudian menelusuri jalan di sepanjang Sungai Batanghari Kembali menuju Candi Kedaton, untuk malam penutupan Borobudur Writers & Cultural Festival ke-13 ini. Yak, kembali keseharian yang juga sudah hampir selesai…
 
Sangat perlu diketahui bahwa kunjungan situs ini bukanlah bagian dari program resmi BWCF 13. Meski begitu, ini adalah hasil yang positif dari festival itu. Riama dan Putri memang sudah saling kenal sebelum menjadi peserta BWCF 13, tapi mereka dan saya tidak saling tahu sebelumnya. Setelah beberapa hari bersama, tiba-tiba saja kami bersatu niat untuk lebih banyak tahu dan kenal KCBN Muarajambi.
 
Kunjungan bersama ini pun bukan rencana yang dipersiapkan matang-matang. Mendadak saja. Kami mengorbankan waktu yang seharusnya kami pakai di Podium Sastra 3. Maaf ya panitia dan terutama para penyair pengisi acara di situ. Tapi, kami tahu, pasti enerji di Podium Sastra 3 sangat baik, seperti di dua podium sebelumnya.  =^.^=
 
 
Catatan:
Terima kasih untuk teman perjalanan kunjungan situs tak resmi ini, yang telah membantu ingatan saya untuk dapat menyusun catatan perjalanan ini. Kru BWCF 13 Jorgi, Taufik, Raffi; lalu sesama peserta Riama dan Pipit. Salam Damai!
 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.