Makan Malam Bersama Sunyi

Namaku Sunyi. Lebih dari sepuluh tahun ini aku memilih hidup dalam kepura-puraan dan pura-pura hidup. Kini aku ingin mengakhiri semuanya dengan bercerita. Hanya saja, aku lupa cara bercerita dengan jujur.

Makan Malam Bersama Sunyi
Foto: pixabay

Malam ini aku menyiapkan kentang kukus dan beberapa sayur mentah untuk makan malam kami. Kuserut wortel, kubelah dua tomat cherry, dan kurobek romaine. Kuaduk dua sendok makan minyak kelapa dengan perasan jeruk nipis dan sejumput pink himalayan. Kupotong fetta menjadi kotak dadu kecil. Kucampur sayuran dengan dressing di sebuah mangkuk bening.

"Bunda, aku boleh nambah?" tanya Bino kepadaku. Aku memandangnya dan mengangguk.

"Ayah juga mau," ujar suamiku bergegas mendahului Bino. Keduanya tertawa-tawa berebut makanan.

Kami duduk bertiga di ruang makan. Sekarang sudah pukul tujuh malam lebih lima belas menit. Jam makan malam.

"Bunda mau nambah?" tanya Bino kepadaku. Aku menggeleng. Aku terpekur menatap piringku yang sudah bersih sejak beberapa menit yang lalu. Sambil diam aku menunggu mereka selesai makan. Dalam hati aku menghitung waktu.

"Bunda, sejak kapan Bunda tidak bisa bicara?" tanya Bino pada menit kesekian seusai dia minta izin menambah makanannya. Pertanyaan yang sama setiap malam, sejak ia naik kelas tiga SD, hampir tiga tahun yang lalu.

Sayup-sayup kudengar suamiku mewakiliku menjawab pertanyaan Bino. Suaranya bagaikan suara kaset rusak di zamanku kecil dulu. Ia akan memulai cerita dari sejak kami pertama kali bertemu, diakhiri dengan kecelakaan yang kualami.

Sambil mendengar cerita ayahnya, Bino menatapku tak berkedip. Biasanya ia hanya akan diam, kemudian menyelesaikan makannya.

"Benarkah begitu, Bunda?" Bino memandangiku dengan mata bulatnya.

Aku terkejut dalam diamku.

"Tentu saja benar, Nak," ujar ayahnya dengan nada sedikit naik. "Sudah, selesaikan makanmu. Bosan Ayah menjawab pertanyaanmu yang sama tiap malam."

Namaku Sunyi, dan aku ingin bercerita yang sebenarnya terjadi. (rase)

-bersambung-