Komunikasi dalam Perspektif Sumber Masalah Sekaligus Medium Perdamaian

Semua masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi.

Komunikasi dalam Perspektif  Sumber Masalah Sekaligus Medium Perdamaian

Bahasa merupakan sebuah jembatan antara satu individu dengan individu lainnya untuk saling berinteraksi hingga mendapatkan suatu kesimpulan atau titik temu yang diharapkan. Berabad-abad sebelum masehi, para pemikir hebat menemukan lingua—kata lain dari bahasa—untuk dicantumkan ke dalam buku-buku agar ide dan gagasan itu terus diwariskan hingga saat ini. Menurut Aristoteles, apa yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuan berinteraksi dengan bahasa kepada sesama manusia lainnya yang pada akhirnya membentuk lingkungan hidup bermasyarakat.

Dalam konstelasi masyarakat yang majemuk, sering kali interaksi yang ada menimbulkan suatu permasalahan. Masalah sendiri dianggap sebagai sesuatu yang perlu diselesaikan atau dibereskan karena kondisinya yang membingungkan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Datang silih berganti dengan latar belakang yang berbeda-beda, masalah dapat timbul mulai dari lingkup kecil seperti dalam keluarga, pertemanan, organisasi, hingga lingkup yang lebih besar lagi seperti masyarakat luas bahkan negara.

Penyebab timbulnya masalah biasanya berasal dari ciri-ciri dari setiap individu atau kelompok dalam suatu interaksi. Hal ini menyangkut ciri fisik, pengetahuan, keyakinan, kebudayaan, pandangan terhadap suatu hal, dan lain sebagainya. Di samping itu, masalah juga muncul karena penyampaian dalam interaksi yang keliru atau kurang baik. Berkaitan dengan hal tersebut, sering kali masalah ada akibat adanya kegagalan komunikasi.

Dalam berkomunikasi, suatu pesan yang diterima oleh individu A belum tentu sama dengan pesan yang diterima oleh individu B, begitu pun seterusnya. Satu pesan saja bisa memiliki banyak makna berbeda, tergantung pada setiap penerimanya dalam menerjemahkan informasi tersebut. Hal ini menyebabkan informasi yang disampaikan oleh pemberi pesan tidak tersampaikan dengan baik pada penerimanya.

Sebagai makhluk yang mempunyai ambisi, manusia sering mengedepankan ambisinya yang terkadang tidak konsisten bahkan cenderung merekayasa akal sehatnya demi memenuhi nafsunya. Dengan demikian, komunikasi dapat berjalan dengan tidak konsisten dan dibubuhi dengan emosional serta sentimental, sehingga menimbulkan salah pengertian.

Kesalahpahaman yang terjadi akibat kegagalan komunikasi sering kali membawa pengaruh buruk terhadap suatu hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi. Hubungan yang tadinya dirasa baik, tiba-tiba berjalan dengan kondisi yang tidak diharapkan, bahkan tak jarang hingga hancur begitu saja. Kasus seperti ini dapat dengan mudah kita temukan di lingkungan sekitar, misalnya pada permasalahan rumah tangga yang berujung perceraian; permasalahan pertemanan yang menimbulkan perlawanan; permasalahan dalam organisasi yang menyebabkan masalah internal hingga kehancuran organisasi; bahkan permasalahan antarnegara yang memicu terjadinya konflik global.

Sementara itu, permasalahan yang muncul sudah seperti pertanyaan besar yang membutuhkan alternatif jawaban dengan segera. Yang dimaksud dengan alternatif jawaban pada hal ini ialah suatu pemecahan masalah untuk keluar dari kondisi yang rumit itu. Banyak orang tidak menyadari jika meskipun komunikasi menjadi penyebab dari banyaknya masalah yang timbul, tapi komunikasi juga yang berperan sebagai kunci dari pemecahan masalah yang dicari.

Masalah yang datang setelah terjadinya kesalahpahaman atau kegagalan komunikasi dapat diatasi dengan komunikasi yang baik antara pemegang interaksi. Komunikasi yang baik ini harus dibangun sedemikian rupa hingga dapat menyeselaikan permasalahan yang ada, bukan malah menimbulkan masalah baru yang sangat tidak diharapkan.

Kasus yang belum lama terjadi, yakni mobil Daihatsu Ayla yang menabrak motor CBR 1000 RR SP  di Purwokerto menjadi salah satu bukti dari peran komunikasi sebagai sumber permasalahan sekaligus medium perdamaian. Kasus yang sempat viral di media sosial ini bermula dari adanya kesalahpahaman antara pengemudi mobil dengan pengendara motor. Sebelum tabrakan terjadi, keduanya juga sempat adu mulut. Akibatnya, korban luka-luka hingga patah tulang dan motornya mengalami kerusakan karena sempat terseret beberapa meter.

Pada awalnya, korban sempat melaporkan kasus ini ke kepolisian dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Akan tetapi, setelah dilakukan mediasi antara kedua pihak, korban memutuskan untuk menutup kasus tersebut dan memilih untuk memaafkan pelaku. Pada mediasi itu, diketahui jika pelaku merupakan sosok tulang punggung keluarga dan sempat menawarkan rumah dan mobil sebagai ganti rugi karena merasa keberatan jika harus dipidana. Tawaran tersebut ditolak dan pelaku dipersilahkan untuk memberi ganti rugi yang sesuai dengan kemampuannya.

Mediasi dalam kasus di atas menunjukkan peran komunikasi yang baik sebagai jembatan perdamaian antara dua belah pihak yang berselisih. Kondisi yang awalnya menegangkan, menjadi cair seiring dengan komunikasi yang terlibat. Tentu saja komunikasi yang berjalan haruslah komunikasi yang baik dengan kesadaran dari kedua pihak untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, pihak yang berkaitan harus fokus pada masalah yang terjadi, bukan menyerang personal satu sama lain. Hasil akhir dari komunikasi harus disekapati oleh kedua pihak dengan asumsi bahwa keduanya merasa adil dan tidak dirugikan. Dengan demikian, diharapkan masalah besar pun dapat dipecahkan bersama peranan komunikasi.