Hangatnya kenangan bersamamu

Seorang anak SMA dalam persahabatan dalam meraih cita-cita dan doa dari orang tersayang

Hangatnya kenangan bersamamu

 

Hangatnya Kenangan bersamamu

 

Senangnya hatiku, keluar dari ruang kepala sekolah seperti ingin meloncat dan terbang tinggi-tapi sayangnya aku tidak punya sayap-.  “Alhamdulillah”!, aku membatin dalam hati, dan badanku terasa sedikit gemetar mendengar pengumuman di ruang kepala sekolah tadi. Kami barusan dikumpulkan oleh kepala sekolah terkait pengumuman yang sudah sangat ditunggu oleh kami-kami peserta yang mengajukan berkas. Tadi kepala sekolah mengucapkan selamat kepada sepuluh orang kandidat yang akhirnya lulus diterima di Perguruan Tinggi Negeri di Kotaku tanpa melalui jalur tes masuk. Kami sangat bersyukur karena dapat melewati persaingan yang tidak mudah dari semua peserta satu provinsi dan dari sekolah-sekolah terbaik di provinsiku dan bahkan  di luar provinsi juga tentunya. Sebagian besar teman-teman lulus di pilihan jurusan pertamanya, termasuk aku, tetapi ada juga yang lulus di pilihan jurusan kedua karena mungkin saingannya lebih ketat. Tapi satu temanku lulus di pilihan jurusan kedua karena dia mempunyai kelainan buta warna sehingga tidak bisa mengambil jurusan teknik kimia yang dipilihnya sehingga diterima di jurusan Bisnis dan Managemen.

 

“Hei… selamat ya Ray”…temanku Nadira mengulurkan tangannya kepadaku yang kusambut bersalaman dengannya sambil tersenyum.  “Kamu juga ya Nad, selamat juga ya” ucapku kepada Nadira teman akrabku. Seorang gadis yang pintar dan ceria dan selalu ikut dalam lomba-lomba bidang akademik bersamaku dan dia juga mewakili siswa teladan putri tingkat SMA se-provinsi. Kami memang selalu bersama terutama kalo mewakili sekolah dalam lomba-lomba antar sekolah termasuk mengikuti cepat-tepat di televisi yang sangat trend di zamanku dulu, tapi sekarang sepertinya acara itu sudah tidak trend lagi. Selain itu juga kami selalu bersama kalau pulang sekolah terlebih kalau pulang sekolah di Hari Jumat yang merupakan jadwal kami untuk jajan bareng. “Rayna emang T O P  B G T - loh” Nadira langsung bergelanyut di lenganku dan mengajak ke kantin seperti biasa-Makan Bakso-, kami pun berjalan menuju kantin sekolah. Dalam hati aku bersyukur masih bisa bersama dengan Nadira satu kampus di ITB walaupun beda jurusan, yang penting bisa bersama-dia di arsitektur dan aku di eletro ITB-.

 

Di heningnya siang yang terik tiba-tiba terdengar suara “TET…TET..TET” suara sirine sekolah yang membuyarkan keheningan kelasku yang sibuk mengerjakan soal-soal tanpa bersuara. “Baiklah anak-anak besok kita lanjutkan pembahasan soal-soalnya, jam pelajaran sudah selesai” suara Pak Firdaus guru Fisika kami akhirnya memecah kesunyian kelas setelah bunyi bel tadi. Para siswa pun serentak menyimpan buku ke tas masing-masing dan segera beranjak dari tempat duduk masing-masing. Di tengah panasnya matahari tetap terasa sejuk karena rindangnya pohon di sekolah dan di sekitarnya, maklumlah suasana di Bandung yang masih asri dengan pohon besar yang sudah berumur puluhan tahun. Aku seperti biasa menunggu Nadira dan Retno di depan kelasku karena mereka akan melewati kelasku. Retno juga teman baikku dia di kelas IPS, rumah kami cukup dekat sehingga selalu berangkat dan pulang bersama. Panas siang itu tak terasa karena sepanjang jalan ditemani sahabat terbaik dan senda gurau satu sama lain.

Habis magrib seperti biasa, kami sekeluarga makan malam bersama. Tugasku menata piring di meja makan dan membantu mama menyiapkan hidangan. Setelah semua kumpul barulah kami makan bersama, hal ini adalah tradisi di keluarga kami kalau magrib harus sudah di rumah dan makan malam bersama. Papa seorang yang sangat keras atau lebih tepatnya ‘disiplin’ sehingga tertanam kepada anak-anaknya tentang kedisiplinan. Papa juga sosok yang ‘cool’ kalau istilah anak jaman now-nya, tidak suka marah-marah, penyayang, perhatian dan sangat ‘ngemong’ keluarga.

Sesudah makan kami kumpul di ruang TV, adikku sukanya menonton film series mandarin sedangkan kakakku biasanya langsung masuk ke kamarnya untuk belajar. “Ini kesempatanku untuk memberikan berita kejutan tadi siang dari kepala sekolah” pikirku.  Tadi sesampai di rumah aku langsung istirahat dan belum memberitahukan hal ini karena menurutku nanti malam  sesudah makan malam adalah waktu yang tepat disaat semua sudah santai. Aku yang sedikit deg-deg-an mengambil amplop panjang berwarna coklat dari tasku yang tadi siang aku simpan. Amplop tersebut berlogo patung Ganesha yang sudah tidak asing lagi di mata siswa SMA seluruh Indonesia-logo ITB-. Aku lalu menghampiri mama dan papa yang sedang ngobrol di depan TV. “Ma…Pa..., Rayna mau ngomong sesuatu” ucapku. “Tumben anak papa, langsung serius” sahut papa langsung sambil menyuruhku duduk didekatnya. “Rayna mau kasih ini ke mama dan papa” sambil kuserahkan amplop kepada mereka berdua dan mama yang mengambil duluan.  “Surat apa ini Ray?” Tanya mama. “Mama buka aja deh…”balasku sambil senyum-senyum menyaksikan mama membuka surat dengan semangatnya dan langsung membukanya. “Ray…. Benarkah ini nak?” teriak mama kaget. “ Lulus ….diterima…. masuk…. ITB…. Jurusan…. Teknik Elektro…. Tanpa… tes…. ujian masuk….” mama membaca perlahan tapi jelas. “Iya ma… pa… Alhamdulillah ma.. Rayna bisa lulus pengajuan PMDK ke ITB” sahutku. Papa yang mendengar mama membacakan surat itu pun langsung terlihat gembira tapi tetap ‘cool’ dan mama yang sangat antusias. “Alhamdulillah nak… mama senang sekali Rayna, Alhamdulillah kamu berhasil mendapatkan jurusan yang diminati dan yang mama papa idam-idamkan, selamat ya nak,” Mama memelukku dan mencium pipiku. Aku sangat terharu, sampai mengeluarkan air mata bahagia begitu pula mama. Aku merasa sangat bahagia dan senang karena mendapat ciuman hangat dari mama. Seorang mama yang sederhana yang selalu melayani keluarga dengan baik, yang selalu sayang kami, mendoakan yang terbaik bagi kami anak-anaknya. Malam itu aku sangat bersyukur atas semua ini, dan semuanya karena orang tua dan orang-orang yang menyayangiku.

Masih terngiang di telingaku suara mama terkaget-kaget membaca surat itu dan masih terasa hangatnya ciuman mama di pipiku sebagai tanda selamat. “Ma, aku akan selalu ingat saat itu dan ciuman hangat dari mama walau sudah dua puluh lima tahun waktuberlalu ma…” Insyaallah mama dan papa bahagia di sana, doaku selalu untuk kalian. Al Fatiha untuk mama dan papa.