Gaun Pengantin Ibu

Akhirnya, hari ini tiba juga. Joana, sahabatku membantuku merapikan gaun pengantin yang sudah lama tersimpan dalam lemari. Gaun ini milik ibuku. Dia mengenakannya 30 tahun lalu. Aku selalu bermimpi mengenakan gaun pengantinnya, karena bagiku gaun pengantin ibu sangat bagus dan sempurna. Gaun pengantin ini minimalis, terbuat dari satin tanpa lengan dengan sedikit aksen brokat dan hiasan manik di dekat dada dan pinggiran rok. Untuk masa itu, gaun pengantin ibuku tergolong modern dan sangat bergaya. Maklum, ibuku sangat stylish.
Ibu berjumpa dengan ayah saat masih kuliah. Ayahku seorang fotografer dan ibu seorang mahasiswi seni rupa. Pertemuan mereka saat ayahku menjadi dosen pengganti sementara di kelas ibu. Ya, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Ibuku sangat cantik dan gayanya menonjol dibanding gadis-gadis lain di kelas. Ibu juga wanita yang sangat pandai. Banyak lelaki yang naksir padanya. Tapi, ibu hanya tertarik pada ayah. Begitulah cerita yang sering kudengar dari mereka berdua. Ayah dan ibu selalu saling memuji sampai sekarang. Walau sudah 30 tahun menikah, tapi mereka masih sangat mencintai.
"Putri... Hei, Putri," Joana melambai - lambaikan tangannya tepat di depanku, "Kamu kenapa, senyum-senyum sendiri di depan cermin?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Ah, aku lagi membayangkan waktu orang tuaku bertemu," jawabku tersenyum. "Perasaan Ibuku pasti seperti saat ini. Gugup, takut dan bahagia jadi satu."
"Ya, namanya hari spesial. Aku waktu nikah sama Benny juga dulu begitu, gugup. Apalagi pas nanti, malam pertama." Joana langsung tertawa terbahak-bahak menggodaku.
Aku yang mendengarnya jadi malu sendiri. Joana dan aku sahabat baik. Dia sudah lebih dulu menikah tiga tahun lalu dan sekarang memiliki satu anak, Lisa. Kebetulan calon suamiku, Gilang, adalah sahabat baik Benny. Mereka yang menjodohkan kami berdua.
"Iya, ya. Thanks, ya, Joana." Aku tersenyum padanya.
Tak lama, kulihat ayahku memasuki ruangan. Dengan senyuman yang lembut, dia datang mendekatiku. Matanya tampak binar bahagia. Sekilas ada air mata yang seperti ditahan.
"Cantik sekali anak Ayah," katanya sambil memelukku erat.
Diambilnya sebuket bunga mawar putih yang telah dihias dengan pita satin yang senada dengan gaunku. Aku menggenggam erat buket bunga yang diberikan ayahku.
"Terimakasih, Ayah." Mataku menatapnya bahagia.
"Kamu cantik, persis seperti Ibu. Dia pasti bangga melihatmu." Lanjutnya lagi.
Aku jadi teringat kejadian saat aku berumur enam tahun. Ibu membelikanku gaun putih sebagai hadiah ulang tahunku.
"Wah, cantik, Bu."
Mataku melirik gaun putih yang dipasang di etalase toko baju khusus anak.
"Iya, ya. Masuk, yuk. Kita coba." Ajak ibu sambil menggandeng tangan kecilku masuk ke toko pakaian langganan kami.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" Terdengar sapaan salah satu pelayan toko.
"Mbak, bisa coba gak gaun putih yang dipasang di patung itu?" Tanya ibu sambil menunjuk gaun putih yang kusuka.
Dengan gesit, pelayan toko segera melepas gaun putih itu dan memberikan ke ibu. Lalu, kami pergi ke kamar pas. Dengan girang, aku segera mencoba gaun itu.
"Cantiknya anak Ibu, " pujinya. "Kita beli, ya. Anak Ibu cantik banget seperti pengantin. Nanti pakai pas hari ulang tahunmu, ya, Put."
"Wah, makasih, Ibu." Sahutku girang.
Setelah membayar gaun tersebut, aku dan ibu mampir ke toko es krim yang tak jauh dari toko baju tersebut. Ibu langsung memesan es krim rasa vanila kesukaanku, dan dia seperti biasa memesan es krim cokelat kesukaannya. Sambil menikmati es krim, ibu berkata bahwa suatu saat nanti aku pasti jadi pengantin tercantik. Lalu dia membelai lembut rambutku dan kami tertawa bersama.
"Mana Ibu, Yah?" Tanyaku pada ayah yang baru saja memberikan buket bunga mawar padaku.
"Ada di ruang sebelah. Yuk, kita ke Ibu." Katanya.
Lalu dia menggandeng tanganku. Kami berdua berjalan ke kamar sebelah. Joana membantuku mengangkat gaun pengantinku. Tante Maya kakaknya ayah sedang menunggu di luar kamar.
"Aduh, cantiknya Putri. Selamat ya, Sayang," lalu dia mencium kedua pipiku. "Yuk, masuk. Ibumu baru saja selesai dimakeup." Lanjutnya lagi.
Dengan semangat aku dan ayah masuk ke dalam kamar. Ku lihat ibu sedang duduk di dekat jendela. Juru rias baru saja selesai menata rambut ibu.
"Terimakasih ya, Mbak." Kataku kepada penata rias yang merias ibu.
"Sama-sama, Mbak." Lalu dia pergi meninggalkan ruangan.
Aku dan ayah datang mendekati ibu.
"Wah, Ibu. Cantik sekali. Ibu cantik, kan, Ayah?" Kataku sambil terus menatap ibu.
"Iya, Ibu cantik seperti bidadari. Selalu cantik." Ayah tersenyum bahagia.
Di matanya masih memancarkan cinta yang sama tiap menatap ibu. Ibu melirik kami lalu tersenyum kecil. Tak lama matanya kembali melihat pemandangan di balik jendela. Pemandangan pantai kesukaannya. Ayah datang mendekatinya lalu memberi kecupan di kening ibu.
"Apa yang kau lihat, Sayang? Tanyanya.
Ibu hanya menunjuk langit lalu kembali tersenyum.
"Oh, burung. Itu burung." Kata ayah.
"Burung... burung." Ibu mengulang kata ayah berkali-kali lalu menatap ayah dan tertawa.
Mereka berdua tertawa. Di kursi roda itu, ibuku duduk sambil menggenggam tangan pangerannya. Sesekali dia ingat ayah, tapi ada kalanya dia lupa. Padaku, ibu hampir tak ingat sama sekali. Sudah delapan tahun ini ibu mengidap Alzaimer.
"Putri, di mana kacamata Ibu?" Kudengar suara ibu dari ruang tamu.
Bergegas ku datang menghampirinya. "Ya, Bu?"
"Dimana ya kacamata Ibu?"
"Itu, yang Ibu pegang apa?" Kataku sambil menunjuk tangannya.
Segera ibu melihat tangan kanannya yang sedari tadi menggenggam erat kacamata itu. Dia tertawa lalu mengenakannya kembali. Beberapa hari ini ibu jadi mudah lupa. Kadang lupa di mana menaruh kunci pintu, bahkan lupa dengan beberapa kenangan yang menurutnya sangat berharga. Sesekali aku melihat ibu seperti orang bingung yang mondar mandir di kamar.
"Ayah, Ibu kenapa akhir-akhir ini suka lupa, ya? Padahal dia orang yang paling ingat segalanya." Tanyaku pada ayah saat malam tiba.
"Iya, Ayah juga perhatiin. Coba besok Ayah antar Ibu ke dokter."
Keesokan paginya kami bertiga pergi ke dokter langganan. Aku sengaja mengambil cuti hari itu khusus menemani ibuku. Setelah melalui berbagai macam pemeriksaan akhirnya ibu di rujuk ke Spesialis Neorologi dan Psikiater.
"Jadi, bagaimana Istri saya, Dok?" Tanya ayah.
Aku dan ayah tampak tegang mendengar hasil pemeriksaan dokter. Ibu yang ikut bersama kami tampak tenang, bahkan kadang dia seperti orang linglung.
"Kalau menurut hasil pemeriksaan kami beberapa hari ini, Istri Bapak mengidap Alzaimer."
"Alzaimer? Apa itu, Dok? Tanya ayah terkejut.
Dokter spesialis neurologi mulai menjelaskan perlahan, "Alzaimer itu penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap, Pak."
Aku dan ayah saling tatap lalu ayah segera bertanya kembali, "apa penyakit pikun, Dok?"
Lalu dokter kembali menjelaskan panjang lebar tentang Alzaimer ini, "Bukan, Pak. Ini adalah penyakit progresif yang ditandai dengan gejala-gejala demensia dan akan memburuk seiring berjalannya waktu, biasanya dalam hitungan tahun. Pada stadium awal, pengidap akan mengalami turunnya daya ingat yang ringan, sehingga sering kali tidak disadari baik oleh pengidap maupun orang-orang terdekat. Pada stadium lanjut, gejala akan semakin parah sampai pada tahap pengidap tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain dan merespons terhadap lingkungan sekitarnya."
Aku yang mendengar penjelasan itu seakan menolak mencernanya. Ayah hanya tampak termenung. Batinku bergejolak, jadi suatu saat Ibu akan melupakanku? Akan melupakan Ayah? Akan melupakan semuanya? Ah, tanpa ada air mataku tak terbendung. Di ruang itu ibu yang melihatku segera mengusap air mataku.
"Putri, jangan menangis."
Ku tatap wajah ibu yang juga sudah menangis. Dia juga tampak tak terima dengan vonis dokter.
"Apa masih bisa disembuhkan, Dok? Tanya ayah.
"Sayangnya sampai hari ini obat Alzaimer belum ada, Pak. Tapi kami tetap memberi obat-obatan agar proses kerusakan sel otak bisa diminimalisir." Kembali dokter menjelaskan.
Ayah tampak menarik nafas panjang lalu memeluk ibu. Ah, waktu serasa berhenti. Berhenti tepat saat ibu divonis Alzaimer. Beberapa dokter yang kami temui setelahnya mengatakan hal yang sama.
"Cukup... cukuuuuuuupppp!" Teriak ibu pada ayah sore itu, "Sudah cukup, aku lelah."
Lalu ibu menangis sambil menggenggam kedua lengan ayah.
"Ayolah, kita ke dokter lain lagi, ya. Siapa tahu ada harapan," bujuk ayah.
"Sudah berapa banyak dokter yang kita datangi tapi hasilnya sama, kan. Aku sudah lelah!" Suara ibu terdengar tertatih.
Aku yang mendengar dari balik dinding berusaha menahan tangis.
"Ayolah," ayah tampak terus membujuk ibu.
"Waktuku tak banyak, kenapa kau tak berusaha menghabiskan waktu denganku? Dengan anak kita? Aku lelah jika harus menghabiskan waktuku dengan berbagai macam pemeriksaan. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama kalian. Kumohon...." Ibu berkata sambil menangis menatap ayah yang hanya terdiam terpaku.
" Ah, iya... iya. Baiklah, kalau itu maumu." Terdengar ayah menangis lalu memeluk ibu.
Aku yang mengintip kejadian itu ikut menangis.
"Putri, ayuk. Ayah bantu tutup tudung kepalamu, ya." Kata ayah.
Sejenak aku tersadar. Pikiranku seakan berhenti dikejadian delapan tahun lalu. Aku menatap ibu yang saat ini duduk di kursi roda, tampak tak berdaya. Hanya sesekali terdengar dia berbicara. Namun, selebihnya dia sudah tak bisa apa-apa. Ayah dengan sabar seakan mengasuh bayi yang berumur sebulan. Tapi, walau bagaimanapun, penyakit itu tak menghilangkan kecantikan ibu, batinku.
"Ayah, terimakasih selalu mendampingi aku dan Ibu. Aku sayang Ayah." Ucapku pada ayah sambil dia menutup tudung kepalaku.
" Yuk, kasihan nanti Gilang kelamaan tunggu kamu, lho." Ayah berkata sambil tersenyum.
"Ayo, kalian berdua jalan duluan. Nanti Tante dan Joana yang bantu mendorong kursi roda Ibu." Kata Tante Maya.
Kamipun berjalan beriringan menuju altar.
Dari kejauhan Gilang yang didampingi Benny tampak gagah menantiku. Ayah mendampingiku berjalan menuju altar, dengan air mata bahagia dia melepasku untuk melanjutkan hidup bersama Gilang. Saat pembacaan janji suci pernikahan, sesekali kulirik ibu yang duduk di samping ayah di kursi barisan paling depan. Walau tatapan matanya kosong tapi aku yakin dia pasti bahagia untukku. Ayah tak berhenti menggenggam tangan ibu.
Ku tatap Gilang yang sedang menatapku bahagia. Terima kasih Tuhan untuk kebahagiaan yang telah kau berikan padaku, batinku. Kebahagiaanku berlipat saat cincin emas itu disematkan Gilang di jari manisku.
"Ibu, lihat, dengan gaunmu aku menikah. Pernikahan impianku akhirnya terwujud," batinku sambil kembali melirik ibu.
"Ayah, ayuk menari denganku." Ajakku.
Ini saatnya dansa antara anak dan orang tua. Di resepsi ini sungguh meriah, semua keluarga dan sahabat berpesta, menari, menikmati jamuan makan malam, bahkan Joana sampai menyanyi lagu andalanya, 'I love you 3000'. Aku dan ayah berdansa sambil tertawa dan berbisik cerita lucu. Di ujung dansa kami, aku membujuk ayah berdansa dengan ibu. Lalu ayah mengiyakan.
"Gilang, bantu Ayahku mendirikan Ibu."
Dengan sigap Gilang mendorong kursi roda ibu ke tengah ruangan. Dengan perlahan ayah mengangkat ibu yang hanya bisa terduduk diam di kursi roda. Lagu instrumental 'A Thousand Years' diputar mengiringi dansa ayah dan ibu malam itu. Segera ku minta handphoneku yang selama ini ku titip ke Joana. Sambil menangis aku mendokumentasikan moment indah itu. Tiap detiknya tak ada yang terlewat. Seakan waktu mereka berdua kembali ke masa lalu, masa saat mereka muda dulu, saat ayah dan ibu pertama kali berdansa pada hari wisuda ibu. Semua yang hadir ikut menangis menyaksikan pemandangan indah itu.
Gilang datang merangkulku lalu berbisik, "Aku akan seperti itu. Menjagamu hingga akhir."
Dengan perlahan ayah mendudukkan ibu kembali ke kursi roda dibantu Gilang. Tepuk tangan bergemuruh menyambut mereka, pasangan yang memberi panutan kepada kami semua yang hadir malam itu. Cinta sejati tak dibatasi fisik. Hati yang telah terpaut akan terikat selamanya. Walau dalam suka dan duka akan selalu mencintai. Ya, itulah ayah dan ibuku. Ayah mengecup lembut kening ibu, lalu aku dan Gilang datang memeluk mereka berdua. Entah kenapa ini menjadi malam yang emosional buat kami semua. Ah, ibu, sungguh kau idolaku.
"Put, ayo cepat. Nanti kita telat ke bandara." Gilang memanggilku sambil mengangkat dua koper besar yang akan kami bawa selama bulan madu.
"Iya, sebentar." Sahutku dari dalam kamar.
Sudah dua minggu semenjak hari pernikahanku, karena berbagai kesibukan kantor kami masing-masing, akhirnya bulan madu kami agak tertunda.
Aku memasukkan beberapa alat makeup ke dalam tas sebelum beranjak pergi. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, ku lihat Tante Maya menelepon.
"Halo, Tante Maya," jawabku.
Gilang masuk kembali ke kamar menemuiku, "ayo, cepat. Kita kan masih mau mampir ke rumah sakit dulu."
"Iya, sabar," bisikku. "Halo, Tante Maya, bilang Ayah kami dalam perjalanan, ya. Halo... Tante Maya...?"
Suara Tante Maya terdengar jelas di handphoneku. Tiba-tiba, seluruh tubuhku menjadi kaku tak berdaya. Di saat bersamaan, gaun pengantin ibu yang selama ini masih kugantung di lemari terjatuh di lantai.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.