Cendol

Tulisan lama juga, ketika itu saya baru lulus kuliah dan segera diterima di salah satu perusahaan di Jakarta. Kami, para pendatang baru di perusahaan tersebut, merasa perusahaan kurang bisa mengikuti perkembangan jaman. Maka kami bikin blog untuk memberikan kritik dan sara. Hingga blog itu terdengar para pejabat. Lalu masuk dalam rapat BOD. Akhirnya blog kami ditutup. Waktu itu UU-ITE belum ada. Ini adalah salah satu tulisan saya di blog tersebut. Waktu itu saya tulis dengan tergesa, saat yang punya komputer tidak di tempat. Beliau adalah manajer di situ.

Cendol

Pagi-pagi buta Timbulsukoco sudah membuka warung cendolnya. Entah kenapa harus pagi-pagi? Lha wong yang dijual juga es cendol. Apa nggak pada pilek itu yang minum? Memang sih cendol bisa diminum tanpa es-nya, tapi rasanya kurang mantap! Tapi itulah Timbulsukoco. Selalu taat omongan orang tuanya. “Le, sudah pagi. Ayo bangun! Kerja! Nanti rejekinya dipatok ayam!” begitu orang tuanya dulu berpesan. Maka dibukalah warungnya pagi-pagi. Padahal ketemu ayam yang doyan cendol pun Timbulsukoco belum pernah, apalagi yang berwiraswasta jualan cendol menjadi kompetitor es cendol Timbulsukoco.Warung cendol Timbulsukoco biasa saja. Sebuah bakul pikulan menjadi cirri khasnya. Dipajang di bawah pohon randu yang rindang. Para penikmat cendolnya pun hanya cukup duduk di kursi-kursi kecil yang disediakannya. Namun begitu, cendolnya laku sangat keras. Hingga sering kehabisan kursi kecil. Maka tikar-tikar pun digelar di bawah pohon itu. Ramai sekali setiap harinya.

Cendol-nya adalah warisan turun-temurun dari orang tuanya. Bahkan kakek buyut dari kakek buyut kakek dari kakek buyutnya sudah jualan cendol sejak jaman penjajahan dulu. Kakek Timbulsukoco bukanlah pejuang yang memegang bedil ikut mengusir penjajah Belanda, Jepang, Inggris, Amerika dan kroni-kroninya dari Indonesia. Dia hanya penjual cendol. Sekedar penghilang haus bagi para pejuang di masa itu. Banyak pejuang yang mampir atau memesan cendol dari kakek Timbulsukoco. Lalu dibawa sebagai bekal di medan perang. Cendol kakek Timbulsukoco memang enak. Enaaaaak sekali! Cendolnya asli dari beras putih. Kuahnya dari gula merah yang dimasak dengan ramuan-ramuan tertentu. Santannya dari kelapa pilihan. Para pejuang tergila-gila dengan cendol buatan kakek Timbulsukoco itu. Cendol-nya sangat terkenal hingga keluar daerah. Bahkan terkenal di telinga para penjajah. Banyak cara dilakukan penjajah untuk menghancurkan kios cendol kakek Timbulsukoco yang di bawah pohon randu itu. Karena penjajah menilai bahwa cendol kakek Timbulsukoco membantu pejuang, terutama dalam menghilangkan rasa haus.

Resep cendol kakek Timbulsukoco diwariskan turun-temurun. Hingga Timbulsukoco-lah generasi ke 9 dari keturunan kakeknya yang memproduksi cendol. Rasanya hampir tak berubah sejak kakeknya berjualan dulu. Cendol Timbulsukoco yang menempel dilidah menimbulkan citarasa tersendiri, seperti melayang-layang. Ditambah kuah manisnya menimbulkan sensasi yang luar biasa. Kini cendolnya sudah sangat terkenal. Baru dibuka pagi ini aja Kang Setro sudah malit. Stand by. Datang paling duluan ke warungnya Timbulsukoco. Tanpa perlu bilang apa-apa lagi, segelas cendol sudah tersedia di depan Kang Setro. Lalu Budhe Parti sama keponakannya yang cantik. Diikuti Pakdhe Yuki. Trus beberapa pengedara motor. Lalu beberapa mobil dengan seisi keluarga di dalamnya. Pokoknya langsung rame. Padahal masih pagi.
“Dik Timbul, apa ndak kewalahan? Pembeli sebanyak ini kok yang ngelayani cuman sendirian!” Kata Budhe Parti sambil menyeruput es cendolnya penuh nikmat.
Ndak Budhe. Udah biasa. Lha wong ya tiap harinya juga begini.”
“Mending cari pembantu aja mas!” Seru Kang Setro tiba-tiba.
“Ah… nggak ah! Gini aja sudah cukup. Bisa kok saya! Dulu simbah-simbah saya bisa. Malah dulu satu tangan aja bisa bawa lima mangkok cendol…!”
“Haha… kayak warung nasi Padang aja!” Timpal Lik Towir tiba-tiba.
“Iya Mbul, kalo ada tambahan pelayan kan jadi tambah enteng kerjaannya. Banyak lho Mbul ini pembelinya. Itu yang di sana itu. Yang nunggu di bawah pohon manggis itu udah setengah jam lho nunggu. Trus itu yang pake mobil itu, anaknya udah nangis-nangis dari tadi, sampe dia capek sendiri! Kalo saya sih udah dapet cendol dari tadi. Lha wong malit jhe! Tak seruput dikit-dikit biar gak cepet habis. Lha wuenak jhe!” kata Kang Setro.
“Hoooalaaahhh!” keluh Timbulsukoco. “Dulu sih pernah saya punya. Tapi malah bikin repot! Nggak cak… cek… malah udah berapa mangkok itu yang pecah. Ya… tak berhentiin!”
“Wah cari karyawannya yang bagus donk! Yang berpendidikan! Berdedikasi terhadap dunia per-cendolan! Kalo perlu yang sarjana!” Bu Dharmi juga akhirnya ikut bicara.
Halah… lha wong ini juga cuman jualan cendol aja lho buu… bu! Masa cari sarjana. Memang ada universitas jurusan cendol apa?” Kang Towir mengejek.
“Lho di jaman serba maju inikan gak ada salahnya sarjana jualan cendol. Kerjaan itu susah mas. Ato jadi tukang sapu aja kayak mas Towir ini?” Bu Dharmi tak mau kalah.
“Biar nyapu asal halal… hehehe…!” Jawab Kang Towir. “Gini-gini juga saya sudah punya perusahaan penyapu. Sapu saya sudah lima! Karyawan saya ada 3! Siip tho?!”
“Haissyah!”

Timbulsukoco tergopoh-gopoh membawa senampan penuh mangkok cendol. Dengan cekatan dia membagi-bagikan kepada pelanggannya lalu kembali lagi ke tempat duduknya, meracik cendol, santan dan cairan gula merah dalam mangkok-mangkok cendol.
“Tuh kan capek!”
“Udah biasa!”
“Ntar kecapean gak bisa bikin cendol lho.”
“Tenang aja, jamu pegel linu memang tok cer!”

Sudah puluhan tahun perusahaan keluarga berupa cendol ini menghidupi keluarga Timbulsukoco. Walaupun terkenal sampai kemana-mana namun warung cendol Timbulsukoco ya cuman satu-satunya itu. Dekat dengan rumahnya yang juga warisan dari kakeknya. Rumahnya juga biasa saja. Tak ada istimewanya bagi seorang pedagang cendol yang larisnya bukan main. Tiap hari dia hanya jalan kaki untuk ke “kantornya”. Tak lebih dari 100 meter dari rumahnya kok.Saran-saran seperti yang dilontarkan pelanggan-pelanggan setianya itu sudah tak mempan lagi di telinganya. Karena itu semua sudah dicobanya. Dia pernah punya pelayan yang otaknya segedhe kacang mede sampai yang pintarnya mengalahkan Albert Einstein.
“Kalo nyari karyawan diiklanin di Koran aja mas Timbulsukoco! Biar yang ndaftar banyak!” Sela kang Towir.
“Ini lagi! Koran-koran! Idemu itu nggak mutu! Huuu… ramutu!”, Kang Setro menimpali.

Pernah dulu Timbulsukoco punya karyawan yang biasa saja. Tampangnya biasa. Gayanya biasa. Hidupnya biasa. Karyawan yang biasa saja gampang disuruh. Gak pernah melawan. Dan selalu nurut. Namun ternyata Timbulsukoco nggak betah sama karyawan macam itu. Jadi tak ada yang spesial. Sama saja dengan yan lain. Malah dengan pelayan semacam itu pembelinya pernah mandeg, alias berhenti di empat puluh sembilan ribu tiga ratus tujuh puluh satu orang perhari!

Timbulsukoco juga pernah hampir suka dengan karyawannya yang sarjana. Lulusan Universitas negeri terkenal di negeri ini. Fresh graduate dari sekolah magister di Perancis. Suka ikut seminar dan pelatihan berbagai macam kegiatan. Tapi Timbulsukoco malah gak betah sampai tiga hari bersama karyawannya yang punya intelektual tinggi itu. Kenapa? Apa-apa selalu dihubungkan dengan teori-teori dalam buku yang penah dibacanya. Sebagian waktu kerjanya malah dihabiskan untuk berteori.

Pegawai yang bandel pun Timbulsukoco pernah merasakannya. Sarjana juga sih. Tapi pas-pasan. Nilainnya pas-pasan. Uangnya pas-pasan. Tampangnya pas-pasan. Cumlaude pun tidak. Apalagi magna cumlaude.Tetapi bandelnya minta ampun. Cara melayani pembeli juga nyentrik. Sambil jungkir balik dan berakrobat! Lain dari yang lain. Walhasil para pengunjung senang bukan main. Makin banyak pengunjung yang datang membeli karena pelayanan yang tak menjemukan itu. Tapi, Timbulsukoco benci dengan gayanya. Walaupun pengunjung jadi semakin banyak, dia tak mau tahu. Dia khawatir banyaknya pengunjung itu hanya sementara. Dan kelakukan pegawainya itu malah akan merusak warungnya saja. Apalagi dia suka mengkritik cara melayani si Timbulsukoco yang dinilai kadaluwarsa. DIPECATLAH dia!

Mending begini saja. Sendiri melayani pembeli. Dulu kakek bisa kok. Malah pembelinya lebih banyak.Belakangan dia menyesal. Pegawai bandel yang dipecatnya ternyata membuka warung cingcau. Cingcaunya enak. Enaaaakkkk sekali. Rasanya bagai melayang melewati langit ketujuh. Maka banyak juga pembelinya. Malah cingcau bikinan pegawai bandel itu sudah menjadi franchise yang gerainya meliputi seratus delapan puluh empat Negara di dunia. Termasuk Amerika Serikat!

Cingcau itu menjadi trend dunia. Mengalahkan restoran siap saji macam Mc Donald. Makan cingcau menjadi trend anak muda yang mendunia. Lebih keren makan cingcau daripada makan burger di Mc Donald. Semua hal di inspirasi oleh cingcau-nya pegawai bandel Timbulsukoco itu. Di Milan, Italia, trend mode pun didominsai oleh warna hijau cingcau. Bahkan pemerintah Perancis rela mengecat menara Eiffel dan Arc de Triomphe menjadi hijau cingcau. Amerika pun tak mau kalah. Dia membikin film Spiderman dengan musuh utamanya adalah monster cingcau.

“Dik Timbulsukoco, katanya pegawai dhik Timbulsukoco yang… adhuh namanya lupa aku… pokoknya yang nyentrik itu lho… yang dulu dipecat sama dik Timbulsukoco di depan pembeli itu lho!… siapa ya?”
“Yang mana Budhe Parti?”
“Halaahh… kok lupa aku? Itu lhooo….”“Oh yang itu… adhuh aku juga lupa…”
Ash… pokoknya itulah… denger-denger dia sekarang sukses jadi direktur perusahaan besar lho.”
“Oooo…”
“Iya dik Timbulsukoco. Itu lho perusahaan es cingcau WENAK!”
“Lhoh… cingcau WENAK itu punyaan itu tho… sapa namanya? Halah lupa aku!” Seru Kang Setro.
“Iya Kang.” Jawab Budhe Parti.
“Malah dia juga buka warung cingcaunya sampai Amerika!”
“AMERIKA?!”
“Ya pantes aja… enak sih cingcaunya. Saya dulu pernah makan cingcau di WENAK itu. Bayangin! Saya nabung seminggu nggak makan siang cuma buat mau makan cingcau WENAK itu!”
“Lhoh sama… sekarang saya juga lagi nabung, saya sampai lembur nyapu biar bisa makan es cingcau WENAK!”, balas kang Towir.
“Eh… ngomong-ngomong cingcau WENAK mau buka yang baru lho… itu deket hotel yang tanahnya dulu punyanya mbah Sukerto!”
“Ah masa?”
“Ah iya?”
“Ah.. syiiikkk!”

Timbulsukoco sibuk kesana-kemari melayani pembelinya. Dia tak tertarik membicarakan bekas karyawannya yang dulu dipecatnya. Bikin sakit hati! Dasar pegawai tengil!

***

Pagi seperti biasanya Timbulsukoco membuka warungnya. Sebelumnya dia memandangi sebuah poster berwarna hijau yang tertempel di pohon randu tempat biasa dia membuka warung. Poster iklan es cingcau WENAK yang terkenal ke seantero dunia. Sudah dua bulan cingcau WENAK berdiri. Gerainya besar magrong-magrong. Papan namanya dengan simbol huruf “W” pun sampai kelihatan dari warung cendol Timbulsukoco.

Cingcau WENAK tiap harinya tak pernah sepi. Tempatnya bersih. Pelayanannya lain dari yang lain. Cepat dan sangat nyentrik. Bahkan ada yang berakrobat. Membawa gelas-gelas penuh cingcau sambil berjungkir balik. Bahkan ada yang memakai skateboard. Ada juga yang sambil bergelantungan seperti Tarzan. Semua pembeli pun sangat terhibur dan senang. Yang datang kebanyakan menggunakan mobil. Parkirnya pun gratis. Namun karena terlalu banyak pengunjung maka mobil yang parkir pun sampai kemana-mana. Tapi jangan kuatir. Parkir di luar area cingcau WENAK masih tetap aman kok. Karena pihak perusahaan WENAK.corp memperbolehkan para penduduk setempat membuka parkiran. Selain itu para penduduk mendapatkan pemasukan. Ditambah lagi setiap cingcau WENAK akan tutup, selalu membagi-bagikan cingcau pada para tukang parkir itu. Para tuKang parkir pun senang bukan kepalang. Sangat senang mendapat cingcau WENAK dengan gratis. Ada yang memakannya pelan-pelan. Bahkan ada yang diawetkan dan dipajang di ruang tamu rumahnya.

Dibukanya warung cendolnya dengan langkah malas. Pekerjaan Timbulsukoco memang agak lega. Tak banyak pembeli dalam dua bulan terakhir ini. Tapi masih ada saja orang yang datang. Tak seramai dulu. Sekarang kursi-kursi kecil tak sering kehabisan. Malah sering tersisa. Tapi paling tidak Kang Setro masih sering mampir tiap pagi ke warungnya. Kang Towir sudah agak jarang, mungkin seminggu sekali saja. Katanya uangnya buat ditabung untuk membeli es cingcau WENAK. Timbulsukoco jadi tak lagi repot. Malah dia sering ketiduran atau tidur-tidur ayam menunggu pembeli. Budhe Parti juga sudah tidak terlihat, keponakannya lebih senang cingcau WENAK, karena kemasannya bisa dikoleksi dan buat mejeng bersama teman-teman sekolahnya.
“Enak ya Mbul ya! Sekarang kalo mau minum cendolmu nggak perlu lama-lama antri lagi.”
“Yaaa.. begitulah… Hooaaaahem.”
“Lho Mbul… itu kan iklannya cingcau WENAK kan?! Wahhh… bagus ya… liat kertasnya kinclong.”
“Yaaa… begitulah.”
Kang Setro sambil berdiri menghampiri poster itu. “Mbul… Mbul… bagus ini! Ini iklannya buat saya ya! Mau tak pigura! Tak pajang di ruang tamuku! Boleh ya Mbul? Wah pasti kamar tamuku jadi tambah ngantheng! Ato ini sengaja kamu pajang di sini Mbul?”
“Yaaa… ambil aja!”
“Aseeekkk….!” Kang Setro melepas poster itu dari pohon dengan hati-hati agar tidak sobek. Tapi walaupun sudah hati-hati tetap masih saja ada yang sedikit sobek di beberapa tempat, Kang Setro tetap sumringah menatap poster “miliknya” itu.
“Mbul… Mbul…” sambil menggulung posternya. Kok es cendolmu ini nggak masang iklan kayak es cingcau WENAK itu tho Mbul
Halah… ngapain Kang?! Gini aja udah rame kok! Ngabis-ngabisin uang aja! Orang juga udah tau kok gimana kualitas dan enaknya cendol warisan mbah debog bosok* saya ini.”
“Lhooo… biar kayak ini. Cingcau WENAK!”
“Kang… saya ini buka warung cendol udah lama Kang! Puluhan tahun! Bahkan sejak kakek buyut dari kakek buyut kakeknya kakek saya yang jaman VOC itu! Apalagi cendol saya ini udah kondang. Saben hari juga banyak yang datang.”
“Lha ini… kok sepi?”
“Yaa… ya… lagi sepi aja. Besok kan rame lagi. Mungkin mereka lagi bosen. Kan orang butuh istirahat to Kang. Refreshing. Haa… ini refreshing lidah!”
“Na itu! Bosan! Para pembelimu bosan! Itu-ituuu aja!”
Lha emang itu-itu aja! Orang yang tak jual cuman cendol! Mau diapain? Cendol ya cendol. Bentuknya yang kayak gitu-itu sejak jaman Belanda!”
“Weeee… saya dulu seneng lho waktu kamu itu ganti mangkok. Dari gelasmu yang udah kuotornya minta ampun itu. Malah pada cuil-cuil. Pindah ke mangkok putih ini… lho… yang ada gambar ayamnya. Jadi lebih nikmat!”
“Ya.. kan gelas-gelas itu emang udah usang. Perlu diganti. Makanya ganti yang baru! Ya mangkok itu! Bereskan!”
“Beres! Tapi ngomong-ngomong Mbul ya… maaf lho ini… sorry… menurut saya ya Mbul… tapi… maaf lagi lho ini… anu Mbul. Kan… anu…”
Ona… anu… ona… anu apa to Kang?”
“Anu… kan … maaf lho ini… sorry… kan buka warung cendol ini kan udah lama. Sejak jaman penjajahan. Kok… anu…”
“Apasih?”
“Anu Mbul… kok warungnya cuman gini-gini aja? Di siniii terus… ya… begini-begini aja.”
“Kang…. Begini aja udah banyak yang datang. Untung besar! Mau apa lagi? Nanti kalo tak gedhein dikira kemaruk!”
“Lha itu… cingcau WENAK?! Baru tiga tahun aja udah buka cabang sampai Amerika!”

***

Cingcau WENAK semakin laris saja. Sedang cendol Timbulsukoco makin merana di bawah pohon randu. Banyak juga yang parkir di depan warung Timbulsukoco. Mobil-mobil mewah. Tapi itu karena lahan parkir yang paling dekat dengan cingcau WENAK sudah habis. Maka mereka pun sampai memarkir mobilnya di depan warung Timbulsukoco.Timbulsukoco hanya memandang mobil-mobil yang nebeng parkir di depan warungnya. Pengunjungnya sekarang bisa dihitung dengan jari. Cendolnya memang masih enak. Masih terkenal. Tapi ketenarannya sudah tertutup oleh ketenaran cingcau WENAK. Hanya orang yang kebetulan masih ingat saja menyempatkan mampir. Pernah Timbulsukoco memberi diskon sampai 70% barang dagangannya. Cara itu memang berhasil namun hanya sesaat. Sesudah itu…

Omongan Kang Setro mulai menjadi pikiran bagi Timbulsukoco. Mungkin ada benarnya. Timbulsukoco terlalu terjebak dalam sejarah sukses masa lalu cendolnya. Terjebak dalam euforia-euforia yang sudah tidak njamani lagi di jaman ini. Cara masa lalu kakek buyutnya masih saja dibawa di jaman yang serba cepat ini. Timbulsukoco sadar bahwa dia termasuk kaum nostalgik yang menganggap masa lalu adalah kehidupan ideal, menganggap masa ini adalah hidupnya dan masa depan adalah hal yang aneh. Hingga akhirnya warung Timbulsukoco semakin sepi. Terus merugi. Hidupnya lambat laun mulai susut. Semuanya di ujung tanduk. Cendol paling enak di dunia rintisan kakek buyut yang dulu banyak membantu pejuang itu sedang diujung tanduk. Menunggu mati.

Cendolnya memang enak. Tapi dia lupa mengkomunikasikannya pada masyarakat. Cendolnya sehat, asli dari bahan alami. Tapi dia lupa untuk merawat konsumennya. Cendolnya yang enak sudah bertahan bertahun-tahun. Tapi dia lupa bahwa suatu saat ada orang lain yang mengikuti jejaknya untuk menjadi kompetitor. Dia lupa untuk merawat mereknya. Dia malas. Sangat malas. Penakut. Takut sekali akan hal baru. Produknya hanya cendol. Tak pernah berubah sejak dulu. Hingga konsumen bosan dan meninggalkannya.

***

Pohon-pohon cingcau milik tetangga Timbulsukoco semakin subur. Belakangan banyak tetangganya menanam pohon cingcau. Kualitasnya pun bagus. Daunnya sehat-sehat dan hijau. Ini tak lepas dari pemilik WENAK.corp untuk memberi pelatihan bagi penduduk sekitar gerai untuk menanam cingcau sebagai pemasukan bagi kehidupan masyarakat sekitar. Pelatihan yang diberikan bermacam-macam. Semuanya berhubungan dengan cingcau. Bagaimana memilih bibit yang baik. Memupuk. Lahan tanam. Dan sebagainya.Cingcau di daerah Timbulsukoco pun melimpah. Dengan kualitas yang bagus dan melimpah, maka harga menjadi murah. Selalu saja habis dibeli oleh perusahaan WENAK.corp untuk menyupali gerai-gerai yang lain. Masyarakat mulai terangkat tingkat perekonomiannya. Hanya satu yang makin terpuruk.

***

Pemilik WENAK.corp mendengar kisah Timbulsukoco. Mantan majikannya itu tenggelam dalam kemiskinan yang tak terbayangkan. Bagaimana tidak? Hidupnya sangat tergantung dengan cendol. Cendol adalah gantungan hidupnya. Cendollah yang menghidupi anak istrinya. Kini cendolnya merana menunggu mati. Jika benar mati, maka matilah Timbulsukoco.

WENAK.corp menawarkan bantuan pada warung Timbulsukoco. Subsidi bermacam barang dan uang pun mengalir. Bahkan warung cendol Timbulsukoco dipasok cingcau dari WENAK.corp. Sebagai rasa terimaksih, kata pemilik gerai cingcau terbesar sedunia itu. Kalau dulu dia pernah menjadi karyawan di warung Timbulsukoco. Di warung Timbulsukocolah dia banyak belajar. WENAK.corp tak pernah memberitahu pada konsumen bahwa cingcau yang enak itu juga dipasok ke warung Timbulsukoco.

Warung Timbulsukoco mulai kembali naik pamornya. Kini ada cingcau yang rasanya sama seperti di gerai WENAK. Harganya murah lagi. Di warung Timbulsukoco sangat murah. Rasanya sama. Hanya saja tak memakai kemasan yang membuat prestisius seperti milik gerai WENAK. Kehidupannya mulai membaik. Tak lupa di rumahnya dia juga menanam pohon cingcau kualitas terbaik. Sekarang warung Timbulsukoco juga beriklan. Tentu saja dibantu oleh WENAK.corp. bahkan WENAK.corp menawarkan diri untuk mengelola cendol Timbulsukoco agar menjadi lebih besar. Timbulsukoco tinggal duduk di rumah saja, menanti uang yang terus mengalir seperti air.

Kini cendol Timbulsukoco menjadi milik WENAK.corp. Dipertahankan ciri cendol Timbulsukoco yang berada di bawah rindanganya pohon Randu dengan angin semilir yang membauai. Kini setiap gerai WENAK di seluruh dunia dilengkapi pohon randu. Cingcau WENAK kini punya varian baru yang tak kalah nikmatnya. Tak perlu susah untuk menemukan gerai-gerai WENAK. Huruf “W” yang menjadi logo perusahaan itu sudah sangat terkenal di mana-mana. Lebih terkenal dari pulau Bali. Jika Anda kebetulan melewati gerai WENAK. Cobalah untuk mampir. Nikmati rasa baru dari WENAK; Randu Cendol namanya. Sudah terkenal kenikmatannya dimana-mana.


Jakarta11/04/2007
“Cendol di bawah pohon, di depan bengkel kereta api Langensari-Jogja, memang enak. Bikin kangen sama semilir anginnya sambil nyeruput cendol!”