C MINUS

C MINUS
Pic taken from Photos-public-domains.com


“Mami, math Kokoh dapet C minus.”
Setelah sebelumnya dia laporan nilai-nilai pelajaran lain yang A dan B, terakhir ini dia agak takut laporan ke gue. Hehe.. Karena pas math ini gue udah ingetin dia bolak-balik untuk review, dan dia dengan entengnya bilang bahwa dia udah tau. Ya, baiklah. 

Gue emang bukan tipe emak yang maksa anak untuk belajar. Belajar cukup di kelas pas sekolah aja. Kalo mereka udah ngerti, harusnya gak usah pake belajar lagi, logikanya udah masuk. Kalo mereka gak ngerti, gue suruh mereka untuk berani nanya ke gurunya dan minta jelasin sampe mereka ngerti. Bukan karena gue lepas tangan, tapi menurut gue itu proses yang penting untuk berani nanya dan minta penjelasan ketika kita gak ngerti sesuatu yang penting untuk kita, bukan iya iya aja padahal gak ngerti. Jadi tadi itu, gue paling cuma ingetin untuk review aja. Dan itu juga gak maksa.

“Are you mad?” Liel nanya gue. Dan untuk sesaat, respon awal gue masih standar. “No, I’m not. Just disappointed. Karena kemaren Kokoh bilang udah tau.” Trus kita diem-dieman, tapi dia masih di samping gue.

Sekelebat tiba-tiba gue kaya kesadar bahwa gue perlu memisahkan ekspektasi gue pribadi dari Liel. Iya sih, gue kecewa karena C minus itu jelek buat gue. Kalo gue dapet C minus, gue pasti akan kecewa berat. Jarang-jarang gue dapet nilai C, ehm.. Wkwkwk. Tapiiii.. ini kan tentang Liel, bukan tentang gue. Kenapa gue bawa-bawa ekspektasi gue ke dia? Gak ada urusan harusnya. Gue ya gue, Liel ya Liel. 

Maka gue bilang ke dia, “Kokoh, sebetulnya yang perlu kamu tau adalah gimana perasaan kamu sendiri? Ini kan tentang kamu, bukan Mami. Kamu gak usah pake perasaan Mami sebagai patokan. Perasaan kamu sendiri gimana? Kalo kamu kecewa dengan C minus itu, Mami harap kamu ambil pesan dan pelajaran dari kejadian ini, supaya ke depannya kamu tau kamu perlu gimana.” Dia cuma bilang, “Ya Mi.. Kokoh perlu review dan lebih prepare lain kali.” “Oke Koh.” Dan dia balik ke zoom kelasnya. 

Dalem hati gue bilang ke diri gue sendiri, “Kalo lo kecewa, itu urusan lo sendiri. Kenapa lo kecewa, itu yang perlu baca dan tau kenapa? Gak usah nular-nularin ke Liel. Kenapa dia mesti merasa bertanggung jawab atas perasaan maminya?” Oke, gue sepakat, dan gue juga gak mau mengulang cerita tentang orangtua yang meminta anak untuk menjaga perasaannya, padahal itu adalah ketidakmampuan orangtua untuk menghandle perasaan dan ekspektasinya sendiri.

Gue sendiri pernah ada di berbagai posisi. Atas, bawah, depan, belakang, mana aja pernah. Wkwkwkwk.. Iya, gue pernah jadi orang yang melempar tanggung jawab atas perasaan gue ke orang lain. Kesannya kalo gue marah, kecewa, sedih, itu gara-gara salah mereka. “Kenapa gak bisa jaga perasaan gue?” Yeee.. Pengen toyor kepala sendiri gue kadang-kadang. Tapi gue juga pernah di posisi sebaliknya, harus ngejaga perasaan orang, padahal itu tentang diri gue sendiri. Ada beberapa keputusan penting dalam hidup gue dulu yang gue ambil untuk menyenangkan hati orang atau untuk menghindari konfrontasi. Padahal sebenernya bukan itu keputusan yang gue mau. Cape, lelah, kering rasanya.. Hidup, hidup gue, tapi kenapa gue gak bisa memilih yang gue suka karena takut orang lain kecewa sama gue?

Sedikit flashback, ketika gue kuliah, gue memilih jurusan accounting karena hasil negosiasi. Nyokap dan keluarga pengen gue ambil kedokteran, kimia, farmasi, dkk. Gue? Gue pengen ambil sastra. Tengah-tengah, yang mereka setujui, dan lumayan bisa gue demen-demenin dan tahan-tahanin adalah accounting. Jaman dulu, gue masih berpikir bahwa “Ya udahlah, emang kudu nurut kali ya ama orangtua,” dan gue gak sedikitpun memperjuangkan pilihan gue. Tanggapan kaya, “Sastra? Udahlah les bahasa aja,” atau “Mau jadi apa ntar?” udah cukup bikin gue berhenti waktu itu. 

Terus pas akhirnya gue lulus kuliah, gue diterima di salah satu kantor akuntan gede, dan gak lama kerja gue memutuskan untuk resign. Keputusan gila sih dipikir-pikir, tapi mungkin waktu itu panggilan jiwa gue udah memutuskan bahwa bukan itu yang gue mau. Dan jangan ditanya kekecewaan orang-orang di sekeliling gue karena keputusan itu. Nyokap, kokoh, keluarga besar, sampe temen kerja n atasan gue sendiri. Mereka menyayangkan keputusan gue karena menurut mereka gue punya masa depan yang bagus di situ. Banyak yang berharap sama gue. Ke sini-sini gue baru mikir, kenapa pilihan untuk hidup gue sendiri bisa mengecewakan orang lain?

Kembali ke saat ini. Gue harap gue gak melakukan hal yang sama dan bikin anak gue ada di posisi yang gak enak karena berpikir harus mengambil pilihan yang menyenangkan hati orang lain. Gue pengen mereka bisa menjalani hidup yang mereka pilih dan bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri. Cukup bisa bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri, tanpa harus terbebani untuk bertanggung jawab atas perasaan gue. 

Dan gue juga belajar untuk kembali bertanggung jawab atas pilihan-pilihan gue sendiri, memisahkan perasaan orang lain dan perasaan gue, keyakinan orang lain dan keyakinan gue. Bukan berarti gue jadi gak peduli ama orang lain, tapi gue belajar untuk bisa hadir, mendengarkan, dan menemani orang lain tanpa harus mencampuradukkan perasaan atau keyakinan milik mereka dengan milik gue. Justru dengan gue belajar bertanggung jawab atas perasaan, keyakinan, dan pilihan gue sendiri, gue jadi lebih bisa ada untuk orang lain tanpa merasa ikut terbebani oleh mereka atau juga membebani mereka.

Thank you for the reminder from your C minus, Liel..

 

https://lompatanhidup.com/