Angin dan Khayalan

Angin dan Khayalan

Sambil menikmati hembusan angin, Memet memandangi daun-daun yang berserakan di halaman rumahnya. Matanya awas memandangi sekelilingnya, kemudian memet menghentikan pandangannya seakan menyadari sesuatu. Ternyata banyak sampah berserakan di halaman rumahnya.

Mulai dari bungkus rokok, bungkus cemilan sampai bungkus mie. Memet bertanya-tanya dalam hati "nih sampah datengnya dari mana? Perasaan aku nggak pernah jajan beginian".

Selidik punya selidik si angin lah yang membawa sampah-sampah ke halaman rumahnya. Melangkahkan kakinya perlahan ke depan, selangkah demi selangkah sambil melihat sekitar, Memet mencari darimana sumber sampah ini berasal. 

Sampai ia temukan tempat sampah kecil di depan pagar rumahnya, milik tetangga sebelah rumahnya. Tempat sampahnya baru, sebagai tempat sampah dia tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. "Pantes aja angin dengan mudah mengeluarkan sampah-sampah ini. Udah ruangnya kecil nggak ada tutup di atasnya, tidak sesuai SNP(Standar Nasional Persampahan).

Hal ini tentu saja memuluskan niat si angin melancarkan kejahilannya, memporak-porandakan sampah-sampah yang ada di dalamnya, membuat kesal masyarkat sekitar. 

"Dorrr". Tiba tiba si Edap mengagetkan Memet dari lamunannya. Memet sedikit terjungkal kaget, kemudian dia terbang bersama hembusan angin.

Ya... Sebenarnya Memet adalah bagian dari tumpukan-tumpukan sampah itu sendiri, sebelum dia disadarkan oleh kawannya si Edap. Dia menghayal menjadi manusia ketika sudah terbebas dari tempatnya. Impiannya sederhana, berharap hidupnya bermanfaat untuk masyarakat disekitarnya. Tidak hanya menjadi tumpukan sampah yang tidak berguna seperti saat ini. Hanya menjadi beban untuk masyarakat.