Perempuan, Buku dan Waktu Senggang

Bagaimana sepuluh perempuan memanfaatkan waktu senggangnya untuk menulis buku.

Perempuan, Buku dan Waktu Senggang
Foto: Farah Rachmat

Yuk, coba perhatikan: Apa yang dilakukan perempuan di waktu senggangnya?

Ada yang asyik ngobrol dengan teman, meskipun via chat Whatsapp. Jempol-jempol menari. Berbagai emoticon dan stiker ditambahkan sebagai penghias kata-kata.

Ada yang memilih nonton film. Drakor, mungkin? Ada banyak pilihan tempat nonton. Bioskop? So last century! Dunia digital begini banyak banget pilihannya. Mo yang berbayar? Mo yang ilegal?

Ada yang ... membaca buku. Pilihan membaca buku juga makin bertambah opsinya. Bisa pinjem di perpus berbasis internet, bisa juga beli dan baca ebook, dan tentu saja, tetap ada pilihan klasik: Baca buku kopi keras, eh, hardcopy ... Hehehe.

Nah, masih soal buku dan tulis-menulis, ternyata yang namanya orang yang suka nulis juga banyak. Ada yang suka nulis puisi, ada yang memilih nulis cerpen, esai, bahkan novel. Ada juga yang suka menulis status di Facebook, nulis di blog, atau sekadar ngupdate status di Whatsapp. Iya, kan?

"Semua Orang Bisa Menulis" begitu provokasi Budiman Hakim dan Asep Herna di acara IG live Rabu malam, 24 Februari lalu (di sini). Bahkan Om Bud, begitu Budiman Hakim biasa disapa, mengingatkan bahwa sejak sekolah dasar kita diajarin menulis dan mengarang. Secara ekstrem, Om Bud selalu mendorong siapa pun dengan: Sebelum mati buatlah minimal satu buku. Sebuah bujukan, alias teror halus yang berhasil dibenamkan di benak banyak orang, termasuk murid-muridnya di Komunitas The Writers.

Adalah sepuluh perempuan, termasuk saya, dari Komunitas The Writers ini, yang dengan sukarela membentuk sebuah grup untuk menulis buku bersama. Ya, sebuah buku antologi. Demi mengekspresikan diri dengan kesukaan menulis. Sepuluh perempuan dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kesamaannya, salah satunya, ya itu tadi, menulis.

Kesepuluh perempuan ini punya pekerjaannya masing-masing. Jadi, urusan menulis buku ini dikerjakan di sela-sela kepadatan pekerjaan dan tugas-tugas utamanya. Kebayang, ga, hebohnya? Sepuluh perempuan! Kalo perempuan sering diolok-olok dengan istilah Woman is always right, artinya kalo ada sepuluh perempuan berarti Ten Women are All Right. Hehehe. Alias, masing-masing unik dan punya hak bersuara, tetapi punya toleransi tinggi menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada.

Buku kami itu berjudul The Kardushians Stories: Pindahan Sepuluh Perempuan. Ya, kami mengambil tema pindahan sebagai pengikat buku antologi ini. Ada sebelas cerpen dan tiga nonfiksi. Buku ini diluncurkan tanggal 13 Februari 2021 lalu. Om Bud, Kak Devina, dan Kang Asep, beberapa pendiri Komunitas The Writers inj, mendukung penuh dengan memberikan venue peluncuran buku via Zoom, serta Youtube Kanal Kata (di sini).

Kami memilih Bravebooks, sebuah vanity publisher, milik seorang teman, untuk menerbitkan. Promo dan penjualan kami kerjakan bersepuluh.

'Buku itu punya jalan hidupnya sendiri." Begitu banyak orang mengingatkan. Ternyata benar!

Ternyata, sambutan teman-teman yang membaca buku sangat bagus. Satu orang berkomentar di medsos, membuat orang berikutnya pengen. Salah satu teman berbaik hati menuliskannya di sini. Perlahan tapi pasti, cetakan batch pertama makin menipis. Benar-benar membuat kami senang dan semangat. 

"Woi, ada temenku mau beli buku. Siapa masih ada stok? Help please."

Teriakan semacam itu mewarnai percakapan di grup Whatsapp kami. Grup yang selalu ramai dengan berbagai hal, mulai dari makanan, film, buku, tulis-menulis, acara-acara, urusan buku, termasuk urusan pribadi yang perlu dibagikan serta berita duka. Perlahan tapi pasti, kami menjadi sebuah keluarga: Kardushians. Plesetan dari Kardashians dan kardus.


Begitulah bagaimana kami, para perempuan, memanfaatkan waktu senggang di zaman digital ini. Tidak cukup hanya baca buku, kami pun menulis buku. Belum berani menulis buku sendirian, kami pun rame-rame bikin antologi. Satu buku sudah selesai, kami pengen nulis buku lagi. (rase)