Once Upon a Time in Perth

Perjalanan tiga anak ABG ke Australia tanpa pengawalan orang dewasa

Once Upon a Time in Perth

Waktu saya kelas 1 SMA, saya dilepas orang tua pergi ke Perth, Australia hanya bertiga bersama kedua adik laki-laki yang waktu itu kelas 1 dan 3 SMP.

Bapak seingat saya, tidak terlalu banyak membantu dalam persiapannya, selain membelikan tiket, mengurus visa dan mengantar ke bandara tentunya. Beliau hanya memberi arahan dan menyuruh saya membaca sendiri buku serial Lonely Planet, kitabnya para "backpackers" sedunia, yang berjudul "Australia".

 Saya bikin sendiri itinerary walaupun akhirnya gagal dijalankan karena adik-adik saya susah bangun pagi dan lebih suka main ke Time Zone (waktu itu belum ada di Indonesia) daripada ke museum atau ke tempat "tourist attractions" lainnya.

Jelas lah pada saat itu belum ada telepon seluler apalagi internet. Ibu mengontak kami via resepsionis hotel tiap malam (namanya Grand Central di seberang station kereta api, hostel "backpackers" gitu deh), itu pun tidak bisa lama-lama karena SLJJ kan mahal banget.

Tapi saya berhasil "menyeret" kedua adil ke Fremantle naik kereta api plus esoknya ke kota kecil bernama Gosnells untuk melihat koala di Cohunu Koala Park (tempatnya terpencil).  Keasyikan main nggak mikirin kalau sore taksi susah didapat, dan waktu itu nggak ada bis pula. Terpaksalah jalan kaki ke Gosnells Railway Station, jauh banget rasanya daan saya sangat terkejut waktu barusan lihat Google map ternyata jarak tempuh Cohunu ke Gosnells itu 19 km.

Bosan jalan jauh, kami sempat berhenti dulu untuk mengamati bangkai serigala di pinggir rumah terpencil, lalu melihat jalan lurus yang seolah tak berujung dan beberapa mobil yang lewat begitu saja. Untunglah sebagai "tour leader" saya nggak nekat mutusin "hitch-hiking".

Para adik akhirnya malah lemparin botol minuman yang ditemukan di pinggir jalan (yang sepiiii banget). Saya marah but they kept doing that, sampai saya nyerah melarang mereka, mereka yang "super manis" itu. Dalam hati saya berkata, semoga ada bule yang marahin mereka, alhamdulillah doa saya terkabul. Seorang ibu-ibu bule sengaja berhenti untuk memarahi mereka. Sukurin!

Sampai saat ini saya masih mikirin, kok saya bisa menjalaninya dan kenapa nekat banget ya kedua orangtua saya? karena saya tidak akan berani melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya.

Tapi cerita itu menjadi sebuah bukti buat saya, bahwa usia abg itu tidak seculun dan se-clueless yang dikira, jika diberikan kesempatan. Orangtua harus belajar percaya kepada anak-anaknya sendiri, and teach them to be confident with their own judgment.

Oh ya ada yang kelewat, kami sempat ditawari seorang om asal Indonesia yang kami temui di pesawat untuk diantar ke hotel naik mobilnya. Tapi setelah lewat baggage claim saya lihat si om dijemput teman-teman sesama om-om yang mukanya kaya orang aneh, feeling saya jadi nggak enak. Waduh jangan-jangan si om mau nyulik atau macem-macem nih! Langsung saya ajak adik kabur dan sembunyi di sudut airport sampai yakin mereka sudah pergi. Baru setelah itu saya cari taxi untuk ke hotel, sopirnya baik banget, dan  bilang ke saya "Your English is very good, do you live here?" Ahaha bangga banget si abegeh sotoy.

Yes, I was only 16 at that time, with my 14 and 15 year old "sweet brothers", cool huh? 

Thank you Bu, Pak for being anti-mainstreamists parents .