Ibu Bohong

Ibu Bohong
Image by pixabay.com

Ibu di mana? Aku rindu. Hari ini tak mengenakkan, aku mau nangis di bahu ibu.

Ibu bohong, katanya jika ibu pergi dan tak pulang-pulang tandanya aku sudah bisa ibu tinggal sendiri. Mana buktinya Bu?

 

Menyeka air mata sendiri, pejamkan lalu buka, pejamkan lagi lalu buka kembali. Ibu tetap belum pulang.

Kuambil es batu, kutaruh dalam kaleng bekas wafer yang sudah kubersihkan. Kubawa ke kamar, kuluruskan kakiku, mengambil posisi enak lantas pelan-pelan kutekan-tekan mataku.

 

Kamar ini adalah saksi bisu kala aku bermanjaan dengan Ibu.

Hari ke-225 Ibu pergi tanpa pamit. Marah aku pada Ibu. Penyesalanku tak berujung, rasanya aku menjadi satu-satunya anak paling durhaka, yang melepaskan Ibu tanpa alunan ayat suci Alquran, tanpa senyum dan bekal untuk Ibu.

 

“Dru, dimanapun kamu berada, mukena jangan sampai ketinggalan, ngaji walau seayat jangan sampai kamu lupa. Nanti kalau Ibu tua, bekali ibu setiap ayat ya Dru biar tenang istirahatnya Ibu.”
“Kan Ibu bisa ngaji sendiri. Kenapa harus Dru Bu?”

“Ah kamu, Ibu tidak pernah keberatan bacakan dongeng hingga kau asik degan Novel dan Handphone -Mu. Masa kamu keberatan dengan permintaan Ibu.”

“Baik Bu, aku bacakan untuk Ibu setiap hari ya. ”

 

Tubuhku semakin hari semakin memburuk keadaannya, tiba-tiba demam lalu tiba-tiba sangat dingin. Sekali waktu bisa sampai 39 derajat lalu tiba-tiba menurun sampai  35 derajat. Lalu kepala yang tak tahan sakitnya jika sudah pusing melanda. Aku hanya bisa menangis agar kejadian terburuk tidak terjadi.

 

Biasanya Ibu akan ambilkan obat, siapkan teh hangat, sedikit camilan dan menemani aku sampe tertidur pulas.

 

“Kamu itu kebiasaan, kalau sudah tidak betah kerja pasti sering sakit.”
“Kok Ibu paham sekali Bu?”
“Laiya kan Ibu perhatikan. Memang ada masalah apa lagi sih?. Kok Kamu ngebet banget ingin resign.”

 

Obrolan kami terakhir hanya aku jawab dengan senyuman. Kenyataannya aku mencoba bertahan, karena aku sendiri malas cari pekerjaan baru.

 

Tidak ada yang bisa gantikan Ibu. Sampai saat ini aku masih menagih janji pada Ibu. Kata Ibu, jika saatnya tiba, ibu akan minta Tuhan seseorang untuk melindungi aku.

 

Siapa Bu, Siapa yang akan menjaga aku, menemani aku, membuatku tertawa, membuatku tersenyum?. Aku belum temukan orang yang ibu maksud.

 

Kuseduh kopi dan kutambahkan sedikit gula aren. Lidahku masih terlalu pahit untuk minum kopi sepagi ini, perutku masih terlalu perih untuk menerima asupan air keruh yang biasa temani setiap hariku.

 

Begini rupanya hidup sebatang kara, tempatku mengadu hanya pada Tuhan. Semenjak Ibu pergi, rasanya hatiku tak pernah tenang. Meletup hebat, bergejolak bahkan hampir meledak.

 

Berkali-kali ingin aku susul Ibu. Aku tak sanggup berjalan sendiri.

 

Sakitku belum sembuh betul, 2 botol obat, 1 kantong antibiotik masih harus aku habiskan. Kuambil secuil biskuit. Kujejalkan obat dengan terpaksa. Sedikit ku tambah dosisnya, agar aku segera terlelap kembali dan melupakan kejadian-kejadian yang tak mengenakkan yang semakin sering hadir.

 

“Kamu kenapa lagi Dru?”
“Bu, hari ini aku lelah. Rasanya jarum jam berjalan saja tidak aku sadari. Aku mau istirahat Bu, tapi susah sekali hanya untuk meregangkan kaki dan punggungku.”

“Begitu saja menangis. Cengeng ya anak Ibu.”
“Bu, aku tidak cengeng. Aku memang lelah Bu. Aku sudah melakukan yang Ibu mau, menjadi yang terbaik dan selalu berbuat baik.”
“Kamu belum melakukan yang terbaik jika kamu masih mengeluh.”

 

Ibu mengambil segelas teh hangat yang sudah ibu campur dengan potongan jahe.

Kuperhatikan kelihaian ibu meramu minuman untukku, dalam waktu sekejap ibu sudah siapkan tiga jenis minuman anti sakit untukku. Segelas teh jahe, secangkir susu telur madu dan segelas air putih yang sudah ibu tambahkan daun mint.

 

“Bu, anak ibu dihina loh Bu. Sakit hati aku Bu.”
“Dihina bagaimana sih Dru. Masa anak sehebat kamu dihina orang.”

“Aku dikata-katain Bu.”
“Kasar?”
“Menurutku iya Bu.”
“Kotor?”
“Ya tidak sih. Tapi menyakitkan Bu.”

“Ada Ibu. Kamu cukup dengarkan kata Ibu. Kamu jangan ingat-ingat kata-kata tidak baik yang telah kau dengar!”

 

Alarm berbunyi kencang. Adzan sudah berkumandang.

Sudah lama tak menginjakkan kaki di Mesjid. Rasanya Maghriban di Mesjid mungkin akan membuatku jauh lebih tenang.

 

Memang Kamu itu siapa?
Kamu itu siapa?
Kamu itu siapa?

 

Ya Allah, kenapa kata-kata ini memenuhi pikiranku.

Seandainya Ibu tahu, mungkin Ibu akan sedih. Aku yang diperlakukan seperti Ratu oleh Ibu, tak akan senang Ibu mendengar anaknya dibuat menangis.

 

Aku memang bukan siapa-siapa. Aku memang begini-begini saja. Aku hanyalah anak perempuan Ibu yang mencoba untuk menjadi wanita kuat, cerdas dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.

 

Aku tidak berada di tempat yang tinggi, tapi Tuhan meninggikan aku. Seharusnya aku balik katakan, “Kamu siapa, berani sekali berbuat tidak baik padaku?”. Sayangnya mulutku masih bisa menahan untuk mengumbar emosi.

 

Senja belum berpulang dengan sempurna, di ujung takbir pada alunan adzan, matahari masih sisakan bagiannya sebelum malam menggantikan posisinya.

 

Warna langit senja yang begitu indah, jarang aku lihat seperti ini. Apakah adzannya terlalu cepat atau Matahari yang terlambat pulang?.

 

Kaki melangkah pelan, agak kuseret sedikit karena rupanya kepala dan badankuku belum siap bertemu angin sore. Baru saja beberapa langkah, badan serasa mau ambruk.

 

“Dru, kamu jalan kok sempoyongan sih. Belum sembuh ya?. Jangan paksa ke Mesjid lah Dru.”

“Aku bosan di rumah. Seperti hidup di dalam kotak. Malah tidak kunjung sembuh sakitku.”
“Ya sabar dong Dru. Namanya juga sakit. Aku antar pulang yuk!”
“Kamu kan harus Maghriban juga Bram. Teruskan saja yuk. Nanggung sebentar lagi sampai.”

 

Kubasuh wajahku, kubersihkan bagian lainnya. Kuhamparkan sajadah, kuambil posisi dekat pintu keluar, agar kalau tiba-tiba ambruk, orang-orang mudah mengeksekusi.

 

Biasanya ada Ibu di sebelahku. Aku bermanjaan sesaat setelah Tahiyatul Mesjid. Lalu ngobrol sebentar setelah salam dan memanjatkan doa pada-Nya.

 

Aku kesepian Bu. Aku sendirian. Tangisku terus saja hadir seakan aku tak ikhlas Ibu pergi. Aku lemah Bu. Aku bukan perempuan kuat yang ibu gadang-gadang sanggup menghadang semua yang menentang.

 

Aku rapuh Bu. Aku tak punya pegangan.

 

Kulipat sajadah dan mukenaku. Lupa kalau aku datang Bersama Bram. Kuseret kembali kakiku menuju rumah.

 

Penglihatanku tidak jelas, berkunang-kunang, buram dan pendengaranku tiba-tiba menghilang.

 

“Dru, bangun. Aku bilang juga apa. Aku bilang pulang ya pulang. Kan jadi bikin panik orang kalau sudah begini.”
“Kamu ngapain Bramdi rumahku?”
“Ngapain?, kamu bilang ngapain?”

“Menurutmu, aku akan biarkan kamu terkapar di jalan seperti tadi?”
“Aku, terkapar?”
“Kamu pingsan Dru. Bandel ya kamu. Pantesan Ibu selalu wanti-wanti padaku untuk menjaga kamu. Bandel sih kamu.”

 

Kutatap mata Bram. Berkali-kali Bram hadir di mimpiku Bersama Ibu. Ingin aku sampaikan pada Bram perihal mimpiku. Tapi aku takut ditertawakan oleh Bram. Pasti Bram akan meledekku. Sebal aku pada Bram kalau sudah meledek.

 

Sepeninggal Ibu, Bram yang sering hadir menemani aku. Di sela kesibukannya, ada saja satu waktu yang Bram sempatkan untukku. Perlahan aku mulai menyukai Bram. Perlahan ada benih cinta yang kutanam. Perlahan ada doa yang aku panjatkan.

 

“Hei, melamun. Sudah waktunya minum obat. Kamu makan sedikit ya!”
“Aku sudah sembuh kok Bram.”
“Sembuh kok merepotkan. Sudah tak usah debat. Minum!”

 

Bram lihai seperti Ibu. Aku tak sampaikan apapun, tapi Bram menyiapkan minum seperti yang Ibu siapkan untukku. Bram siapkan camilan dan Bram siapkan obat yang harus aku minum.

“Bram kamu itu siapa sih?”
“Aku, ya Bramantyo. Temannya Dru, yang sayang sama Dru, yang suka sama Dru, yang menerima pesan Ibu untuk menjaga Dru, yang siap melindungi Dru namun sayang Dru belum tahu kalau seorang Bramantyo ingin lebih dari sekadar teman.”

“Apa sih Bram. Aku tak paham?”
“Tak usah dipahami Dru, rasakan saja. Kelak ada banyak doa dan harap yang akan hadir di antara aku dan kamu.”

 

Kurapikan posisi dudukku.

Bram membereskan obat dan minumanku. Kulihat Ibu di sebelah Bram tersenyum padaku.
 

“Dru, cepat sembuh ya. Aku pulang dulu. Aku sudah siapkan makanan kalau kamu terbangun tengah malam. Perutmu tidak boleh kosong.”

“Bram, kamu itu siapa sih?”
“Haha kamu kok tanya terus sih. Tapi pertanyaanmu tidak sedang mengumbar marah kan?”
“Ya enggak lah Bram. Tapi kamu itu sebetulnya mau apa hadir di kehidupanku?”
“Dru, aku bukan siapa-siapa jika kamu tak ijinkan aku untuk menjadi seseorang yang istimewa untukmu. Aku bukan siapa-siapa jika Allah tak ijinkan aku temani kamu. Aku bukan siapa-siapa jika hatimu tak kau beri untukku. Tapi yang pasti kamu adalah perempuan istimewa yang patut aku perjuangkan.”
“Keliru kamu Bram. Aku ini bukan siapa-siapa. Aku hanya perempuan tidak berguna, perempuan kelas bawah dan perempuan yang tak layak untuk memiliki seseorang yang istimewa.”

“Kamu bicara apa sih?. Dengar ya Dru, hanya orang-orang yang picik yang tidak bisa menghargai orang lain. Apalagi menghargai kamu, perempuan yang istimewa untukku.”

 

Menetes kembali. Terharu. Semoga hati tak keliru memilih.

 

Ah Ibu. Apakah ini janji yang Ibu tepati?. Apakah Bram yang telah ibu titipkan pesan?.

 

Kupejamkan mata, kupanjatkan doa dan kumeminta Tuhan berikan yang terbaik untukku.

 

Ibu ternyata tidak bohong. Ibu tepati janjinya. Maaf Bu, aku terlambat menyadari.



#Bandung, 30 Agustus