Catatan Sandal Jepit

Catatan Sandal Jepit

Hari Minggu, saya dan suami “kesepian”. Biasanya setiap hari Minggu rumah kami selalu ramai, anak-anak berkumpul, penuh dengan kegiatan seru bersama. Pas hari itu, semua anak-anak sedang camping bersama sekolah. Juga pembantu rumah lagi keluar ijin pergi ke pasar. Sanak saudara biasanya ada saja yang datang berkunjung. Tapi kali ini tidak ada yang muncul satupun, sunyi. Mungkin karena tahu anak-anak sedang tidak ada di rumah, jadi anak-anak merekapun tidak mau mampir.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi keluar cari makan. Ya seperti biasanya, sudah masuk mobil masih belum punya tujuan yang pasti mau kemana. Saya usul makan soto, kata suamiku tidak lagi mood karena udaranya siang itu panas sekali.

“Makan Jepang yuk”

“Ga ah, berdua aja ga seru”

“Padang?”

“Baru dua hari yang lalu makan Padang sama teman-teman kantor”

“Ya sudah lah, terserah saja”

Selanjutnya saya diam, menunggu apa yang mau suamiku usulkan.

“Kita makan Manado aja ya”

“Ga ah, jangan yang pedas-pedas. Perut saya lagi ga enak.”

“Sunda?”

“Baru rencananya besok mau masak sayur asem”

“Korea?”

“Ehhmmm, pilihan lainnya?”

“Ya sudah lah, terserah saja” gantian dia yang bilang terserah.

Untuk beberapa saat kami berdua diam, sementara mobil tetap meluncur tanpa jelas arahnya kemana.

“Bagaimana kalau berikut ini kita ketemu sebuah tempat yang belum pernah kita kesana. Kalau kayaknya ok. Kita makan di situ aja yuk”

“Ya udah”

Saya diam. Diapun diam. Saya sambil celengak-celenguk cari sasaran. Diapun sambil nyertir sambil  sepintas menengok ke sisi jalan.

Pas di jalan Tjikini, kami melihat ada sebuah rumah tua dengan halaman yang cukup luas. Ada beberapa mobil parkir di halaman depannya.

“Sudah situ saja yuk” usul saya.

“Itu makanan Sunda” jawab suami saya.

“Memang kenapa?” tanya saya.

Lantas dia sedikit menarik napas panjang; kedua alis matanya dinaikkan; bibirnya terkatup melenggok ke kiri dan ke kanan; kedua bahunya diangkat. (Mungkin dalam hatinya mengumpat, dasar perempuan, hehehe biarlah). Dia setuju dengan usulanku.

Resto ini berdekorasi ala rumahan jaman dulu. Mengingatkan saya rumah kakek di Sukabumi. Begitu masuk suasana di sana terasa nyaman, tenang, dan damai. Ada jam kotak yang ada gandulan menghias dinding. Ada timbangan kuno yang pakai “batu” timbangan anak beranak. Mesin kasir yang ada tuts yang harus ditekan satu persatu. Piring sajinya dari piring kaleng yang pinggirannya bunga-bunga. Hiasan dinding dengan lukisan pemandangan gunung Indonesia.

Di tengah ruangan ada seperangkat sofa kayu dan anyaman bambu untuk senderan dan tempat duduknya. Dibeberapa pojok ada pohon-pohon puring kuno yang berwarna warni. Saat itu pengunjung masih belum begitu ramai.

Kami sengaja memilih duduk di pojok agar bisa menikmati seluruh suasana restoran itu.

Setelah order makanan dan minuman, tiba-tiba, mata saya terpaku dengan sebuah handphone yang sedang discharge di lantai. Telepon tergeletak di atas sepatu. Sepatu sebelah kiri.

Terus iseng saya bertanya pada suami, kenapa handphone itu discharge di atas sepatu. Jawabnya singkat, nyata malas berpikir, “Mana tahu. Sebodo amatlah”

Jujur saya penasaran.

Makanan kami datang, sambil menikmati gurame goreng, sayur asem, dan sambal terasi, mata saya sekali-sekali melirik ke sepatu itu.

“Awas jangan dimakan sambalnya. Nanti sakit perut kamu kambuh” celutuk suami saya, mengusik lamunan saya mengenai sepatu itu.

“Ahh sudah baik koq”

Sekali lagi terdengar tarikan napas yang cukup dalam. Hehehe.

Seorang pria setengah baya dari meja depan berdiri, terus jalan agak terseok-seok. Menuju HP, sambil membungkuk, ia mengambil handphone yang sedang discharge itu. Lalu telapak kaki kirinya masuk ke dalam sepatu itu. Ia kembali berjalan dengan gagah menuju mejanya.

“Boleh ga ya saya tanya ke Bapa itu kenapa ngechargenya harus pakai sepatu” saya bertanya ke suami sambil mengharap dukungan.

Malah dengan acuh tak acuh dijawannya, “Aduh kepo banget sih kamu ini”

Eh, memang sih kepo. Tapi gimana lagi dong, penasaran.

Saya menghampirinya, dengan cukup sopan saya bertanya, “Maaf ya Pak, boleh tahu kenapa tadi Bapak ngecharge HP di atas sepatu?”

Malah dia tertawa lebar, “Penasaran ya mbak?”

“Iya pak, kalau ga penasaran, masa sih nekat bertanya.”

Dengan tenang dan susunan kalimatnya sangat terstruktur, ia menjelaskan (oh ya, suaranya dalam kayak penyiar radio) kalau akhir-akhir ini sejalan dengan bertambahnya usia ia sering lupa dalam banyak hal. Nah, kalau tanpa sepatu mungkin ia bisa lupa kalau sedang ngecharge HP disana. Bisa saja ketinggalan. Jadi kalau ditaruh di atas sepatu kan tidak mungkin lupa. “Nah, ketika saya mau pulang, pasti berjalan timpang kan tanpa satu sepatu, pasti saya langsung ingat sepatu dan HP”

Hahaha… giliran saya yang tertawa garing. Beberapa saat kami saling berbasa-basi. Bapa itu lumayan lucu dalam bercerita. Sambil memberi dua jempol, saya berterima kasih atas pelajaran yang saya dapat hari itu. “Hebat. Keren-keren Pak” Saya memujinya dan pamit.

Ketika saya menjelaskan kepada suami kehebatan si bapa, komentarnya singkat saja, “Genit ah kamu”. Wah, rupanya dia cemburu.

Sejak saat itu, saya mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga. Dulu saya termasuk orang yang sangat aktif, kegiatan saya sehari-hari bisa loncat dari satu aktivitas ke lainnya dengan cepat dan mudah. Jadi banyak hal yang seharusnya dikerjakan tidak dikerjakan. Begitu juga sebaliknya, yang tidak harus dikerjakan malah dikerjakan.

Dari kisah sepatu ini timbul sebuah ide, setiap malam sebelum tidur, saya menulis di sebuah kertas kecil semua hal yang akan atau harus saya lakukan pada keesokan harinya. Kemudian saya menaruh catatan mungil itu di atas sandal yang sehari-hari saya pakai. Jadi begitu bangun tidur, begitu mau pakai sandal, mau tidak mau saya harus mengambil catatan itu. Dan saya baca satu persatu rencana saya untuk hari itu. Sampai hari ini, hidup saya jauh lebih rapi dan terarah. Pastinya sudah punya tujuan apa yang harus saya lakukan pada hari itu.

Dulu biasanya saya juga mencatat “things to do” di handphone tapi sering juga lupa membuka dan membacanya.

Nah, hal baik ini saya sarankan kepada adik saya untuk  juga melakukannya. Spontan katanya, sehari-hari di rumah dia tidak pernah pakai sandal. Tidak kehabisan akal saya memberi ide lainnya,  coba selipkan catatanya di celana dalam bersih yang mau dipakai hari itu. Meskipun kesel dengan ide konyol ini, adik saya tetap konsisten melakukan "catatan celana dalam" nya. Baguslah.