Bercerita, Mengurai Hambatan dalam Komunikasi

Bercerita (Storytelling) cara mengurai masalah dan hambatan dalam komunikasi, negosiasi, persuasi dan argumentasi.

Bercerita, Mengurai Hambatan dalam Komunikasi

Bercerita merupakan salah satu cara yang sangat efektif dalam komunikasi. Sayangnya, bercerita masih menjadi satu hal yang sering terlewat dan terabaikan. Salah satu penyebabnya adalah adanya anggapan bahwa menyampaikan cerita hanya cocok untuk mereka yang berbakat atau bekerja sebagai penulis dan pendongeng. Lebih buruknya, bercerita sering dianggap hanya sekedar aktivitas hiburan untuk mengisi waktu senggang. Padahal, kenyataannya tak ada satupun dalam hidup kita yang lepas dari cerita. Semua yang ada di sekitar kita adalah narasi-narasi yang sudah ada sejak lama, yang terus diproduksi ulang, dan memengaruhi hidup serta pilihan kita.

Penyebab berikutnya adalah adanya anggapan bahwa logika dan fakta adalah faktor utama yang memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan. Anggapan ini, seringkali membuat kita terjebak menyampaikan data-data yang kering dan informasi yang hambar. Nyatanya, keputusan seseorang tidaklah selalu logis dan faktual. Seseorang tergerak mengambil keputusan-keputusan tertentu, juga sangat terkait oleh pengaruh emosional. Dapat dikatakan, dengan merangkai informasi dan data-data ke dalam cerita yang menyentuh emosi serta memantik imajinasi, kita akan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam mempengaruhi seseorang.

Sebagai gambaran komunikasi yang menyenangkan, kita mungkin bisa mengibaratkan cerita seperti sebuah bingkisan kado ulang tahun yang indah. Isi kadonya memang penting, tapi cara membungkus dan menyampaikannya kepada orang yang kita cinta juga merupakan hal yang sama pentingnya. Berkomunikasi mestinya seperti memberikan kado ulang tahun yang indah. Ia terasa menyenangkan dan membuat semua orang menunggu-nunggu untuk mendapatkannya.

Dengan begitu, anggapan bahwa bercerita adalah aktivitas sambil lalu, tentu saja keliru. Bercerita sebetulnya adalah salah satu cara paling kuat untuk memengaruhi seseorang. Namun, apa yang membuat cerita begitu efektif dalam sebuah komunikasi?

 

Data membuat lelah, cerita membuat kita tergugah

Dalam kepungan media sosial, kita sebetulnya lelah dengan serbuan data dan informasi. Kita tidak mungkin membebani lawan bicara kita dengan tumpukan data dan informasi mentah  yang tidak diolah. Kita perlu menyampaikannya dengan lebih kreatif, menyenangkan, dan menggugah.

Seorang pemimpin mungkin merasa mampu memotivasi karyawannya dengan mengatakan bahwa “setiap karyawan akan mendapat 7,5% bonus tambahan jika target terpenuhi”. Tetapi, apakah kalimat itu cukup menggugah? Jika seorang pemimpin menganggap bahwa cerita merupakan bagian dari senjata yang ampuh dalam komunikasi, ia mungkin akan mengatakan bahwa “di akhir tahun, di halaman rumah Anda, akan terparkir mobil sport mewah berwarna merah apel, jika target terpenuhi”. Kalimat ini, akan terasa  lebih visual, mudah dicerna, dan membangkitkan imajinasi.

 

Data dilupakan, cerita lekat di ingatan

Kita mungkin sering merasa frustasi karena informasi yang kita sampaikan begitu mudah dilupakan. Akibatnya, kita mesti terus mengulang-ulang informasi yang sama. Apakah kita diabaikan? Apakah lawan bicara kita tidak sungguh-sungguh mendengarkan? Belum tentu. Mungkin saatnya kita mengubah cara berkomunikasi kita melalui cerita.

Dalam bukunya yang berjudul Achieving Corporate Goals Through Story (2003), Psikolog Peg Neuhauser menemukan bahwa aktivitas belajar mengajar yang disampaikan dengan cerita yang menarik, akan diingat dengan lebih lama dan akurat daripada pembelajaran yang berbasis fakta dan angka. Artinya, jika kita mau mengemas komunikasi melalui gaya bercerita yang menarik, kita akan mendapat keuntungan langsung, yakni informasi yang kita sampaikan akan lebih mudah lekat dan terus diingat.

 

Cerita membantu kita memahami orang lain dan diri kita sendiri

Saat kita menonton film atau membaca komik, kita akan diajak mengikuti petualangan seseorang. Kita menyaksikan jatuh-bangun, suka-duka, hidup-mati karakter utama. Kita mungkin ikut menangis, tertawa, atau bahkan marah dan membela. Cerita yang menarik, selain mampu membuat kita terhipnotis, ia juga memberi kita kemampuan untuk berempati.

Demikian halnya saat kita berkomunikasi. Ketika kita menyampaikan cerita, orang-orang tidak hanya fokus pada data-data dan angka, melainkan juga ikut terbuai dengan pilihan-pilihan emosional yang ada di dalamnya. Alhasil, lawan bicara kita akan mampu berempati dengan pilihan-pilihan kita. Dengan berempati, lawan bicara kita tidak hanya menangkap informasinya, tetapi juga terhubung langsung dengan kita.

Bercerita dapat menarik atensi

 

Cerita adalah bagian dari hidup

Bercerita mestinya tidak hanya dianggap pekerjaan penulis fiksi saja. Cerita adalah bagian hidup kita, ia terjadi di berbagai situasi dan kepentingan, mulai dari urusan bisnis, dalam menjalin persahabatan, hingga dalam mendidik anak. Ketika menjual rumah misalnya, alih-alih mengatakan rumah ini bagus karena terletak di lokasi yang strategis, akan terasa lebih menyentuh emosi dan imajinasi jika kita bercerita tentang aktivitas pagi hari di sana. Tidak seperti pagi hari orang lain yang tergesa-gesa, dengan tinggal di rumah ini, kita dapat menikmati pagi dengan lebih menyenangkan. Kita mungkin bisa menceritakan betapa menyenangkannya bisa berolahraga sambil menghirup udara segar dan menikmati indahnya taman. Atau, bercerita saat belanja bersama istri sambil menikmati jajanan pasar yang hangat di pagi hari. Ringkasnya, semakin kita mampu menyentuh sisi emosi dan imajinasi seseorang, maka kita mampu berkomunikasi dengan lebih baik.

 

Lebih dari sekedar tukar menukar informasi, bercerita memupuk relasi

Semua orang suka mendengar cerita, mulai dari anak kecil, dewasa, hingga lansia. Jika kita menggunakannya dengan baik, manfaat langsung yang kita dapatkan adalah kemudahan untuk mendapatkan perhatian dari lawan bicara kita. Melalui cerita, kita juga tidak hanya berhenti pada usaha untuk menyampaikan informasi atau gagasan. Lebih dari itu, kita dapat membangun hubungan yang lebih akrab, menumbuhkan rasa saling percaya dan hubungan yang lebih terbuka.

Mari kita tengok relasi yang telah kita bangun. Hubungan yang terbuka dan egaliter, seringkali adalah relasi yang membuat kita merasa paling nyaman. Di hubungan yang nyaman itulah, komunikasi akan berjalan dengan lebih lancar.

Lebih dari sekedar tukar menukar data dan informasi, komunikasi yang sehat harus mampu memumpuk kedekatan dan relasi. Hambatan-hambatan tentu bisa kapan saja terjadi. Akan tetapi, melalui cerita, kita memiliki kekuatan untuk meredakan ketegangan-ketegangan, membangun kedekatan dan menumbuhkan pengertian satu sama lain. Selamat bercerita!