RAJAMANGSA

RAJAMANGSA
Rajamangsa

 

Suatu hari, pada bulan terpanas ketiga yang pernah terjadi di bumi sejak seratus empat puluh dua tahun lalu, matahari akan melelehkan tekad siapa pun yang berada di jalanan pada saat itu. Akan tetapi, lelaki muda berperawakan sedang namun tegap itu terus melangkahkan kakinya di jalanan berdebu sejak turun di halte Masjid Jami beberapa kilometer lalu, kala suara toa sedang mengumandangkan panggilan salat dhuhur.

 

Jarum jam di lengan kanannya yang terlihat kuat dan kecoklatan terpapar sinar matahari sudah menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit. Prayitno masih berjalan dengan langkah kaki ringannya, tidak terburu-buru tetapi tidak juga lambat. Matanya melihat ke bawah, kepalanya selalu menunduk saat dia berjalan kaki yang telah menjadi rutinitasnya, baik saat pulang maupun pergi sejak dia masih bekerja.  Sebenarnya, bisa saja dia memanggil layanan ojek online yang terlihat berjejer di sepanjang jalan dekat halte tadi, akan tetapi hal itu tidak dia lakukan hanya untuk menghemat uang tabungannya yang tidak seberapa. Dibalik kemeja lengan pendek biru muda yang basah akibat tubuhnya mencoba mengimbangi udara panas hari itu, terbungkus sebuah tanggung jawab seorang ayah yang ingin selalu bisa membelikan susu formula khusus untuk sang buah hati. Anak semata wayang yang sejak bayi tidak bisa minum ASI karena memiliki kelainan hipersensitivitas terhadap laktosa.

 

Sebagai suami yang ingin membahagiakan keluarganya, dia penuh perhatian dan setia, dia rela untuk meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya dia sangat sukai. Dia lakukan hanya karena sang istri mau melihatnya yang seorang sarjana ekonomi bekerja kantoran. Istrinya memang terbiasa menjadikan perkataan orang sebagai tolak ukur kebahagian. Prayitno tidak pernah berkata bahwa istrinya tipe seorang penuntut, meskipun istrinya itu sering kali memintanya untuk terlihat seperti para suami dari istri-istri tetangga satu kompleknya.

 

Prayitno pun tak pernah juga menganggap istrinya itu seorang yang berpandangan sempit, meskipun terkadang istrinya memang sangat sulit untuk melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dan merasa kebahagian itu hanya tentang dirinya saja. Sungguhpun Istrinya sering kali berperilaku seolah hanya dia satu-satunya pengambil keputusan di rumah dan jarang sekali menganggap usulan Prayitno sebagai sesuatu yang patut dipertimbangkan, Prayitno merasa tindakannya untuk diam dan mengalah memang bentuk ungkapan rasa sayang dia kepada istrinya. Istrinyalah yang menentukan ke arah mana dia harus melangkah, pakaian apa yang harus dipakai, dan dengan siapa dia boleh bergaul. Namun demikian, dia tidak pernah menyebut istrinya seorang pendikte, apalagi menganggapnya sebagai seorang istri yang membuat seorang laki-laki jauh dari hidup merdekanya, karena Prayitno menganggap kalau semua itu adalah sebuah loyalitas.

 

Tetapi sayangnya setahun sejak pandemi melanda, seperti halnya nasib jutaan pekerja di negeri ini, tiga bulan yang lalu Prayitno harus kehilangan pekerjaan yang diidam-idamkan Marisa, sang istri. Perusahaan tempatnya bekerja mengalami kesulitan keuangan yang cukup parah. Dia yang sudah mengabdi beberapa tahun di perusahaan tersebut harus menjadi korban gelombang pertama keganasan dampak ekonomi dari pandemi tersebut.

 

Walau demikian, setiap hari Prayitno tidak pernah tinggal diam, padahal saat itu pemerintah daerah sudah menyarankan warga untuk mengurangi pergerakan orang. Meskipun dia seorang yang sangat patuh pada istrinya, Prayitno bukan tipe yang gampang menyerah pada nasib, dia berkeliling berlelah-lelah ke sana kemari untuk mencoba mengais berbagai peluang untuk mendapatkan kembali periuk rejekinya. Sampai pada suatu waktu dia melewati sebuah perkampungan yang cukup padat. Udara pengap langsung menyergapnya saat memasuki permukiman padat tersebut. Gang-gang yang berada diperkampungan tersebut begitu sempit hanya cukup untuk berpapasan dua orang. Makin jauh ke dalam, perkampungan itu akan terasa makin sesak. Di beberapa tempat terlihat lebih gelap karena sinar mataharipun tidak bisa menembus atap-atap rumah semi permanen yang tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Sepanjang hari sebagian warga seakan selalu dirundung gelap.

 

Namun di sepanjang perkampungan yang dilewatinya, warga terlihat ramai bercengkerama. Mereka seolah tidak peduli dengan imbauan untuk menjaga jarak pada masa pandemi ini. Malah sebagian warga terlihat tidak mengenakan masker untuk mencegah penularan virus. Kesibukan warga berjalan seperti biasa. Suara musik terdengar mengalun dari beberapa sudut kampung, bersahutan dengan suara keceriaan anak-anak yang sedang bermain bola.  Yang paling jelas terdengar oleh Prayitno adalah kesibukan ibu-ibu yang sedang memasak dari balik rumah-rumah yang dia lewati. Kebetulan saat itu memang menjelang waktu makan siang. Tentu mereka sedang sibuk menyiapkan makan untuk keluarganya.

 

Tidak hanya suara-suara itu yang menghibur langkahnya, tetapi juga aroma masakan yang keluar dari jendela-jendela disepanjang gang yang dilaluinya. Bau ikan asin dari penggorengan di salah satu rumah itu akan menggugah rasa siapa pun yang melewatinya. Pedasnya aroma tumisan cabai membuat beberapa anak yang sedang bermain bola terbatuk-batuk menciumnya, aromanya sangat tajam. Namun yang paling mengugah indra penciumannya, bebauan yang datang dari sebuah jendela dapur bercat hijau pupus yang dipenuhi jelangga, yang menempel pada sarang laba-laba yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Tidak salah, itu aroma salah satu makanan kesukaannya, telur ceplok yang dikucuri kecap dengan bawang putih goreng di atas nasi putih panas khas Pontianak. Teringat dia pertama kali dipesankan nasi dengan lauk telur ceplok itu saat diajak berkunjung ke kota kelahiran almarhum bapaknya, waktu dia berumur lima belas tahun.

 

Prayitno memang terbiasa membedakan berbagai aroma dan rasa. Penghayatannya akan aroma dan rasa tersebut mebawanya kembali pada suasana suka dan duka di tempat kerjanya dahulu, waktu dia masih bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran, saat masih kuliah. Sebenarnya ada keinginan untuk mengontak kembali mas Erwin pemilik restoran dan juga teman-teman di sana, namun ada sedikit rasa ragu. Padahal pada saat itu dia sangat membutuhkan pekerjaan. Tiga bulan tanpa pekerjaan telah membuat tabungannya terkuras.

 

Sore itu Prayitno tiba di rumah sebelum magrib tiba, sudah menjadi kebiasannya sejak pandemi ini untuk langsung mandi, berganti pakaian bersih, sebelum berinteraksi dengan anak dan istrinya. Saat selesai bersantap malam, kekhawatiran akan kondisi keuangannya kala itu dia utarakan pada istrinya. Prayitno juga mengungkapkan kesulitannya dalam mencari pekerjaan pengganti dalam situasi seperti sekarang ini. Meskipun ragu, diapun mencoba memberanikan diri untuk membicarakan rencana membuka usaha kuliner online dari rumah mereka, sebagai sebuah ikhtiar untuk mengatasi keadaan ekonomi mereka yang memburuk tersebut. Akan tetapi ide tersebut tentu saja ditentang oleh istrinya dengan lantang, ucapannya kecut dan tidak enak untuk didengar.  Dia berpendapat apa nanti kata orang-orang, suaminya yang sarjana hanya seorang penjual nasi.

 

Setiap hari pertengkaran tidak terhindarkan, walaupun Prayitno selalu berusaha mengalah, akan tetapi istrinya makin uring-uringan dan puncaknya dia meninggalkan Prayitno bersama anak yang masih berumur dua tahun, yang sekarang dia titipkan untuk diasuh oleh neneknya. Ditengah kegamangannya, karena menahan rasa sedih yang mendalam saat ditinggal oleh sang istri yang sangat dicintainya. Hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya hari itu keluar dari mulut seorang istri yang menjadi ibu dari anaknya. Masih terngiang ditelinganya kata-kata penuh emosi yang ditumpahkan istrinya kepada Prayitno diikuti melayangnya sebuah gelas yang sebelumnya berada di atas meja, menghantam dinding putih di ruang makan mereka.

 

“Seharusnya aku tidak memilihmu sebagai suami!”

 

Prayitno hanya bisa membisu, terdiam di kursinya, perasaannya saat itu kacau balau. Walau selama ini dia selalu berusaha menahan diri dan berusaha agar istrinya bertahan. Dia mencoba menjelaskan bahwa dia sedang berusaha memperbaiki keadaan, namun istrinya tetap saja meninggalkannya. Sikap istrinya meninggalkan rongga kepedihan pada perasaan Prayitno. Namun ternyata keperihan itu memberikan kekuatan kepadanya untuk hidup merdeka.

 

Kembali sayup terdengar suara-suara perkusif dari berbagai peralatan dapur itu. Getaran-getaran yang selalu membuatnya nyaman. Irama yang sering diingatnya saat hatinya gundah. Berbagai bunyi yang terorkestrasi dengan selaras, yang tercipta dari beradunya tutup panci, tabuhan galon air, gemericik utensil saat laci peralatan masak ditarik berulang-ulang, kocokan telur, suara cobek mengulek cabai, ataupun saat pisau menghentak talenan mengiris halus bawang putih, menciptakan musik yang menghibur hati Prayitno.

 

Irama musik dapur itu mengobati rasa sakitnya dan menumbuhkan kembali semangat untuk mengejar minat dan gairahnya untuk memasak. Dia tersadar bahwa selama ini memiliki sebuah mimpi, mimpi untuk menjadi seorang juru masak, tetapi istrinya justru selalu mencoba meyakinkannya bahwa makanan yang dibuatnya itu jauh dari enak. Sering kali Marisa menghalau mimpinya itu dengan meyakinkannya kalau dia tidak mampu. Sehingga tertanam pola pikir kurang percaya diri dan merasa tidak berharga selama ini, mungkin ini salah satu cara agar dia bisa mendominasi semua keputusan hidup mereka.

 

Terlalu sering diatur hingga memaksa diri sendiri berubah demi menyenangkan pasangannya. Mulai dari selera berpakaian, hingga pekerjaan, berdampak pada kepribadiannya yang menjadi kurang percaya diri. Namun di hari di mana Marisa meninggalkannya, walau sulit rasanya melihat akhir dari sebuah hubungan yang dia jalani selama ini, Prayitno seakan baru tersadar akan hal yang selama ini menjadikannya tidak menjadi dirinya sendiri. Namun, keinginan untuk lebih mendahulukan kebahagian anak dan dirinya, seperti yang juga disarankan oleh ibunya, telah melepas beban psikologis yang selama ini dia pikul. Sejak hari itu Prayitno pun bertekad untuk menjalani mimpinya sendiri.

 

Jam di kamarnya menunjukkan pukul dua pagi. Tidurnya jadi kurang nyenyak, semangat dan gairahnya telah memicu tubuhnya untuk memproduksi kortisol dan adrenalin secara berlebih rupanya hari ini. Dia buru-buru berjalan ke meja di ujung kamar tidurnya. Laptopnya masih menyala saat dia menyentuhnya, tergambar spreadsheet yang seharian dia otak-atik untuk meghitung seluruh rencana usahanya. Sebenarnya tidak perlu modal yang terlalu banyak, namun mengingat kondisinya saat itu rasanya seperti mustahil untuk mememulainya. Tabungannya tipis setipis kulit lumpia, yang dia punya hanya sekadar ide pada saat itu.

 

“Mana ada orang mau percaya memulai bisnis di kala pandemi seperti sekarang,” hati kecilnya mulai ikutan bersuara ragu. Namun Prayitno tidak memedulikannya. Kembali dia melanjutkan aktivitasnya untuk mempelajari hitungannya hingga larut. Tak terasa hari sudah siang, rupanya Prayitno kelelahan dan tertidur di meja di depan laptopnya.

 

Menjelang petang aku tiba di stasiun MRT Blok M. Perjalanan dengan menggunakan moda transportasi terbaru di Jakarta ini cukup memudahkan kita sebagai warga. Terutama apabila mau melakukan perjalanan dari area pusat ke selatan Jakarta. Karena waktu tempuhnya yang cepat, waktu kita menjadi lebih leluasa. Bergegas aku jalan menuju gerbang keluar yang mengarah ke arah timur. Tujuanku ke sebuah kawasan yang dikenal dengan Little Tokyo. Aku biasa memilih untuk turun menggunakan tanga, walau di stasiun itu tersedia lift. Saat bergegas untuk menyeberang jalan, tanpa sengaja aku bertemu dengan Prayitno di bawah stasiun. Di dekat lift di samping apotek Kimia Farma yang berada pas di ujung jalan masuk ke area Blok M Square.

 

“Bay, hei… ke mana aja lo… Prayitno Bayu?”, tanyaku berubah ragu sambil menunjuk seseorang yang ternyata memang si Bayu, begitu aku biasa memanggilnya. Tadi sempet ragu mengenalinya karena kepalanya selalu menunduk dan dia terlihat sedikit lebih lusuh. Prayitno ini teman lamaku yang memang pernah juga bekerja di restauranku sejak dia masih kuliah. Walaupun dia seorang juru masak otodidak, kuingat dia sangat memiliki gairah dan minat luar biasa terhadap masak memasak.

 

Prayitno mengangkat kepalanya, wajahnya berubah sumringah.

“Halo mas Erwin apa kabar? Mau ke mana Mas?” dia malah balik bertanya.

 

“Lah kok malah balik bertanya… lo yang ke mana aja?”

 

“Ada mas, saya mau ke halte depan situ mas, mau naik bus arah pulang.” jawabnya sopan, dia memang selalu memanggilku dengan panggilan mas Erwin, lupa sejak kapan.

 

“Gak usah pulang dulu deh, temenin gue ngopi yuk, udah lama kita enggak ngobrol, kebetulan janji makan malam gue  masih tiga jam lagi, gue janji sama Devi makan di Toriichi, masih inget gak sama bini gue Devi?” tanyaku sedikit memaksa.

 

“Inget dong mas.” sahutnya.

 

Dia terlihat ragu untuk menolak dan terpaksa mengikuti ajakanku ngopi. Kuajak dia ke salah satu kedai kopi yang namanya diambil dari salah satu judul cerita pendek terkenal karya Dee Lestari. Kita berjalan kaki tidak sampai seratus meter ke tempat tersebut. Terlihat suasana lagi tidak begitu ramai. Beberapa tempat berkumpul, seperti juga kedai kopi ini cukup terimbas selama pandemi. Agak lumayan sejak sebulan ini masih diperbolehkan untuk menerima tamu dengan kapasitas 50 persen.

 

Kita ngobrol banyak hal, si Bayu dari dulu memang cukup terbuka kalau kutanya apapun, entah apa karena dia sungkan. Namun selama dua jam dia menceritakan semua hal yang telah dilaluinya selama beberapa bulan terakhir ini. Dan diapun memiliki rencana untuk mengatasi permasalahan yang sedang dia hadapi  saat ini. Dia meminta waktuku untuk bertemu lagi agar bisa memaparkannya lebih lanjut.

 

“Jangan khawatir Bay, akan selalu ada jalan untuk orang yang selalu ada kemauan.” kataku menyemangati.

 

Akan tetapi karena mulai senin minggu depan akan ada pembatasan mobilitas orang di Jakarta, akhirnya kita berjanji untuk bertemu lagi di platform online Zoom agar dia bisa memaparkan idenya, pada akhir minggu dua minggu yang akan datang, sembari memberi dia waktu untuk melengkapi semua presentasinya dengan data yang lebih lengkap lagi.

 

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit, kita akhirnya meninggalkan kedai kopi untuk berpamitan. Sesaat sebelum aku berbelok ke kiri menuju Toriichi, kulihat Prayitno Bayu berjalan dengan langkah ringannya, namun kali ini terlihat lebih mantap dan lebih cepat. Mukanya tidak menunduk, matanya melihat jauh kedepan seakan melihat secercah harapan dalam hidupnya. Senang rasanya melihat dia berbeda dari saat tadi pertama bertemu. Tergambar optimisme yang sepertinya akan membawanya ke tempat yang lebih disukai oleh kesuksesan dan juga kebahagiaan.

 

Dua minggu kemudian, Prayitno menjelaskan semua rencana dan idenya untuk memulai usaha start up kulinernya. Di pertemuan online yang juga dihadiri oleh temanku seorang konsultan bisnis serta istriku, Devi, Prayitno dengan optimis menjelaskan mengapa bisnis kulinernya ini akan berhasil disaat pandemi ini. Dia mencoba untuk menawarkan pilihan makanan yang baik dengan harga terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Makanan-makanan yang akan ditawarkannya akan dibuat menggunakan bahan-bahan lokal bermutu, dia berkeyakinan dengan perkembangan informasi seperti sekarang ini, pelanggan sudah jauh lebih pintar dan mereka memiliki banyak sekali pilihan. Selain itu juga, dari paparan di layar yang dia bagikan, tergambar dengan rinci menjelaskan bagaimana strategi branding yang dia akan lakukan, mulai dari penamaan usahanya, desain kemasan, juga rencana aktivitas pemasaran yang akan dilakukannya secara digital.

 

“Pelanggan adalah raja,” kata Prayitno dengan mantap, suaranya terdengar tegas dan tenang dari speaker di laptopku. Citra suara seperti ini menggambarkan cara berpikir yang praktis dan objektif.

 

Menu makanan nusantara yang sudah dia susun merupakan hasil mendengarkan berbagai suara dari benak yang paling dalam orang-orang yang akan menjadi pelanggannya. Restorannya akan dia beri nama "Rajamangsa", yang secara harfiah berarti makanan untuk para raja. Seperti juga manusia lainnya, raja-raja ini memiliki kehendak dan harapan atas berbagai permasalahan dalam memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan makanan yang baik dan bermutu.

 

“Rajamangsa adalah jawaban dari semua itu.” begitu Prayitno mengakhiri pemaparannya pada hari itu. Setiap pertanyaan yang kami ajukan pada sesi tanya jawab selanjutnya, dijawabnya dengan sangat meyakinkan, didukung dengan data-data yang cukup akurat. Dalam hal ini dia telah mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya. Kemudian kami saling memohon diri untuk meninggalkan platform pertemuan online tersebut.

 

Sebagai seorang pengusaha restoran, aku cukup dibuatnya kagum dengan apa yang ditawarkan oleh Prayitno dalam proposalnya. Lebih dari sekadar rencana usaha kuliner biasa, dengan idenya Prayitno berusaha untuk mendisrupsi usaha kuliner yang selama ini memiliki pakem biaya produksi makanan yang serendah-rendahnya, terkadang mengorbankan yang namanya mutu. Hal penting lagi yang membuat aku bersedia menjadi mitra awalnya untuk menanamkan modal pada usahanya ini adalah semangat dan motivasi Prayitno sebagai pendiri. Karena vibrasi dari semangat dan motivasi tersebut akan menciptakan nuansa yang akan membawanya pada sebuah keotentikan.

 

Seperti juga dalam mengelola restoran, nuansa rasa yang dibawa oleh setiap juru masak akan membedakannya dari juru masak yang lainnya. Tidak hanya menciptakan suatu keindahan dalam sebuah hidangan, tetapi kepekaan akan rasa juga biasanya membawanya kepada empati yang kuat. Walau bagaimanapun, kunci untuk sukses dalam berbisnis dan juga memasak itu, keduanya berkaitan erat dengan pemahaman kita tentang manusia. Memahami manusia berarti kita memahami pola pikir, persepsi, kecenderungan, emosi, dan gaya hidup mereka. Memahami apa yang membuatnya bahagia atau sedih, kecewa atau puas, juga memahami trend prilaku, kebutuhan dan harapan mereka pada masa yang akan datang.

 

Tidak terasa delapan belas bulan sudah pandemi tiada akhir ini melanda. Tetapi tentu pagi itu adalah pagi yang berbeda buat Prayitno yang sedang mempersiapkan pembukaan cabang restoran Rajamangsa yang kelima. Namun sayang aku tidak bisa menghadirinya, beberapa waktu lalu aku harus segera dilarikan ke rumah sakit setelah beberapa hari mengalami demam tinggi yang tak kunjung mereda. Saat dilakukan tes swab dan toraks, aku dinyatakan positif Covid-19. Virus ini memang benar-benar tidak pandang bulu untuk menyerang siapa pun. Setelah beberapa hari menjalani perawatan keadaanku makin memburuk, saturasi oksigen dalam darahku makin menurun. Kondisi paru-paru yang makin parah membuatku mengalami badai sitokin, suatu kondisi di saat imun tubuh merespon secara berlebihan infeksi yang dialami tubuhku. Yang memperburuk lagi ternyata kebiasaan makanku yang kurang baik selama ini telah membuat gula darahku tak terkendali, dan itu memperparah kondisiku.

 

Suatu hari, dari tempatku kini, kulihat Prayitno datang ke restoranku, untuk bertemu dengan Devi. Dia bermaksud untuk menjelaskan berbagai kemajuan yang telah dicapainya pada istriku. Tak lupa berulang kali dia menyampaikan rasa terima kasihnya atas segala bantuan dan dukunganku sejak awal. Saat ini "Rajamangsa" telah dipercaya untuk mendapatkan pendanaan seri A yang dipimpin oleh sebuah perusahaan permodalan ventura dari negeri jiran. Ke depannya, Prayitno juga mengutarakan tekadnya untuk menjadikan "Rajamangsa" sebagai brand kuliner lokal terbesar yang dapat memperkenalkan masakan nusantara tidak hanya di Indonesia tetapi juga Asia Tenggara dan bahkan dunia.

 

Selepas menjalankan salah satu peranku di kehidupan yang berakhir di atas tempat tidur rumah sakit di jalan Abdul Rahman Saleh nomor dua puluh empat, aku baru leluasa melihat penggambaran hakiki bahwa hidup ini akan sangat bermurah hati pada orang-orang yang mau mengejar mimpi mereka. Setiap orang bisa memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menjalankan perannya, karena selalu saja ada pilihan-pilihan dalam hidup ini.