3030 (Bagian Kedua) -Mencari Nafkah Demi Desah-

Sebuah Cerita Bersambung. Trilogi, 3 Bagian. Ini adalah PR menulis dengan inspirasi tulisan di truk . Untuk bagian kedua ini saya ambil dari "Mencari Nafkah Demi Desah"

3030 (Bagian Kedua)  -Mencari Nafkah Demi Desah-

 

Bagian Kedua

-Mencari Nafkah Demi Desah-


Adikku Lili sudah menghilang lama tidak pulang. Awalnya Lili cuma berkunjung ke Money society sebentar.  Selesai pacaran dia akan pulang lagi.
Tapi karena setiap kunjungan berbahaya saat kembali masuk ke Time society, kunjungannya semakin lama. Yang terakhir, Lili belum pulang selama setahun.

Aku mulai khawatir. Aku diam diam menyelinap pergi untuk mencari Lili.
Tanpa kesulitan aku menyelinap di Money society.
Wajah wajah tua menakutkan berkeliaran di jalan. Baju mereka tua dan lusuh.
Lili memberikan alamat Doni, sehingga aku mudah mencari rumahnya.

Rumah Doni jelek dan kuno. Seperti rumah tahun 2020. Tidak ada robot, tidak ada centralisasi. Pintu tidak terbuka otomatis. Semua harus dilakukan tangan manual. Aku membunyikan bel.
Lili menyambutku di pintu.
“Ah Kak Lala, aku kangen sudah lama nggak ketemu, silahkan masuk Kak!”, Lili memelukku erat.
“Pacar kamu Doni mana?” tanyaku.
“Dia sedang kerja Kak, dia pekerja keras, banyak lembur, kasihan” kata Lili.
“Jelek amat rumahnya purba begini!” kataku.

“Ah Kakak, jangan menghina dong, aku suka barang antik Kak!” kata Lili.
Kulihat foto Doni di dinding rumah. Rambutnya merah, matanya hijau, kulitnya hitam. Atletis dengan six-pack-nya. Pantas Lili tergila-gila, pikirku.
Tak ada foto Lili di dinding itu.
“Kok nggak ada foto kamu di sini?” tanyaku.
“Aku kan orang asing Kak, kalau ada yang tahu aku di sini bisa bahaya” kata Lili.
“Kamu juga kerja di sini?” tanyaku.
“Tadinya aku kerja mencari uang untuk membantu Doni Kak, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku sedang hamil Kak.” katanya.
“Ah Lili, kenapa kamu bodoh sekali, kenapa bisa hamil sama manusia purba?,
Kamu akan kehilangan kesempatan dipilih oleh Badan Seleksi Pasangan!”
“Kamu tahu kan semua orang yang sudah tercemar dengan manusia purba, tidak bisa lagi dipilih oleh BSP. Kamu hamil tanpa ijin dari Badan Seleksi Orangtua! Lalu siapa yang akan mengurus anak kamu? Di sini tidak ada Badan Perawat Anak!” seruku panik.

“Tenang Kak, aku akan merawat sendiri bayiku.” katanya.
“Kamu kan tidak punya pendidikan jurusan Badan Perawat Anak, bagaimana kamu bisa merawat bayi? mereka harus sekolah 20 tahun untuk menjadi BPA!” kataku.

“Orang di sini merawat sendiri bayi mereka, nggak masalah.” katanya.
“Jadi kamu mau hidup seperti manusia purba ini? coba lihat tidak ada robot di sini. Kamu harus melakukan semuanya sendiri. Masak sendiri, cuci baju sendiri, bersihin kamar mandi sendiri!” aku menggidik jijik.
Kulihat sekeliling rumah itu.
Bagaimana mungkin Lili mau hidup di alam purba seperti ini.

“Aku sudah mulai terbiasa kok, jangan khawatir!” katanya.
“kamu enggak akan bisa regenerasi di sini, kamu akan meninggal muda, cuma 20 tahun lagi hidupmu!” kataku berusaha mengingatkan Lili.

“Engga kok, orang di sini juga bisa hidup 100 tahun” katanya.
“Iya tapi kamu jadi jelek kaya monster monster tua itu!’ kataku sambil menunjuk ke jendela, ke orang-orang tua yang berlalu lalang di luar rumah.
“Kakak melihat mereka seperti monster cuma karena Kakak belum biasa melihat mereka, kalau sudah terbiasa juga tidak apa apa Kak, tua itu alami Kak” katanya.

 

“Aku senang hidup di sini Kak, bebas mau ke mana saja, tidak perlu minta ijin robot. Kita juga bebas bertamu ke rumah orang, tidak harus takut dibunuh robot. Tidak ada jadwal waktu kapan kita harus berkumpul di ruang publik , kapan harus makan, kapan harus belajar. Tidak ada yang mengatur jadwal.”
“Tahu nggak Kak, selama ini kita hidup seperti robot di Time society.
Kita bisa hidup jauh lebih lama dengan regenerasi, tapi kita tidak bisa bebas menikmati hidup seperti orang di sini!” katanya sok pintar.

Aku menangis. Adikku sudah cinta buta dengan si Doni ini. Kata pepatah purba, kalau cinta sudah melekat, tai kucing terasa coklat.
“Kak Lala jangan nangis, tenang aja. Kakak pasti lelah di perjalanan, ayo makan dulu, habis itu kakak bisa tidur siang.” kata Lili.


Lili membawa makanan aneh. Penampilannya jelek karena tidak dihias seperti makanan masakan robot. Tapi ternyata rasanya enak sekali.
“Enak banget kan Kak?” tanya Lili.

“Iya kok bisa enak ya? padahal bentukannya jelek begini” kataku.
“Itu namanya Gudeg Jogya Kak, yang ini namanya krecek!’ kata Lili.
“Masih banyak kalau Kakak mau tambah lagi” katanya.
“Jangan, kalian kan tidak dapat jatah makanan, harus kerja untuk makan.
Aku tidak mau makan banyak, nanti mengurangi jatah kalian. Apalagi kamu lagi hamil!” kataku.
“Tak apa sekali sekali.” senyum Lili.
Setelah makan aku tidur di tempat tidur purba.


Aku tidur cukup lama. Saat aku terbangun Doni baru saja pulang.
Doni tampak sangat lelah. Pakaian lusuhnya bau keringat. Dia membuka bajunya, terlihat tubuh six-packnya yang coklat, berkeringat. Mata hijaunya terlihat lelah. Tapi dia lebih gagah dari fotonya.
Laki laki purba itu memancarkan aura maskulin yang sangat memikat. Aku hampir tak berkedip melihatnya. Tak heran Lili jadi lupa pulang.
“Aku capek sekali kerja lembur tiap hari dari jam 6 pagi hingga jam 10 malam, 16 jam sehari. 7 hari seminggu. Pulang cuma untuk makan, tidur. Pagi sudah pergi lagi!” keluh Doni.
“Aku ingin sekali pindah ke Time Society, tidak perlu pusing cari uang, tiap hari dapat jatah makanan yang dimasak robot. Kalian tidak perlu kerja kasar, hanya pekerjaan ringan saja.” kata Doni.
“Betul Doni, semua pekerjaan kasar dikerjakan robot, manusia cuma mengerjakan pekerjaan ringan saja di tempat kami.” kataku
“Pekerjaaanku membangun rumah di sini” kata Doni.
“Itu pekerjaan robot di tempat kami. Rumah kami tidak individu seperti kalian. Tapi semua pencakar langit, di isi sekelompok orang” kataku.
“Apa pekerjaanmu di sana?” tanya Doni.
“Saya pelukis.” kataku.

“Ah, enak ya jadi seniman. Kalau di sini pelukis itu miskin, sulit cari uang.”
“Tidak ada yang kaya atau miskin ditempat kami. Semua dapat jatah yang sama. Hanya ada orang yang berusia panjang atau pendek” kataku.
“Iya karena kalian menghargai waktu, anda butuh waktu, kami butuh uang!’ kata Doni.
“Kalian lebih tepat, lebih canggih, aku ingin cepat pindah ke sana!” kata Doni.
“Aku lebih suka di sini, aku tidak  suka di sana!” kata Lili.

Aku sudah melihat sebetulnya mereka tidak cocok. Tepat dugaanku dari dulu.
“Berapa penghasilanmu malam ini?” tanya Lili

“Dua ratus ribu” kata Doni.
“Uang segitu tidak cukup, sebentar lagi kita punya bayi, mau dikasih makan apa anak kita? kita perlu popok, baju bayi, perlengkapan bayi!” kata Lili.

“Maaf sayang, aku sudah kerja keras setiap hari, tidak cukup istirahat, tapi cuma ini yang bisa kudapat” kata Doni sedih.
“Kamu harus kerja lebih keras lagi, kalau perlu kau tidur di tempat kerjamu, biar hemat waktu. jangan pulang kalau tidak bisa bawa uang lebih” kata Lili marah.

“Lili, aku kangen kamu, kenapa kamu mengusir aku dari rumahku sendiri. Sudah lama kita tidak bercinta lagi. Sejak kamu hamil, kamu jadi sering marah dan mata duitan!” kata Doni.
“Kalau kamu tidak bisa bawa uang lebih, jangan pulang, jangan harap bisa bercinta denganku lagi!” kata Lili.
Aku menatap dengan heran, Kenapa adikku bisa seperti ini, mata duitan?
“Lili, kamu sebagai istri tidak boleh membentak suami! Istri harus menurut pada suami. Suami adalah kepala rumah tangga!” kata Doni mencoba menasehati istrinya.

“Dasar manusia purba, wanita dan pria setara di Time society!” kata Lili.
“Kamu ada di Money society sekarang, kamu harus bisa menyesuaikan diri!” kata Doni.
“Aku sudah berkorban banyak, menyesuaikan diri demi kamu, tapi kamu tidak bisa menyesuaikan diri untukku!” Lili semakin emosi.

“Kamu tidur di ruang tamu malam ini!’ perintah Lili.
Doni terpaksa menuruti keinginan Lili yang sedang hamil.
Kulihat Doni menahan air matanya. Wajah tampannya terlihat terluka.

Bersambung.