Menilik Kiprah Jurnalistik di Era Pandemi

Menilik Kiprah Jurnalistik di Era Pandemi

Genap setahun covid-19 mendekam di Indonesia, menciptakan lara serta duka. Memunculkan berbagai trauma mendalam bagi sebagian masyarakat. Menyerang berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan hingga kemanusiaan. Menggerus kepercayaan sebagian masyarakat sampai muncul teori konspirasi yang belum jelas asal muasalnya.

Hampir setiap hari masyarakat disuguhi berita terkait covid-19. Berapa jumlah yang terjangkit, korban yang meninggal dan yang berhasil sembuh. Semuanya terpapar jelas dilaman portal berita, baik cetak maupun elektronik. Peran media dalam menginformasikan covid-19 ini menjadi sangat krusial sebab apa yang mereka beritakan akan membentuk pola pikir masyarakat. 

Informasi positif akan memberikan harapan serta kepercayaan masyarakat untuk bertahan bahkan melawan covid ini, namun sebaliknya jika informasi yang didapat adalah negatif maka bisa saja daya tahan masyarakat menurun akibat pola pikirnya terganggu dan itu sangat berbahaya.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah media kita dalam menyebar luaskan informasi tentang covid-19 ini sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat apa belum? Akan sangat berbohong jika kita mengatakan kalau informasi yang selama ini tersebar merupakan informasi positif semua. 

Faktanya, masih banyak narasi-narasi yang seolah mengabarkan kejadian penting namun tidak kita sadari justru itulah salah satu penyebab keputus asaan masyarakat di era pandemi ini. Lebih parahnya  semakin merbak berita hoax yang berseliweran di jejaring sosial, WhatsApp keluarga sampai gosip antar mulut ibu-ibu di pasar.

Pertanyaan kedua adalah salahkah media menyampaikan informasi demikian? Bukankan itu faktanya? Bill Gates pernah mengatakan bahwa "headlines, in a way, are what mislead you because bad news is a headline, and gradual improvement is not"--berita utama, sedikit banyak, telah menyesatkan Anda karena berita buruk adalah berita utama, dan kemajuan yang bertahap tidak.

Atau justru masyarakat sendiri yang mendorong media untuk memberitakan informasi negatif? Sehingga hal tersebut menjadi konsumsi lazim masyarakat. Tom Stafford (psikolog) dilansir dari BBC sepakat dengan anggapan ini, menurutnya  para pembaca atau pemirsalah yang telah membuat para wartawan memfokuskan diri pada hal-hal demikian.

Konon pada tahun 2014, sebuah situs berita di Russia, City Reporter, membuat sebuah eksperimen sosial. Selama satu hari penuh, dikabarkan Quartz, situs tersebut hanya merilis kabar-kabar positif dengan bahasa yang indah. Hasilnya, jumlah pembaca City Reporter turun dua pertiga dari jumlah pembaca situs tersebut pada hari-hari biasa.

Lebih lanjut, pada 2014 para peneliti dari McGill University di Canada melakukan suatu percobaan. MarcMarc Trussler dan Stuart Soroka, para peneliti tersebut, mengundang para relawan dari universitas mereka agar datang ke laboratorium untuk mempelajari "pelacakan mata". Hasilnya, sebagian besar relawan memilih berita negatif seperti korupsi, pembunuhan, politik, kemunduran dan lain sebagainya. 

Ketika ditanya alasan mereka mengaku sebenarnya mereka lebih suka berita positif, namun karena yang ditampilkan media saat itu adalah berita di atas maka mau tidak mau perhatian mereka akan tertuju pada apa yang di fokuskan media yaitu berita negatif.

Para peneliti mengatakan bahwa percobaan yang mereka lakukan adalah bukti kuat adanya "bias negatif", suatu istilah psikologi terhadap keinginan kita melahap, dan mengingat berita buruk. Hal itu bukan disebabkan karena kita merasa senang dengan berita kemalangan orang lain, akan tetapi karena kita cenderung untuk bereaksi cepat terhadap potensi ancaman.

Dalam hal ini kita tahu bahwa ancaman dari virus ini benar-benar nyata. Kembali lagi kepada diri masing-masing, apa yang dilempar media tergantung bagaimana cara kita menangkapnya. Jika dengan berita negatif membuat kita cepat tergerak untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk kenapa tidak?. Namun jika narasi negatif malah membuat kita semakin takut dan putus asa berarti ada yang salah dengan pilihan yang kita ambil.

Jadi, ketertarikan seseorang terhadap berita buruk bisa jadi disebabkan hal yang lebih kompleks dari sekadar sinisme jurnalistik atau keinginan membaca berita buruk.

 

*Mohammad Afiful A’yun