Menabung Demi Menandai Teritory

Menabung Demi Menandai Teritory
Si Milo (Foto oleh Rase)

"Ma ... Milo pipis banyak ...," lapor anakku.

"Di mana?"

"Di daun-daun situ."

"Ya, biarin dah. Padahal sebentar lagi kita mau jalan-jalan, ya?"

"Hahaha ...." Berdua kami tertawa. 

Sebentar. Emang ada hubungan antara pipis dan jalan-jalan? Ada dong ....

Ketika masih usia anak, anjing (jantan dan betina) selalu pipis dengan satu gaya, yaitu 4 kaki. Ini juga yang tetap jadi gaya pipis anjing betina selama hidupnya. Nah, ketika si jantan mendekati usia 1 tahun, mulailah gaya pipisnya berganti jadi gaya yang lebih dewasa: 3 kaki!

Iya, secara naluri, si jantan mulai peduli dengan namanya teritory, atau wilayah kekuasaannya. Ia tak suka jika ada anjing lain masuk ke teritorynya. Ia mulai menandai teritory. Ya, dengan air seninya. Itulah saat si jantan mulai pipis bergaya 3 kaki. 

Biasanya si jantan menandai titik berketinggian beberapa cm di atas tanah. Pohon, tiang, dan sudut tembok, adalah beberapa tempat favorit. Itu gunanya satu kaki diangkat.

Iya, itu sudah kuketahui sejak dulu. Saat aku kecil, teman bermainku adalah anjing (dan kucing). Yang aku baru ketahui kemudian, adalah, pada situasi tertentu, si jantan ternyata rela 'menabung' air seni untuk urusan teritory ini. Bwahahaha ....

Milo, si kesayangan berbulu coklat, tiba-tiba berkelakuan buruk (dan aku belum berhasil mengoreksinya). Ia hobi mengambil sepatu (atau sandal) oma tetangga di seberang jalan sana. Sudah enam kali si oma sms aku minta dicarikan sepatu/sandal yang dibawa Milo.

"Mbak, sepatu saya hilang satu. Minta tolong mungkin dibawa anjingnya." Begitu si oma nulis sms. Ga cuma sekali itu. Berkali-kali. Biasanya sih aku ga balas sms, tapi langsung berlari menuju ke rumah oma.

Seringnya, cuma satu sisi sandal/sepatu saja yang dibawa Milo. Biasanya ditinggal di lapangan depan. Pernah juga diletakkan di halaman rumah. Barangnya sih tidak rusak. Jadi aku carikan, kembalikan, dan minta maaf. Sangat-sangat memalukan! Iya, aku tahu. Milo selalu usil dengan si oma ini, tidak dengan yang lain. Entah apa yang terjadi di antara mereka. Mungkin sesuatu di kehidupan mereka sebelumnya.

Satu-satunya solusi yang akhirnya kulakukan adalah melarang Milo keluar rumah. Paling pol, Milo stand by di halaman belakang. Milo bertugas sebagai anjing penjaga. Sebenarnya sih, cuma anjing tukang gonggong. Orang ketika digonggong anjing, cenderung menghindar. Jadi, tugas tambahan adalah mengusir pengamen.

Nah, demi alasan kebinatangan, aku menjadwalkan sesi jalan harian untuk Milo. Supaya ia bisa cari angin segar, mengurangi kebosanan, dan kami bisa bermain bersama di luar rumah. Sesi jalan biasanya kami lakukan bertiga.

Kami cukup tertib dengan jadwal jalan: Pukul delapan malam. Tidak sebelumnya, karena pasti bertemu dengan teman anakku yang jalan sama mama dan adiknya. Mereka biasanya menjerit dan berteriak jika bertemu Milo. Milo belum berhasil cuek dengan teriakan anak kecil. Jika lewat jadwal, artinya anakku akan lambat melakukan ritual sebelum tidurnya.

Ternyata, jalan-jalan itu sangat penting bagi anjingku sebagai kesempatan menandai teritorynya. Di sini mulailah hal-hal lucu terjadi. Pada sesi-sesi awal, Milo selalu antusias dan sibuk melompat dan berlarian di dekat kami saat jalan. Pada sesi-sesi jalan berikutnya, Milo sibuk menandai teritory nya. Dan ... seringkali air seninya habis sebelum selesai niatnya. Aku dan anakku selalu tertawa melihatnya. Sudah angkat kaki tetapi tak berhasil memberi tanda apapun. Poor Milo! Rupanya si Milo cerdas. Ia mulai 'menabung' air seninya. 

Ia menahan pipisnya sampai saat jalan-jalan. Hanya saja, kadang ia gagal. Belum jam jalan, ia sudah kebelet pipis. Nah, sekalinya pipis, ia tak bisa menahan diri, sehingga habislah isi kandung kemihnya. Kadang, ia berhasil sampai jam jalan. Begitu keluar pagar dan menandai sudut tembok depan rumah, ia tak mampu menahan laju pipisnya. Jadilah semua tabungannya dicurahkan pada satu titik saja. Bunyinya seperti air terjun kecil: Kricik kricik kricik .... Eeeewww .... Hahahaha .... (rase)

 

Mengenang Milo, yang pergi di suatu malam dan tidak pernah pulang lagi.