Memburu Suara

Mengamati penghitungan suara Pilpres Amerika Serikat 2020

Memburu Suara
John King dengan magic wall (photo CNN)
Memburu Suara

 

 

“ Weeehhh, lha kok jadi merah semua ???? Gimana ini, haduuuhhh !!!!,” teriak Arief.  Tiba-tiba “dhuggg-dhuggg” TV berukuran raksasa itu bergetar keras terkena lemparan bola tenis yang dilempar Arief dengan tangannya yang berotot. Bola kuning itu menggelinding cepat ke meja tempat TV dan “dhuk” menimpa lantai keramik berwarna cream. 

Stasiun TV CNN  International sedang menyiarkan secara langsung penghitungan suara Pilpres di Amerika Serikat . Meski pun tidak punya hak suara, karena memang bukan warga negara Amerika, Arief, laki laki lajang berusia 35 tahun,  adalah simpatisan Partai Demokrat Amerika, dari sejak ia menginjak  bangku sekolah menengah. Maklum dari kecil Arief dijejali buku-buku mengenai pemimpin dunia, dan yang paling banyak adalah tentang John F. Kennedy, karena ayahnya yang pernah kuliah di Amerika  di akhir tahun 70-an  adalah pengagum berat JFK.

“Sabar to mas Arief… ngko sik to, ini belum semua surat suara masuk, belum sampai 10% suara nasional,” celetuk Bowo, sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam. Bowo terus memandang TV. Meski pun dia tidak mengerti Bahasa Inggris, dia paham apa yang sedang terjadi: belum saatnya mengambil kesimpulan atas warna merah yaitu warna Partai Republik yang mendominasi peta Amerika Serikat. Bowo yang mengenyam pendidikan sampai SMP yakin, tidak mungkin di semua negara bagian yang berwarna merah itu tidak ada titik-titik biru. 

Meski pun Bowo belum pernah ke Amerika Serikat dan tidak tahu peta politik di berbagai negara bagian, tapi ia yakin peta kantung suara kurang lebih sama lah dengan di daerah pemilihan di Indonesia. Di negara bagian dengan dominasi Partai Republik, pasti ada simpatisan Partai Demokrat, ada relawan dan ada pengurus Partai Demokrat yang akan mati-matian merebut suara dan mempertahankannya. Karena itu Bowo  yakin, bila peta negara bagian di  zoom-in dengan daerah administratif yang lebih kecil,   (seperti kabupaten/ kota di Indonesia) tentu akan memperlihatkan situasi yang lebih akurat. “Biru ini kok menurut aku menggunakan strategi yang biasa aku pakai mas Arief, ndhodhosi benteng musuh, “ katanya.

Menonton penghitungan suara di CNN,  mengingatkan Bowo  pada saat-saat ia berkampanye untuk Arief sebagai caleg DPR RI dari daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ndhodhosi benteng musuh adalah istilah yang dipakai Bowo untuk menggambarkan penggerusan suara di daerah lawan. Maksudnya, tidak selalu daerah lawan bisa  dikuasai, tetapi kekuatannya digerogoti. Dengan mengambil 5%-10% suara di setiap  Tempat Pemungutan Suara (TPS), maka kurang lebih kandidat yang didukung dalam keadaan “aman.”

Bowo adalah operator politik di  Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta;  bahasa halusnya adalah “tokoh lokal’” yang sudah terlibat ratusan  “Pil”: Pileg, Pilkada, dan juga Pilpres. Laki-laki  berumur 52 tahun dengan perawakan sedang, sekitar 163 cm, serta berkulit sawo matang ini, sudah kenyang asam garam bagaimana menyusun strategi pemenangan di tingkat Kabupaten/Kota di DIY.  Bowo paham betul bagaimana  medan perang perebutan suara untuk memenangkan caleg,  bupati/walikota, gubernur bahkan  presiden. Karena bagi Bowo yang namanya “pil” itu ya dimana-mana sama: menguasai peta politik, identifikasi pendukung,  ketahui siapa lawan dan memetakan kelompok  yang belum memutuskan. Untuk menang hanya perlu beberapa hal: pertahankan basis suara, gerus suara lawan dan ambil sebanyak-banyaknya  suara kelompok  yang “undecided.” Dengan berpegang pada prinsip itu, Bowo memiliki reputasi sebagai operator politik handal.

Meski pun demikian, pertemuannya dengan Arief, atau Arief Putranto, laki-laki dengan tubuh atletis dan tinggi 175 cm itu  terjadi tanpa sengaja. Arief  berpendidikan Master dari Amerika Serikat, di bidang Ilmu Politik dari Ohio Univerisity. Dengan rambut  yang dipotong pendek dengan style short  hair-cut mutakhir, alis tebal, serta dagu yang terlhat kebiruan karena sisa cukuran jenggot,   Arief  sangatlah  manly  dan menarik.

Arief menjadi caleg dari  Partai B, salah satu partai besar dalam Pileg 2019 yang lalu.  Ini adalah kali pertama Arief menjadi peserta pemilu. Meski pun sudah lebih dari 5 tahun Arief menjadi pengurus partai, baru tahun 2019 kemarin ia dicalonkan sebagai Caleg untuk DPR RI dari Daerah Istimewa Yogya.  Arief segera mempelajari karakteristik pemilih dapilnya. Ia merasa memiliki cukup modal sosial:  ayahnya berasal dari Yogya, keluarga besar ayahnya tersebar di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, Kota Gede dan Kota Yogya. Jaringan teman, baik teman sewaktu kuliah dan  teman aktivis partai cukup banyak yang ber KTP Yogya. Di samping modal sosial, Arief juga sudah dibekali berbagai pengetahuan,  teknik dan metode bagaimana memenangkan pemilihan.

Kampanye pun dimulai dengan berbagai kegiatan.  Tidak selalu mulus, jatuh bangun, bongkar pasang timses, sering mandeg karena  dana makin menipis, sampai Arief mulai meragukan apakah ia akan mampu mencapai garis finish. Pada masa kritis ini lah Arief bertemu Bowo.

 Malam itu Arief duduk kecapean di warung legendaris : Warung Bakmi Mbak Mo, Bantul setelah berkeliling ke 5 titik mulai dari   setelah  Ashar  sampai bakda Isya. Ia sedang menghirup  teh nasgitel/panas legi kentel a.k.a panas manis dan pekat, yang disuguhkan dalam poci mungil merah bata yang terbuat dari tanah liat sambil menunggu pesanan bakmi nyemek (bakmi rebus dengan kuah sedikit), ketika tiba-tiba saja laki-laki setengah baya dengan wajah ramah, berkumis tipis, yang duduk di bangku sebelahnya  menegurnya. “Ini mas Arief nggih? Caleg dari Partai B  niku to?” Arief terkejut campur bangga, “wah, namaku sudah dikenal di Bantul, “ katanya dalam hati. “ Inggih Pak, leres, saya Arief,” jawab Arief sambil mengulurkan tangannya yang atletis kepada lawan bicaranya. “Kulo Bowo, “ jawab laki-laki itu. Bowo menyampaikan bahwa ia mengenal Arief karena melihat beberapa balihonya di beberapa titik di Bantul.  Ia juga menjelaskan bahwa ia mendengar ada “caleg muda, pinter, programnya menarik dan andap asor.”  Bowo juga memperkenalkan diri sebagai pegiat politik lokal, yang sering terlibat sebagai tim sukses  dalam berbagai pemilihan. 

Maka keduanya pun langsung terlibat dalam percakapan yang mengasyikkan mengenai peristiwa pilkades, pileg, pilkada sampai pilpres.  “Njenengan udah kemana saja di Bantul ini?” Tanya Bowo lagi. “Saya memang kampanye di Bantul Pak, tapi tidak telalu sering, karena Bantul kan lumbung suara untuk Partai A? Jadi saya gak  nge-gas di sini, Pak.” Bowo tersenyum, menyendok bakmi-campur bihun kuahnya. Setelah beberapa sendok, ia melap mulutnya dengan tisu dan meneruskan  “Lho jangan berpikir begitu mas. Meski pun ini lumbung suara Partai A, masak tidak ada yang milih partainya njenengan. Setidaknya pengurus partai B dan keluarga serta kenalan-kenalan perngurus Partai B ya milih Partai B,” jelas  Bowo. “Jadi njenengan harus dapat suara di setiap tempat, semua kabupaten, kecamatan, kalau bisa malah semua TPS,” lanjutnya. Arief terkejut, baru kali ini ada yang menyampaikan strategi seperti ini. Nasehat atau saran yang ia dapat biasanya, “abaikan lumbung lawan, pengaruhi yang ragu-ragu, dan perkuat  lumbung partai …. “lha niku malah padu karo konco dhewe mas..” ujar Bowo dengan tersenyum. Mengubah daerah pendukung lawan menjadi pendukung kita tentu sulit, tetapi memperbanyak suara kita di daerah lawan melalui pengumpulan suara di titik-titik tertentu akan memperkuat posisi kita, dan setidaknya “mengurangi” kekuatan lawan, jelas Bowo.

Arief tertarik dengan diskusi Bowo, dan mengajak Bowo menjadi timsesnya. Penggerusan suara, mempengaruhi dan mempertahankan suara dilakukan. Nama Arief pun muncul di koran lokal, menjadi pembicaraan di daerah lawan dan daerah sendiri. Lambat tapi pasti Arief makin dikenal di DIY. Berbagai survey yang dilakukan juga menunjukkan bahwa kemungkinan Arief terpilih makin besar. Untunglah Arief menyikapi ini semua dengan “reservasi”,  dengan cadangan perasaan, sehingga bila nanti hasilnya berkebalikan, kekecewaannya tidak berlipat ganda.  Apa pun bisa terjadi: politik uang yang menyebabkan konstituen mengganti pilihannya, kecurangan dalam penghitungan suara, saksi yang tidak berfungsi, dan seterusnya.

Sebagai caleg baru dengan bekal logistik yang pas-pasan, hari-hari menjelang hari H merupakan hari sangat menyiksa bagi Arief, dan memusingkan bagi Bowo. Karena pada detik-detik ini lah berbagai calo suara berdatangan “menawarkan” suara  dengan harga yang sangat tinggi. Arief dan Bowo hanya menjawab dengan gelengan kepala dan melangkah ke hari H dengan berbekal keyakinan dan harapan. Namun rupanya jalan kemenangan sudah menjadi suratannya. Arif memenangkan pemilihan dengan perolehan suara yang spektakuler: ia memperoleh suara di tempat-tempat lumbung lawan, bahkan di tempat yang sebelumnya tidak pernah dimenangkan oleh Partai  B. Tetesan suara di tempat-tempat lawan, menyatu dengan aliran suara di daerah netral dan benteng sendiri berkumpul menjadi dukungan   meyakinkan.

Bowo kembali berkonsentrasi memandang layar TV  hitam raksasa 43 inci itu, yang terletak diata meja putih IKEA yang serasi;  dan sesuai dengan perkirannya, peta negara bagian yang di zoom- in mulai memperlihatkan rembesan biru.

“Lha rak tenan to, tuuu ada suara-suara untuk biru di benteng merah…!” teriakan Bowo mengagetkan Arief. Arief cepat-cepat melayangkan pandangannya kembali ke layar TV dan betul, di Michigan dan Wisconsin yang tadinya hanya ada warna merah muncul noktah-noktah biru yang semakin meluas, melebar dan membersar, dan …..”yesssss menanggg !!!  “teriak Arief dengan bersemangat seperti menonton kesebelasan sepak bola kesayangannya memasukkan gol di gawang  lawan.  Dan anchor CNN pun mengumumkan proyeksi kemenangan Biden-Harris  di ke dua negara bagian tersebut.

Sampai dengan beberapa hari kemudian, Arief dan Bowo masih memantau perhitungan suara Pilpres Amerika ini. Buat mereka, peristiwa ini sangat mengasyikkan untuk ditonton karena masalah “pil “ini sangat dekat dengan pengalaman mereka, hanya negara dan bahasanya saja yang berbeda. Bowo merasa seolah-olah dirinya terbang ke dalam layar kaca dan bersama dengan saksi serta petugas TPS menghitung  kertas suara satu demi satu. “ Wah kok ya sama persis kayak ngitung suara di Kecamatan Kasiyan, Kecamatan Dlingo  …” gumam Bowo. Bowo bisa bersimpati pada para petugas tersebut.  Ia juga paham atas ketidak sabaran timses kedua belah pihak serta suara  anchor CNN yang nadanya mulai tinggi. “ Ha mbok sabar to yo mas sing ngganteng-ganteng” katanya, entah ditujukan kepada siapa. “Mas Bowo ini lho dari 2 hari yang lalu kok nyuruh sabar.  Pripun sabare, niku coba pirsani, jumlah suara gak naik-naik udah 3 hari, belum jelas siapa pemenangnya…, “ sahut Arief dengan sewot.

Bowo menyulut rokoknya lagi, entah sudah yang keberapa untuk hari itu.  “Itu kan suara kumulatif yang nggak naik, coba nanti kita lihat kalau bapak yang rambutnya putih itu ngotak-atik peta, kan keliatan pola perolehan suara Pak Biden,” jawab Bowo dengan tenang. Bowo bicara tentang anchor CNN John King yang bertanggung jawab tentang  magic wall dan menyentuh layar peta, sehingga secara bergantian muncul peta negara begian dan county. Bowo betul, ketika layar zoom -in kepada county, terlihat pola perolehan suara Biden yang secara konsisten meningkat, meninggalkan lawannya. “Kok saya yakin Biden menang, “ lanjut Bowo dengan tenang dan santai saat John King menyentuh peta Georgia dan memperlihakan perhitungan suara di county, tampak warna biru merembes, pelan tapi pasti.

 

 Arief memandang kawannya dengan galau. Sebagai simpatisan Partai Demokrat Amerika, Arief sangat berharap Biden-Harris menang. Ia ingin mempercayai Bowo, tetapi ia khawatir perkiraan Bowo salah, apalagi sampai sekarang tidak ada satu televisi pun yang memproyeksikan calon mana yang akan memenangkan Pilpres.  “Wis aku tidur siang dulu  ya…,” kata Bowo kalem. Arief hanya mengangguk.

Sehabis makan malam, mereka melanjutkan nonton TV, Bowo santai saja merokok, jalan-jalan ke teras, terkadang melantunkan lagu campursari yang biasa dilantukan Mantos, “Upomo sliramu sekarmelati, aku kumbang nyidam sari …” lagu romantis, saat ia masih berpacaran dengan istriny Wati. Bowo sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan CNN.

 “Mas Bowo, ayo ditonton meneh….!!” Teriak Arief dari dalam. Saat itu CNN sedang memperlihatkan peta Pensylvania, zoom in ke county, lagi-lagi terlihat rembesan warna biru dimana mana  dan … “ CNN Projects Biden as the 46th President of the USA !!!!,” terdengar teriakan  Wolf Biltzer, anchor CNN. Arief melompat, berteriak dan memeluk Bowo,  “sampeyan bener kang, menang ternyata, ” katanya dengan suara terharu.  Meski pun sudah menjadi anggota DPR, dan jatuh bangun dalam politik riill, Arief adalah seorang pemimpi: ia percaya dunia harus lebih baik, demokrasi harus terus maju, rasisme tidak boleh ada, ketimpangan harus diberantas, perubahan iklim perlu dimitigasi. Terpilihnya Biden-Harris, baginya melambangkan harapan akan dunia yang bisa lebih baik.

 

Arief memeluk Bowo dengan erat dan penuh terima kasih. Bowo ia minta datang ke Jakarta, khusus menemaninya menonton Pilpres akbar ini. Arief sadar, ia tidak akan tahan nonton sendirian di apartemennya , sedangkan teman atau saudaranya malas menemaninya, karena mereka tidak tertarik dengan peristiwa ini. Arief tahu, Bowo akan jadi teman diskusi yang menyenangkan dan bisa memberikan analisa-analisa yang menarik, atas proses penghitungan suara.

Malam itu sebelum tidur, Arief mengucapkan syukur karena berkesempatan menonton peristiwa bersejarah , dan terima kasih tak berhingga atas kehadiran Bowo. Sebelum terlelap, ia merenungkan tentang Bowo, sahabat yang baru dikenalnya 2 tahun ini, adalah pekerja keras, operator politik handal dan loyal terhadap Arief.  Ketrampilan Bowo, ia yakini tidak kalah dengan berbagai tim sukses  di tingkat nasional. “Aku berhutang budi pada Bowo, ia mengajariku banyak hal. Bukan hanya tentang mendapatkan suara, tetapi tentang kehidupan,” kata Arief dalam hati. Arief kemudian terpikir untuk membuat semacam pusat pelatihan bagi anak-anak muda di Bantul tentang metode dan teknik kampanye yang akan dikelola oleh Bowo dan tim. “Aku harus mewujdkannya,” tandasnya dalam hati.