Mataku Hijau Kalo Lihat ...

Mataku Hijau Kalo Lihat ...
Gambar: dokumen pribadi

Istilah mata hijau biasanya sih dikaitkan dengan gara-gara lihat uang. Dahulu hijau adalah warna favorit yang dipakai untuk warna uang kertas. Sekarang sih sudah berubah, ya. Contohnya, uang kertas seratus ribu kita, warnanya justru merah. 

Nah kalo yang dimaksud adalah melihat sesuatu yang membuat kita tak bisa atau sulit menahan diri, itu lain soal. Tidak hanya uang sih yang membuatku demam dan panas dingin. Halah. Banyak!

Nomor satu: buku. Iyaaa. Sejak kecil aku sukaaa banget baca buku. Semua jenis buku dibaca. Kayaknya masih SD aku baca Bumi Manusia, yang zaman itu termasuk barang terlarang,  nemuin di rak buku bapak. Saat SD juga, dengan senang hati kerjakan tugas sekolah meringkas buku yang dibaca di perpus. Pas SMP ikutan dua kakakku baca Koo Ping Hoo. Waktu SMA dan kuliah bela-belain sewa buku bahkan. Pokoknya segala cara kulakukan demi bisa beli buku, atau sekadar baca buku tanpa memiliki. Kalo sekarang sih zaman dah sangat book friendly. Setidaknya buatku, ada ipusnas terpasang di hape yang ngasi rasa aman bahwa aku punya akses 24/7 ke buku.

Nomor dua: stationary. Tau kan printilan-printilan cantik, seperti notes, selotip, pinsil, pena, dkk. Aku nulis buku harian juga sejak kecil. Juga suka nulis surat dengan kertas wangi (padahal wanginya kenceng dan norak, ya? tapi zaman itu dah yang paling pol kerennya!). Hingga kini, aku punya sekian notes kosong ekstra, terutama yang blank. Dan kalo mampir ke toko buku, belok dulu berlama-lama di bagian stationary. Sekarang sih sudah bisa menahan diri untuk tidak selalu beli, tapi tetep berlama-lama untuk mengagumi notes-notes mungil. Juga mantengin Instagram yang jualan begituan, dan juga hashtag bujo, alias bullet journal. Hehe.

Ketiga: craft. Iya, aku suka melihat-lihat craft, misalnya wadah dari anyaman enceng gondok, wati (wadah) anyaman dari lontar, cangkir-cangkir keramik, kotak kayu, coster dari irisan kayu manis, dll. Nah, yang ini sih, hanya kalo lihat saja mataku ijo, tapi ga pake terobsesi memiliki. Masih cukup waras untuk ga nimbun beginian di rumah. Hehe.

Nah, yang sebenernya satu level di nomor satu sih ada. Yaitu anjing. Iya! Kalo lihat anjing langsung kusapa: Halo. Hehehe. Aku lebih hapal nama anjing di perumahan sini dibandingkan nama orang-orang. Meskipun aku dulu juga suka kucing, tetapi sekitar sepuluh tahun terakhir ini aku menyadari bahwa aku lebih memilih anjing dibanding kucing. Dulu aku sering meluangkan waktu di Sabtu pagi untuk ke lapangan, tempat komunitas pencinta anjing berkumpul. Ya, sekadar ketemu banyak anjing. 

Setelah kesayangan kami wafat, aku ga pengen ada lagi anjing di rumah. Sedihnya masih terasa hingga kini. Aku ikut aliran temenku saja, yang 'memelihara' anjing di dunia maya. Ya, aku tambah sering jalan-jalan ketemu dan lihat anjing yang bertebaran di berbagai platform.

Perkembangan IT memang sangat membantu. Membantu memanjakan mata, untuk melihat hal yang kusuka, tanpa harus kumiliki. Cinta itu tak harus memiliki. Halah! Hanya bermodalkan ponsel, koneksi, mata, dan kedua jempolku. Hehe. Kok aku jadi merasa kena voyeuristic disorder, ya? Huahaha. Gapapa kali ya. 

Eh, kalian akan bermata hijau kalo lihat apa? (rase)