Malu Bilang Mau

Malu Bilang Mau
Image by pixabay.com

“Mba Win, minta lima teh tawar dingin, dua kopi susu, satu kopi hitam tanpa gula dan dua es jeruk.”
“Siap Dru. Minum saja ?”
“Itu dulu Mba, baru juga sampai. Makan mah gampang.”

 

Lima tahun sudah aku melepas tingkah konyolku di sini. Tak ada yang berubah dengan sekolahku. Mba Win saja kiosnya masih di ujung kantin dekat mushola sekaligus tempat terbaik anak-anak kalau bolos.

 

Di sini juga biasanya akan ditemukan banyak barang bukti, mulai dari sepatu yang sudah tak sepasang,  buku yang lipatannya tidak karuan, pulpen yang sudah mengering bahkan tak jarang tas yang sudah berubah warna karena terinjak, kena hujan dan matahari.

 

Semua penghuni sekolah tahu bahwa benteng di belakang kios Mba Win adalah spot paling enak untuk bolos, mulai dari bolos terus makan di kantin sampai bolos loncat pagar benteng sekolah. Herannya guru BK tidak pernah menangkap basah anak-anak yang konon katanya lagi mencari jati diri.

 

“Oke Dru, jadi konsepnya mau kita buat apa?”

 

Ah Bram, dari dulu kamu tidak berubah. Senyum manismu, caramu memandang, Bahasa yang kamu olah menjadi alunan kata menarik lalu lawakan-lawakan yang menyempurnakan seorang Bramantyo.

 

“Woi Dru Pramesty. Biasa aja menatap Bram nya.” Ayu jitak pelan bagian belakang kepalaku.

“Yah ketangkap basah aku lihatin kamu Bram.”
“Hahaha, makanya kalau suka, dulu bilang saja. Telat Dru.”
“Ih apa sih Bram. Aku lagi mengingat-ingat tingkah konyolmu saat SMA. Itu saja.”
“Nah kan, kalau sampai kau ingat artinya aku punya potensi waktu itu.”
“Potensi apa sih?”
“Potensi jadi pacar kamu.”

 

Tidak ada yang tidak suka sama Bram, sebagai pemain basket andalan sekolah. Hampir semua perempuan ala model kala itu mengejar Bram. Herannya Bram tidak pernah mau pacaran sama mereka.

 

Padahal dengan rambut Panjang, kulit bening, rok pendek ketat, sepatu kekinian seharusnya Bram tertarik. Aku ingat percakapan saat hujan besar mengguyur Bandung lalu aku dan Bram terjebak di Swansen, tempat makan es krim paling ok di Dago saat itu.

 

“Hmm Dru, proposal kita basah. Mana flashdisk ketinggalan, bagaimana ini?. Masih ada tiga kantor yang perlu kita datangi.”

“Besok saja yuk Bram. Sudah jam tiga, kantor juga sudah siap-siap pulang Bram.”
“Eh memangnya kita sambangin Kantor Dinas Pemerintah, enggak Dru kalau swasta jam delapan saja masih ada yang stay kok.”

“Iya tapi, baju kita kuyup, badan lepek, proposal basah, tidak elok rasanya kalau kita datang ke kantor kondisi ga cakep gini Bram.”

“Kamu cakep ko Dru, aku nanti tunggu di luar saja, kamu yang ke HRD nya bagaimana?”

“Ogah, aku tidak mau.”
“Dih marah. Jangan kesal nanti cantikmu lenyap lo.”

“Dasar perayu ulung, pantesan cewenya banyak.”
“Eh sembarangan kamu Dru. Aku tidak punya pacar. Camkan itu!”

“Bram Bram, tinggal pilih susah banget.”
“Aku tidak seperti itu Dru, aku tidak suka dikejar-kejar kaya copet begitu. Aku malah Sukanya kaya kamu, diam-diam padahal demen.”
“Weeeeeeee…GR. Ngaco ah Bram.”

 

Kuambil tissue basah, seoalah kubersihkan wajahku dari cucuran air hujan saat Bram bonceng aku dari Dago Atas sampai ke Swansen. Mukaku pasti sudah sangat merah ketika Bram ngoceh tadi.

 

“Aku baru tahu lo Dru. Kalau kamu bisa bodoh.”

“Maksud anda Bramantyooooooo.”

“Dru Pramesty, mukamu basah, kalau mau bersihkan ya pakai tissue kering.”
“Aku tidak bawa.”
“Nih saputanganku.”

 

Kain planel bergaris merah dan hitam adalah andalan Bram. Apalagi kalau dipakai saat Bram selesai latihan basket, duh rasanya ingin aku lap dari ujung kaki ke ujung kepala.

 

“Dru…..”
“Iya gue lap, bawel ah.”
“Hah, apaan yang dilap Dru?”

 

Kekonyolan yang hakiki. Muka harus segera aku selamatkan.

 

“Sebentar kebelet nih. Mba Win…. Mie ayam special tujuh porsi tolong siapin ya!”

 

Berlari menuju toilet bersejarah. Saksi bisu saat aku simpan contekan, saat aku menangis diputusin Hario dan saat menghindari Razia sepatu dan rok pendek.

Ah, waktu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku diomelin Pak Dedi guru Kimia saat aku isengin teman satu sekolah bahwa hari itu libur.

 

“Mba Win, mienya sudah?”
“Sebentar ah, Dru nih dari dulu kalau pesan maunya cepat.:”
“Hahaha, iya iyaa santai Mba.”

 

“Oke jadi bagaimana Bram?”
“Apa yang bagaimana Dru Pramesty?. Kita belum apa-apa”
“Daritadi ngapain aja sih kalian?”

“Au ah Dru.”

 

Tujuh porsi mie ayam telah disiapkan Mba Win.

“Dru, kita berapa orang sih?”

“Aku, kamu, Nadya, Opik, Ayu. Lima Bram.”
“Terus kenapa pesan tujuh?”

“Mba Win…. Kok tujuh sih, kan kita berlima.”

“Druuuuuuuuuuuuuuuu….”

 

Ya salam, habislah kepalaku dijitakin. Gara-gara apa sih tadi, kok konsetrasiku berantakan

 

Berjam-jam menghadiri KMB MW, Konferensi Meja Bundar Mba Win tidak ada satupun keputusan yang keluar, entah mau bagaiman konsep reuni yang akan diselenggarakan nanti.

Kalau saat Prom Night dulu atau Karnaval atau Pentas Seni biasanya Bram yang punya ide lalu kita tinggal nyebar mengerjakan tugas masing-masing.

Tumben Bram tidak ada ide.

 

Mie ayam sudah di perut masing-masing. Ayu dan Nadya kabur sebentar karena ada yang mau dibeli. Opik lari ke mushola mau shalat lima waktu sekaligus. Tinggallah aku dan Bram.

 

“Dru, memang dari dulu kamu tidak pernah punya perasaan ya sama aku?”
“Mesti dijawab Bram?”
“Iya lah. Susah ya naklukin hati kamu. Heran deh, orang rebutan ambil hati aku. Aku pilih kamu masa kamu tidak paham.”
“Bukan tidak paham. Aku tidak percaya.”
“Kenapa tidak percaya?”
“Bram, noh di sana perempuan centil yang hampir sempurna antri nunggu kamu. Masa iya kamu terpesona oleh seorang Dru Pramesty yang tidak tinggi, tidak cantik, tidak ayu, tidak bisa membedakan bagaimana cara berlaku sebagai seorang peremuan yang baik.”

“Sudah begitu saja?”

“Bram sudah ah, waktu sudah berlalu. Apa pentingnya kamu tanya perasaanku kala itu.”

“Perlu Dru. Karena aku telah membuatmu kecewa.”

 

Bram tidak pernah berubah, tingkat peka dia memang sangat minim. Di satu sisi dia berteriak suka sama aku, dilain sisi kadang dia lupa sama kehadiranku.

Itulah salah satu alasanku untuk tidak melabuhkan hati pada Bram.

 

“Jika waktu bisa diulang. Adakah cara terbaik untuk aku meminta maaf dan memikat hatimu Dru?”

“Tidak ada.”
“Sedikit saja tidak ada Dru?”

“Untuk apa Bram. Tidak penting. Masanya sudah lewat.”

“Kamu kenapa sih, judesmu tidak pernah hilang. Manis sedikit gitu lo Dru.”

“Sebenarnya kita kesini mau apa sih Bram, bukannya mau bikin konsep reuni?. Sudah sore aku mau pulang.”

 

Mba Win sudah bereskan kios Mie Ayamnya. Ayu dan Nadya belum juga kembali dan Opik sepertinya benar-benar shalat lima waktu yang dia jadikan satu. Lama sekali di musholla.

Aku sudah tidak betah dengan Bram.
Ah Bram kalau saja kamu paham, betapa aku mengagumi kamu dari dulu. Kondisiku yang tidak memungkinkan kala itu. Rasanya terlalu jauh jika seorang gadis buruk rupa harus berdampingan dengan pangeran.

 

“Kamu itu manis Dru. Kenapa harus deklarasi kejelekan kamu sih?”. Ujar Bram yang menyadari dari tadi aku kacaan terus.

“Sekarang Bram, setidaknya ada lipstick dan polesan bedak tipis. Dulu mana pernah aku pakai beginian.”
“Tapi kan jadinya natural cantikmu Dru. Dru kamu tidak kangen sama aku?”

“Ya Tuhan Bram. Kamu salah makan ya?. Jangan bercanda ah, calon istrimu datang loh nanti.”
“Biarin. Biar dia tahu.”
“Tahu apa?. Sableng kamu ya, aku kira selesai sekolah kedokteranmu bakal bikin kamu pinta.”
“Memang aku pintar.”
“Aku ga paham, terserah.”

 

Hari semakin sore, aku rasa pertemuan KMB MW sia-sia, bukannya bikin konsep malah sibuk curhat sana sini. Tdak usah aku, Ayu dan Metha, Bram dan Opik saja rame kangen-kangenan.

Dan sebetulnya aku kangen sama Bram.

 

Tiba-tiba sekolah menjadi gaduh, suara microfon, speaker, sound system terpasang di lapangan basket sekolah.

Pentas seni sudah lewat, reuni belum dibuat lalu ada acara apa sore begini.

 

Kepada Dru Pramesty, ditunggu di lapangan basket SMU 33 segera.

 

Suara Bu Hasna nyaring sampai ke telingaku. Kenapa namaku masuk di absen Bu Hasna.

Sementara aku sudah lulus lima tahun yang lalu.

 

Terkaget-kaget, terpampang nyata di depan tiang bendera namaku.

 

Will You Marry Me…MyPramesty?

 

Tangisku tak terbendung, air mata mengalir tanpa kuminta.

 

Bram hadir di antara Bu Hasna, Opik, Ayu dan Metha.

Dengan gagahnya Bram hadir seperti saat Bram memasuki lapangan basket kala akan bertanding.

 

“Dru Pramesty, sahabatku yang paling judes. Lima tahun sudah kita lepas dari omelan Bu Hasna, lima tahun sudah aku dan kamu lebih dekat. Walau kamu tak pernah mengakui, tapi sayangku padamu tak perna berubah.”

“Bram kamu apa-apaan sih?”
“Dru Pramesty, sahabatku yang paling menyebalkan. Kecelakaan telah mengubah penilaianku padamu. Kamu tidak pernah berhenti untuk meluangkan waktumu merawatku. Dari aku tak bisa berjalan, belajar berjalan, menggunakan kursi roda, melepas gips, siapkan aku makanan sampai kau siapkan obat di tasku bila aku pergi kuliah. Aku tak perlu cerita soal kamu ke Ibu, kesehatanku adalah jawabannya.”

“Bram, sebentar. Kamu sejak kapan bisa jalan tanpa tongkat?”

“Ah kamu merusak romantisme Bramantyo deh.”

 

“Maaf, aku kaget dan bingung. Kamu tetap sahabatku Bram, walaupun menyebalkannya kamu paling super. Aku lakukan itu semata aku peduli sama kamu.”

“Dru tolong tatap mataku, apa kamuy akin dengan jawabmu?”
“Aku yakin.”
“Sekali lagi aku tanya, apa kamu yakin tidak ada rasa sedikitpu untuk aku.”

Ya Tuhan, aku harus jawab apa. Aku tak berani Tuhan. Aku takut disakiti Bram. Aku takut ditinggalkan Bram. Aku takut dihina oleh Bram. Aku takut Bram seperti Hario.

 

“Dru Prawesty, di hadapan Tuhan aku sampaikan bahwa aku akan menjagamu dengan baik. Jika aku melukaimu terkutuklah aku telah menyia-nyiakan perempuan sehebat kamu yang berhasil membuatku memiliki alasan untuk bertahan menjalani kehidupan saat aku sendiri ragu kaki ini dapat melangkah lagi atau tidak.”

 

Air matamu makin tak terbendung.

“Dru….”
“Bismillah…atas restu dariNya, aku terima lamaranmu.”

 

Terpasang cantik cincin bermata hijau botol kesukaanku. Cantik sekali.

 

Diciumnya punggung tanganku, dikecupnya keningku lalu berbisik, “aku mencintaimu karena Tuhan, maka ijinkan aku berikan kamu kebahagiaan.

 

 

“Bandung, 09 Juli 2020