KALKULATOR ( KISAH ABA -1)

" Orang yang datang padamu untuk berhutang itu telah merendahkan harga dirinya, jangan kau tambah lagi dengan menolaknya."

KALKULATOR ( KISAH ABA -1)
by @Naqyara

 

KALKULATOR ( Kisah Aba - 1)

Aku tidak terlalu faham bagaimana sebenarnya kondisi finansial keluargaku dulu. Ada masa saat week end, Aba membawa kami dengan Toyota Hardtopnya ke perkebunan yang luasnya berhektar-hektar. Di sana ada pabrik sagu lengkap dengan perumahan karyawan. Ada kolam Ikan Mas dan juga kolam renang dekat villa berlantai dua. Kegiatan kami begitu menyenangkan: berlari sekencang-kencangnya mengitari perkebunan lalu langsung melompat ke kolam renang, makan makanan yang dibawa Umi, berlari lagi, berenang dan makan lagi.

 

Awalnya tanah perkebunan itu tanah liat yang sangat tandus, tapi dengan keuletan Aba bertahun-tahun kemudian tanah tersebut bisa menghasilkan beragam tanaman yang melimpah. Aku ingat saat panen berkarung-karung cabe rawit, jeruk nipis dan bangkoang dibawa dengan truk. Namun setelah  perawatan menahun dan menelan biaya sangat besar, tanah perkebunan itu dicaplok aparat dengan semena-mena tanpa ganti rugi apapun. Aba menanggung banyak hutang. Masih terekam jelas wajah Aba yang tertekan dengan tatapan kosong memegang jeruji jendela kamarnya. Kadang kulihat Aba duduk di teras rumah menatap nanar satu titik tak bergerak dalam waktu lama. Tak sedikit keluarga besar yang berbisik di telingaku dengan suara menyeringai, “Abamu sudah gila!”

 

Kalau ada buku yang ditulis untuk menceritakan kegigihan seseorang, aku akan menuliskannya dengan Abaku sebagai tokohnya. Tak lama sejak peristiwa pencaplokan itu, Aba merintis usaha lain. Membuka toko sepatu lalu juga percetakan. Menurutku toko sepatu dan percetakkannya cukup ramai, namun akhirnya gulung tikar juga entah apa sebabnya. Setelah itu Aba mencoba usaha apapun. Tidak ada yang berhasil kecuali  sekolah TK hingga SMA yang didirikannya, juga kursus Bahasa Inggris, namun sayang Aba tidak lama menikmati kesuksesannya itu karena serangan jantung mendadak yang  menjemput ajalnya.

 

Satu profesi Aba yang tak pernah ditinggalkannya adalah guru private  Bahasa Inggris. Di masa itu hanya ada 2 orang di Kota Jambi yang dirujuk sebagai pakar Bahasa Inggris dan salah satunya  adalah Aba. Murid beliau biasanya anak konglomerat yang ingin mempersiapkan anaknya sekolah di luar negeri, para direktur Bank, Rumah Sakit dan pejabat daerah. Saking penuhnya jadwal beliau hingga tak ada waktu tersisa lagi, orang rela belajar conversation dengan cara menemaninya jalan pagi. Profesi Aba itu dengan dilengkapi sikapnya yang ringan menolong orang lain, ramah dan  mudah bergaul tanpa sekat agama atau etnis, membuatnya terkenal dan dicintai banyak orang. Bayaran privatenya pasti mahal, tapi tak pernah cukup untuk membayar hutang-hutang Aba dan juga banyaknya tanggungan Aba, bukan hanya istri dan ke-5 anaknya, tapi juga Adik-adiknya dan keluarga lainnya. Kelak ketika beliau wafat, banyak warisan yang ditinggalkan namun bukan berupa harta melainkan warisan hutang-hutang. Tapi beliau  juga meninggalkan warisan yang mempermudah kami untuk melunasi hutang-hutangnya, yaitu kebaikan beliau pada semua orang.

 

Sewaktu kecil aku  sangat sering menyaksikan beragam orang  yang  datang ke rumah untuk minta bantuan. Ada kuli panggul pasar ikan yang sangat amis, tukang bangunan, pengumpul botol bekas bahkan orang gila. Oh ya, ada 2 orang gila yang rutin setiap pagi datang ke rumah, hebatnya 2 orang ini selalu on time. Yang pertama Namanya Bi’Eng, perempuan setengah baya mantan orang kaya raya yang depresi karena ke-3 anak dan suaminya terbakar habis di rumahnya. Satu lagi Nawi, mantan dukun sunat. Aba menyiapkan khusus buat mereka ini lembaran seratusan merah di dalam laci meja kerjanya. 

 

Tak pernah yang datang ke rumah pulang dengan tangan kosong  padahal tak jarang Aba hanya punya uang yang tersisa di saku celananya. Bila benar-benar tak ada,  Aba akan mendekati Umi dan berbisik pelan memohon agar bisa meminjam sedikit uang belanja Umi. Bila tidak ada uang sama sekali, Aba akan minta Umi untuk membungkus makanan apa saja yang ada. Aku dan ke-empat saudaraku sering berbuka hanya makan dengan kangkung atau 1 telur ditambah banyak kol agar cukup dibagi 5 karena makanan yang disiapkan  Umi  diberikan Aba pada yang datang. Aku sering protes, sedih karena sudah membayangkan buka puasa dengan udang goreng tapi semua diberikan Aba ke orang yang datang ke rumah. Kata Aba : “Orang yang datang untuk berhutang itu sudah menggadaikan harga dirinya, jangan kau tambahkan dengan menolaknya.” Di kemudian hari Aku baru tau ternyata yang Aba katakana itu adalah kutipan dari perkataan Sayyidina Ali.


Menonton #keluargacemara saat Euis menyenderkan pipinya di punggung Abah di boncengan motor, mengingatkanku  pada moment yang sama dengan  Almarhum  Aba. 

Meskipun dalam kondisi tidak punya uang, kalau untuk kebutuhan sekolah Aba akan berusaha sekuat daya untuk memenuhinya tapi kami sangat sungkan untuk minta, terlebih Aku.

Ketika di kelas 1 SMA, setiap murid saat pelajaran matematika bab Trigonometri wajib membawa kalkulator khusus yang disebut kalkulator scientific. Itu loh, kalkulator yang ada sinus, cosinus dan tangen. Typenya beragam, kode angka dan xp di bagian akhir menentukan serinya dan harganya. Maka tiap ada jam matematika di hari itu, aku akan gelisah setengah mati. Jangankan kalkulator scientific, kalkulator biasa saja yang aku punya sangat jadul, cuma untuk operasi matematika : tambah, kali, bagi dan kurang, itupun milik Aba. Ukurannya  besar hampir sama dengan ukuran 1 buku tulis. Oleh teman-temanku kalkulator seperti itu disebut Kalkulator Cabe, karena biasanya digunakan oleh penjual di pasar sayur.

Kalau PR Trigonometri, Aku masih bisa pinjam kalkulator dengan tetanggaku Hendry, yang satu sekolah tapi beda kelas. Tapi bila di sekolah, sku harus sabar dan tebal muka menunggu setelah temanku selesai menggunakan, baru Aku bisa meminjamnya. Alhasil Aku selalu menyelesaikan tugas paling akhir, bahkan tak jarang saat istirahat tiba, aku tinggal sendirian dalam kelas karena baru diberikan pinjaman kalkulator oleh temanku.

Hari itu nilai ulangan harian trigonometri dibagikan, aku sudah yakin dengan nilaiku, dari 20 soal aku hanya mampu mengerjakan 2 soal saja karena harus menunggu kalkulator temanku. Semua sudah dibagikan hasilnya, kecuali Aku. Pak Yoto memanggilku untuk mendekati mejanya.

 

“Saya tau kamu dapat nilai terjelek ini di kelas bukan karena tidak bisa tapi karena kamu tidak mau bawa  kalkulator sendiri. 2 minggu lagi UAS, kalau kamu masih belum punya kalkulator juga bagaimana bisa mengerjakan. Apalagi katanya kamu nanti ingin masuk jurusan Biologi, mana bisa dengan nilai seperti ini, ”Pak Yoto menunjuk nilai 2 di kertas ulanganku. 

Aku hanya diam menahan bendungan di ujung mataku.

“Jadi, lusa saat pelajaran saya, kamu sudah harus membawa kalkulator sendiri, jangan menganggu temannya, seriuslah kalo mau sekolah itu jangan pakai alasan mau beli gak sempet, memangnya kamu sesibuk apa sih,” Pak Yoto melanjutkan dengan suara yang cukup terdengar hingga bangku tengah kelas.

“Baik, Pak,” sahutku lemah sambil mengambil kertas ulangan itu menuju kursiku.

 

SMA Xaverius ini tergolong sekolah elite di kotaku. Tidak ada anak miskin di sini sehingga buat Pak Yoto dan teman-temanku mana mungkin ada anak yang tidak mampu beli kalkulator.

Aku tidak tega menceritakan ini ke Aba, aku gak mau menambah bebannya. Maka lusa saat pelajaran Pak Yoto Aku memilih bolos tidak masuk sekolah, demikian juga hari selanjutnya hingga tiba saatnya UAS. Aku sudah punya rencana saat UAS matematika Aku tidak akan masuk agar aku bisa ikut ujian susulan saja hingga bisa meminjam kalkulator temanku. Tapi malangnya, jadwal ujian matematika itu bersamaan dengan jadwal ujian Pratek Lab Kimia yang tidak mungkin ada susulan. Aku tidak punya pilihan.

 

Satu hari menjelang ujian matematika, sambil memijat betis Aba, pelan-pelan Aku sampaikan tentang kalkulator ini. Seperti kuduga sebelumnya, reaksi Aba sangat antusias tanpa beban sama sekali. Yang tidak bisa aku duga hanya darimana uang Aba membelinya.

 

“Besok sebelum ke sekolah kita mampir dulu yah beli kalkulatornya,” kata Aba.

“ Emang Aba ada duitnya? Aja gak mau kalau Aba ngutang lagi, mending gak ujian.”

“Aja tenang aja, Aba gak ngutang. Pokoknya besok kalkulator itu pasti ada,”  Aba meyakinkanku.

“Bener, yah, Aba janji yah gak ngutang belinya. Kalau ngutang Aja beneran gak mau Ba.”

“Pasti beli, Aba punya duit kok ngapain ngutang." Nada bicara Aba  yang sangat tegas akhirnya membuatku tenang.

 

Kelas 1 itu aku masuk siang. Sebelum mengantar ke sekolah, Aba mengajakku ke toko buku dan alat tulis milik seorang kerabat. Aku langsung menolak ke tempat itu karena  kerabat itu adalah salah satu orang yang pernah menyebut Abaku gila, belum hilang rasa sakit hatiku. Tapi Aba tetap mengarahkan motornya ke toko itu.

 

Toko itu cukup besar, bentuknya memanjang. Di bagian belakang ada ruang kaca kecil tembus pandang yang dipakai sebagai ruang ownernya. Saat itu toko sedang ramai. Sesampai di sana, aku mengikuti Aba masuk namun Aba menghentikan langkahku hanya sampai depan toko.

“Aja tunggu di sini yah, jangan ikuti Aba masuk.”

“Lah kenapa Ba, Aja mau ikut Aba,” kataku merajuk.

“Pokoknya jangan ikut. Dengerin Aba yah, tunggu di sini  sampai Aba bawa kalulatornya.”

“Ba, jangan beli di sini, Ba. Aja gak suka, ayo kita ke tempat lain." Perasaanku makin gak enak.

 

Aba kembali mengulang pesannya agar aku menunggu di depan saja. Aba masuk beberapa  langkah lalu kembali lagi ke depan toko menghampiriku dan mengulang pesannya  dengan lebih tegas agar aku tidak mengikutinya masuk.
Aku curiga kenapa Aba sampai seperti itu, lalu diam-diam mengikutinya dengan mengendap di belakang pengunjung lainnya.

Aba sampai di pertengahan toko, lalu  tiba-tiba aku mendengar orang dari dalam office itu berteriak kencang hingga semua pengunjung maupun karyawan toko itu mendengar : 

"Mau  ngapain, pasti mau ngutang lagi yah, tiap datang gak ada yang lain selain  ngutang," Kata- kata berikutnya jauh lebih perih dan disampaikan tetap dengan berteriak.
Aku gak kuat mendengarnya lalu aku tarik tangan Aba sambil menangis : 

"Gak usah Bah, jangan... ...gak apa-apa gak ada kalkulator, ayok pulang Ba..."
Aba sangat kaget mengetahui aku ada di belakangnya dan mendengar semua hinaan itu, lalu Aba bilang :

"Sssst, gak apa-apa. Kan Aba bilang tunggu di depan aja. Percaya dengan Aba, kita  beli kok bukan ngutang."

Aku berdiri mematung di tempat itu, air mata tak terbendung deras terus mengalir. Semua mata yang ada di situ memandang kami. Lalu Aba melanjutkan langkahnya, entah apa yang Aba bicarakan dalam ruangan itu,

Aba keluar ruangan kaca dengan membawa kotak kalkulator dengan diikuti pandangan seluruh orang yang ada di toko itu,  menghampiriku sambil memeluk pundakku mengajak ke parkiran.

 

"Ini Aba sudah beliin yah,pake buat ujian.” 

 Aku tau Aba berbohong, dan Aku juga yakin Aba tau bahwa aku mengetahui kebohongannya. Tapi hati kami seperti sepakat untuk tidak lagi membahasnya. Aku masih menyimpan erat matanya yang terluka hebat karena pridenya sebagai seorang Ayah runtuh ketika anaknya mendengar hinaan itu serta ketidakmampuannya menunaikan janji.

 

Di motor menuju sekolah kita saling diam. Aku tidak mau melingkarkan tangan di perutnya. Aba sangat hafal itu pertanda bahwa aku sedang ngambek atau sedih. Lalu seperti biasa yang selalu Aba lakukan, dia melepaskan satu tangannya di sadel motor, mengambil tanganku di belakang dan membawanya ke perutnya dan diikuti dengan tanganku yang sebelah lagi. Aku tidak pernah menolak bila Aba sudah melakukan itu. Aku menempelkan pipi yang terus-menerus  basah dipunggungnya. Aba hanya mengelus-elus tanganku yang melingkar di perutnya. 

 

Sesampai di sekolah, Aku menyalami Aba masih dengan sedu sedan yang tertahan.

“Eh, udah jangan nangis nanti malah gak bisa mikir ujian. Aja nanti plastik kalkulatornya jangan dibuka yah, kotaknya juga jangan sampe rusak." 

Aku hanya mengangguk.

 

Saat ujian aku dilema antara ingin menggunakan kalkulator itu karena ingat perjuangan Aba memperolehnya dan juga nilai ujianku yang harus tinggi, tapi rasa sakit hatiku yang terngiang-ngiang dengan hinaan itu membuat aku urung menggunakannya. Aku memilih tidak mengeluarkannya sama sekali dari tas.

 Saat Aba menjemput pulang aku kembalikan kalkulator itu tanpa cacat, Aba  tidak pernah tau bahwa aku berbohong dengan bilang aku sukses mengerjakan ujian berkat kalkulator itu. 

 

Keesokkan harinya aku tau kalkulator itu dikembalikan ke toko tersebut. Iya betul, Aba tidak berhutang tapi meminjam dengan bonus hinaan dan caci maki.

Aku mematri dengan kuat perasaan terhina karena meminjam itu dan akhirnya Insya Allah membuatku punya sikap berbeda terhadap orang yang terpaksa berhutang untuk hidupnya.

Nilai merah matematika 4 di raport menjadi saksi abadi yang mengekalkan peristiwa itu selamanya.