Mencari Nafkah Demi Desah: Sebuah Fiksi (suwer, deh)

Mencari Nafkah Demi Desah: Sebuah Fiksi (suwer, deh)

Drrrt, drrrt.

Handphone Baja bergetar dua kali, tanda ada pesan masuk di Whatsapp. Dia ambil HP dan bersender di kursi kerjanya, tersadar kalau sudah dua jam dia berkutat dengan presentasi yang harus selesai sebelum jam makan siang hari ini.

 

“Hai cowok, udah jam 11 nih, mau makan siang apa?” ternyata dari istrinya, Maya. Baja agak mengernyitkan alis, sambil mengetik balasannya. Tumben Maya nanyain makan siang apa, pakai genit-genitan, lagi. Biasanya mereka termasuk pasangan yang cuek, nggak perlu tau masing-masing makan apa tiap siang.

 

“Nggak tau nih, yang. Paling pesen gado-gado aja ke Pak Udin,” ketik Baja. Mendadak perutnya keroncongan membayangkan sepiring gado-gado pedas pakai kerupuk ekstra.

 

Presentasi belum kelar, Ja… Tiba-tiba benaknya berkata. Baja pun kembali fokus ke layar komputer di depannya. Tak terasa, satu jam berlalu dan teman-teman kantornya mulai beranjak keluar untuk makan siang. Baja menghela napas sambil meregangkan jari-jarinya. Hari ini rasanya dia bahkan belum berdiri buat sekadar ambil minum saking sibuknya. Laporan bulanan, presentasi ke Kepala Divisi, dan masih menumpuk segudang tugas yang mesti dia selesaikan sore nanti.

 

“Mas Baja, ada kiriman nih dari Mbak Maya,” Pak Udin, office boy separuh baya andalan Baja dan rekan-rekan kerjanya, masuk ke ruangan. Dia membawa sekotak choux kesukaan Baja.

 

“Wah, makasih Pak Udin,” mata Baja berbinar kegirangan. Maya emang paling top deh, ngerti aja gue gak sempet makan siang, pikirnya sambil langsung melahap satu buah choux isi coklat.

 

Ketika lagi mau nyuap choux ketiga, Baja termenung. Iya ya, tumben ini istrinya mengirim makanan ke kantor dan sebelumnya sedikit genit di Whatsapp. Apakah Baja melupakan sesuatu? Hari ini bukan ulang tahun dia, bukan ulang tahun Maya, dan bukan juga ulang tahun perkawinan mereka.

 

Aman, lah, emang lagi baek aja kali si Maya, pikirnya sambil senyum sendiri. Mendadak dia terbayang nanti malam setelah pulang kantor dia mau ajak Maya cepet-cepet antar anak-anak tidur, lalu ajak istrinya itu ke kamar sambil setel musik chill dan menyalakan salah satu lilin wanginya si Maya. Mungkin malam ini mereka bisa....

 

"Ja, udah beres presentasi?" Mas Hendri, atasannya, melongok dari balik pintu, membuyarkan fantasi siang bolongnya Baja.

 

Sepanjang presentasi, Baja sudah lupa sama fantasinya. Di dalam otaknya sudah antre semua pekerjaan hari ini, padahal ini sudah jam 3 sore. HPnya bergetar lagi, sebuah pesan dari Maya lagi.

 

"Yang, pulang jam berapa nanti?" tanyanya. Wah, kok tumben juga nih nanyain pulang jam berapa, baru juga jam 3, pikir Baja heran.

 

"Wah, masih malem kayaknya, Yang. Kenapa gitu?" dia balas sambil pura-pura perhatikan Mas Hendri presentasi di depan.

 

Agak lama baru Maya balas, "oh, ok."

 

Mati gue, pikir Baja. Kok balesnya singkat, ini pasti ada yang nggak beres.

 

Tapi, lagi-lagi Baja nggak bisa ambil pusing karena pekerjaan masih menumpuk. Jam 4 sore, dia ijin dari rapat untuk pindah ke teleconference dengan kontraktor proyeknya dari Italia. Koneksi Internet yang seadanya, ditambah Bahasa Inggris pas-pasan dari dua belah pihak membuat teleconference itu sungguh melelahkan batin Baja.

 

Jam 5.30 sore, dia menghela nafas panjang seraya mengakhiri video call. Sekarang, waktunya dia membuat Minutes of Meeting pertemuan barusan supaya nggak keburu lupa. Dia membuka Microsoft Word di laptopnya, sambil meraih satu buah choux vanilla kiriman Maya tadi.

 

Waktu kembali berjalan dan Baja kembali fokus mengetik. Pekerjaannya di dunia proyek konstruksi memang penuh dinamika; di tahap awal dan akhir proyek, saking lowongnya Baja bisa keluar kantor jam 3 sore buat main sepeda sama teman-temannya, atau pergi nonton bioskop sama Maya. Tapi kalau proyek sedang tahap puncak seperti sekarang, Baja bisa lembur setiap hari dan lupa sama jam makan. Apalagi Mas Hendri sangat bergantung sama Baja buat setiap kerjaan.

 

Jam 7.35. Baja memejamkan matanya sejenak, dan memutuskan kalau sekarang saatnya istirahat dan pulang. Dia ketuk layar HPnya dua kali dan kaget melihat ada dua missed call dari Maya. Saking fokusnya, dia tidak mendengar HPnya bergetar tadi.

 

Buru-buru Baja mematikan laptopnya dan membereskan barang-barangnya. Kantornya sudah sepi, hanya tinggal Pak Udin saja yang selalu setia menemani karyawan yang lembur. Baja pamit dan berjalan menuju mobilnya di parkiran.

 

Di jalan, pikirannya kembali tertuju ke Maya, pesan singkatnya dan dua panggilan tak terjawabnya. Biasanya, Maya maklum kalau Baja lembur. Biasanya, mereka sering bertukar pesan Whatsapp kalau sore hari menjelang Maghrib dan Baja masih di kantor. Tapi, hari ini notifikasi HP Baja sepi, dan balasan terakhir pesan Maya tadi siang sungguh singkat.

 

Mana pake titik lagi belakangnya.

 

Ah, mungkin dia lagi sibuk sama anak-anak, pikir Baja. Sampai rumah, dia tetap berencana akan cepat-cepat mandi, bawa anak-anak ke kamar dan ceritakan dongeng paling membosankan supaya mereka lekas tidur. Lalu, Baja bakalan ajak Maya ke kamar, senggol-senggol dikit dari balik selimut...

 

Baja memarkir mobilnya di garasi agak miring karena terburu-buru, dan dia pun masuk rumah dengan perasaan penuh harap dan nafas yang sedikit menderu-deru.

 

Sampai dalam rumah, sepi. Rupanya anak-anak tidur cepat malam ini. Wah, this is getting even better...

 

"Assalamualaikum, Yang...? Maya?" dia buka pintu kamar mereka perlahan dan langsung menelan ludah. Maya terbaring di kasur, memakai tank top dan celana pendek hitam favorit Baja. Istrinya terlihat sungguh cantik dan kelihatannya siap diajak main-main malam ini. Nggak sia-sia hari ini Baja kerja keras cari nafkah di kantor, demi malam ini bisa mendengar desahan mesra si Maya.

 

Tapi, kok dia diem aja?

 

"Yang?" Baja mulai khawatir, otaknya berputar cepat dan sedikit kalut. Salah apa gue ya Allah? Hari ini kan, bukan ulang tahun pernikahan mereka? Bukan ulang tahun Maya? Apa ulang tahun ibunya Maya?

 

Lah ngapain dia marah kalo gue lupa ultah Ibunya. Lagian bukan juga!

 

Perlahan, Baja jalan dan duduk di pinggiran tempat tidur. "Yang, kenapa? Kok diem aja?"

 

Maya melirik tajam ke arahnya, lalu kembali bermain dengan HPnya. "Menurut kamu kenapa Ja?"

 

Wah, panggilan Yang udah turun derajat jadi Ja. Gawat.

 

"Aku nggak tau, asli. Apa karena aku nyuekin kamu ya? Maaf, sibuk banget tadi di kantor. Kan aku udah cerita, proyek lagi gila-gilanya nih jadi aku bakalan super sibuk beberapa minggu ini," Baja mencoba menjelaskan.

 

Maya masih diam untuk beberapa menit yang rasanya seperti beberapa tahun di Baja, sampai akhirnya dia mendongakkan kepalanya dari HPnya.

 

"Kamu lupa ya Ja, hari ini kan hari anniversary kita!"

 

Baja sedikit emosi dengarnya. "Anniversary kita kan bulan Agustus. Ini masih Februari, Maya. Ya nggak mungkin lah aku lupa, kamu kali yang lupa itu...coba inget-inget lagi deh," dalam hati, Baja merasa jumawa karena ini semua hanya salah paham. Maya cuma lupa aja ternyata, tapi nggak apa-apa. Baja nggak akan ambil pusing dan memaafkan Maya karena dia sudah marah-marah buat alasan yang nggak valid. Bahkan mungkin dia bisa sedikit menyinggung kalau Maya udah sedikit mengganggu pikirannya di kantor tadi, padahal Baja lagi sibuk banget.

 

Siapa tau dia bakal merasa bersalah dan berencana buat make-up ke gue malem ini....

 

"Eh Baja Krisna. Ya kali aku lupa anniversary kawinan kita. Maksudku hari ini kan 24 Februari, anniversary kita pertama kali pacaran! Hhhhhhh, baru juga 12 taun lalu, udah lupa aja. Yaudah ah, terserah!" Maya mendesah penuh kesal, lalu balik badan membelakangi Baja yang lagi buka kancing kemejanya, siap-siap mau mandi.

Baja pun terdiam dengar omelan Maya yang kali ini, terdengar nggak pakai titik antarkalimat.

 

Yah...apes gue mana inget ada anniversary pacaran segala, Baja mengutuk dalam hati. Bukannya desahan mesra yang dia dapat malam ini, melainkan gerutu penuh kesal dari istrinya.

 

Tidur peluk guling deh, malem ini...