JELANTAH

JELANTAH

JELANTAH

"Bodoh!" 

Mertua Ningrum mendelik. Dengan mimik dramatis ia menatap wajan bersih di atas kompor.

"Sudah merasa kaya kau, Ning? Itu minyak seliter! Seliter! Kau buang seperti air kobokan saja. Memang ya, kalau tak merasa susahnya cari duit, enak saja main hambur-hambur barang."

Ningrum menunduk. Tangannya yang memegang mangkuk berisi potongan-potongan tempe mentah terendam air bawang dan garam, gemetar. Ia sudah biasa dengan omelan perempuan tua itu, namun tak urung setiap tusukan kata yang keluar.  membuat hatinya berdarah. 

Ia tadi sedang mengganti popok Vino ketika mertuanya berteriak menyuruh menggoreng tempe untuk tambahan lauk. Sore nanti akan ada arisan di rumahnya. Alih-alih menyediakan minuman dan kue-kue sekedarnya, mertua Ningrum bermaksud menyuguhkan makan berat. 

"Arisan kan jam empat, Bu. Bukan waktu makan. Kue dan minum saja cukup. Atau makanan yang nggak terlalu mengenyangkan. Gado-gado atau baso,  misalnya," usul Ningrum halus.

"Kue kan sudah biasa! Mumpung ibu ada di sini, biar tetanggamu pada tahu enaknya masakan ibu. Lagipula kasih makan orang itu sedekah, Ning."

Ningrum menurut sebelum perempuan itu berkhotbah lebih panjang lagi. Ia sudah hafal ujungnya. Pasti keberadaannya sebagai istri beban suami akan diungkit. Sejak  memutuskan berhenti bekerja setelah melahirkan Vino, sikap mertuanya semakin asam. Bahkan penjelasan Aswin tentang kondisi Vino yang lahir prematur dengan cacat bawaan pada jantung yang membuatnya butuh perhatian khusus, hanya membuat ibunya lebih menyalahkan Ningrum.

"Kamu pasti nggak hati-hati waktu hamil. Atau ini penyakit keturunan? Yang jelas keluarga kami sehat-sehat semua!" cetusnya tajam

"Sekarang punya anak penyakitan gini, butuh duit lebih gede, kan? Kok malah enak-enakan nggak kerja membiarkan suami jadi sapi perah!" sambungnya semakin sengak.

Tak habis Aswin minta maaf akan kelakuan ibunya. Semula Ningrum mengira sikap tak bersahabat yang ditunjukkan mertuanya semata sebab cemburu mertua pada menantu. Apalagi Aswin anak tunggal yang dibesarkannya sendirian. Rasa saling memiliki ibu dan anak pasti lebih besar. Namun semakin lama ia menyadari, perempuan itu membencinya karena masalah gengsi.

Mertuanya pemuja uang. Hal itu ditunjukkan dengan sikap yang kontradiktif. Pada orang lain dan lingkungan, ia mencitrakan diri sebagai dermawan berlimpah materi. Akan tetapi di keseharian dan kehidupan pribadi hematnya sudah melampaui kikir. Melihat dua sumber penghasilan di rumah anaknya berkurang satu, jelas membuatnya geram. Tak ada lagi anak dan menantu sukses yang bisa ia banggakan.

Pelan Ningrum menuang minyak yang baru diambilnya dari lemari persediaan ke wajan. Membesarkan api kompor dan berharap suara sreng tempe masuk ke minyak panas meredam omelan mertuanya yang terus mendengung tak berkesudahan.

Memamerkan masakannya, itu teori belaka. Pada prakteknya kemudian perempuan itu hanya membuat menu, menyuruh Ningrum belanja, mencela hasil belanjaannya, lalu duduk jadi supervisor, sementara menantunya sibuk menyiangi sayur, meracik bumbu dan menyiapkan semua bahan masakan. 

Tangisan Vino membuat Ningrum melesat meninggalkan dapur. Ia merasa tenang karena nasi, sambal, sayur lodeh dan sayur asam sudah matang. Lalapan juga sudah disiapkan. Kurang menggoreng ayam dan ikan saja. Beberapa menu tambahan yang dipesan dari restoran pun sudah datang, tinggal menata di meja makan. 

Baru saja mengganti popok dan menyusui Vino agar kembali tidur, mertuanya sudah berteriak memanggil. Rupanya ia sudah menggoreng ikan yang telah dibumbui Ningrum. Meninggalkan wajan berisi jelantah kehitaman dan  penuh remah. Maka tanpa banyak pikir Ningrum membuang minyak itu, bermaksud mengganti dengan minyak baru agar hasil gorengan ayam dan tempenya bisa cantik.

'Kalau saja ibu menggoreng tempe dan ayam dulu, baru lele belakangan, minyak masih bisa dipakai ulang.'

'Kalau nekat goreng pakai jelantah nanti tempenya nggak bisa kuning keemasan, nanti malu sama yang disuguhkan, aku lagi yang salah.'

'Minyak seliter ribut, budget masak dan pesan makanan ke resto padahal jelas lebih boros daripada nyediain kue dan minum seperti biasanya'

'Bilang aku menghamburkan uang anaknya, apa dia lupa rumah yang ditempati anak menantunya ini warisan dari besannya.'

'Apa dia menutup mata pura-pura tak tahu aku masih membantu Aswin dengan berjualan online dari rumah.'

Berdering-dering kalimat sanggahan berputar di benak Ningrum. Hanya berhenti di benak. Bagaimana pun ia tak mau melawan perempuan yang konon di kakinya ada surga untuk suaminya itu.
Maka seperti yang sudah-sudah, yang dilakukannya adalah tersenyum dan meminta maaf.

Tersenyum pula yang Ningrum lakukan ketika para tamu memuji hidangan sementara ibu mertuanya menampik  senang dengan hidung mekar. 

"Aswin itu hanya bisa makan lahab kalau makan masakan ibunya, Jeng. Makanya saya tua-tua sendi sudah sakit semua begini tetap memaksakan sering-sering berkunjung. Daripada anak kurus kering to."

Ningrum menunduk menyembunyikan seringai sinis. Aswin sudah dua tahun diet ketat karena vonis diabetes dari dokter. Ibunya tahu itu. Ia paham, mertuanya secara halus hanya ingin memberi kesan kalau dirinya tak becus memasak dan mengurus suami.

********

"Capek, Sayang?" Aswin mengecup ubun-ubun Ningrum. Tangannya memijat lembut pundak istrinya.

Ningrum menggeleng.

"Yang capek hatinya, Mas."

Aswin menghela napas, memeluk Ningrum erat.

"Maaf," bisiknya serak.

"Obati sakit hatiku," bisik Ningrum juga serak.

"Begini?" 

Tangan Aswin mulai nakal. Ningrum terkikik genit.

Tiba-tiba ...

"Niiiing, jelantahnya kau buang lagi? Ini kok wajannya sudah dicuci saja! Perempuan kok nggak tahu berhemat kamu itu ..."

Nining dan Aswin berpandangan. Mereka tertawa. Aswin bergegas keluar sementara Ningrum membaringkan diri ke ranjang. Tubuhnya serasa remuk setelah masak seharian.

Sayup didengarnya Aswin sedang berdebat dengan ibunya soal bahayanya jelantah bagi kesehatan. Dipeluknya guling dengan nyaman, berharap Aswin segera menyudahi debatnya dan masuk kembali ke kamar, melanjutkan yang tadi tertunda.

Saat menikah dulu ia sudah berjanji akan menerima Aswin apa adanya, baik dan buruknya, mendampingi di saat sehat dan sakitnya. Ibunya yang judes dan menyebalkan mungkin adalah bagian buruk dari diri Aswin, pikir Ningrum tenang.

Hatinya kini terasa ringan.