Islam : Wajah Pelopor Perjuangan Emansipasi Kemerdekaan Indonesia

Islam : Wajah Pelopor Perjuangan Emansipasi Kemerdekaan Indonesia

Islam: wajah pelopor, pelangsung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Nusantara, begitu sebutan daerah yang menjadi negri tanah air kita, Indonesia. 17 Agustus 1945 adalah hari yang tak pernah bisa kita lupakan dan akan selalu kita kenang dan rayakan. Hari dimana kelahiran bangsa Indonesia secara sah diakui di liga internasional sebagai pemangku kekuasaan tanah air secara de facto dengan ditandai proklamasi kemerdekaan oleh presiden Soekarno dan Hatta.

Sudah sejak berpuluh bahkan ratusan tahun, bangsa Indonesia menjadi budak di tanah kelahirannya sendiri. Sebelum Agustus 1945 bangsa Indonesia dikenal sebagai tuan rumah yang dijajah. Mulai dari portugal, Belanda, hingga jepang bergiliran mengetuk pintu rumah pribumi dengan membawa oleh oleh berupa todongan senjata dan tak segan menembak ketika sang tuan rumah tak menuruti apa yang mereka inginkan.

Bertahun tahun, bangsa Indonesia sakit. Menutup mata dan telinga. Berharap pasrah akan penjajahan yang nyata ada di depan mereka. Lalu, mengapa Indonesia dapat bangkit dan meraih kemerdekaan secara de facto sebagai sebuah negara? Hal ini tak akan pernah bisa luput dari perjuangan agama Islam yang ada di Indonesia sejak abad ke-13. Walau tentu kita tahu banyak front perjuangan kemerdekaan selain berlandaskan Islam, namun perlu kita ketahui bersama bahwa Islam menjadi salah satu pelopor dan pelangsung dalam memikirkan cara kemerdekaan bangsa Indonesia.

Hal ini dimulai pada tahun 1830. Ketika Belanda yang saat itu menjajah Indonesia ingin semakin mengencangkan cekikan tangan panjang penjajahannya pada rakyat Indonesia. Terbukti dengan adanya pelbagai politik yang dilancarkan. Salah satu yang paling parah adalah Cultuurstelsel atau “ tanam paksa ”. Langkah politik ini merupakan bentuk eksploitasi ekonomi rakyat Indonesia. Sebuah sistem perbudakan yang teratur, kejam, rakus dan menjadi bencana turun temurun bagi mentalitas hidup bangsa Indonesia.

Belum cukup sampai disitu, Belanda juga membuka gerbang kepada etnis etnis lain untuk mengambil peran dalam penjajahan Indonesia. Dengan adanya politik pintu terbuka menciptakan persaingan bebas tanpa batas yang hanya mengejar keuntungan materiil semata tanpa memedulikan aspek kemanusiaannya. Pemerintah kolonial Belanda menggunakan bangsa Timur Asing sebagai boneka dari eksploitasi ekonomi ini. Terkhusus golongan bangsa Cina yang ditempatkan sebagai kalangan pemasar menengah mereka memegang perusahaan perusahaan pemasaran tingkat menengah kebawah dan kelompok inilah yang mengambil peranan penting terkait pemasaran dan harga pada tingkat bawah, yang ada pada penduduk pribumi.

Politik pintu terbuka semakin membuat ekonomi rakyat lumpuh total tanpa ampun dan telah menyengsarakan rakyat Indonesia. Belum lagi efek dari tanam paksa semakin menambah luka di sekujur tubuh dan jiwa bangsa Indonesia. M. Masyhur Amin mengungkapkan tentang bagaimana kesengsaraan bangsa Indonesia sebagai berikut : “ Belum juga selesai dari tekanan dan penindasan tanam paksa, pada tahun 1870 Belanda memberlakukan politik pintu terbuka. Politik pintu terbuka berhubungan dengan perekonomian, yaitu memasukkan bantuan modal asing bagi kelancaran perekonomian pemerintah penjajahan Belanda. Dengan masuknya bantuan modal asing ini potensi ekonomi umat Islam jelas semakin lumpuh. ”

Salah satu efek dari politik ini terlihat dari produksi batik. Kerajinan batik semula merupakan kerajinan rumah. Para usahawan memberikan modal bahan baku kepada pengrajin, mereka menerima orderan di rumahnya masing-masing dan mereka mendapatkan upah setiap potong batik. Tetapi setelah datangnya politik terbuka, perusahaan batik dikuasai oleh bangsa asing. Pembuatan yang semula di rumah kemudian beralih di dekat industri pengusaha. Semula pekerjanya kebanyakan para wanita, kemudian diganti oleh kaum pria, para wanita hanya mengerjakan batik yang mahal-mahal dan dikerjakan secara manual menggunakan tangan.

Bahan baku dasar batik yang terdiri dari kain dan tinta pun diimpor banyak dari Eropa. Para pengusaha pribumi diwajibkan membeli bahan baku impor itu dari para pengusaha Cina. Dengan metode yang mereka sebut dengan metode cetak baru ini harga batik menjadi murah dan tak sanggup disaingi oleh para pengrajin pribumi yang menggunakan teknik manual menggunakan tangan. Tentu saja persaingan harga yang sangat jauh akibat permainan politik belanda menyebabkan kehancuran total ekonomi rakyat bangsa Indonesia dan semakin mencabut taring dan harga diri bangsa pribumi.

Keresahan yang dialami bangsa pribumi menyebabkan tumbuh dan tergeraknya jiwa nasionalisme seorang saudagar muslim bernama H. Samanhudi dan bersama teman seperjuangannya mendirikan organisasi masyarakat bernama Syarikat Dagang Islam ( SDI ) pada 16 oktober 1905. SDI dianggap sebagai pelopor bangkitnya jiwa nasionalisme rakyat, seperti penuturan Al- Chaidar : “ 16 Oktober 1905 adalah satu tanggal yang mempelopori terciptanya era Kebangkitan Nasional Pertama. Satu era yang telah mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.”

Syarikat Dagang Islam (SDI) didirikan untuk melawan permainan politik ekonomi kolonial dan memulihkan mata pencaharian rakyat Indonesia. SDI terbukti mampu masuk kedalam setiap lapisan masyarakat dari yang atas hingga yang di bawah, menjadikan SDI ada di dalam hati setiap rakyat yang tentu menjadi momok besar bagi pemerintah kolonial. Belum lagi dalam kiprahnya SDI mampu bergerak begitu cepat dan menjadikan Islam adalah inspirasi motor penggerak persaingan ekonomi melawan kapitalisme penjajahan.

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul “ Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia ” mengungkapkan Islam menjadi sumber inspirasi timbulnya gerakan nasional, bagi rakyat Indonesia, Islam diartikan sebagai tanah air dan bangsa, serta anti penjajah. Lebih lanjut lagi George McTurnan Kahin dalam “ Nasionalism and Revolution in Indonesia ” menjelaskan 3 faktor terpenting dalam tumbuhnya integritas nasional adalah: pertama Agma Islam yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia. Kedua, Agama Islam tidak hanya mengajari tentang perlunya berjama’ah tetapi juga mendidik untuk anti penjajah. Ketiga, umat Islam memakai bahasa melayu sebagai bahasa persatuan yang mampu mengekspresikan aspirasi perjuangan.

Kondisi bangsa Indonesia tak sampai disitu saja. Dengan semakin gencarnya keterbukaan ekonomi kepada bangsa luar dalam hal ini terkhususnya bangsa Cina yang dianak-emaskan oleh pemerintah belanda membuat keadaan politik semakin kiruh walau pada awalnya H. Samanhudi berhasil menembus permainan kotor pemerintah kolonial. Konsekuensi logis dari diskriminasi perdagangan, menjadikan orang Cina dipandang sangat angkuh dan sombong dengan dalih emansipasi. Orang cina merasa bangga sebagai Kik Bing Tong ( partai revolusioner ) yang memandang rendah kalangan bumi putera.

Untuk meluaskan konsentrasi perjuanganya pada tahun 1906 dalam konferensi pertama SDI di solo sepakat untuk merubah nama menjadi Syarikat Islam. Seperti yang secara resmi disebutkan dalam Anggaran Dasar 1980. Dengan nama baru ini Syarikat Islam segera mencanangkan program bersifat nasional yang mencakup, sosial, ekonomi, agama, pendidikan dan politik. Syarikat Islam bergerak dengan landasan Nasionalisme-Islamisme yang menjadi Pioneer terhadap gerakan emansipasi Indonesia.

A.P.E Korver membandingkan keanekaragaman anggota S.I yang tersebar di seluruh Indonesia tanpa batas wilayah dan budaya dengan Boedi Oetomo yang membatasi diri. Menurutnya, Boedi Oetomo dan Indische Partij memiliki kekurangan yang cukup besar dengan hanya membatasi perjuangan di sekitar daerah Jawa-Madura saja, sehingga menurutnya tidak ada yang bisa dibanggakan lebih dari S.I.

Juga masih menurut A.P.E Korver, S.I adalah lokomotif reformasi di Indonesia. Dan merupakan organisasi sosial politik terbesar sebelum perang dunia pertama. Suatu pergerakan emansipasi yang mempelopori perjuangan di bidang politik, sosial, ekonomi dan pendidikan. Sebuah front terdepan perjuangan. Bahkan menurutnya, S.I menjadi inspirasi dan pelopor bagi organisasi perjuangan lainya dalam contoh, Muhammadiyah, sebagaimana yang dinyatakan Korver :

“ Cita-cita reformistis dimasukkan di Indonesia dan selanjutnya dikembangkan oleh SI dan Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan 1912 di Yogyakarta oleh H. Moch Dachlan. Dachlan telah belajar beberapa waktu di Makkah dan di sana berkenalan dengan pikiran-pikiran reformistis. Dia menjadi anggota pengurus besar SI dan mengadakan hubungan yang erat dengan para anggota Boedi Oetomo di tempat tinggalnya. Salah satu kegiatan awal Muhammadiyah adalah mendirikan sekolah dasar modern dalam gaya sekolah-sekolah Djam’it Chair dan sekolah adabiyah di Padang. Seusai 1917 Muhammadiyah meluas ke luar jawa dan berangsur-angsur tumbuh menjadi salah satu organisasi terbesar sebelum perang dunia ke dua. Berbeda dengan S.I, Muhammadiyah tidak memiliki sifat politik. Kegiatan perkumpulan sengaja terbatas pada bidang sosial, keagamaan dan pendidikan.