Gadis dan Aroma Jeruk

Gadis dan Aroma Jeruk

Pernahkah aku bercerita tentang gadis beraroma jeruk?

Dia adalah cinta pertamaku. Entahlah, setiap dia lewat aku selalu mencium aroma jeruk segar dari tubuhnya. Setiap geraknya adalah indah, kulitnya dengan warna eksotis bagai tembaga yang selalu tampak bersih. Rambut ekor kudanya selalu lincah bergerak mengikuti angguk kepalanya yang tak pernah diam. Bahkan bila dia menunduk saat membaca pun rambutnya selalu menari indah. Senyumnya menawan, memamerkan deretan gigi putih dan gingsul yang buatku adalah sempurna sebab ketika diam pun ia tampak seperti tersenyum.

Sayangnya waktu itu aku adalah pengecut yang hanya berani memandang dari jauh seluruh pesonanya. Hingga dia benar-benar menghilang, baru aku menyadari bahwa aku sangat merindukan aroma jeruk dari gadis itu.

Yang tersisa hanya sebuah nama, Nilam.

*****

Kesibukan di Stasiun Tugu Yogyakarta sudah tampak sejak pagi, entah sudah berapa kereta yang datang dan pergi. Meninggalkan kota Gudeg ini selalu membuat sebagian hati membeku, entah mengapa kaki selalu berat bila akan meninggalkan kota penuh kenangan ini.

Masa kecil hingga remaja aku habiskan di kota Yogyakarta, sebelum meninggalkannya menuju Kota Bandung untuk melanjutkan kuliah. Keluarga besarku akhirnya kembali pulang ke Surabaya sejak ayah pensiun, maka tak ada lagi alasan untuk aku kembali ke Yogya. Walau hati sangat ingin kembali, tapi tak ada satupun menjadi alasan.

Hingga beberapa kali tugas dari kantor yang mengharuskanku datang ke kota ini. Dan aku akhirnya tahu, kota Jogja selalu membuat kita ingin kembali walau tanpa alasan sekalipun.

Seperti perjalananku kali ini, seminggu aku habiskan untuk bekerja di kota pelajar ini. Kegiatan hanya dari hotel menuju tempat tugas dan kembali lagi ke hotel. Tak ada keinginan untuk menghubungi teman sekolahku dulu, meski hanya sekadar say hello pada mereka. Entah aku merasa tak ada keinginan menyapa kawan lama, sejak aku kehilangan gadis beraroma jeruk itu secara tiba-tiba.

Dan tiba waktunya kembali ke ibu kota, selalu seperti ini, ada rasa yang tertinggal tapi entah untuk apa dan untuk siapa.

Masih sekitar tiga jam sebelum keberangkatan kereta yang kutumpangi. Aku melirik arloji di tanganku.

"Baiklah, masih sempat ngopi," batinku sambil melangkah ke Kafe Lokoe yang berada di sudut stasiun.

Tas koper kutarik memasuki kafe, mencari kursi yang di dekat jendela. Sepertinya tempat paling startegis agar bisa memandang sekeliling, sekedar iseng memperhatikan gaya semua orang yang akan berpergian dengan aneka ragam karakter.

Tak berapa lama seseorang menghampiri, menyodorkan buku menu dari arah samping. Seketika waktu berhenti. Bahkan aku belum benar-benar menoleh untuk menatap pelayan yang menyodorkan buku menu, otakku sudah tepental jauh ke puluhan tahun yang lalu.

Mencium aroma jeruk yang sangat khas, merasakan segar manisnya menerobos masuk ke indera penciumanku tanpa sopan. Bahkan dengan memejamkan mata aku bisa merasakan bahwa ini adalah aroma yang aku cari selama puluhan tahun. Aku sangat merindukan aroma jeruk yang ini.

"Wangi Nilam ...." gumamku dengan suara pelan. Ya aku sangat yakin sudah bersuara sangat pelan hingga tak seorangpun akan mendengarkan.

"Iya Mas, saya Nilam," jawab pelayan yang masih berdiri di sampingku.

Sontak aku tersadar dan menoleh pada pemilik suara. Memastikan bahwa ini adalah benar aroma Nilam yang sama.

Mata itu adalah mata gadis dengan aroma jeruk yang sama, senyum dengan gingsul yang selalu tampak lucu. Iya, dia memang gadis dengan aroma jeruk yang aku cari.

"Nilam? Nilam Maharani?"

"Iya, Mas Indra?"

Dia bahkan tahu namaku, bukankah kami belum pernah berkenalan hingga dia benar-benar menghilang?

"Kamu masih di Jogja?" tanyaku seperti orang paling bodoh.

"Lha iya, aku mau ke mana lagi?" jawabnya dengan senyum.

"Duduk ... ayo duduk," ujarku sambil menarik kursi untuknya.

Setelah kami duduk berhadapan, kami tertawa bersama. Sedikit dia bercerita mengapa menghilang dari sekolah. Ayah dan Ibunya bercerai dan ia tak memilih untuk tinggal bersama salah satunya. Ia ikut tinggal dengan Eyang dari pihak Ibu di desa, karena ingin berusaha adil pada Ayah Ibunya.

Semua bagai mimpi, sejak kembali ke kota Jogja ia kuliah sambil bekerja, hingga saat ini tetap bekerja di Kafe Lokoe dalam stasiun Tugu.

Kali ini aku harus berterimakasih pada semesta, bagaimana dia menjaga Nilam-ku dengan sangat apik. Siapa yang bisa menemukan seorang istimewa yang selalu menghabiskan waktunya di dalam stasiun.

Hingga kami bertukar nomor handphone sehingga aku bisa memastikan Nilam masih sendiri.

"Aku masih selalu mengingat aroma jerukmu."

"Aroma jeruk apa?" ujarnya tertawa.

"Iya, kamu adalah gadis dengan aroma jeruk." balasku. "Aku suka aroma segar dan manisnya" lanjutku.

Nilam masih saja tertawa di hadapanku.

"Bertahun-tahun aku mencari aroma jeruk ini, tapi tak pernah menemukan aroma yang sama," ucapku sambil meneguk kopi.

Kami berdua kemudian diam seperti menikmati pikiran masing-masing. Sampai terdengar sirine yang disususl pengeras suara, mengumumkan bahwa keretaku sudah datang.

Nilam segera beranjak menuju ruang belakang. Dan sedikit berlari kembali menghampiriku.

"Ini Mas, namanya Citrus. Bukan jeruk Bali," ujarnya tertawa sambil menyodorkan botol parfum kecil yang segera kuhirup isinya dalam-dalam. Benar ini adalah aroma jeruk yang aku cari.

"Nilam, tunggu aku ya. Secepatnya aku kembali," ucapku sebagai bentuk menguasai diri.

"Silakan Mas, Jogja selalu pantas untuk dirindukan," balasnya sambil tersipu.

"Aku akhirnya memiliki alasan untuk kembali datang ke kota ini."

"Hati-hati di jalan Mas," ucapnya.

"Kamu juga jaga diri," balasku sambil.menatapnya.

Salam perpisahan yang jauh dari kata romantis. Tetapi aku tahu untuk siapa aku segera kembali.

Di dalam kereta yang membawaku menjauh dari kota Jogja dan gadis beraroma jeruk, aku menatap botol kecil yang sejak tadi aku genggam. Sambil tertawa kubaca pelan tulisan di label botol mungil itu.

Citrus Essential Oil

"Citrus, bukan jeruk Bali," kuulangi lagi kalimat yang diucapkan Nilam sambil membayangkan wajah manis gadis beraroma jeruk yang akhirnya sudah kujumpai keberadaanya. Sekali lagi dengan hati-hati kubuka penyumbat botol kecil itu, bahkan tanpa perlu mendekatkan hidung pada bibir botolnya, aroma yang menguar seakan mendekapku hangat. Aroma citrus yang kukenal sebagai aromanya, aroma Nilam.