EFEK SECANGKIR CINTA KARTINI

EFEK SECANGKIR CINTA KARTINI
Foto : Pinterest

 

Pagi, lalu mentari melenggang menuju terang
Menepuk pipiku
Mengantarkan aroma bunga, rumput basah, kayu atau apa saja yang terkadang tak pernah kupikirkan
Mengajakku berjalan, sedikit cepat dari biasanya
Tapi nyatanya aku harus berlari, anakku menunggu nasi yang kubeli
Kepulan asap kopi tak murni menari-nari, menguap lantas terbang

Kacamata merah tergeletak dingin
Jari jemari kembali pada huruf-huruf mimpi 
Menyala di ujung sebatang racun
Terhisap dalam-dalam
Lalu menumpuk rapi di rongga dada, menunggu stadium berikutnya

Muka pucat memeluk kata
Aku telah terlupa, bahwa hati harusnya tahu diri bukan membodohi diri
Napas yang meraga terbata-bata
Sebab semesta masih jauh dari nyata

Senja, apa kabarmu?
Sisakan aku di sepenggal waktumu
Bersamanya
Bersama dia
Bersama ia
Bersama seseorang yang debatnya berkali-kali menamparku
Ah, aku rindu

Habislah gelap terbitlah terang
Setengahnya aku terbang
Tanpa sayap yang kupinjam
Mati-matian mencari langit yang bernama AKU

Rembulan retak tadi malam
Remahannya terbawa angin
Langit menangis, resah
Lautan mencari penghuninya
Riaknya menghempas keras batu karang seraya berkata, "Aku inginkan hidupku!"

Dan aku sudahi menjadi srigala bermuka singa
Menghentikan puisi bernafsu, menyala-nyala
Tapi apa bisa?
Sedang taring-taring kata masih garang
Sedang kepala masih tertutup sarang laba-laba

Tapi, ilalang menyapa pelan 
Tersenyum sayang, memeluk rasa dengan segenggam penuh pengharapan
Ah mimpi, aku terlalu menumpukmu di rak-rak berdebu
Jendela bisu kamarku terbatuk-batuk
Dinding putih bukan penghalang
Lantai jernih bukan jalanan petualang

Lantas ponsel bersuara tentang penantian Kartini tanpa suami
Kuatkah? 
Tentu saja, sebab secangkir cinta tak pernah tertebas habis oleh caci-maki

Ini tentang perempuan
Berkerudung hitam, duduk diam pada sudut bangku taman
"Selamat sore, apa kabarmu?" angin menyapa pelan
Tanpa menoleh perempuan itu menjawab, "Kamu tahu aku sedang menunggu seseorang, katakan padanya aku masih di sini."

Tiba-tiba beberapa daun berguguran di rerumputan, ranting-ranting bergerak resah dan akar-akarnya terhisap tanah merah beraroma payah
Angin tersenyum, bersiul lantas berputar-putar membentuk lingkaran
Perempuan itu tetap diam bertahan

Ini tentang perempuan
Berkerudung hitam
Tertunduk bisu pada sudut ruang tunggu, rindu 

 

***