Bukan Sekedar Perjalanan Jakarta - Malang

Bukan Sekedar Perjalanan Jakarta - Malang

Siang itu di terminal Pasar Rebo, Jakarta matahari begitu terik. Sambil tengok kiri kanan kucari bus yang sama dengan yang ada di layar handphone. Nah itu dia busnya, segera kupercepat kaki supaya cepat juga ngadem di bus.

“Malang ya, Pak?”

“iya neng, Arjosari  Malang, silahkan silahkan kita berangkat jam 2 ya”

Setelah memasukkan tas di bagasi bawah, aku pun naik dan menaruh tas ransel di kaki dan kukeluarkan hp dan 

“Maaf permisi, agak geser sedikit bisa?” kata laki-laki di sebelahku ketika tanpa sadar ujung jaketnya kedudukan.

“Wah sorry, ga sengaja mas” kataku.

“Iya ga apa”.

Kembali kuperhatikan pemandangan di luar sambil mendengarkan podcastnya Raditya Dika. Sesekali geli sendiri dengerin banyolannya si Radit ini.

Rupanya senyam senyumku tadi diperhatikan oleh si cowo di sebelah. Kulihat dia senyum setelah melihatku ketawa sendiri.

Ya aku senyumin balik, kan namanya juga teman perjalanan nih. Bakal lama soalnya, ga enak dong kalau kurang nyaman jadinya.

Setelah beberapa lama, hp ku mulai berkurang daya maka kumatikan device dan mulai bingung mau ngapain. Mau tidur masih siang takutnya malem ga bisa tidur. Mau baca buku, ga bisa juga takut mual. Ini nih yang bikin bete kalau naik bus. Batinku. Susah mau ngapa2in. Coba kalau naik kereta, bisa jalan-jalan ke gerbong restoran atau kalau baca buku minimal ga sakit mata atau pusing karena goncangan.

Mau minum kopi atau teh takut ke wc. Aaa ribet emang kalau naik bus. Seketika menyesal kemarin ini ga gercep pesan tiket kereta. Sekarang yang tersisa ya cuma bus ini aja.

“Udaranya agak panas ya?”cowo di sebelah membuka obrolan

“Iya, kayaknya malam bakal hujan, wanginya kaya mau hujan gitu”

“Wanginya kaya mau hujan? Emang ada wanginya?”

“Iya, kaya bau bau air kena tanah gitu. Emang mas nya ga pernah merasa ada wangi mau hujan?”

Dia geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“Tadi dengerin apa bisa sampe ngikik gitu? Maaf kalau boleh tau loh”

“Haaa...emang tadi ngikiknya kedengeran?”

Dia Cuma ngangguk

“Hehehehe tadi dengerin Podcastnya Raditya Dika”

“Seru ya dengerin podcast? Saya belum pernah dengerin satu pun”

“Seru sih, tergantung kita preferensinya apa kalau dengerin podcast itu. Kalau suka misteri ada juga podcast-podcast misteri itu. Kalau suka pengembangan diri, ada tuh podcastnya  inspigo punya Yoris Sebastian. Ada juga teman-temanku yang jadi ibu suka dengerin podcastnya byputy. Ya tergantung refrensi sih”

“Oh gitu ya, boleh juga kapan-kapan saya dengerin podcast”

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari luar yang diikuti dengan angin kencang dan hujan deras.

“Beneran hujan loh seperti yang kamu bilang tadi”

(kamu). Dia mulai pakai bahasa “kamu”.

Aku mengangkat bahu sambil tersenyum “i told u” dalam hatiku.

Bus yang kami tumpangi mulai berjalan melambat karena jarak  pandang akibat hujan membatasi.

Dan adzan maghrib pun menggema dan pak sopir menepikan bus ke sebuah restoran yang  besar.

“Bapak dan ibu, kita istirahat sampai jam 7 ya di sini. Bagi yang mau sholat dan ke wc bisa dilakukan di restoran ini”

Saya pun berdiri begitu pula dia. Kuambil tas ku di rak atas dan mengeluarkan payung. Dan kuperhatikan dia ga bawa payung, mau turun tanpa pelindung  apa apa. Kutawarkan payungku ke dia.

“Ga usah, kamu aja, kalau berdua nanti kamu kebasahan”

“Oh, tenang aja, saya bawa jas hujan. Tradaaaaa” saya mengeluarkan jas hujan stasiun 10ribuan kebanggan.

“Oke deh, thx”

Bersama-sama kami turun dan mencari wc yang dilanjutkan solat maghrib. Dirasa waktu masih lama, maka kami memesan nasi kapau (iya kami berhenti di warung padang). Saya nasi kapau ayam panggang, dia nasi kapau rendang.

Karena tempat yang terbatas dan ternyata banyak bus lainnya yang melipir juga, maka kami pun membagi meja dengan yang lain

“Permisi, kosong?” tanya seorang bapak kepada kami

“Kosong pak, silahkan” sahutku

Bapak ini sekiranya usia 50an tapi masih bugar. Makan tunjang pula. Penuh keberanian akan kolesterol bapak ini.

“Kalian mau ke mana?” tanya bapak kepada kami

“Saya mau ke Batu pak” sahutku

“Saya ke Malang” sahutnya

“Oh kirain saya kalian barengan”

Kami saling pandang

“Iya, habis kalian tampak akrab”

Kami saling pandang lagi

“Baru aja ketemu di bangku tadi pak” jawabku sambil terkekeh

Kulihat dia mulai tersipu

“Ya anak muda, ga apa ketemu di jalan. Mau kuliah di Malang?” tanya bapak sama dia

“iya pak, abis libur semester mau balik”

“Kuliah di mana?”

“Brawijaya pak”

Ooo..anak Brawijaya. Batinku.

“Kalau mbak-nya mau ke mana di Batu?”

“Oh saya mau ke rumah Bude pak di Batu”

“Mbak kuliah di Malang juga?”

“Ga pak, saya kuliah di Jakarta”

Tidak lama setelahnya, supir bus mulai memanggul penumpang untuk kemblai ke bis.

Kami pun duduk kembali di sana

Sepanjang perjalanan tanpa terasa kami jalani sambil ngalor ngidul.

Mulai dari kelanjutan podcast, apa yang seru di Malang, dinamika politik Indonesia (yeah kami bicarain politik) yang akhirnya kami bisa saling duga pilihan pilpres masing-masing. Lanjut lagi ngomongin musik, dia lagi suka banget sama Weird Genius juga karya-karya Youtuber Agung Hapsah.

“Gila ya si Agung itu, dia masuk dunia Youtube menurut aku karena di waktu yang tepat. Contentnya digarap bener-bener bagus. Bedalah sama prank prank sekarang ini.”

“Oh gitu ya, btw sorry gw ga pernah nih liat youtube nya dia”

“Coba deh kamu lihat” dia ngeluarin hpnya dan buka youtube lalu search agung hapsah dan menyodorkannya ke saya

Aku menonton dengan seksama

“Eh ga apa nih nonton di hp kamu? Yutub makan kuota kan”

“Udah ga apa,cuma sebentar”

Kulanjutkan lagi contentnya Agung Hapsah dan Fathia Izzati. Bener apa yang dia bilang, nih youtuber bukan kaleng-kaleng , bagus banget garapannya.

Waktu tanpa terasa mendekati tengah malam dan masing dari kami menguap akhirnya aku mengeluarkan pashmina yang lebih tebal dan kubuat menjadi selimut. Sementara dia mengeluarkan sarung kotak kotak.

“hahahaha kamu pake sarung?”

“Eh jangan salah, ini barang wajib traveler tau. Sarung itu serba guna. Bisa buat apa aja. Sarung itu priviledge nya cowo cowo”

“lah emang cewe ga boleh pake sarung?”

“Emang kamu mau pake sarung di sini?” tanya dia sambil wajahnya nunjuk ke pashmina panjang yg kubentangan sampai kaki

“hehehe ga sih, lebih cantik pake pashmina”

Dia tersenyum geli.

Bangku kami dorong ke belakang. supaya lebih enak agak selonjoroan.

Saya pun tertidur pulas.

Saya terbangun, seenaknya tidur di bus tetap saja bikin pegel pinggang.

Begitu membuka mata kumerasakan kepalaku agak berat, ternyata kepala saya beradu dengan dia.

Dan kutengok dari kaca jendela wajah tidurnya. Cute. Nih cowo manis juga. Lalu kuingat dengan dia yang di Jakarta yang sedang menanti jawabanku.

Sebenarnya perjalanan ini adalah pelarianku dari hubunganku dengan pacar yang sudah 5 tahun kujalanin. Namanya Ben. Ben ngajak aku nikah, padahal menurutku usiaku masih terlampau muda. Masih banyak hal yang mau kulakukan. Ben bilang akan membebaskan kegiatanku setelah menikah nanti. Menurutnya mimpi bisa dicapai walau dengan status istri. Namun kuragu. Makanya aku mau kabur sebentar ke rumah bude di Batu supaya bisa mikir lebih jernih.

Ada suara teks masuk

“Kamu sudah di mana” tanya Ben di whatsap

“Tau nih, kayaknya uda masuk solo. Gelap.” Jawabku

“Kok belum tidur? Uda jam 2 loh”

“Kamu sendiri? Ngapain jam 2 wa aku?”

“Hehehe kangen. Kangen sama calon istriku”

Seketika aku terdiam.

Calon istri.

Kupandangi lagi wajah orang di sebelahku yang tidurnya pulas di pundakku.

Kupejamkan mata lagi supaya tertidur. Dan lumayan berhasil.

Ketika kubuka mata, ternyata sudah subuh. Bus kami pun berhenti di sebuah Masjid Jami’. Di sana aku mencuci muka, sikat gigi dan mandi koboy lalu berwudhu untuk bersiap sholat.

Kembali lagi ke bus dia tanya

“Nyenyak tidurnya?”

“Lumayan. Kamu?”

“Nyenyak dong” sambil nyengir manis memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih.

Jam berapa ya kira-kira kita sampai Malang?” tanyaku. Makin lama aku merasa makin ga enak sama Ben.

“jam 8 kayaknya deh. Aku sih dilanjutin lagi sampe banyuwangi juga masih mau” sambil melirikku

“Banyuwangi? Mmm...nyebrang Bali?”

“Boleh, aku mau ke karangasem. Katanya pantainya bagus”

“hei, tahun lalu aku ke sana. Bagus bangetttt. Ombaknya tinggi”

Dia senyum sambil memandang mataku, “Mau ke sana lagi?”

Aku ingat Ben!

“Ben, nanti kita ke Bali yuk, aku mau ke Karangasem lagi”

“Ngapain sih ke Bali, ga ada apa-apanya menurutku”

...

Ini di saat ini, bukan dengan Ben, tapi dengan cowo yang baru kutemui beberapa jam lalu ada yang ngajak ke Karangasem dengan impulsif. Aku melihat diriku di dirinya. Impulsif, adventurer.

Dangerous.

“Ya ga sekaranglah” kujawab sambil lalu sambil mengalihkan mata ke jendela.

Tapi aku ga bisa menyembunyikan senyumku.

Ada hasrat yang terakomodir di sini. Tapi bukan Ben. Dia bukan Ben. Ben lagi nunggu aku di Jakarta. Ini perjalanan untuk jawab Ben.

Bus terus melaju. Begitu pula darah yang bergejolak di tubuhku. Ada sesuatu yang menyulut api yang sudah lama padam.

Kata demi kata terus mengalir. Kami berbicara kaya teman yang sudah kenal sejak lama.

Ngomongin soal diaspora Indonesia, mimpinya dia untuk lanjut studi ke German.

“Aku pengen banget ambil Master di German” katanya

“Aku malah pengen ke Vanuatu”

“Di German katanya belajarnya susah sih” lanjutnya lagi

“Makanya kalau aku mah enakan liburan ke vanuatu”

“Abis dari German apa kita ke Vanuatu?”

Kita.

Dia sudah memakai subjek “kita”.

Kupandang dia lalu kujawab, “kalau sudah sejauh itu kamu harus nikah dulu sama perempuannya” kataku sambil buka buka instagram.

“Kamu mau nikah sama aku?”

Dalam seminggu terakhir, aku dilamar sama 2 laki-laki.

Yang satu pacaran 5 tahun

Yang satu belum kenal 24 jam.

“Yakin kamu mau nikah sama strangers? Nikah itu seumur hidup, bukan 17 jam perjalanan jakarta malang” kataku masih sambil scrolling isntagram tapi juga ga meratiin amat tu instragram apa.

“Ada yang namanya istilah once in a lifetime. Entah kenapa, aku merasa perjalanan jakarta malang ini once in a life time yang kupunya” kata dia sambil melihatku melalui pantulan kaca jendela bus.

Very very dangerous.

Ben, gimana ini?

“Masih kuliah kan? Lulus dulu aja baru mikirin nikah nanti”

“hahahahaha langsung direject saya punya proposal”

Dia tertawa geli banget

“Suka anjing atau kucing? Di ig kamu suka liat gambar anjing atau kucing?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan

“Aku sukanya kamu” kata dia yang membuatku mau ga mau (akhirnya) nengok dan memandangnya.

Dia senyum liat reaksi bengongku.

Lalu dia ambil hp ku dan search lalu mengetik sesuatu (yang ternyata ig nya dia) dan buka ig nya lalu tekan tombol follow. Aku jadi follow dia. Dan dia ambil hp nya, buka ig dan follow back aku.

“di-approve dong aku punya ig”

Aku masih bengong

Lalu dia ambil hp ku yg masih terbuka ig nya dan memencet tombol approved.

Di sana ada beberapa foto aku dan Ben.

 

Dia scrolling aku punya feed

Wajahnya datar, kadang senyum.

“aaa i see. Ben ya”

Deg.

Kucoba mendatarkan muka. “iya, Ben. Dia pacarku”

Lalu aku buka ig nya dia yang feednya isinya foto-foto pemandangan. Ada yang di Wae Rebo, ada yang di Gunung Rinjani, ada yang di Gunung Gede Pangrango, ada yang di Gunung Bromo, ada yang di Kuta.

Di bawah banget feed ada foto berdua dengan cewek. Cantik. Pake gaun putih latarnya di Pink Beach Komodo.

“Pacar?”

Dia mengangguk. “dulu”

“Kenapa ga lanjut?”

“Ga cocok aja”

“Nikah sama sahabatku. Dia lebih cocok sama sobatku”

Aku diam. Ga tau mau nanggepin apa

“Hey ga usah bingung, uda lama kok. Uda setahun lalu. Orangnya juga uda di Sidney.”

Aku tetap diam. Kupandangi lagi ignya

“Foto kamu bagus-bagus ya”

“Thanks” kata dia sambil terus scrolling ig aku

“Kamu suka people ya, banyak foto human interest di ig mu. Kasihan si Ben ini cuma muncul sesekali”

Aku cuma nyengir.

“By the way, fotomu di Bromo ini bagus banget” kataku sambil menunjukkan feed dia yang lagi di berdiri dengan latar belakang kawah Gunung Bromo saat matahari terbit.

“Iya aku suka ke gunung, hawanya bikin tenang. Makanya kalau jadi studi ke German aku mau jalan-jalan juga ke Swiss. Grindelwald.”

Mmm kata ku bergumam

“Tapi aku ga keberatan ke Vanuatu loh”

Deg

Kutengok dia

“Masih nih?”

“Masih dong. Kan kubilang once in a life time.” Seketika dia serius. Mata kami bertemu. Di situ aku sadar dia serius. Tapi ga tau juga sih.

Ini bukan sekedar perjalanan 17 jam Jakarta – Malang kayaknya.

Seketika bus berhentti dan pak supir teriak “Arjosari Malang Arjosari Malang, siap-siap bapak ibu kita sudah tiba di Malang”.