ANTIPATI, SIMPATI, DAN EMPATI

Manusia dapat bertahan hidup walau tidak makan 2 hari atau menahan nafas 2 menit lebih, tapi tidak akan bertahan bila kehilangan harapan '2 detik'

ANTIPATI, SIMPATI, DAN EMPATI
We Love Bali

ANTIPATI, SIMPATI DAN EMPATI

 

Sebagai manusia kita diciptakan dengan  kemampuan yang sama, namun jarang dijumpai ada dua orang dengan pemikiran yang sama dalam menilai sesuatu pristiwa, hal ini menyebabkan reaksi yang berbeda, uniknya anak kembar bukan pengecualian. Suatu pristiwa umumnya dinilai berdasarkan pengalaman batin dan pengetahuan yang dimiliki seseorang, hal ini dapat membantu menjelaskan pemikiran dominan dan skala prioritas seseorang  saat reaksi timbul.


Antipati atau pratirasa adalah rasa ketidaksukaan untuk sesuatu atau seseorang, kebalikan dari simpati. Antipati dapat dirangsang oleh pengalaman sebelumnya, kadang-kadang timbul tanpa adanya penjelasan sebab-akibat yang rasional untuk individu yang terlibat.(sumber Wikipedia)

Simpati adalah suatu sikap tertarik kepada orang lain karena sesuatu hal, contohnya: ketika kita mengetahui teman kita bersedih maka kita ikut merasakan kesedihannya. 
Empati adalah proses psikis yaitu rasa haru atau iba sebagai akibat tersentuh perasaannya dengan objek yang ada di hadapannya. (Sumber https://brainly.co.id)

Antipati, simpati dan empati adalah tiga reaksi manusiawi yang terbentuk secara sadar dan tidak sadar karena pengaruh pengalaman, pengamatan dan informasi yang masuk dari lingkungan.

Di masa pandemi ini, banyak orang yang terkena dampaknya, mungkin ada kenalan, sahabat, saudara atau bahkan kita sendiri terkena dampaknya, terutama dari segi kesehatan dan ekonomi. Lantas bagaimana sebaiknya kita bereaksi?

Kita boleh antipati terhadap pandemi, tapi perlu dipikirkan lebih jauh, apakah ini membantu menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak! Kita menolak semua hal diluar kita yang  mengganggu, penolakan spontan secara psikologis malah menimbulkan sugesti dan bisa jadi  yang kita takutkan yang terjadi. Kata nenek, jangan terlalu membenci seseorang nanti bisa jatuh cinta-mungkin ada benarnya ya. Jangan biarkan pikiran negatif dan perasan-perasaan negatif ini mencuri kedamaian batin kita, karena dapat mengakibatkan turunnya imun tubuh dan menjadi rentan menghadapi virus yang tidak kelihatan ini.

Bagaimana dengan simpati? Simpati merupakan reaksi yang baik, ini terlihat dari pikiran dan perasaaan netral yang terpancar saat menghadapi masalah yang bersifat negatif, simpati menimbulkan reaksi netral yang membantu menjaga kestabilan karena bisa memeluk hal negatif sehingga meminimalisir dampak yang timbul. Orang dengan toleransi simpati tinggi biasanya lebih tenang hidupnya. Namun apakah ini saja cukup?

Bagaimana dengan empati? empati merupakan penyempurnaan simpati karena empati tidak  hanya pemikiran dan perasaan positif namun ditandai dengan adanya tindakan positif. Penindak-lanjutan reaksi secara nyata dan tepat adalah ekspresi empati, kita tidak menolak, tidak juga sekedar ikut merasakan namun berupaya nyata membantu mengatasinya. 

Mari kita sama-sama belajar tidak sekedar ber-simpati tapi menindaklanjutinya dengan ber-empati serta menghilangkan antipati,  menggunakan filter logika yang realistis sebelum memutuskan sesuatu apalagi terhadap sesuatu yang belum kita ketahui dengan jelas, baiknya sebelum memututuskan sikap, carilah  informasi yang jelas, mintalah pertimbangan  orang yang  dikenal dan dipercaya, karena di satu titik kehidupan, kita hanya akan mendapat banyak simpati dan bukan empati.

Mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan jika sendiri, mari bergandengan tangan, berpelukan dan bersama-sama kita menghadapi pandemi ini, bahu membahu untuk saling membantu, seberapapun akan sangat membantu bila kita ikhlas, mulailah dari lingkungan terdekat, saudara, tetangga, teman, kenalan bahkan orang yang tidak kita kenal. Manfaatkan koneksi, manfaatkan komunikasi dan  media massa, manfaatkan orang/organisasi yang bersedia membantu menyalurkan bantuan kepada yang membutuhkan. Mari taburkan kebaikan sebanyak-banyaknya dan tuailah kedamaian batin dan perasaan bahagia.

Manusia dapat bertahan hidup walau tidak makan 2 hari atau menahan nafas 2 menit lebih, tapi tidak akan bertahan bila kehilangan harapan '2 detik' . Jaga kesehatan, jaga hati, jaga pikiran dan jaga tindakan, dengan empati kita bukan hanya akan survive tapi resisten, God bless.