ALONE BY MUST

SERI#1 Dari Tetralogi (#1: ALONE BY MUST, #2 BE YOUNG CARE ROCK, #3 BERTEMU DI BIS BERPISAH DI TERMINAL, $4 BER 217 AN)

ALONE BY MUST

ALONE BY MUST

 

Selama masa Pandemi Covid 19 ini jam kerja ternyata makin ga’teratur. Bayangin Kalo biasanya habis Sholat Subuh ada kesempatan untuk olah raga, meskipun Olah raga ringan. Sekarang Pagi-pagi banget sudah harus briefing dan dilanjutkan dengan rapat sana-sini, kontak pelanggan, Online sharing dan evaluasi penjualan hingga larut malam.

 

Ada yang bertolak belakang dengan situasi new normal ini. Ekonomi lesu, beberapa industri tiarap. Meskipun ada beberapa industri tumbuh secara signifikan misalnya; Kesehatan, ICT, Pendidikan, Makanan. Saat situasi seperti ini, bukannya melakukan konsolidasi secara spartan, eeeh malah si Boss berfikir tancap gas untuk menggenjot pertumbuhan penjualan.

 

“Pokoknya ga’ada revisi target, Kita harus tetap berlari dan tumbuh. Toh potensi pasar masih sangat besar“ demikian pak Boss Kecil (istilah kami untuk pak Iwan, Sang manejer Sales).

“Kalem dikit kenapa Boss” kataku dalam hati.

“Ada yang keberatan”, lanjut pak Iwan.

“Begini Pak!” sambut Zainul sambil angkat tangan.

“Hmmmm, Kamu mau ngomong apa Zainul. Mau nawar target, pokoknya ga bisa!” potong pak Iwan.

“emmmmm, ga jadi deh Pak” sahut Zainul.

“Atau Kamu mau jadi penghianat seperti si Agus itu! Heh, Kalian dengar semua yaaa. Bagiku Agus itu Anak ga tahu balas Budi dan cengeng. Sudah dibantu, eeh begitu diPush dikit, ngambek” pak Iwan terus ngerocos sambil menunjukkan rasa marahnya.

 

Kami sangat kehilangan mas Agus sejak Ia hengkang dari Perusahaan Kami. Sebenarnya mas Agus ga’ hengkang karena keinginan Beliau, yang jelas karena Boss kecil tidak mampu untuk menjawab tantangan mas Agus dan dengan teganya Boss Kecil memberhentikan mas Agus, tanpa ada pesangon.

Aku ga’tahu kenapa pak Krisna sebagai General Manager ga berdaya menghadapi kerasnya pak Boss kecil ini.

 

Masih terekam jelas dalam ingatanku, ketika dengan wajah muram, mas Agus keluar dari ruangan Boss kecil.  Semula Kami mengira mas Agus berdebat biasa dan sebagai bawahan harus tunduk pada keinginan Boss Kecil. Ternyata kami harus berpisah dan ini menjadi pukulan berat bagi kami. Kami belum siap ditinggalkan Idola Kami.

 

Mas agus adalah Sales Leader yang sangat trampil dalam menjual dan sangat sangat kharismatik dalam memimpin tim penjualan. Meskipun usianya lebih muda, tetapi kami sangat hormat terhadap Beliau.

Kami sangat nyaman dipimpin oleh mas Agus. Selain cekatan dalam membantu tim penjualan, Mas Agus juga disegani Kompetitor. Salah satu keunggulan mas Agus adalah sangat dekat dengan para pelanggannya. Hubungan baik ini terbangun sangat erat dan sangat emosional.

 

Saya masih ingat dahulu betapa hormatnya Ia kepadaku. Tatkala Ia yang terpilih sebagai Sales Leader dan bukan Aku, mas Agus langsung mendatangiku untuk membesarkan hatiku dan tetap respek kepada Kami semua. Saat pertamakali rapat tim, Ia mengatatkan yang membedakan dirinya dengan Kami adalah tanggung jawab, selebihnya sama. Dan Beliau minta tolong untuk tidak diistimewakan dan berharap tim Kami bisa menjadi tim Jawara.

Aku dapat khabar dari mas Agus bahwa Ia sekarang bekerja di Perusahaan yang paling agresif menyaingi Kami. Ia dipercaya sebagai sebagai Sales Manager, dengan santun Ia mengatakan secara personal kami adalah bersaudara meskipun secara Professional Kami bersaing.

Sepeninggal mas Agus, kejuatan demi kejutan Kami alami. Awalnya pencapaian target penjualan semakin sulit, karena suasana kerja kurang kondusif. Potensi perpecahan muncul, karena tim Kami terprovokasi omongan pak Boss Kecil. Berikutnya kinerja penjualan semakin anjlok disebabkan beberapa hal, antra lain:

Pertama, satu persatu pelanggan utama Kami hengkang, karena telah diakuisisi oleh perusahaan mas Agus. Para pelanggan ini adalah Pelanggan utama yang dulunya diakuisisi oleh mas Agus, ketika itu mas Agus masih berperan sebagai Sales. Mereka adalah pelanggan Kami yang pertama teriak, tatkala tahu mas Agus tidak lagi bekerja di Perusahaan kami. Mereka sudah merasa sangat nyaman dengan sentuhan mas Agus, sehingga kenyamanan itu khawatir hilang.

Kedua, Mas Agus sangat moncer karena berhasil mengangkat kinerja penjualan perusahaannya. Memang Kami sempat dinasehati mas Agus agar dekat dengan pelanggan hingga ke keluarganya. Mas Agus sangat ahli membangun jaringan pertemanan dan lewat sentuhan emas mas Agus, Kami sering melakukan kolaborasi mengadakan event Brand Activation dengan pelanggan. Sejak mas Agus disana, Mereka menempati rangking pertama pertumbuhan pejualan di Industri ini. Padahal sebelumnya perusahaan tersebut menempati posisi tiga dan Jawaranya adalah Perusahaan kami.

Saat kehebohan itu menghantam Perusahaan Kami, Boss kecil panik, marah dan sedikit frustasi. Karena merasa tidak tahu harus berbuat apa. Itu sebabnya Ketika rapat Ia tunjukkan rasa marahnya akibat perbuatan mas Agus terhadap perusahaan Kami.

Suatu hari, pak BossKecil mengundang Saya untuk berdiskusi di ruangannya.

“Begini” kata pak Boss kecil memulai bicara.

“Saya merasa ditusuk dari belakang oleh Agus” katanya.

“Maksudnya  gimana pak?” tanyaku tidak mengerti.

“Iya, 6 dari pelanggan Top 10 telah diakuisisi oleh Perusahaannya Agus. Ini pasti kerjaannya Agus nih” kata pak Boss kecil mencari-cari kambing hitam.

“Berarti mas Agus itu bagus dong pak?” kataku belagak pilon.

“iyaaaa-iyaaaaaa, tapi jangan gitu dong” jawab pak Boss kecil.

“Lho khan mas Agus Professional pak, sama seperti professionalnya Beliau ketika bekerja di Perusahaan Kita” Aku berusaha menjelaskan.

“Aku ngerti kalo itu. Yang Aku perlukan dari Anda bukan pembelaan seperti itu!”katanya  kembali menekan.

“Coba kamu pikirkan gimana caranya Kita minta ke Agus supaya tidak mengakuisisi pelanggan Kita terus-terusan. Bisa bangkrut ini Perusahaan”kata Boss Kecil dengan wajah frustasi.

“Boleh Saya berterus terang pak?” kataku pelan.

“Silahkan” katanya tanpa menoleh.

“Begini pak, sebenarnya mas Agus bekerja amat sangat keras untuk pencapaian target penjualan Kita. Selain memotivasi kami secara terus menerus, Beliau juga turun tangan untuk melakukan penjualan. Saat kami sudah istirahat di Rumah, mas Agus masih dengan pelanggan dan selalu pulang lewat tengah malam”.

“Jujur saja pak, kami sering keringat dingin dan ada rasa bersalah, ketika mas Agus upload foto lagi diskusi di Kafe dengan pelanggan. Beliau ga’ ada takutnya, padahal saat ini suasana berbahaya kalau terlalu sering di luar. Tapi Beliau selalu berusaha untuk menenangkan hati Kami dengan mengatakan ga masalah yang penting perusahaan Kita tumbuh”.

“Sebahagian besar pencapaian penjualan Tim, sebenarnya hasil kerja keras mas Agus” kataku berusaha menjelaskan.

“Yaa itu memang tanggung jawab Dia sebagai Sales Leader” tangkis pak Boss kecil.

“Mas Agus tidak pernah menunjukkan kepanikan kepada Kami. Beliau selalu tampil dengan tenang, penuh semangat dan sangat peduli kepada kami” kataku berargumen.

“Mas Agus selalu bilang Alone By Must, Ojo kesusu” kataku spontan.

“Apa maksudnya ngomong kesusu segala?” tanya pak Boss kecil terlihat bloon.

“Maksud mas Agus, Situasi sekarang ini Kita boleh takut, tapi ga’ boleh panik” Aku berusaha menjelaskan.

“Justru kata mas Agus yang perlu Kita tingkatkan itu ada tiga hal pak” kataku seperti menggurui.

“Apa itu?” tanya pak Boss Kecil penasaran.

 

“Pertama: Empathy. Kita harus beremphaty terhadap situasi yang dihadapi pelanggan. Kita harus tunjukkan kepedulian dengan membantu bagaimana bisnis Mereka bisa tumbuh ato minimal survivelah”

“Kedua, Kita harus semakin solid. Jangan mikirin diri sendiri. Apalah artinya Sukses sendirian, tetapi teman lainnya menderita. Kompetisi itu perlu, tetapi saat ini jadi kurang penting. Kebersamaan paling penting, rejeki sudah ada yang ngatur”

“Ketiga, ini yang sangat kami sukai dari mas Agus. Beliau minta Kita untuk survive, bekerja ikhlas dan kerja cerdas pak”

“Mas Agus itu punya prinsip, Selling means Helping” kataku tegas (lho koq kayak Aku manejer salesnya).

 

“Oooooooh gitu aja, OK deh kalo begitu, terima kasih” kata pak Boss Kecil mengakhiri.

“Baik pak, Perimisi”Kataku segera keluar ruangan sambil bingung.