Ahon Anak Penjual Enjan

Ahon Anak Penjual Enjan

Hari minggu adalah hari yang kutunggu-tunggu. Selain karena tak bersekolah, hari minggu adalah saat Mak membolehkan aku jajan “enjan” untuk sarapan. Enjan adalah pempek rebus khas bangka yang dimakan sambil menghirup bumbu tauco yang segar nikmat.

Di hari sekolah, sarapanku adalah seiris tebal roti tebal dengan olesan margarin dan taburan gula pasir, dipanggang sebentar hingga margarin meleleh melarutkan gula. Sebenarnya aku suka juga. Roti tawar itu dibeli ayah malam-malam di pabrik roti di daerah Gudang Padi. Fresh dari tungku pemanggang besar yang memakai kayu bakar.

Tapi enam hari sarapan menu yang sama tentu membosankan. “Bantut Maaak… kek ruti neee (bosan Mak sama roti ini)…” Protesku. Tapi Mak selalu punya jawaban pamungkas: “Aiiih… suat agik (sebentar lagi) kan hari minggu… ka pacak (kau bisa) makan enjan puas-puas.” Maka, di hari minggu, sejak bangun tidur, aku sudah duduk di teras rumah kami di Lembawai menunggu Ace (sebutan untuk perempuan Tionghoa dewasa) penjual enjan lewat dalam perjalanannya menjajakan dagangannya ke perumahan pegawai PN Timah di Bukit Baru.

Ace yang tak pernah aku tahu namanya itu selalu ditemani anaknya yang hampir sebaya denganku, hanya setahun lebih muda. Perawakannya gempal. Mukanya bulat lucu dengan mata yang kecil. Aku tahu namanya Ahon, karena Ace menyebutnya demikian, ketika menyuruh Ahon menuangkan tauco dari botol bekas kecap bercorong gulungan daun pisang ke mangkok kecil untukku. "Ahon, ka berik kuak kek ako ka tu ok (Ahon, kau kasih kuah bumbu untuk kakakmu ya)," begitu kata Ame (ibu)nya lembut.

Sementara aku sibuk berkali-kali mengambil enjan dari keranjang rotan bertutup serbet kotak-kotak lusuh dan melahapnya, Ahon memperhatikanku dengan wajah tersenyumnya. Barangkali ia bangga makanan buatan amenya disukai pelanggan. Tapi aku tahu ia juga menunggu ajakanku. Maka, setelah puas melahap 7-8 butir enjan, aku segera mengajaknya: “Ahon, yoh kite nyari tumbung kelapo di belakang!”

Tak menunggu dua kali ajakan, Ahon langsung berlari mengikutiku menuju tumpukan puluhan kelapa tua di halaman belakang. Kami punya beberapa batang pohon kelapa dan Mak biasa membuat minyak kelapa sendiri untuk keperluan memasak. Kami masing-masing memilih sebutir kelapa dan segera minta mang Rohim mengupasnya. Mang Rohim tangkas mengupas kelapa dengan pisau khusus dan memecahkan batoknya hingga air kelapa tertumpah.

Tumbung kelapa adalah embrio yang tumbuh di dalam buah kelapa tua yang sudah mulai bertunas. Mencari tumbung kelapa seperti main lotre. Kita harus pandai-pandai menduga besar tumbung dari besarnya tunas yang sudah muncul di pangkal buah. Biasanya kami memilih dengan mengukur panjang tunas kira-kira sepanjang jari telunjuk kecil kami. Harapannya akan mendapat tumbung yang tidak terlalu kecil karena masih terasa keras dan agak pahit, tetapi juga tidak terlalu besar karena rasanya akan gembus dan hambar. Yang paling nikmat adalah yang berukuran sedang, tak lebih besar dari jeruk nipis. Renyah digigit, gurih manis rasa kelapa yang tak ada bandingannya. Maka kami akan tertawa terpingkal-pingkal bila kelapa yang terbelah ternyata hanya ada tumbung sebesar kelereng atau malah sudah hampir sebesar bola tenis. Tapi kalau kelapa yang dipilih Ahon ternyata tumbungnya kecil. Aku berikan punyaku. “Ambiklah. Ku pacak ngocek sikok agik (ambillah, nanti aku bisa mengupas lagi),” kataku menghiburnya. Lalu Ahon berlari riang menemui Amenya yang sudah bersiap untuk berkeliling lagi.

Setelah SMP, aku tak pernah lagi bertemu Ahon. Kudengar dari Mak, mereka pindah ke Jakarta karena ada saudara mereka yang mengajak Ame Ahon berdagang di Jakarta. Suatu ketika berpuluh tahun kemudian, di acara halal bihalal masyarakat Bangka, seseorang tergopoh menghampiriku yang baru selesai mengisi buku tamu. Ahon! Aku masih mengenali ciri khasnya walaupun ia semakin gendut. Muka bulat dan mata sipit segaris itu masih terpatri di dalam memori masa kecilku. Ia tersenyum lebar sampai matanya menghilang. Aku merangkulnya erat. “Ahon… Ahon… lame mua (lama sekali) kita dak ketemu. Ape kabar Ame ka? Yoh kite nyarik tumbung kelapo…” Lalu kami tertawa terbahak-bahak tetapi sesungguhnya mata kami sama-sama membasah mengingat kenangan masa kecil.

Ahon telah menjadi orang sukses. Pengusaha alat kesehatan dan punya beberapa apotek. Amenya sudah lama meninggal. Tak malu Ahon bercerita sambil menangis, kalau bukan karena kerja keras Ame dulu, tak akan Ahon bisa seperti sekarang. Ame Ahon memang keras hati. Ia ingin Ahon terus bersekolah supaya hidup mereka bisa terlepas dari belitan kemiskinan turun-temurun.

Aku pernah diajak Mak ke rumah Ahon. Walaupun tak seberapa jauh dari rumah kami, tak mudah mencari rumah mereka. Letaknya di belakang pemakaman Kampung Gabek. Berkali-kali aku terantuk batu nisan makam tua yang membuatku semakin kuat mencengkeram lengan Mak. Mak hanya tertawa. “Tak apa…” kata Mak. “Ucapkan salam bai untuk ahli kubur.” Maka aku sibuk komat kamit sepanjang langkah; “Assalamualaikuuuum… Assalamualaikuuum… Atook… Neeek… numpang liwaaat... minta’ ma’aaap kalo terinjaaak…” Bisikku tak putus-putus sambil menggerutu mengapa Mak mengambil jalan pintas melewati kubur.

Rumah Ahon hanyalah sebuah pondok di tengah kebun terbuat dari papan, berlantai tanah dan tak berlistrik. Aku takjub mengetahui Ahon belajar malam hari hanya dengan penerangan pelita. Sedangkan rumah kami terang benderang sepanjang tahun menikmati listrik tak berbayar sambungan dari PN Timah.

Mak datang untuk mengantarkan buku-buku sekolah bekasku sambil menyelipkan juga beberapa buku tulis dan pensil baru untuk Ahon. Aku baru paham mengapa Mak marah bila buku pelajaran kucoret-coret. Rupanya buku-buku itu untuk dilungsurkan ke Ahon bila aku sudah naik kelas.

Pernah pada suatu hari minggu menjelang Kongian (Imlek), ketika aku sedang menikmati enjan, Mak memanggil Ahon ke dalam. Rupanya Mak mengukur celana dan baju Ahon. Seminggu kemudian, Ame Ahon menangis saat Mak menyerahkan baju dan celana jahitan Mak untuk Ahon merayakan Kongian. Suatu kali kutanya Mak, mengapa Mak sayang betul sama Ahon. Mak bilang; "Kasian die tu dak pernah tau apak e (ayahnya) yang lah ninggal sebelum die lahir. Lagipula, kan Allah menyuruh kita memelihara anak yatim, apapun agamanya..." Aku terdiam. Tak terbayangkan rasanya menjadi anak yang tak pernah mendapat kasih sayang ayahnya.

Sejak bertemu kembali, kami tak pernah putus hubungan lagi. Ahon sangat baik karena ia tak pernah melupakan kebaikan Mak dulu yang selalu dikisahkannya berulang-ulang di depan istri dan anak-anaknya dengan mata berkaca-kaca. Setiap Kongian, ia pasti mengundangku ke rumahnya di Kelapa Gading. Di sana selalu tersedia suguhan enjan yang berlimpah. Pernah aku mengoloknya: “Dak kan ade (tak mungkin ada) lah enjan yang mengalahkan buatan Ame ka.” Cepat dia menjawab: “Ewww cube luuk (coba dulu)… ni same persis rasanya. Kan dulu akulah yang disuruh Ame ngolah barang yang ka makan tuuu… Makanya ka dak akan lupa kek ku karena lah termakan keringet tanganku… hahaha…” Ahon tertawa sampai perutnya terguncang-guncang tapi aku hanya tersenyum kecut membayangkan tangan kecil Ahon masa itu susah payah mengulen sagu. Pastilah tetes-tetes keringatnya menghambur ke mana-mana termasuk ke dalam adonan enjan.

Kemarin Ahon mengirim pesan WA. “Oi ko Abud… ku nak ngirim enjan ok. Kongian tahun ini kan kite dak pacak ketemu karena Covid ne. Jadi biarlah enjan ku yang mereh (mendatangi) ka.” Panggilan “Ko Abud” membuatku tersenyum sendiri. Walaupun hampir sebaya, ia selalu menempatkanku sebagai kakaknya. Tak berapa lama, datanglah kiriman Ahon yang lebih mahal di ongkos kirimnya itu, dari Kelapa Gading ke Lebak Bulus. Maka pagi ini aku tumpaskan 10 butir enjan sebagai pendahuluan merayakan Kongian bersama Ahon. Sinmung toto (terima kasih banyak) Ahon. Selamat tahun baru, kiunghi sin ngian...