Polusi Informasi

media sosial, polusi, informasi, teknologi, media massa

Polusi Informasi
https://unsplash.com/photos/Lh_sFxD8AkI?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Dari zaman dahulu hingga saat ini, manusia selalu membutuhkan informasi. Beruntunglah bagi manusia yang hidup di zaman sekarang karena mereka dapat dengan mudah mendapatkan informasi baik melalui media konvensional maupun media baru. Kebutuhan manusia terhadap informasi dapat diimbangi oleh media yang secara konstan memberi banyak informasi.

Perkembangan teknologi informasi membantu manusia mendapat suatu informasi secara cepat dan serempak. Beragam informasi mudah didapatkan oleh manusia melalui media-media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan yang sering digunakan saat ini adalah gadget.

Namun, perkembangan teknologi informasi tidak serta merta menghasilkan dampak positif bagi keberlangsungan hidup manusia, ada juga dampak negatifnya. Salah satunya yaitu polusi informasi, yakni situasi di mana adanya kontaminasi informasi yang isinya tidak relevan, berlebihan, validasinya diragukan, menghambat, dan bernilai rendah. Polusi informasi terjadi saat banyaknya informasi yang tersebar disekeliling kita yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Istilah lain polusi informasi yaitu infollution. Istilah ini pertama kali disebutkan oleh Dr. Paek-Jae Cho, mantan Presiden dan CEO Korean Telecommunication Corp (KTC) dalam pidatonya di acara International Telecommunication Society (ITS) pada tahun 2002 silam.

Tidak jarang, saat membuka gadget yang awalnya berniat mencari suatu berita, malah terdistraksi oleh berita lain yang tidak penting bagi kita. Misalnya, saat kita masuk ke website berita online untuk mencari informasi tentang isu politik, entah kenapa yang muncul di halaman paling atas itu justru berita yang tidak kita butuhkan. Sialnya, kita (khususnya saya) sering tertipu oleh judul berita yang tidak kita butuhkan itu dan malah ikut membacanya. Hal ini tentunya menyita waktu kita walaupun hanya beberapa menit.

Infollution sudah menyebar ke semua media informasi tak terkecuali media sosial, bahkan bisa dikatakan lebih parah. Contohnya di Facebook, Twitter, dan Instagram, sangat banyak sekali polusi informasi yang tersebar di sana. Banyak akun-akun yang menyalahgunakan ruang terbuka di media sosial. Alih-alih memberi informasi yang bermutu, malah menyebarkan berita yang cenderung menimbulkan keresahan.

Banyak juga akun-akun personal maupun anonim yang membuat polusi informasi dengan cara menyebarkan informasi yang bermutu rendah, berlebihan, dan tidak valid. Informasi-informasi semacam itu sering kali mengalihkan fokus kita terhadap informasi utama yang lebih bermutu. Faktanya, informasi semacam itu memang lebih menarik perhatian masyarakat karena nilai kontroversialnya yang tinggi, akibatnya sering kali informasi utama yang lebih bermutu jadi “tenggelam”.

Informasi yang validitasnya meragukan juga kadang membuat masyarakat terjebak dalam kebingungan. Mengingat, saat ini banyak sekali hoax-hoax yang bertebaran di media sosial. Karena dengan kemudahan teknologi informasi, siapa saja dapat menjadi produsen informasi.

Dalam hal ini, peran media massa atau para produsen informasi lainnya sangat berpengaruh. Karena merekalah yang menyajikan berita-berita dan informasi lainnya. Namun, sangat disayangkan, jika dilihat pada realitanya saat ini tidak semua produsen informasi dapat menyajikan informasi yang berkualitas. Mereka cenderung lebih mengangkat berita yang dapat menaikan traffic atau rating mereka, yang mana untuk mencapai hal itu biasanya dilakukan dengan cara menyajikan informasi yang daya tariknya tinggi tetapi bermutu rendah. Singkatnya, media informasi lebih mementingkan rating daripada kualitas informasinya.

Dampak dari polusi informasi ini salah satunya yaitu menyebabkan krisis perspektif dan nilai moral. Masyarakat menjadi acuh tak acuh terhadap berita utama seperti berita ilmiah, kesehatan, sosial, ekonomi, politik, dsb. Polusi informasi juga dapat membuat orang menjadi kurang peka terhadap situasi kehidupan sosialnya.

Manusia yang hidup di tengah hirup pikuk polusi informasi akan cenderung menjadi seorang yang generalis. Mereka mengetahui banyak hal tetapi hanya dari sisi luarnya saja. Karena polusi informasi memaksa manusia untuk menelan sebanyak-banyak infrormasi yang ada, akibatnya disadari atau tidak, direncanakan atau tidak, manusia akan mengetahui banyak hal.