KOMUNIKASI: SOLUSI MUDAH YANG SULIT DIJALANI

KOMUNIKASI: SOLUSI MUDAH YANG SULIT DIJALANI

Manusia diberkahi oleh Allah dengan diberi kemampuan berbahasa, berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Fungsi dari bahasa ini salah satunya adalah menjembatani komunikasi antarmanusia. Dengan adanya bahasa, manusia diharapkan mampu berhubungan dan berkomunikasi secara baik, sehingga mengenal, bukan hanya pribadi seseorang, tetapi juga agama, budaya, bahkan negara seseorang. Pada akhirnya, komunikasi menjadi hal yang pokok dan fundamental dalam bermasyarakat.

Pentingnya komunikasi bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Bisa kita lihat dalam hubungan keluarga antara orang tua dan anak, atau di sekolah antara guru dan muridnya, antara pemimpin dan rekan-rekannya. Oleh sebab itu, penting bagi semua mempelajari cara berkomunikasi yang baik. Berapa banyak orang yang saling membenci karena hal sepele, seperti cara meminta tolong yang kurang tepat? Ada banyak permasalahan yang ditimbulkan akibat gaya berkomunikasi yang kurang pas, misalnya ada hubungan keluarga yang satu sama lainnya tidak akrab akibat gaya berkomunikasi orang tua dengan anak yang kurang pas. Ada hubungan antara pemimpin dan bawahannya yang memanas akibat gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpinnya kurang diterima. Ada guru yang berniat mengingatkan siswanya, tetapi karena gaya komunikasinya tidak sesuai dengan siswanya, akhirnya terjadi ketersinggungan dan menimbulkan dendam sesaat.

Semua hal di atas menunjukkan bahwa dalam berkomunikasi dengan sesama, ada hal-hal yang perlu diperhatikan meskipun terlihat tidak begitu penting. Contoh, ketika “meminta maaf” harus disertai penyesalan dan nada yang menunjukkan ekspresi penyesalan tersebut. Perhatikan kalimat berikut:

  1. “Iya iya, aku minta maaf, dasar baperan!”
  2. “Maaf ya, aku benar-benar tidak tahu jika itu membuatmu tersinggung, maafkan aku.”

Dua kalimat di atas sama-sama menunjukkan kata permohonan maaf, tetapi menimbulkan nilai rasa yang berbeda. Untuk kalimat pertama, meskipun berupa permohonan maaf, tetapi diikuti kata-kata yang bermakna negatif dan nada sedikit tinggi yang menunjukkan rasa tidak menyesal, yang bisa jadi bukan menyelesaikan permasalahan, malah menambah keruh keadaan. Sementara, kalimat kedua, menunjukkan rasa penyesalan dengan diikuti nada yang cukup rendah untuk mendukung rasa penyesalan tersebut, sehingga akan menimbulkan rasa simpati bagi yang dimintai maaf. Dengan begitu, bisa kita lihat bersama, bahwa meskipun dua kalimat di atas memiliki maksud yang sama, tetapi perbedaan cara penyampaian dan kosakata yang digunakan mampu memberikan nilai rasa yang berbeda.

Selain contoh di atas, ada lagi contoh yang selama ini kerap kita temui di sekitar kita, yaitu antara orang tua dan anak. Banyak sekali orang tua yang selama ini menggunakan bahasa yang kurang tepat ketika berkomunikasi dengan anak, utamanya ketika membahasa hal-hal yang bersifat pribadi bagi si anak, atau pun ketika si anak telah melakukan kesalahan, baik sengaja atau tidak. Misalnya, ketika si anak mencuri uang untuk membeli jajan, reaksi orang tua ada dua seperti berikut:

  1. “Dasar, anak nakal! Kamu mau kita besok nggak makan gara-gara kita kehabisan uang?”
  2. “Nak, ini yang kamu ambil memang uangmu. Bapak Ibu selama ini bekerja memang untuk memenuhi kebutuhanmu, tetapi minta tolong izin Bapak Ibu dulu. Ketika Bapak Ibu tidak membolehkan kamu memakai uang ini untuk jajan, bukan berarti Bapak Ibu tidak sayang kepadamu, tetapi ada hal yang lebih penting dari jajan, yaitu untuk makan. Kamu mau besok kita nggak makan hanya karena kamu gunakan uangnya untuk jajan?”

Dua gaya komunikasi yang berbeda bisa dilihat dari dua kalimat di atas. Kalimat pertama memang akan memberikan efek jera pada anak, tetapi hal ini juga akan memunculkan sekat pembatas antara anak dan orang tua. Selain itu, penggunaan kalimat pertama akan memberikan rasa trauma pada anak karena ada kata yang sifatnya memberikan sebuah judgment, yaitu “Dasar, anak nakal!” Efek negatif ini akan berlipat ganda apabila orang tua memarahi anak di depan umum, karena secara psikologis anak akan merasa malu bukan hanya di keluarga, tetapi juga di masyarakat sekitarnya. Dampak negatif ini tentu saja berlawanan dengan dampak yang akan dihasilkan oleh kalimat kedua. Pada kalimat kedua, anak secara psikologis akan merasa aman dan dirangkul karena ketika melakukan kesalahan yang bisa dikatakan cukup besar, tetapi orang tuanya masih menunjukkan rasa sayang mereka kepadanya. Dengan penggunaan kalimat kedua tersebut, secara tidak sadar, anak diajarkan untuk mengenal rasa tanggung jawab dan sebab akibat dari perilaku mencuri uang.

Berdasarkan beberapa contoh di atas, bisa kita pelajari bahwa kemampuan berkomunikasi itu penting bagi siapapun. Hal ini disebabkan kemampuan berkomunikasi akan memberikan harmonisasi, baik di dalam hubungan keluarga, masyarakat, atau pun tempat bekerja. Beberapa aspek yang sangat perlu diperhatikan antara lain kosakata yang digunakan, nada yang diterapkan, dan juga lawan bicara yang dihadapi. Tiga hal tersebut menjadi bagian pokok yang perlu diperhatikan bagi siapa pun juga ketika menjalin komunikasi dengan sesama. Mari kita belajar bersama untuk menjalin komunikasi yang baik dan bisa diterima, karena kita sebagai Warga Negara Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun dan beradab. Mari kita saling mengingatkan demi kebaikan dengan cara yang menyenangkan.