Komunikasi, Senjata Lawan Mekanisasi Manusia di Organisasi Mahasiswa

Komunikasi, Senjata Lawan Mekanisasi Manusia di Organisasi Mahasiswa

“Yah… masa orang kaya begini jadi ketua? Bisanya ngomong doang, manis di bibir, enggak ada inovasinya. Mau jadi apa organisasi ini?”

Itu pikiran yang berputar di kepalaku melihat ada kakak tingkat yang rancangan program kerjanya biasa saja, tapi pemilihan katanya bagus, terpilih menjadi ketua organisasi fakultasku. Tapi itu dulu, sekarang aku berubah pikiran.

Tahun 2019 silam aku terpilih menjadi ketua pada tahun kepengurusan 2020. Jabatan tertinggi di salah satu organisasi fakultas diamanahkan kepadaku. Saatnya berbagai ide brilian untuk kemajuan organisasi aku eksekusi.

Sayang, mimpi buruk yang tak pernah diharapkan datang. Awal tahun 2020 virus corona menyerbu Indonesia. Kampus dengan segera mengeluarkan kebijakan agar segala kegiatan kemahasiswaan dilaksanakan secara online.

Aku termenung. Segala idealisme yang aku pupuk untuk organisasi ini hancur sudah. Bingung aku harus berbuat apa.

“Bagaimana mungkin aku tetap menjalankan organisasi dan program kerja di tengah kondisi seperti ini? Ah, sudah lah, biarkan saja…”

Terbelit kecewa, hampir saja aku terjerumus ke lubang putus asa. Namun teringat aku pada janji ketika dilantik, bahwa dalam keadaan apapun menghilang, meninggalkan tanggungjawab, bukan jalan bagi pemimpin.

“Halo teman-teman semuanya, aku mau memberi info, nih. Jadi tadi siang aku habis rapat bareng dekan, kata beliau segala kegiatan harus dilakukan secara daring untuk menekan potensi penyebaran virus,” tulisku dalam grup.

“Yah, terus gimana dong. Masa kita mau bikin pelatihan online? Masa kita gak bikin ini itu?” begitulah rata-rata jawaban mereka mendengar kabar dariku.

“Tidak apa-apa, aku yakin kita bisa lalui bersama,” jawabku.

Beberapa saat berlalu, sepertinya kata-kataku itu tinggal harapan. Mulai banyak anggota yang hilang-hilangan alias tidak pernah muncul di grup dan tidak membalas ketika dihubungi secara personal.

Apakah ini karena pandemi? Bisa jadi. Covid-19 ini hadir dan membuat komunikasi kita di organisasi maupun di masyarakat semakin berjarak. Dampaknya, renggang. Rasa kekeluargaan di organisasi pun tidak bisa terbangun.

“Bagaimana ya ini? Anggota kok pada enggak profesional banget! Apa perlu kita keluarkan saja mereka dan kita buka rekrutmen yang baru?” aku bertanya pada wakilku.

“Emm, ribet. Bagaimana kalau enggak usah kita kasih sertifikat saja mereka?” jawabnya.

“Waduh, tapi mereka sudah sempat berkontribusi membantu kita dulu. Kasihan juga kalau tidak dikasih sertifikat,” ujarku semakin bingung.

“Terus gimana?” tanya wakilku.

“Begini saja, bagaimana kalau kita tingkatkan pendekatan dengan mereka dengan cara sering menyapa di grup kek, atau kita bikin acara kumpul-kumpul via daring kek. Bebas! Yang penting bisa bikin deket,” ujarku sedikit ragu.

“O ya boleh, sih,” jawabnya menutup percakapan kami.

Hari berikutnya, kami mulai sering meramaikan grup organisasi. Mengucapkan selamat ulang tahun bagi anggota yang merayakan, melepas candaan-candaan, hingga membahas isu-isu kampus yang hangat diperbincangkan.

Bukan hanya itu, aku pun mengajak pengurus-pengurus organisasiku untuk lebih menghargai anggota. Misalnya, selalu mengucapkan terimakasih sebelum memberi evaluasi pada hasil pekerjaan anggota.

Selain itu, aku juga berusaha seterbuka mungkin mendengarkan masalah-masalah yang dirasakan anggota. Mulai dari masalah akademik, keluarga, hingga masalah cinta, semua aku dengarkan dan kuberi masukan bila mereka minta.

Dulu aku tidak bisa seperti ini, paling hanya memberi barang atau makanan pada anggota setelah program kerja terlaksana. Tapi dengan keadaan serba virtual ini, cara lama itu sudah tidak bisa dipakai lagi.

 Menjalin hubungan jarak jauh benar-benar menantang, namun penting untuk dilakukan. Hasilnya pun tidak main-main, anggota yang tadinya hilang-hilangan mulai muncul kembali. Di akhir kepengurusan, mereka mengaku bahwa merasa belajar banyak hal dan merasa dihargai di organisasi ini.

Tugasku purna sudah, kututup tiga tahunku di organisasi kampus dengan refleksi yang indah.

 

Menjadi Sukses dengan Komunikasi

Aku belajar satu hal, bahwa komunikasi adalah kunci terpenting yang harus dimiliki seorang pemimpin dan ditumbuhkan di dalam organisasi, terutama di organisasi mahasiswa. Kenapa demikian? Pertama, karena anggota organisasi mahasiswa tidak dibayar.

Perusahaan profesional menghargai keringat pekerjanya dengan uang. Kalau organisasi mahasiswa yang uang kasnya saja sedikit, terus bayar jerih payah anggotanya dengan apa? Ya, dengan perhatian dan afeksi.

Kayawan bekerja untuk mendapat uang, motif ekonomi. Anggota organisasi bekerja untuk menambah pengalaman, motif aktualisasi diri. Lalu kenapa masih mati-matian memeras anggota dengan embel-embel profesionalisme?

Kedua, organisasi mahasiswa ada di lembaga pendidikan, dan kegiatan utama pendidikan adalah belajar. Jadi, sejatinya organisasi mahasiswa bukan berjuang mati-matian untuk program kerja, tapi berjuang menciptakan kondisi yang nyaman untuk anggotanya belajar.

Menciptakan kondisi yang nyaman salah satunya adalah dengan menciptakan komunikasi yang hangat. Bukan cuma tentang kualitasnya, tapi juga kuantitas komunikasinya. Bahkan kuantitas lebih penting daripada kualitas untuk menciptakan kehangatan di dalam suatu kelompok.

Pemimpin organisasi seharusnya memahami ini. Memahami pentingnya frekuensi komunikasi dalam sebuah organisasi.

Bukan hanya belajar menyusun visi misi dan analisis saja, melainkan cara berkomunikasi yang baik dan “berpengaruh” juga perlu diperhatikan. Berkomunikasi se-intens mungkin dengan anggotanya bukan sekadar untuk menyampaikan visi misi atau gagasan saja, tapi juga membantu mereka untuk belajar dan berubah.

Konteksnya tidak hanya sesempit bicara untuk menyuruh orang. Persuasi untuk membuat orang mau bekerja suka rela, apresiasi untuk membuat anggota merasa “dianggap” juga perlu dilakukan.

Jadi, kalau boleh dibuat skala prioritasnya, yang perlu dimiliki seorang calon pemimpin organisasi adalah kemampuan komunikasi nomor satu, inovasi nomor dua.

Ketiga, konsep stimulus dan respon tidak bisa sesederhana itu. Pada manusia, di antara stimulus dan respon yang ditimbulkan ada proses berpikir, dan komunikasi adalah senjata mengubah cara seseorang berpikir.

Dalam kaitannya dengan organisasi, untuk menindaklanjuti anggota yang hilang-hilangan tidak harus mengeluarkannya, tapi dengan ngobrol untuk perlahan-lahan menumbuhkan rasa tanggungjawabnya.

Bukan memarahi habis-habisan anggota yang melakukan kesalahan, namun dengan berterimakasih atas hal baik yang pernah dia lakukan bagi organisasi pun sebenarnya cukup.

Hal ini yang sering kali menjadi “ruang kosong” di berbagai organisasi. Para pemimpinnya hanya tahu kerja, kerja, dan mempekerjakan, tanpa pernah memberikan afeksi pada anggotanya yang sudah banting tulang.

Sebuah praktek mekanisasi manusia. Pantas saja kalau banyak yang membuat satir bahwa organisasi mahasiswa sama dengan kerja rodi zaman penjajahan Belanda. (***)