Scroll Society: Ketika Konsentrasi Menjadi Keterampilan Langka
#scroll #AI #Medsos #Media Sosial #Konsentrasi #Scroll Society #Scroll Culture #Pendidikan
Oleh: Nayla Arifa Muthmainnah
Teknologi digital telah mengalami kemajuan yang cukup besar. Banyak orang terutama generasi muda, mengalami perubahan dalam mengakses informasi. Dalam hitungan detik seseorang dapat memperoleh berbagai informasi hanya melalui ponsel yang ada di tangan. Namun, dibalik kemudahan tersebut mengakibatkan menurunnya kemampuan konsentrasi. Fenomena ini terjadi sejak munculnya berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube yang berisikan konten digital berdurasi pendek dan kini mendominasi media sosial.
Informasi kini tidak lagi muncul dalam bentuk panjang dan mendalam melainkan dikemas dalam potongan-potongan video pendek, visual dan cepat yang dapat dilihat dalam hitungan detik. Pola konsumsi informasi seperti ini membuat pengguna terbiasa berpindah dari satu konten ke konten lainnya dengan cepat atau scroll culture. Akibatnya, banyak orang yang mulai kesulitan mempertahankan fokus dalam jangka waktu yang lama seperti membaca buku, menulis yang sering terasa lebih berat dibandingkan sekedar menggulir layer ponsel. Konten yang cepat, singkat dan terus berubah membuat otak terbiasa dengan rangsangan yang instan.
Terdapat penelitian dan laporan populer menunjukkan bahwa Gen Z memiliki rentang perhatian (attention span) yang lebih pendek dibandingkan generasi sebelumnya, dan salah satu faktor yang diduga mempengaruhinya adalah kebiasaan konsumsi konten pendek dan cepat seperti yang ditemukan dalam scroll culture. Selain memengaruhi kemampuan konsentrasi, konten digital juga dapat membentuk budaya baru dalam mendapatkan pengetahuan. Saat ini banyak orang terbiasa memperoleh informasi dalam bentuk ringkasan singkat dibandingkan membaca penjelasan yang mendalam. Fenomena ini dapat dilihat jelas dalam dunia pendidikan, tidak sedikit mahasiswa yang memilih menonton video singkat atau bahkan menggunakan AI untuk meringkas materi dari pada membaca buku atau artikel ilmiah yang panjang. Padahal proses membaca yang mendalam menjadi salah satu cara untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
Penting bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan ini dengan menjaga kemampuan konsentrasi dengan cara mengatur waktu penggunaan sosial media dan memberikan ruang pada aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama seperti membaca buku.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan untuk fokus, membaca, dan berpikir kritis justru menjadi keterampilan yang semakin berharga. Dengan demikian, tantangan terbesarnya bukan datang dari teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita menggunakannya.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.
Nayy



