rescue

keselamatan adalah hak semua umat

rescue
by IndahKu

Rescue

By : Niken Indah Kusuma

Naira sedang asik dengan bukunya di serambi belakang. Sebatang pohon mangga meneduhkan halaman belakang rumah itu. Sebuah ayunan tempat dia dan Arya adiknya sering bermain bergerak-gerak terkena angin. Langit siang hari ini cukup cerah. Awan putih bergerak perlahan berganti-ganti bentuk. Naira fokus pada tulisan di buku cerita barunya sambil menikmati semilirnya angin yang berhembus membelai helai rambutnya. Papa baru saja membelikan buku itu karena rapor tengah semesternya sangat memuaskan. Papa dan mama selalu bangga dengan hasil belajar Naira. Bukan hanya masalah angka, namun kepribadian anak sulungnya ini membuat papa dan mama selalu bersyukur meliliki anugerah seorang putri yang penyayang, penyabar, mandiri,  tidak mudah menyerah, dan yang paling dikagumi, Naira sangat pemberani.

Anak perempuan ini menikmati tiap lembar isi buku ceritanya. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam jika sudah mendapatkan buku bacaan yang asik menurutnya. Sejenak dia turut hanyut dalam alur ceritanya, ikut memecahkan  misteri hilangnya permata Nyonya Smith. Seolah saat ini dia berada di kota London sama persis dengan setting lokasi cerita yang dia baca. Duduk di sebuah kedai minum menikmati coklat hangat di meja paling pojokan sambil mengamati tiap orang yang keluar masuk kedai. Karena dia sedang dalam misi untuk menemukan siapa yang telah mengambil permata Nyonya Smith, sedangkan di rumah Nyonya Smith hanya dihuni oleh Nyonya Smith sendiri bersama 3 orang pengurus rumah tangganya. Naira membiarkan dirinya sejenak menikmati perannya sebagai detektif dan menikmati suasana kota London yang dengin.

Di sudut teras, tampak Arya membuka-buka buku bergambarnya. Dia juga kebagian mendapat hadiah karena kebahagiaan orang tuanya. Buku serial Satwa Burung Asli Indonesia. Mulutnya komat-kamit mengagumi gambar aneka burung yang dia lihat. Kadang-kadang anak itu memekik karena kegirangan. Sesekali Naira memperhatikan tingkah adiknya sambil tersenyum. Mama sedang keluar  menengok teman sekolah mama yang sakit.  Mama berpesan pada Naira untuk menjaga adiknya selama mama pergi. Arya memandangi gambar burung-burung yang ada dalam bukunya, sesekali dia melihat ke pohon mangga yang berdaun lebat itu. Kepalanya mendongak lalu dimiringkan seolah sedang mempertajam pendengarannya. Hidungnya nyengir mulutnya meringis. Matanya berkedip-kedip sedang berusaha konsentrasi pada sesuatu.

“Arya, begitu amat, ada apa?” Naira ikut penasaran melihat tingkah adiknya. Naira ikut melihat ke arah rimbunnya daun pohon mangga, lalu melihat ke adiknya lagi. Arya bangkit dari duduknya berjalan mendekati pohon mangga di halaman belakang rumah itu. Tanpa alas kaki Arya menginjak rumput di halaman yang tumbuh hijau. Langkahnya pelan seolah tidak ingin menimbulkan suara yang akan mengganggu suara lain yang sedang ingin dia dengarkan. Naira terus memperhatikan tingkah adiknya, dia menandai halaman yang sudah dibaca dengan pembatas buku, bahkan sekarang dia ikut berdiri berjalan ke ujung teras.

“Yaa... ada apa? Bilang dong, lagi ngapain?” Naira makin tidak sabar rupanya ingin mengetahui apa yang sedang adiknya lakukan.

“A...a...a...da  b...b...bu ung. B...b...b...bu ung k..k..kecil,” mulut dan mata Arya terbuka lebar berusaha ingin menjelaskan, telunjuknya didekatkan di bibirnya supaya kakaknya berhenti bersuara. Sambil berjalan membungkuk dan mengendap-endap Arya ingin meyakinkan suara yang dia dengar. Angin yang berhembus menggerakkan daun dan ranting pohon mangga, suaranya berbisik lirih diatara suara kecil yang sedang didengar Arya.

            Suara cicitan lirih semain jelas terdengar. Arya berjalan sambil berjingkat memutari pohon mangga yag berdiri rimbun di halaman belakang rumahnya. Ketika sampai di balik pohon mangga, sontak Arya berteriak.

“Ak... a...a...da b...b...bu ung kek...kecil !”

Sebuah sarang burung gereja terjatuh dari pohon, di dalamnya ada seekor bayi burung yang belum lengkap berbulu menciap-ciap butuh pertolongan. Naira yang sedari tadi sudah berdiri di tepian teras segera berlari menghampiri adiknya yang berteriak-teriak histeris. Arya memang selalu meluapkan perasaannya secara berlebihan. Bahkan seperti saat ini, ketika hatinya merasa gembira, heran, kaget, dan tak menyangka karena secara tak disangka menemukan sebuah sarang burung yang terjatuh dari pohon. Tangan Arya sudah gatal ingin memegang anak burung itu. Naira mencegah adiknya supaya tidak memegang bayi burung itu secara langsung. Mama selalu berpesan agar adiknya tidak memegang benda-benda asing yang dijumpai supaya kondisi kesehatannya selalu terjaga. Tubuh Arya memang sangat sensitif dengan benda asing yang belum dipastikan kebersihannya. Karena itu, mama mewanti-wantinya untuk ikut menjaga Arya agar tidak sembarangan menyentuh benda asing.

“Jangan dipegang bayi burungnya Ya, nanti dia mati. Induknya akan sedih mencarinya. Kita kembalikan saja sarang burung ini ke pohon ya.” Naira memberikan penjelasan kepada adiknya dengan hati-hati dan sedapat mungkin tidak pernah menyebut kekurangan adiknya. Sebab bisa saja Arya akan marah dan menangis keras jika keinginannya tidak terpenuhi, terlebih karena alasan keadaannya. Arya terlihat kecewa, bibirnya mulai ditarik panjang tanda ingin mulai menangis. Naira segera merangkul adiknya mendekati sarang burung yang jatuh itu. Mereka berdua melihat bayi burung yang kedinginan menciap-ciap terus karena merasa tak aman. Naira berusaha menjelaskan adiknya.

“Tuh lihat Arya, bayi burungnya kedinginan dan dia butuh induknya. Kita tidak bisa menjadi induknya, bisa-bisa dia nanti malah mati.”

Arya berjongkok memandangi bayi burung yang matanya masih terpejam dan terlihat sangat besar tidak sesuai dibanding dengan ukuran kepalanya itu. Paruhnya terbuka lebar dan mengeluarkan suara yang lemah. Bulu di badannya belum tumbuh semua, sebagian besar hanya di sekitar sayapnya yang gemetar kedingingan.

“Yuk kita beri dia makan, setelah itu kita kembalikan dia di atas pohon ya.” Naira berusaha membujuk adiknya yang terlihat sangat penasaran ingin memegang bayi burung itu. Berkali-kali tangan Naira mencegah tangan adiknya yang berusaha memegang bayi burung itu.

“Arya tunggu di sini, jangan sentuh bayi burung itu. Kakak akan mengambil pipet dan kuning telur dulu. Janji ya.” Naira mengacungkan jari kelingkingnya tanda mengajak janji pada adiknya sambil menatap mata adiknya agar dapat menerima pesan  dengan baik. Lalu segera berlari menuju dapur. Dia berusaha menemukan pipet yang ada di laci obat dan memecahkan sebutir telur. Hanya bagian kuning telurnya saja yang dia tempatkan di mangkuk kecil. Arya sudah tidak sabar menunggu kakaknya kembali bersamanya untuk memberi makan bayi burung itu. Tangannya sudah memegangi sarang burung dan memindahkannya di meja kecil di bawah pohon mangga itu. Sarang yang terbuat dari batang rumput kering berwarna kuning terang terjalin rumit membentuk kantung yang ditinggali seekor bayi burung gereja. Di dalamnya nampak beberapa helai bulu halus milik induknya yang mungkin rontok selama mengerami telurnya. Seakan menjadi kasur empuk bagi bayi burung gereja itu. “Cit... cit... cit...,” suaranya lemah berusaha mengangkat kepalanya yang besar. Paruhnya terbuka lebar seperti selalu kelaparan. Sayapnya yang lemah bergerak-gerak menggeserkan badannya, kakinya masih terlipat belum bisa menapak. Arya mememandangi bayi burung itu dengan mulut yang tak berhenti bersuara lirih. Dia berusaha mengajak bicara bayi burung, menenangkan bayi burung agar jangan merasa takut dan khawatir. Dia meyakinkan bahwa dirinya dan kakaknya berniat akan menolongnya bukan mencelakakannya.

            Naira datang membawa mangkuk kecil berisi kuning telur dan pipet. Arya girang mengetahui kakaknya sudah menyiapkan keperluan untuk menolong bayi burung itu. Mereka berdua duduk bersila di depan kursi kecil di bawah pohon mangga. Sarang burung berada di atas meja. Dengan hati-hati Naira melebarkan sedikit lobang sarang burung gereja itu. Arya memekik lirih melihat bayi burung yang nampak makin jelas itu, “Ssssttt,” jari telunjukknya ditempelkan di bibirnya menyuruh bayi burung itu diam. Dia memperhatikan kakaknya mengambil kuning telur dengan pipet, lalu pipet di dekatkan pada mulut bayi burung yang terbuka. Ketika pipet ditekan, kuning telur mengalir keluar dan masuk ke mulut bayi burung. Bayi burung menelan kuning telur dengan pelan, sejenak suara ciap-ciapnya berhenti. “A...a...ku mmm...mau,” Arya ingin meraih pipet yang Naira pegang. Naira menyerahkan pada adiknya yang kelihatan sudah tidak sabar itu.

“Hati-hati ya, jangan melukai bayi burungnya,” pesan Naira pada adiknya. Arya menerima pipet dari kakaknya, tangannya sedikit gemetar memegang benda kecil itu. Mencelupkan pada kuning telur dan memasukkan ke mulut bayi burung. Awalnya Naira membantu menekan pipetnya, “ujung karetnya ditekan, Ya.” Arya merasakan bimbingan kakaknya, tangannya diarahkan ke mulut bayi burung dengan hati-hati. Berikutnya Naira melepas tangan adiknya supaya mencoba menekan karet pipet sendiri dan menyuapi bayi burungnya. Kuning telur menetes di luar mulut bayi burung mengenai tubuh bayi burung. “Aaaaahh...” Arya memekik pelan hampir tak sabar. “Pelan-pelan Arya, jangan terburu-buru. Nanti ceceran kuning telur ini mengundang semut. Bayi burung bisa dikerubuti semut. Nanti mati dia.” Naira menjelaskan dengan hati-hati sambil membersihkan ceceran kuning telur di sekitar badan bayi burung.

            Kakak beradik ini tampak asik merawat bayi burung yang mereka temukan. Arya ingin sekali memegang bayi burung itu sedari tadi. Tetapi berkali-kali Naira melarangnya. Arya mulai merajuk berteriak hampir menangis. Naira buru-buru menenangkan, memegang pipi Arya agar memahami penjelasannya.

“Yuk, kita kembalikan sarang burung ini ke tempatnya!” ucap Naira sambil menatap mata adiknya yang terlihat ada kekecewaannya. Naira tahu, adiknya pasti menginginkan bayi burung itu untuk dijadikan mainan. Tetapi dia tentu sangat tidak tega jika bayi burung itu akan mati. Dan mama pasti akan menegurnya jika melihat Arya membawa benda-benda asing seperti itu.

“Jika kita kembalikan bayi burung ini di tempatnya, induk burung pasti akan merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan anaknya lagi. Kita akan bertemu dengan bayi burung ini saat dia sudah bisa terbang.”

“He em.” Arya tiba-tiba mengangguk menyetujui saran kakaknya.

“Na... nanti ki...kita...ketemu bu...bu ung.” Hati Arya nampaknya sudah merelakan bayi burung itu untuk dikembalikan ke pohon lagi.

            Naira yang pemberani ini bersiap memanjat pohon mangga yang menjadi tempat tinggal sarang burung gereja ini. Tangan dan kakinya sigap mencengkeram batang pohon mangga yang tampak kokoh berdiri itu. Naira mendongak ke atas melihat di manakah tempat sarang burung ini tadinya berada. Dia khawatir jika asal menempatkan maka induk burung tidak akan menemukan bayinya. Dia melihat ada sebuah dahan yang terlindung rimbunnya daun mangga. Di situ banyak sisa rumput kering seperti pada sarang yang terjatuh tadi. Dia yakin bahwa di situlah asal sarang burung yang jatuh itu. Rupanya angin yang sedikit kencang berhembus tadi menjatuhkan sarang burung dari dahan. Dengan hati-hati Naira meletakkan sarang burung dan memastikan aman tidak akan terjatuh lagi. Ada seekor burung meloncat-loncat di dahan tak jauh dari tempat berdiri Naira. Dia meyakini itu adalah induk bayi burung ini. Burung itu sesekali mencicit. Naira berharap itu ucapan terima kasih yang diucapkan oleh induk burung. Naira memandang ke bawah, di sana Arya menunggunya sambil bersorak-sorak kecil melihat keberhasilan kakaknya mengembalikan sarang burung di tempatnya.

Naira segera turun dari pohon mangga. Arya menyambutnya dengan senyuman. Dia merasa sudah melakukan perbuatan baik dengan menolong bayi burung dengan bantuan kakaknya. Hatinya sangat gembira.