Ramadan di Tanah Seberang

Ramadan di Tanah Seberang
Masjid di Richmond Heights, Ohio, USA

Sudah dua puluh empat Ramadan aku jalani di negeri ini. Suka duka aku tempuh. Jauh dari sanak keluarga, untunglah ada telpon yang menghubungkan aku dengan Yogya, dengan bapak ibu dan saudara-saudaraku.

Kalau rasa rindu itu sudah menyesak di dada, aku membuat kolak. Makanan pembuka yang manis, yang cukup menutup sedikit kerinduan pada kampung halaman. 

Aku dapat bahan-bahan kolak dari Pecinan (China town) di downtown kotaku. Ada ketela rambat, pisang tanduk, nangka, kolang kaling, rambutan,  semua dalam kaleng. Ada juga gula jawa dan santan. Toko Cina ini impor produk dari negara-negara di Asia.

Anakku yang cinta Indomie, selalu minta beli Indomie goreng pedas satu kotak isi 30 bungkus. Hal itu mengingatkanku pada teman-teman kuliah dulu yang kos di Yogya. Mereka hobi makan Indomie. Indomie identik dengan balada anak kos.

Ada beberapa teman Indonesia di kotaku yang pintar masak. Kadang mereka telpon mau kasih makanan mereka. Aku kurang bisa masak, kecuali bikin snack. Aku bisa bikin roti atau camilan-camilan kecil. Kalau masak makanan utama kurang mahir. 

Di keluargaku yang jago masak suamiku. Dia akan sediakan hidangan untuk buka puasa. Aku yang menyiapkan camilannya. 

Sekarang masih musim semi, puasa tidak begitu lama dibanding musim panas. Subuh pukul 05:15, Maghrib pukul 20:20. Kami tinggal di waktu Amerika bagian timur. Tahun lalu subuh pukul 04:30, Maghrib pukul 21:30, lebih lama puasanya karena musim panas. Kalau musim dingin waktu puasa kami seperti di Indonesia. 

Sholat Ied di sini tidak diadakan di tanah lapang tapi di dalam masjid. Ada satu masjid besar di sini yang terkenal dikalangan masyarakat Indonesia,  karena marbot masjidnya orang Indonesia. Masjid ini jauh dari rumahku.

Ada masjid kecil yang  ada di dekat rumah. Tahun lalu hanya ada tiga keluarga Indonesia yang sholat Ied di sana. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia di sini pergi sholat di masjid besar.

Teman-teman kerjaku sudah tahu, kalau jam makan siang, aku hanya membawa IPad untuk membaca cersil Kho Ping Ho. 

Mereka bilang, "Oh sudah Ramadan ya".

Ada teman yang memberi minum, mereka pikir aku puasa tidak bisa makan tapi bisa minum. Aku harus menjelaskan bahwa puasa yang kujalankan tanpa makan dan minum dari saat sebelum matahari terbit sampai matahari tenggelam.

"You are not hungry?", tanya Carol.

"Your stomach doesn't hurt?", tanya Janice.

"Ya lapar. Nggak papa, nanti malam aku bisa makan kok.".

Libur hari ini aku bikin kolak dan sambel goreng tempe, tahu dan petai. Ada teman membelikanku petai (stinky bean), ini barang langka di sini. Termasuk durian juga jarang ada. Untung aku nggak begitu suka durian. Masih ada nangka, rambutan, klengkeng, kolang kaling dan bengkoang di sini.

Suamiku tidak bisa makan pedas, jadi nanti makan ayam goreng saja. Anakku doyan Indomie, tahu, tempe dan sangat suka rendang. Dia juga hobi makan sambal.

"Ini anak bule kok hobi Indomie sama sambal ya". Kata Suli temanku.

Ah rasanya tidak sabar menunggu Lebaran. Aku bisa masak opor ayam dan bikin kue-kue kecil. Kerinduan pada keluarga, pada kotaku dan segala macam makanannya selalu ada. Meskipun silaturahmi hanya dengan hapeku, sedikit rindu akan terobati.

 

***skc***