Keajaiban Ramadhan

Allah memberikan keajaiban bagi hambaNya yang percaya

Keajaiban Ramadhan
lemongrass

KEAJAIBAN RAMADHAN

Setiap kali mencium aroma sereh yang bercampur dengan kayuputih, basil dan pepermint ini, aku merasakan rasa hangat sampai di dalam hatiku. Rasa ringan atas segala kekhawatiranku. Rasa bahagia yang hanya aku yang tahu. Ya, aroma ini selalu mengingatkanku pada bulan Ramadhan sembilan tahun yang lalu.  Bulan Ramadhan tahun 2012, saat aku dan Giri,  suamiku, berkesempatan untuk pergi ke tanah suci melaksanakan ibadah Umroh Ramadhan. Ini adalah perjalanan umroh pertamaku. Aku berangkat berdua saja dengan Giri meninggalkan kedua anakku di rumah bersama bersama para pengasuhnya.

Beberapa bulan sebelum perjalanan itu, Giri sempat cedera ringan di  pergelangan kakinya saat bertanding futsal bersama teman-teman sekantornya. Karena dirasa cedera ringan saja, Giri tidak disiplin menggunakan bandage dan kruk untuk meringankan beban kakinya. Ternyata ketidakdisiplinan itu membuat masa pemulihan menjadi lama. Hingga tiba saat kami harus berangkat umroh, pergelangan kaki Giri belum sembuh sempurna.

Perjalanan itu jelas bukanlah perjalanan yang ringan untukku. Sebagai seorang ibu yang tak pernah terpisah dengan anak-anak sejak mereka dilahirkan, empatbelas hari tanpa mereka adalah suatu pengorbanan tersendiri. Ditambah lagi kondisi kaki suamiku yang membuat aku khawatir dia tidak dapat melaksanankan rangkaian ibadahnya dengan sempurna. Tapi kami percaya bahwa niat yang baik dan ikhlas pasti diberi kemudahan oleh Allah. Kamipun membulatkan tekad untuk berangkat.

Kami berangkat dari Jakarta bersama anggota rombongan yang lain. Ternyata kami adalah peserta rombongan termuda. Duabelas orang peserta lain dalam rombongan kecil kami berusia sekitar limapuluh tahunan ke atas. Sesungguhnya kondisi kaki Giri  melarangnya untuk mengangkat barang-barang yang berat. Namun melihat ibu-ibu sepuh mengangkat sendiri koper-kopernya, dia tidak bisa berdiam diri saja. Sedikit-sedikit dia membantu mereka mengangkat dan  menaikkannya ke bagasi pesawat.

Setelah duduk selama hampir sepuluh jam perjalanan, kami tiba dengan selamat di Airport Jeddah dan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Mekah. Kondisi jalan yang sangat macet di sekitar kompleks masjidil Haram, memaksa kami untuk berhenti di tengah pertokoan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke hotel, membawa serta semua barang bawaan kami masing-masing.

Alhasil setiba di hotel kaki suamiku bengkak, pergelangan kakinya merah dan panas. Aku memintanya untuk beristirahat dulu sehari ini. Aku minta dia berbaring sambil mengganjal kakinya dengan bantal. Aku balur kakinya dengan minyak gosok yang kudapat dari kakakku sebelum kami berangkat. Harum minyak itu begitu khas, hangat tetapi juga menyejukkan. Setelah beberapa jam beristirahat, Alhamdulillah pergelangan kakinya mengempis dan terasa ringan. Jarak kami yang sudah begitu dekat dengan masjidil Harampun tampaknya  membuatnya bersemangat untuk lekas sembuh dan bisa beribadah.

Keesokan harinya  setelah sahur kami bersiap untuk melakukan umroh pertama. Dengan bus rombongan kami mengambil Miqot di Bir Ali dan melaksanakan Umroh. Udara Mekkah hari itu sedang panas-panasnya. Matahari bersinar sangat terik dan terasa menggigit di kulit. Aku melirik Thermometer yang dijual di sebuat toko cinderamata, angkanya menunjukkan 52 derajat Celcius.

”Luar biasa! Setengah mendidih”, pikirku. Di tiap sudut  Masjidil Haram tersedia kipas angin yang meniupkan angin dan tetes air untuk membasahi para jamaah yang kepanasan. Namun saking teriknya sinar Matahari, tak setitikpun uap air yang berhasil turun sampai ke tanah. Bahkan tidak juga menyentuh kulitku meskipun aku berada tepat di depannya. Sinar matahari bekerja lebih cepat menguapkannya ke udara.

Kamipun melaksanakan Tawaf di bawah teriknya matahari Mekkah dalam keadaan berpuasa. Beberapa jamaah tampak menyemprotkan air zam-zam pada jamaah lain untuk menyejukkan.  Sebagian menumpahkan segelas air zam zam ke atas kepalanya, agar tidak kepanasan dan dehidrasi. Akupun mencobanya, kusiram hijabku dengan segelas air zam-zam hingga basah kuyup. Rasanya sejuk, dan nikmat. Namun duapuluh menit kemudian hijabku sudah kembali kering seperti semula.

Suamiku sama sekali tidak mengeluhkan keadaan kakinya, menurutnya peredaran darah di kakinya terasa lancar saat dipakai berjalan, dan rasa sakitnya tidak terasa karena otot-ototnya seolah mati rasa.

Setelah selesai Tawaf mengelilingi Ka’bah 7 kali, kami melakukan Sa’i dan tahalul. Alhamdulillah umroh pertama kami selesai. Kami pun berdoa di depan Ka’bah dengan penuh haru. Setelahnya kami kembali berjalan kaki ke hotel untuk beristirahat. Sesampai di hotel kaki Giri kembali bengkak dan nyeri. Dan kami mengulang lagi mengistirahatkan kaki dan membalurnya dengan minyak yang kemarin. Setelah rasa nyeri berkurang, kami kembali ke mesjid untuk berbuka, shalat tarawih dan ‘itikaf semampu kami.

Demikianlah rutinitas kami selama lebih dari sepuluh hari. Kami sempat 3 kali mengulang umroh dan melakukan ibadah kami di masjidil Haram. Dan suamiku selalu pulang ke hotel dalam keadaan kaki membengkak dan siap untuk dibalur. Terus terang, aku sangat khawatir, melihatnya terpincang-pincang seusai ibadah.  Setelah seminggu dengan keadaan ini, dia pun mulai tidak sanggup menekuk kakinya untuk shalat dengan duduk dan sujud sempurna. Meskipun kakinya masih kuat untuk digunakan berjalan, akhirnya dia memutuskan untuk membeli kursi, yang berfungsi sebagai tongkat pembantu saat berjalan, sekaligus kursi untuk duduk saat shalat di dalam masjid.

Hingga suatu hari, Jum’at terakhir sebelum Idul Fitri. Saat Sahur, pembimbing kami memperingatkan. Seandainya pada saat Tawaf ada orang-orang Indonesia yang menawarkan jasa untuk membimbing mendekat ke Hajar Aswad, sebaiknya kita tolak. Mereka akan meminta uang yang cukup besar setelah berhasil menggiring kita untuk mencium Hajar Aswad. Mereka seringkali mencari tambahan dari jamaah indonesia dengan cara sedikit memaksa. Dan memang betul, siang itu sebelum shalat Jum’at kami sempat didekati oleh orang-orang itu. Tapi kami tolak dengan halus. Setelah mereka berlalu suamiku berkomentar dengan sinis :

“Cari uang di tanah Haram kok kayak gitu, memalukan orang indonesia saja. Lebih baik mereka menawarkan jasa pijat sekalian. Lebih bermanfaat! “ Katanya.

“Sst, Papa jangan asal bicara! Nanti mereka dengar gawat, banyak temannya!” kataku.

Adzan berkumandang. Kami pun berpisah dan berjanji akan bertemu di Gate 4 seusai Shalat Jum’at. Aku ke bagian wanita, sementara Giri  tertatih-tatih dengan tongkat dan kaki bengkaknya ke bagian pria.

Setelah beberapa saat, shalat Jum’at pun selesai. Aku menunggunya di Gate 4 sesuai janji. 10 menit, 20 menit, 30 menit menunggu. Aku mulai cemas. Apa yang terjadi dengannya? Tidak biasanya dia meleset dari janjinya sampai selama ini. Bayangan-bayangan menakutkan mulai bermain di otakku: “Bagaimana jika ada yang mendengar ucapannya tadi? Lalu.. Ah Ya Allah lindungilah suamiku lindungilah aku.” Dalam cemas aku berdoa, agar Allah menjawab kecemasanku dengan berita baik. Aku melirik jamku, sudah 45 menit dia meleset dari janjinya. Mana mungkin. Aku menebar pandangan seluas-luasnya, berharap sosoknya yang terpincang-pincang dengan bersangga pada kursi lipatnya segera muncul. Tapi dia tak kunjung datang. Seorang Askar tampak curiga memperhatikanku yang tidak bergeming dari depan pintu sejak tadi. Dia mengusirku karena menghalangi jalan orang-orang yang akan keluar masuk. Akupun bergeser ke tempat yang lebih terbuka dan lebih panas, membiarkan sinar matahari melahap dan membakar kulitku, aku tak peduli. Aku ingin segera bertemu suamiku.

Tiba-tiba aku melihat sesosok yang mirip dengannya, berjalan sangat cepat dan tegak, menenteng ransel hitamnya dan juga kursi lipatnya yang digantungkan di bahunya. Dia samasekali  tidak terpincang-pincang, dan tersenyum dengan sangat gembira. Aku mengucek mataku. Apakah ini halusinasi atau fatamorgana di pelataran mesjid yang sangat terik ini? Aku tak berani berkedip, takut dia menghilang dari pandanganku. Hingga..

“Mam, Alhamdulillah aku sembuh! Lihat kakiku!” katanya dengan mata berkaca-kaca. 

Ya betul, dia Giri suamiku! Dia orang yang sama yang beberapa jam lalu masih berjalan terpincang-pincang dengan pergelangan kaki yang bengkak dan memerah. Kakinya tampak kempis dan sehat, hanya kulitnya sedikit keriput dan menghitam bekas inflamasinya. Dan bau minyak  sereh bercampur kayuputih dan rempah-rempah yang hangat tercium begitu dalam.

“Apa yang terjadi? Dari mana saja?” hanya kata itu yang bisa terucap dari mulutku melihat keajaiban yang terjadi.

Giri pun bercerita. Setelah berpisah denganku tadi, dia mencari tempat untuk dapat melaksanakan shalat Jum’at dengan kursinya. Suasana mesjid sangat penuh, beberapakali dia terusir dari tempat yang dipilihnya untuk shalat oleh serombongan orang yang terlihat terganggu dengan kursinya. Merekapun memperlihatkan ekspresi jijik melihat kaki Giri yang sangat bengkak dan memerah. Ingin rasanya marah bila tidak ingat bahwa dirinya sedang berpuasa. Dia berusaha menenangkan diri dan mengalah pindah ke tempat lain berkali-kali. Hingga akhirnya dia berhasil  menemukan satu tempat kosong yang cukup sempit. Dia harus melipat sedikit kaki bengkaknya selama khutbah Jum’at dan shalat , agar tidak mengganggu orang di depannya. Setelah shalat Jum’at selesai, dia berusaha sedikit meluruskan kakinya untuk menghilangkan rasa sakit, tanpa sengaja dia menyentuh punggung seorang di depannya dengan kakinya. Giri cepat-cepat meminta maaf. Orang itu sempat kaget lalu membalikkan badannya dan melihat kaki bengkak Giri yang menendang punggungnya. Namun bukannya marah, dia malah merasa iba. Dengan Bahasa Arab dia bertanya apa yang terjadi dengan kaki itu. Giri menjawab dengan bahasa Arab bercampur Inggris dan bahasa Isyarat.  Orang itu menyentuh kaki Giri dan meminta izin untuk mengobatinya. Dia menanyakan seandainya ada obat atau minyak yang bisa dipakai untuk membalur kakinya. Suamiku mengeluarkan botol minyak balur yang selama ini kami pakai dari ransel hitamnya, dan memberikan padanya. Orang itu  membuka tutupnya, menghirup dalam-dalam aroma minyak itu lalu tersenyum dan berkata :

“Bismillah my brother, let’s do the ikhtiar and let  Allah do the rest!”  sambil memulai memijat. Rasanya luar biasa sakit, berbutir-butir keringat sebesar jagung membasahi baju koko yang digunakan Giri. Dibalurkannya banyak-banyak minyak itu di seputar pergelangan kaki sambil terus memijat dan tersenyum menguatkan Giri agar bersabar sebentar  dan berzikir sambil menahan sakit. Setelah beberapa menit yang rasanya bertahun-tahun. Dia meletakkan kaki Giri di atas ransel hitamnya. “It’s done Alhamdulillah” katanya. Giri mengucapkan terimakasih. Orang itu mengisyaratkan agar Giri tetap duduk dan menunggu beberapa menit  sambil mengatur nafas yang terengah-engah karena kesakitan. Dia lalu berdiri dan mengucapkan Assalamu’alaikum dan menghilang diantara ribuan jamaah.

Seiring dengan menghilangnya orang itu, bengkak dan rasa sakit di kaki suamiku pun makin menipis, menipis dan hilang! Ajaib!  Giri langsung berdiri dan melangkah menuju ke gate 4 untuk menceritakan semuanya padaku.

Masya Allah, itulah cerita ajaib tentang kenikmatan ibadah umroh Ramadhan kami  sembilan tahun silam. Sejak saat itu, setiap kali mencium aroma Banjar message oil dari essentia Indonesia, ada suatu perasaan lega yang membahagiakan. Pelajaran tentang kesabaran dan semangat untuk tidak mudah menyerah mengisi penuh batinku. Aku selalu percaya akan keajaiban dan kesembuhan yang datang dari Allah di saat yang paling tepat. Bagaimana caranya dan kapan kita mendapatkannya? Hanya Allahlah Yang Maha Tahu.

Terimakasih ya Allah.