Mahasiswa S3 Mengaku Bodoh

Mahasiswa S3 Mengaku Bodoh

 

'Rasanya pengen gw tonjok deh mahasiswa S3 yang sok pintar ini. Udah dikasih masukan kritis dari awal bimbingan di bulan Maret 2021, gak didengerin juga. Tampilan slide presentasinya gak jauh berbeda dari awal pertemuan itu. Bahkan makin belibet.'  

Tinggal 3 hari lagi Pak Johan, mahasiswa S3 bimbinganku, harus presentasi di depan tim penguji untuk menentukan apakah dia bisa melanjutkan studinya atau tidak. Instingku sih mengatakan dia bakal disuruh mengulang ujian proposalnya. 

Dari sekian banyak bantahan ngeyel khas seorang petinggi di sebuah perusahaan yang tidak mau berubah, ada satu kalimat yang sangat menyebalkan sekaligus menyakitkan hatiku. 

"Mohon maaf Bu Yanki saya harus mengklarifikasi lagi dan menerangkan pada Ibu karena kebodohan saya. Mohon bimbingannya ya, Bu," tukasnya seakan merendahkan dirinya. 

Berhubung sudah lebih dari 10 kali dia ngomong seperti itu, emosiku pun tidak bisa dibendung lagi. Aku segera membalasnya, 

"Kalau Pak Johan yang sudah membaca ribuan jurnal terkait topik bahasannya masih mengaku bodoh, secara tidak langsung Pak Johan mau mengatakan bahwa saya jauh lebih bodoh lagi." 

"Ah, Ibu bisa saja," respons Pak Johan. 

Sebelum Pak Johan memotong perkataanku lagi, aku segera menambahkan, 

"Pak Johan mengaku sudah mengikuti arahan saya. Bahkan argumen penelitiannya juga sudah mengikuti jurnal-jurnal top itu. Coba tunjukkan pada saya di bagian mana itu."

Pak Johan segera mengarahkan slide presentasinya pada tabel dan bagan yang sangat rumit itu. 

"Ini Bu Yanki. Dalam tabel ini saya sudah merangkum segudang penulis top itu, Bu. Sementara gambar yang ini menunjukkan perkembangan topik yang saya bahas sejak awal sampai sekarang. Gambar ini sudah diapresiasi oleh beberapa dosen yang saya ajak diskusi lho, Bu." 

Aku tetap belum bisa memahami tabel yang ia buat. Sedangkan gambar seperti benang kusut itu sudah berkali-kali pula aku kritik karena too complicated. 'Atau jangan-jangan gw memang bodoh, yak,' gumamku di dalam hati.

"Strategic management memang bukan bidang saya. Jadi tugas Pak Johan justru harus membuat saya yang bodoh ini untuk memahami apa yang mau Bapak sampaikan. Gak perlu bawa-bawa nama besar penulis yang Bapak kutip atau jumlah jurnal yang sudah dibaca beratus-ratus kali. Demikian juga dengan interaksi Bapak dengan penulis dari model penelitian yang Bapak replikasi itu." Lanjutku dengan nada tegas.

"Cukup buat saya memahami argumentasi mengapa penelitian Pak Johan perlu dilakukan. Itu saja yang saya minta sejak awal." 

"Baik Bu. Mohon bimbingan dan arahannya ya, Bu." 

Perkataan ini pun sering diucapkannya selama bimbingan. Padahal sebagai tim promotor, apa yang kami sampaikan adalah arahan baginya agar dapat memenuhi standar penulisan disertasi. Isinya, ya harus dia tulis sendiri dong. 

Daripada aku semakin emosi, mending segera kuakhiri saja diskusi di Zoom yang sudah hampir 3 jam ini.