KERJASAMA ANTARA VOKASI DENGAN DU-DI

Dalam pendidikan didapatkan teori-teori ilmu pengetahuan. Seharusnya teori- teori yang diperoleh selama pendidikan dapat diterapkan dalam masyarakat , dalam dunia usaha dan dunia industri. Disinilah peran sekolah vokasi sangat penting. pendidikan harus link dan match.

KERJASAMA ANTARA VOKASI DENGAN DU-DI
Mas Menteri

 

 

            DU-DI bukanlah nama orang. DU-Di yang penulis maksudkan di sini adalah Dunia Usaha dan Dunia Industri. DU-DI merupakan mitra pemerintah dan masyarakat yang paling penting dalam merespon kebijakan pemerintah. DU-DI merupakan suatu tempat perusahaan atau tempat industri yang menjadi relasi untuk pelatihan dan pembelajaran di luar sekolah yang digunakan untuk Prakerin (Praktek kerja industri). Pelaksanaan Prakerin dimaksudkan agar penerapan ilmu pengetahuan dasar yang kemungkinan besar dalam proses praktek kerja industri mendapatkan ilmu-ilmu baru dan pengalaman-pengalaman baru yang tidak didapatkan di Lembaga Kejuruan terkait.

            Betapa tidak, karena lulus sekolah/kuliah belum tentu langsung mendapatkan pekerjaan, sehingga kadang-kadang yang terjadi hanya menumpuk pengangguran terdidik. Kini sudah saatnya sekolah dan perguruan tinggi berbenah diri, meninjau ulang kurikulum yang disajikan, terutama pada sekolah dan program studi vokasi yang memang dipersiapkan untuk langsung terjun ke dunia kerja.

            Tidak sinkronnya antara teori-teori yang didapatkan dari sekolah dengan di tempat kerja sangat memprihatinkan, karena tidak semua lulusan SMK atau Prodi Vokasi langsung dapat menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi krisis pengangguran di usia muda yang sangat mengerikan. Di usia yang sangat potensial harusnya dapat memaksimalkan seluruh potensinya untuk membangun Indonesia.

            Hal ini mengingatkan penulis pada pendapat bapak Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1993 - 1998 yang terkenal dengan ‘link’ dan ‘match’ yang pada hakekatnya adalah peningkatan mutu agar kompetensi peserta didik sesuai dengan tantangan globalisasi. Menurutnya, hal tersebut merupakan keharusan mutlak dalam tataran global, agar bangsa Indonesia tidak tertinggal dalam percaturan dunia dan bahkan mampu bersaing. Untuk itu diperlukan magang yakni, pengalaman kerja yang disediakan suatu organisasi untuk jangka waktu terbatas.

            Makna link & match mengisyaratkan agar para lulusan mempunyai wawasan atau sikap kompetitif, seperti etika kerja (work ethic), motivasi mencapai (achievement motivation), penguasaan (mastery), sikap berkompetisi (competitiveness), sikap menabung (attitudes to saving) dan mengerti betapa bernilainya uang (money beliefs). Suatu pola pikir yang siap berubah dan siap meninggalkan zona nyaman (comfort zone) dari institusi pendidikan yang meliputi tenaga pendidik, tenaga pendidikan yang mau dan mampu bertindak pro aktif (be pro active), sehingga dapat terjadi sinergi yang signifikan antara dunia pendidikan dengan DU-DI.

            Dampak pandemi covid-19 yang melanda dunia, mengakibatkan ketimpangan antara kesempatan kerja yang tersedia dan lulusan yang dihasilkan sekolah/perguruan tinggi. Terjadinya ketimpangan tersebut berpotensi memberikan dampak negatif bagi generasi muda di seluruh dunia. Gap (jurang/kesenjangan) antara sisi penawaran dan permintaan yang ada di dunia nyata benar-benar menjadi keprihatinan kita bersama terutama di bidang pendidikan.

            Berapa kali pun kurikulum diubah/dibenahi juga belum menjawab kebutuhan. Relevansi dan sinkronisasi kompetensi keahlian sesuai kebutuhan dunia usaha/dunia industri belum juga terjawab dan belum memenuhi harapan. Berbagai usaha harus dilakukan jika Indonesia tidak mau terpuruk lebih dalam lagi. Bangkit dengan semangat tinggi, kerja keras dan kerja cerdas harus segera dilakukan, seiring dengan cita-cita bangsa Indonesia di hari Pendidikan Nasional (tanggal 2 Mei ) dan hari Kebangkitan Nasional (tanggal 20 Mei).

            Hendaknya terjadi transformasi di bidang pendidikan untuk menyambut era baru yang serba canggih ini. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa ada Pendidikan Formal, Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal, ketiganya harus berfungsi sesuai kapasitasnya masing-masing. Sebagus apapun kurikulum dibuat, pendidikan hendaknya fokus pada program keahlian terutama soff skill dan karakter. Melalui Program Pendidikan Vokasi diharapkan mampu menciptakan lulusan yang kompeten, terampil dan sesuai kompetensi yang dibutuhkan oleh DU-DI.

            Kurikulum harus disiapkan – disusun – disajikan kepada peserta didik secara menarik (enjoy learning), di sisi lain dunia industri berperan dalam me-rekrut – memberikan pelatihan – melakukan dan membiayai riset. Jika sekolah/perguruan tinggi bisa menyediakan lulusan yang profesional, berbobot dan mumpuni pasti tidak akan mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Bahkan, penulis berani mengatakan: “Lulus sekolah/kuliah tidak harus melamar pekerjaan namun, dilamar pekerjaan!”.

            Kemitraan yang harmonis dan solid akan segera terwujud apabila insan pendidikan segera do (melakukan), mengimplementasikan segala rencana indah yang telah tersirat dan tersurat, sehingga terjadilah suatu kerjasama yang baik dan benar. Pelaku usaha/industri memikirkan bidang keterampilan yang dibutuhkan untuk masa yang akan datang dengan jalan menyiapkan pembinaan bagi karyawannya agar kompetensinya tetap relevan dengan tuntutan pekerjaan, di sisi lain bagi mereka pencari kerja (yang umumnya masih berusia muda) senantiasa mengasah dan menyiapkan kompetensinya masing-masing agar tidak mengalami kesulitan untuk masuk di dunia kerja dan sekaligus berguna di lingkungan masyarakat.

            Persaingan di dunia kerja memang penuh tantangan, akan tetapi jika kita terbiasa atau membiasakan diri dengan menjalin kerjasama – berkordinasi – berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik, serta saling melengkapi dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada di masyarakat, niscaya tidak ada kesulitan yang berarti; semoga!

 

Jakarta, 24 Mei 2021

Salam sehat dari penulis: E. Handayani Tyas – tyasyes@gmail.com