Kebaya tanpa Buku: Seberapa Penting Sebuah Perayaan?
Selang dua hari setelah hari Kartini, kita berjumpa dengan hari buku sedunia, ini bukan tentang perayaan tetapi tentang sejarah yang berjalan dinamis tentang ingatan
Jika diperhatikan, baju batik dan kebaya kerap digunakan dalam beberapa momen resmi, hajatan, bahkan perayaan-perayaan tertentu. Hari Kartini misalnya, setiap 21 April dapat kita jumpai kemeriahan busana “khas” itu. Kita memotret diri. Kita mengunggahnya dan menyebutnya penghormatan kepada Kartini.
Tidak ada yang salah dengan batik atau kebaya. Tidak ada yang salah dengan foto. Tentu yang patut dipertanyakan adalah bagaimana sebuah perayaan untuk perempuan yang menghabiskan hidupnya berjuang demi akses perempuan terhadap pendidikan justru paling terasa hadir dalam bentuk pertunjukan penampilan, bukan apresiasi pengetahuan, literasi bahkan spirit emansipatifnya.
Raden Ajeng Kartini tidak menulis tentang busana. Ia menulis tentang buku. Dalam surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, ia berulang kali menyebut buku sebagai jendela, sebagai senjata, sebagai teman yang tidak pernah mengkhianati. “Door duisternis tot licht” dari gelap menuju terang, atau habis gelap terbitlah terang bukan sekadar judul yang dipilih J.H. Abendanon untuk menghimpun surat-suratnya setelah ia wafat. Itu adalah program hidup Kartini. Membaca, baginya, bukan sekadar hobi, itu adalah tindakan perlawanan terhadap dunia yang membatasi perempuan pada ruang sempit yang sudah ditentukan untuknya. Setiap halaman yang ia baca adalah lubang kecil di tembok penjara adat pun ritus strata “perempuan” yang mengelilinginya.
Dalam sepucuk surat bertanggal 1899, Kartini menulis kepada Stella tentang betapa ia merasa tersiksa oleh keterbatasan akses pada buku dan majalah. Ia memohon dikirimkan bacaan, karena bacaan adalah satu-satunya cara ia bisa “pergi” melampaui dinding dalem Jepara yang mengurungnya. Perempuan yang paling haus membaca di zamannya itu kini diperingati dengan cara yang hampir tidak ada hubungannya dengan membaca.
“Habis gelap terbitlah terang” kalimat itu bukan hanya metafora tentang harapan. Itu adalah pernyataan epistemic, bahwa cahaya datang dari pengetahuan, bukan dari penampilan. Ironinya yang menyakitkan adalah tentang peringatan Hari Kartini lebih banyak dirayakan dengan lomba kostum daripada dengan membaca, memahami buku pun konteks literatif yang lain. Ketika sekolah-sekolah sibuk mempersiapkan parade kebaya, sementara perpustakaan sekolah kalaupun ada tetap sunyi sepanjang tahun. Ironi ini bukan sekadar kecanggungan perayaan atau hyper ceremonial, tetapi juga mencerminkan sesuatu yang lebih dalam, tentang cara memahami pendidikan itu sendiri.
Pendidikan dan Peringkat Literasi
Kita telah lama merayakan simbol pendidikan alih-alih substansinya. Bahkan kerap bangga dengan angka kelulusan, dengan jumlah sekolah yang dibangun, dengan seragam yang rapi dan upacara yang tertib. Gedung-gedung sekolah baru terus didirikan, anggaran pendidikan diamanatkan konstitusi sebesar 20 persen dari APBN, dan wajib belajar diperpanjang hingga dua belas tahun. Namun semua infrastruktur dan kebijakan itu menghadapi satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab dengan data anggaran, apakah kita sungguh-sungguh mendidik anak-anak kita untuk mencintai pengetahuan?
Jawaban yang paling jujur tersimpan dalam data yang jarang kita bicarakan dengan serius di ruang publik. Peringkat 70 dari 81 negara, Skor literasi Indonesia dalam PISA 2022 menempatkan kita di kelompok terbawah di antara negara-negara yang diukur. Bukan karena anak-anak Indonesia kurang cerdas, melainkan karena sistem kita belum cukup serius menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban yang berakhir di lembar ujian.
Data itu bukan tuduhan. Ia adalah cermin. Dan cermin tidak berbohong meski kita sering tidak suka melihat ke sana. Yang lebih mengkhawatirkan, hasil ini tidak datang tiba-tiba. Indonesia secara konsisten menempati posisi bawah dalam asesmen literasi internasional selama lebih dari dua dekade. Artinya ini bukan krisis dadakan, ini adalah kondisi struktural yang telah kita normalisasi.
Di sinilah relevansi Hari Buku Sedunia yang jatuh tiap 23 April hanya dua hari setelah Hari Kartini. Kedekatan tanggal ini hampir terasa disengaja oleh sejarah. Hari Buku Sedunia ditetapkan oleh UNESCO pada 1995, memilih tanggal 23 April karena pada hari itulah Miguel de Cervantes, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega wafat pada tahun yang sama yaitu tahun 1616, sebuah kebetulan yang kemudian dijadikan simbol universal tentang kekuatan sastra dan pengetahuan tertulis. Hari itu merayakan buku sebagai instrumen pembebasan intelektual yang melampaui batas bahasa dan bangsa.
Kartini, perempuan yang meraih kebebasan berpikirnya melalui buku di tengah isolasi fisik yang melingkupinya, adalah perwujudan paling sempurna dari semangat hari itu. Ia tidak perlu pergi ke Belanda untuk mendapat pendidikan tinggi, sebagian besar pendidikannya ia bangun sendiri, dari tumpukan buku dan majalah yang ia kumpulkan dan pinjam, dari surat-menyurat yang ia jaga dengan sungguh-sungguh sebagai ruang pertukaran gagasan. Buku, bagi Kartini, adalah universitas yang tidak memerlukan izin dari siapa pun.
Mengapa tidak kita rajut keduanya? Mengapa tidak kita jadikan pekan antara 21 dan 23 April sebagai momen di mana perayaan Kartini tidak hanya soal siapa yang paling anggun berkebaya, tapi juga soal siapa yang paling serius membaca atau lebih penting lagi, siapa yang paling serius memastikan orang lain bisa membaca? “Menghormati Kartini dengan membaca bukan romantisme. Itu konsistensi antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan.”
Bayangkan jika sekolah-sekolah di seluruh Indonesia menjadikan pekan Kartini sebagai pekan literasi, di mana siswa membawa buku, bukan hanya kebaya; di mana guru berbicara tentang surat-surat Kartini yang sesungguhnya, bukan hanya lagunya yang terkenal itu, di mana perpustakaan menjadi pusat perayaan, bukan hanya aula upacara. Bayangkan jika orang tua, selain mengajari anak-anak mereka cara memakai kain, juga mengajak mereka ke toko buku atau ke perpustakaan daerah yang di banyak kota, masih sepi pengunjung kendati gratis.
Ini bukan gagasan yang mustahil. Beberapa negara dengan skor literasi tinggi membangun budaya membaca bukan melalui kurikulum semata, melainkan melalui ritual kolektif dengan membaca bersama di ruang publik, festival buku yang menjangkau daerah terpencil, program di mana tokoh masyarakat membacakan cerita untuk anak-anak. Budaya tidak tumbuh dari kebijakan saja, ia tumbuh dari kebiasaan yang diulang bersama, dari perayaan yang memberi makna pada tindakan sehari-hari.
Dalam konteks ini sejatinya, yang perlu ditambahkan adalah lapisan makna yang lebih dalam, bahwa busana hanyalah kulit, sementara pendidikan adalah isinya. Bahwa perayaan simbolik akan tetap hampa jika tidak disertai kerja nyata mengubah angka literasi yang memprihatinkan itu. Kebaya dan buku bukan dua hal yang bertentangan. Masalahya adalah ketika yang pertama menyedot seluruh perhatian sementara yang kedua terlupakan sepenuhnya.
Kartini tidak butuh dikenang dengan cantik. Ia butuh dikenang dengan sungguh-sungguh. Dan kesungguhan itu berbentuk buku yang dibuka, bukan hanya foto yang diunggah. Kesungguhan itu berbentuk perpustakaan yang hidup, guru yang membaca, dan anak-anak yang tidak takut pada gagasan, persis seperti yang pernah Kartini impikan untuk bangsanya, dari sebuah kamar di Jepara, lebih dari seabad yang lalu.
Jika kita benar-benar ingin mewarisi semangat Kartini, tentu bukan sekadar estetikanya, perayaannya, mungkin pertanyaan yang layak kita ajukan setiap 21 April bukan “Apa yang akan saya pakai?” melainkan “Apa yang sudah saya baca dan siapa yang saya bantu untuk bisa membaca dan belajar bersama tentang mengingat?”
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



