DOUBLE SURPRISE

DOUBLE SURPRISE

Hai, nama gue Steve. Hari ini lagi gak ada jadwal kuliah. Dengan rasa optimis tinggi, gue ke rumah teman gue yaitu Caca membawa ide di kepala. Gue pengen memberikan hadiah ulang tahun spesial buat Yasmin, gebetan gue yang tinggal di kota yang berjarak kurang lebih 888 km dari tempat gue berdiri sekarang. Dan gue tau, Caca adalah teman yang tepat untuk membantu gue, secara dia jago animasi dan sedikit banyak tau tentang hidup gue.

“Hey, Steve. Semangat banget lo hari ini,” sapa Caca ketika gue langsung masuk kamar tidurnya.

“Iya dong. Jatuh cinta memang bikin semangat,” balas gue yang langsung duduk di samping Caca di depan meja komputer. Gue langsung nyolok flashdisk gue di komputer dan membuka sebuah folder yang berisi foto-foto Yasmin.

“Ini foto-foto Yasmin dari kecil ampe sekarang. Gue kumpulin dari facebook dan instagramnya. Dan seperti yang gue cerita kemarin, gue pengen buat komik mini dari kolase foto-foto ini yang akan ceritain dia dari kecil ampe sekarang kuliah”, kata gue sambil ngeliatin foto-foto Yasmin ke Caca.

Flashback, gue ketemu Yasmin pertama kali di sebuah pementasan teater di kota tempat tinggal Yasmin. Berjalannya waktu, gue menjadi cukup dekat dengan keluarga Yasmin juga. Sudah beberapa kali gue berkunjung ke rumahnya dan keluarganya malah nyuruh nginap tiap ke sana, dibanding harus menyewa hotel. Walaupun begitu, Yasmin masih belum terlalu membuka dirinya lebih dalam ke gue. Mungkin karena kami beda agama, dia muslim dan gue Budha.

Gue dan Caca kemudian memilih foto-foto Yasmin yang cocok dijadikan komik. Ada foto momen dia lulus TK, foto bermain bersama keluarganya, dan foto dia ikut kontes modelling. Kira-kira sekitar 30 menitan kami berhasil sortir semua foto yang akan kami masukkan dalam design komik mini.

“Gue susun dulu ya foto-fotonya, trus lo pikirin kata-katanya,” perintah Caca ke gue.

“Siap bos,” gue sambil hormat ke Caca. Caca lalu sibuk mengutak-atik komputernya dan gue telentang di tempat tidur sambil mikir dan nulis kata-kata buat komik.

“Lo kenapa bisa suka sih ama Yasmin? Kan lo jarang banget ketemu,” tiba-tiba Caca nyeletuk.

“Pertama kali ketemu dan kenal dia, gue udah tertarik,” jawab gue.

“Karena dia cantik dan mukanya sedikit bule?”, balas Caca lagi.

“Bukan sih. Tapi karena dia polos, baik, dan sulit ditebak orangnya,” gue menjawab sambil menulis kata-kata di kertas.

Gue dan Caca lalu melanjutkan kerjaan masing-masing. Caca sibuk membuat layout yang keren dari setiap halaman komik mini tersebut. Dan di atas tempat tidur, gue semakin deg-degan menulis kata-kata terbaik buat komik ini. Maklum, namanya lagi jatuh cinta.

Akhirnya layoutnya Caca kelar dan kata-kata yang gue buat juga selesai. Gue langsung beranjak ke samping Caca. Satu per satu kata-kata itu kami masukin disesuaikan dengan foto. Sambil Caca masukin kata-kata, gue ijin keluar kamar dan menelpon Yasmin.

“Kamu lagi ngapain, Yas?”, gue sedikit deg-degan.

“Aku lagi bersih-bersih rumah nih, persiapan pengajian,” suara Yasmin dari seberang telpon.

“Oh yawda. Kamu lanjutin aja bersih-bersihnya. Salam buat om dan tante ya,” gue mengakhiri pembicaraan.

Menurut Yasmin, keluarganya mau bikin pengajian pas hari ulang tahun Yasmin 2 hari lagi. Gue pun berpikir mungkin karena udah beberapa bulan ini Yasmin sudah mengenakan jilbab, jadi biar makin berkah kalo buat pengajian di hari ulang tahun.

Gue langsung balik lagi ke kamar Caca. Ternyata kerjaan Caca hampir selesai. Kami lalu merapikan bareng hasil design Caca. Gue suka banget dengan hasil kerjaan Caca yang kreatif dan rapi. Beberapa kata-kata gue yang kurang cocok, dia perbaikin biar lebih pas dengan cerita komik.

“Lo akan terus gebet dia, Steve? Kan agamanya dia ngelarang kalo beda agama, apalagi dia sekarang udah pake jilbab loh,” celetuk Caca lagi sambil dia bekerja.

“Itu yang masih jadi pikiran gue, Ca. Pusing euy. Di satu sisi, gue suka banget sama dia. Tapi di sisi lain, gue masih bingung soal beda agama,” balas gue sambil mutar-mutar pulpen di jari gue.

“Gue sih sebagai teman, dukung-dukung lo aja. Dan gue akan bangga kalo lo ntar bisa nyatu ama Yasmin dengan agama masing-masing. Tapi, lo tetap harus ikuti kata hati lo. Jangan sampe lo nyesal karena pilihan yang ragu-ragu,” Caca memberikan nasehat.

“Iya, Ca. Makanya gue terus berdoa nih biar dikasih tunjuk yang terbaik.”

Komik mini akhirnya selesai juga dikerjakan dengan design beberapa lembar saja. Gue berterima kasih banget ke Caca yang udah bantu gue selama beberapa jam barusan.

“Besok ya baru gue traktir makan. Soalnya abis ini, gue mau langsung cetak dan kirim biar nyampe pas ultah Yasmin,” seraya gue minta pamit ke Caca.

Gue segera mengendarai motor ke toko percetakan sore itu. Tapi dalam perjalanan, tiba-tiba turun hujan deras. Karena mengejar target pengiriman malam ini, motor gue pacu sambil basah-basahan karena gue lupa bawa jas hujan. Akhirnya tiba di toko percetakan dengan basah kuyup. Gue dengan pedenya lalu menyodorkan flasdisk ke petugas percetakan, meminta segera mencetak komik itu dan dibungkus kertas kado.

Beberapa lama menunggu, akhirnya komik selesai dibungkus. Gue langsung melaju ke tempat pengiriman. Untungnya, malam itu tempatnya belum tutup.

Tibalah di hari ulang tahun Yasmin. Sore hari sebelum acara pengajian Yasmin dimulai, tiba-tiba handphone gue berbunyi saat gue baru selesai mengikuti kelas di kampus. Di layar handphone gue, tertulis nomor mamanya Yasmin.

“Sore, tante,” jawab gue.

“Steve, ini aku Yasmin,” ternyata suara Yasmin.

“Ohh, kirain si tante,” balas gue.

“Makasih banyak ya, Steve. Hadiahnya udah nyampe. Aku suka banget. Papa dan Mama juga suka liatnya. Lucu katanya,” Yasmin menjelaskan hadiah itu.

“Sama-sama, Yas. Selamat ulang tahun ya. Semoga kamu sehat selalu dan sukses buat kuliahnya. Semoga pengajiannya juga lancar hari ini,” gue dengan perasaan lega dan senang.

Hari itu adalah hari terakhir gue mendengar suaranya. Setelah acara ulang tahun, gue gak bisa lagi mendengar suaranya. Dia gak ngangkat lagi telpon dari gue dan beberapa hari kemudian, nomornya sudah ga aktif lagi.

Selang beberapa hari berlalu, gue sengaja menelpon mamanya Yasmin mau menanyakan soal Yasmin. Dan saat itu, gue baru tahu dari mamanya kalau Yasmin sudah dilamar seorang pria yang umurnya agak jauh di atasnya. Lamaran itu terjadi saat pengajian di hari ulang tahun Yasmin, hari yang sama ketika terakhir gue merasa bahagia berbicara dengan dia lewat telepon.

Setelah menutup telpon dari mamanya Yasmin, gue hanya bisa diam. Gue hanya berpikir bahwa apakah gue ini bodoh atau ini sebenarnya adalah jawaban dari Tuhan???***END