A brother will always be a brother

A brother will always be a brother

 

“Kenapa harus aku sih?” kataku kepada kakakku yang duduk di bangku supir dan temannya yang duduk di belakang.

Batas kepercayaanku sudah di titik nol, keusilan mereka terhadapku terlalu sering untuk kusebutkan disini. Jadi ketika kami diminta oleh mama untuk mengambil barang di rumah tanteku, dan aku yang disuruh keluar dari mobil untuk mengambilnya. Aku menolak mentah-mentah.

“Ayo lah, kita kan parkir di pinggir jalan, kalau ada mobil gimana?” kata kakakku, berusaha membujukku untuk turun dari mobil.

“Iya Dit, biar nggak lama-lama,” tambah Dedi, teman akrab kakakku yang sering menginap di rumah.

“Oke, tapi awas ya kalau ngisengin aku lagi,” Aku akhirnya mengalah dan turun dari mobil kijang kotak yang waktu itu masih jadi mobil kesayangan kakakku.

Aku masuk ke dalam rumah tanteku dan mengambil barang pesanan mama, tanpa berbasa-basi lebih lama lagi dan langsung keluar rumah.

Mobil kijang kakakku masih terparkir di depan rumah, posisinya agak sedikit maju. “Mungkin tadi ada mobil mau lewat, jadi mereka harus memindahkannya” ujarku dalam hati. Aku masuk dan langsung duduk di bangku supir tanpa melihat dengan jelas isi mobilnya.

“Yuk, cepet balik, nanti kamu disuruh masuk lho sama Tante Evy,” aku berkata sambil menengok ke arah bangku supir yang ternyata diduduki oleh orang asing yang sama terkejutnya melihatku.

“Eh,” cuma ini yang bisa aku ucapkan dan perlahan-lahan penampakan isi mobil yang ternyata berbeda 360 derajat dengan mobil kakakku mulai masuk ke otakku.

“Maaf pak!” aku buru-buru keluar dari mobil sambil memohon maaf. Aku keluar dan melayangkan pandangan ke sekeliling jalan.

Tidak ada penampakan mobil kijang butut milik kakakku, mereka pergi meninggalkanku.

Hari itu aku pulang ke rumah diantar supir tanteku naik motornya dan meninggalkan setitik rasa percaya yang tersisa untuk kakakku di pinggir jalan.

"Nggak lagi-lagi deh." gumamku.