CMYK (part 1/8)

Kisah Tentang Cyan, Magenta, Yellow, dan Key

CMYK (part 1/8)

#1 AKU

Masa Kini

 

Keduanya hening. Lalu Yellow menyambarnya dengan pertanyaan.

“Jadi… kapan kamu mau ketemu orang tuaku? Melamar?”

“Mm… aku…”

“Ayah kena PHK. Ibu sakit-sakitan. Gajiku sebagai guru honorer enggak akan cukup untuk menanggung ekonomi keluarga. Merangkap jadi pegawai tata usaha pun tidak membantu. Harapan pengangkatan sudah kukubur dalam-dalam. Dengan menikah, setidaknya aku bisa membantu ekonomi keluarga. Dari penghasilan suami. Apakah calon suami itu kamu?”

Cyan hanya terdiam.

Lelaki itu terlambat untuk beralih ke dunia digital. Dia masih asyik menulis untuk koran dan majalah. Artikel lepas. Sampai tidak sadar, atau menutup mata kalau boleh bilang, bahwa koran dan majalah sudah banyak yang berguguran.

Koran dan majalah tempatnya menulis artikel, sudah jarang memberi orderan. Mereka sekarang mengandalkan wartawan dan fotografer yang merangkap pekerjaan. Penulis lepas mulai banyak dikurangi. Salah satunya Cyan.

Aku tahu itu semua karena sering mengintipnya saat menulis. Di bukunya, atau di tempat lain. Dia lelaki yang jorok menulis. Karena jika tidak ada buku, kertas sembarang ditulisi, tembok ditulisi, kursi ditulisi, meja pun ditulisinya.

“Gimana karir menulismu?” tanya Yellow lagi.

Cyan hanya menghela napas, sambil memutar-mutar penanya.

“Udah kubilang kan, mestinya sejak lulus kamu cari peruntungan lain. Gak perlu seidealis ini. Jadi karyawan itu bukan dosa. Egomu aja yang terlalu tinggi. Sekarang egomu itu belum sanggup melamarku.”

Giliran Yellow menghela napas. Lebih panjang dari Cyan.

“Aku… masih perlu waktu, El.”

Yellow langsung mendelik mendengar ucapan Cyan barusan.

“Waktu? Sepuluh tahun masih kurang ya untuk kamu?”

Yellow menutup mukanya dengan kedua tangan. Aku melihat bulir air di sudut matanya.

“Sekarang jawab aku,” Yellow tiba-tiba mengangkat kepalanya, “apa rencanamu?”

“Sepertinya aku harus mulai banyak menawarkan tulisan di digital. Atau menjadi ghost writer, atau menulis fiksi…”

Perempuan itu kembali menutup mukanya sambil menunduk, menggelengkan kepalanya, dan menghela napas panjang.

“Kamu yakin profesi itu semua bisa menghidupi keluarga? Apa uangnya rutin didapat? Dan kamu baru berencana, belum memulainya. Sedang kamu udah enggak muda lagi.”

“Tidak ada kata terlambat, kan?”

Suasana hening kembali. Yellow sudah tidak ada gairah untuk membalas ucapan Cyan yang terakhir tadi.

“Aku pulang dulu.”

Yellow berdiri dan segera beranjak pergi.

“Kamu tentu masih mau di sini, kan? Pasti melamun lagi.”

Ia tidak menunggu jawaban kekasihnya yang terus diam. Perempuan itu mengambil tas kecilnya, lalu melangkahkan kaki menuju motornya di parkiran. Tidak jauh dari taman kota ini.

Aku bisa menatap punggungnya. Rambutnya pirang sebahu. Sesuai namanya, wanita itu memang Yellow. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya tidak gelap. Wanginya segar seperti lemon. Tapi ucapannya juga bisa bikin perih, seperti jeruk nipis yang diperas ke atas luka bikin pedih.

***

Papa memang punya uang cukup untuk melamarnya. Tapi aku harus bisa menutup biaya nikah minimal setengahnya. Saat ini sudah ada seperempatnya. Aku harus mencari orderan menulis lainnya. Mungkin menulis fiksi? Ah, menikah itu menyulitkan!

Aku berhasil lagi mengintip tulisannya. Dia menulis di buku yang sudah lecek. Entah sudah berapa tahun dia menulis di buku itu. Sekarang sudah era modern, tapi dia masih saja menulis pakai pena. Padahal di ponsel begitu mudahnya. Lelaki ini milenial tapi kolonial.

Untuk lelaki yang usianya sudah menyentuh kepala tiga pertamanya, dia masih banyak galau. Ekonominya belum stabil. Karirnya masih mencari-cari. Kadang ada orderan menulis artikel, kadang kosong. Pendapatannya hanya cukup untuk dirinya sendiri.

Sejak Yellow beranjak tadi, Cyan masih duduk di situ. Bersama bukunya. Dan tatapan sendu. Aku pun masih di hadapannya. Tapi dia acuh saja. Sebelum beranjak pergi, dia menulis lagi, tapi tidak di buku.

Help! –121116

Baru satu langkah dia beranjak, lalu terhenti. Kemudian merogoh saku celana dan mengangkat teleponnya. Ekspresinya langsung berubah setelah dialog beberapa kalimat.

“Di mana mereka sekarang, Pak?”

Hening sejenak.

“Jalan Pasteur, ya. Saya ke sana sekarang! Tolong ya, Pak…”

Mendadak dia pun pergi dengan terburu-buru. Berlari menuju motornya. Aku melihat ada powerbank tertinggal di bangku itu.

***

Sudah menjelang senja. Kulihat dari kejauhan gadis pirang itu datang lagi. ia lihat sekeliling meja, lalu tatapannya mencari ke arah kolong. Kemudian senyuman terbit dari bibirnya.

“Naahhh, ini dia! Dari tadi dicariin.”

Ternyata powerbank miliknya. Kenapa aku tidak sadar ya. Segala yang berbau kuning dan warna turunannya lekat dengan perempuan itu. Termasuk si powerbank jingga.

Ia berdiri mematung sambil membaca layar ponselnya. Ekspresinya berubah drastis. Seperti yang bingung.

“Kamu di mana?”

Tentu saja aku tidak bisa mendengar jawaban di ujung sana. Mode pengeras suaranya tidak diaktifkan. Yang kudengar hanya Yellow yang berbicara di sambungan telepon.

“Kecelakaan di mana?”

“Nanti aku ke sana...”

Yellow mematung. Memandangi tulisan. Lalu duduk lemas di bangku biru itu. Entah tulisan mana yang ia baca, tapi kurasa “Help!” itu pasti terbacanya. Dan kuyakin ia tahu siapa penulisnya. Tulisan tangan yang khas. Selalu miring ke kiri, dan pasti menanjak. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya.

Ia mengambil pena dari tas kecilnya. Juga menulis, tepat di bawah “Help!”.

Tragedi.

Ambisi.

Intuisi!

Ia menuliskan huruf depannya besar-besar. Sehingga kita bisa menebak tiga huruf pertama itu jika disusun akan membentuk kata baru. Entah, apa ia sengaja menuliskannya seperti itu. Berjajar tiga ke bawah.

Yellow membanting penanya. Lalu menyimpan kepalannya di atas tulisan itu. Seperti menahan amarah yang lama terpendam. Kemudian pecah tangisnya.

Aku memandanginya pilu. Ingin rasanya meminjamkan bahu ini. Atau kaki ini untuk berdiri. Cukup lama ia terisak, sampai akhirnya perempuan itu menekan nomor-nomor di ponselnya. Aku mendengar nada sambung, kemudian terangkat.

“Ta… kamu di mana…”

Ada jawaban kecil di ujung telepon, aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi nadanya terdengar berat. Seorang pria sepertinya.

“Aku ke sana, ya, sekarang…”

Yellow pergi meninggalkanku. Masih dengan isak tangisnya. Apakah ia putus asa? Atas apa? Ah, ia tak mau cerita.

***

Sudah dua minggu ini aku tidak melihat mereka berdua bersama. Paling salah satunya saja. Atau “salah dua”.

Seperti Cyan beberapa hari yang lalu. Sendiri saja merenung. Dan menulis-nulis sesuatu. Di buku, dan di tempat lainnya. Tulisannya memang pendek-pendek, tapi sarat makna. Tempat lain itu sudah hampir penuh. Sulit mencari ruang kosong. Akhirnya dia tulis kecil-kecil. Seperti di pojok kanan bawah itu.

Papa, tiada.

Mama, tiada.

Pekerjaan, tiada.

Wanita, tiada.

Nyawa…? –261116

Entah apa maksudnya. Dia masih mengacuhkanku. Tapi kuartikan, nyawa berarti semangat hidup. Cyan tiga bulan ini sudah jarang ke taman kota. Sejak dia bilang ke Jalan Pasteur itu dengan terburu-burunya. Mungkin kesimpulannya dua baris teratas itu. Orang tuanya meninggal. Lalu lelaki berwajah sendu itu kehilangan pekerjaannya. Terakhir, pria yang berkulit terang itu juga kehilangan kekasihnya. Yellow. Pantas dia hari ini begitu mellow.

Beberapa hari lalu aku melihat “salah dua”. Yellow dan pria yang digandengnya. Bukan Cyan. Mereka pun duduk di bangku biru itu. Tertawa bersama, makan bersama, cerita bersama. Kehidupan terasa indah. Kehidupan mereka tidak seperti yang aku lihat antara Cyan dan Yellow. Yang penuh keheningan.

Mungkin Cyan dan Yellow sudah terlalu lama bersama. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Hubungan mereka terjalin sejak Cyan kuliah dan Yellow masih SMA. Sedangkan Yellow dan Magenta, baru menjalani kehidupan mereka bersama baru-baru ini saja. Yang keluar pasti yang baik-baiknya saja. Demi citra. Demi kelanggengan di permulaan hubungan.

Aku tahu namanya: Magenta. Yellow biasa memanggilnya Genta. Dan yang kulihat ada kemiripan fisik antara Magenta dan Cyan. Keduanya berkulit terang. Mukanya manis sebagai pria. Bibirnya berwarna segar. Rambutnya licin dan jatuh. Bedanya, Cyan membelah rambutnya, sedangkan Magenta membuatnya berponi lempar.

Ternyata selera Yellow yang seperti itu. Aku yang cokelat ini apalah artinya. Terlihat kusam. Menghilangkan selera. Apalagi dengan cedera di sana sini. Dan coretan-coretan di tubuhku ini, sudah barang tentu tidak disukainya.

Dan aku tahu, Yellow memilih menggandeng Magenta dibandingkan Cyan, karena strata ekonomi yang berbeda. Begitu sederhananya keputusan. Walaupun mereka punya kisah sepuluh tahun bersama, tampak tidak ada artinya dibandingkan kemapanan.

Mereka kalau ke sini datang dengan mobil putih bersih yang kacanya gelap. Bukan mobil mewah, tapi tetap saja mobil, dibandingkan motor belelnya Cyan. Dari usianya, Magenta juga terlihat lebih tua, lebih matang. Dan gaya bicaranya… sangat mapan.

***

Hari ini Cyan mengambil posisi duduk di ujung kiri. Biasanya dia konsisten di ujung kanan, dan sisi satunya untuk Yellow. Muka lelaki itu semakin tirus dan pucat. Bibirnya tidak lagi segar. Dia mengambil pena dari tasnya. Dan mulai mencari-cari area tulis yang kosong di tempat lain.

Akhirnya dia temukan tempat di pojok kiri bawah. Segera menulis dengan karakternya. Tulisan miring ke kiri, dan menanjak.

Persetan dengan dunia!

Nyawa, tiada. –241216

Lelaki ini benar-benar sudah kehilangan semangatnya. Jalannya lesu, dan tidak ada gairah. Dia sudah menyalakan motor belel merahnya. Motor bebek keluaran tahun tujuh puluhan itu hilang dari pandangan. Tapi ada satu ekspresi terakhir dari wajahnya. Setelah menuliskan “Nyawa, tiada” ada senyum di situ. Walaupun matanya berkaca.

***

Kalau kau mau tahu apa isi pembicaraan Yellow dan Magenta selama ini, sebenarnya remeh-temeh saja. Seperti muda-mudi yang baru berpacaran. Banyak basa-basi untuk menambah kemesraan dan kemanjaan hubungan.

Tapi pagi ini berbeda. Mereka memulai pembicaraan yang serius. Dan Yellow mengambil inisiatif untuk menyambar pertama kali.

“Genta, kapan kamu mau datang ke rumahku… ketemu Ayah dan Ibu.”

“Apa kamu mau aku datang sendiri, atau dengan kedua orang tuaku?”

Wajah Yellow berbinar. Beda ujung langit dan bumi dengan jawaban Cyan yang… ah, aku rasa dia hanya diam saja waktu itu.

“Kamu mau melamarku?” ujar Yellow girang.

Rasanya bola mata perempuan itu hendak keluar saking membelalak girangnya. Ia pun memeluk lengan Magenta dari samping.

Dan aku, tetap di sini, diacuhkan keduanya.

“Kasih tahu Ayah dan Ibu, aku dan orang tua akan datang minggu depan.”

Semakin erat pelukan Yellow, dan ia merebahkan kepalanya di pundak bidang Magenta. Jawaban itu yang tidak didapatkannya dari Cyan. Walau bertahun-tahun kemudian lamanya. Kasihan.

Tak lama, Magenta mengutak-atik ponselnya. Dia sodorkan pada Yellow. Ada kabar yang sedang viral di berita online sore itu.

“Innalillahi!” ucap Yellow.

“Ya, percobaan bunuh diri. Sudah semakin sempit jalan pikiran orang sekarang, ya. Sayangnya tidak langsung mati. Sudah gagal bunuh diri, sekarang harus menanggung hidup cacat tanpa kaki.”

Senyum Magenta menyungging tipis di bibirnya.

Ada air mata yang membasahi pipi perempuan beralis tipis itu. Yellow bisa mengenali pria dalam berita itu, walau hanya ditulis inisialnya saja dan foto yang sedikit diburamkan. Apalagi di berita itu tertulis: pria yang melakukan percobaan bunuh diri dari jalan layang itu menggunakan motor bebek keluaran tahun tujuh puluh berwarna merah.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Magenta.

“Gak apa-apa…” isak Yellow sambil mengusap air matanya.

“Perempuan itu kalau ada apa-apa selalu bilang gak apa-apa, ya,” goda Magenta.

Yellow hanya tersenyum sambil memukul pemilik pundak yang bidang itu manja.

oOo