5 SIKAP AGAR TERJALIN KOMUNIKASI EFEKTIF

Agar tidak terjadi konflik dalam hubungan interpersonal, diperlukan jalinan komunikasi yang efektif. Masing-masing pribadi harus memiliki 5 sikap urgen sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

5 SIKAP AGAR TERJALIN KOMUNIKASI EFEKTIF

    Saat ini, ketika komunikasi tidak lagi dibatasi ruang dan waktu, manusia tak lepas dari kegiatan berkomunikasi. Mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi, bergelut dengan perangkat komunikasi. Bahkan, telepon pintar ini pun tak luput menjadi penghantar tidur bagi banyak orang. Silakan hitung, seharian ini sudah berapa kali Anda membuka gawai dan memelototi layarnya. 
    Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat melepaskan diri dari jalinan komunikasi dengan manusia lain. Pada saat ini, kontak sosial sudah tidak lagi harus bertatap muka secara langsung. Melalui serangkaian kata-kata yang ditulis sebagai pesan, orang sudah dapat berinteraksi secara sosial dengan relasinya. Setiap hari bahkan setiap saat orang melakukan hubungan komunikasi terutama dengan bantuan alat yang dikenal dengan telepon selular.
       Tanpa berkomunikasi dengan orang lain, kehidupan manusia sebagai makhluk sosial menjadi tidak bermakna. Komunikasi inilah yang menyebabkan kehidupan manusia dapat berkembang dan berkelanjutan. Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. 
   Tidak sedikit orang mengalami kesulitan dalam melakukan hubungan komunikasi. Bahkan perusahaan bisnis menjadi macet atau terhambat akibat para pengelolanya tidak memanfaatkan komunikasi sebagai bagian dari produksi. Terhambatnya komunikasi dialami oleh banyak orang dalam berbagai profesi. Bahkan tidak sedikit orang yang kurang menghargai pentingnya peranan komunikasi dalam kehidupannya. Sebaliknya orang-orang yang pandai memanfaatkan komunikasi, kehidupannya cenderung berkembang pesat, baik dalam berbisnis maupun dalam berorganisasi sosial.
      Kadang orang mengatakan bahwa komunikasi dapat mengakibatkan timbulnya konflik. Padahal, tanpa melakukan komunikasi pun sering timbul konflik. Mengapa demikian? Sesungguhnya sekelompok orang, katakanlah dalam sebuah keluarga, meski tidak terjalin komunikasi, namun di antara mereka tetap terjadi interaksi satu sama lain. Hanya saja, masing-masing individu yang seharusnya mengadakan komunikasi tetapi tidak melakukannya. Hal ini mengakibatkan timbulnya prasangka di masing-masing kepala. 
    Seringkali, prasangka tersebut berupa dugaan-dugaan negatif tentang orang yang seharusnya mereka jalin dalam komunikasi. Prasangka ini lah yang dapat menyebabkan ketegangan dan konflik di antara orang-orang dalam suatu komunitas. Konflik senantiasa melekat pada diri setiap orang.  Oleh karena itu, konflik dapat terjadi, baik dalam lingkup kecil seperti keluarga, apa lagi dalam lingkup yang lebih besar seperti organisasi sebuah perkantoran. 
      Sangatlah tidak mengenakkan bila terjadi konflik, baik bagi yang bersangkutan maupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Tentunya konflik ini perlu diselesaikan agar tidak berkepanjangan yang mengakibatkan kurang sehat bagi individu maupun kelompok. Bagaimanakah menyelesaikan konflik yang terjadi dalam suatu komunitas? 
      Konflik dapat diselesaikan dengan melakukan komunikasi. Akan lebih baik jika komunikasi dalam anggota yang berkonflik difasilitasi oleh orang yang ahli di bidangnya. Tidak perlu menunggu seorang yang ahli (expert) untuk menyelesaikan konflik. Jika tidak segera dibereskan, dikhawatirkan konflik akan meluas dan menjadi semakin berat permasalahannya. Yang terpenting adalah dalam kelompok yang sedang bertikai, terjadi komunikasi yang sehat yaitu komunikasi yang efektif. 
      Komunikasi disebut efektif jika pesan dapat diterima dan dipahami apa adanya seperti yang dimaksudkan. Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator (pemberi pesan) dan komunikan (penerima pesan) memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylavia Moss, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan.
      Komunikasi yang efektif dapat diupayakan, apabila masing-masing individu dalam komunitas baik lingkup kecil maupun lingkup yang lebih besar, memiliki sikap atau kepribadian yang mendukung. Menurut Joseph A. Devit, sikap yang harus dimiliki oleh para komunikator dan komunikan agar komunikasi yang terjalin menjadi lebih efektif, yaitu:
1.   Keterbukaan (openness), yaitu kemauan untuk menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi. Dalam hal ini, harus ada kesediaan membuka diri dalam mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan. Pengungkapan diri ini harus patut dan wajar. Komunikator dan komunikan dapat memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain. 
2.    Empati (empathy), yaitu kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami oleh orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang dan kacamata orang tersebut. Orang yang berempati mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang baik secara verbal maupun non-verbal. 
3.   Dukungan (supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi agar berlangsung efektif. Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan yang terdapat sikap mendukung. Seseorang dapat memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap deskriptif bukan evaluatif dan spontan bukan strategik. 
4.     Kepositifan (positiveness). Maksud positif di sini adalah tidak hanya berpikir tetapi juga merasakan. Jika seseorang memiliki perasaan positif terhadap dirinya, hal ini akan mendorong orang lain untuk lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif. 
5.   Kesetaraan (equality).  Komunikasi antar pribadi akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya, ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Kesetaraan meminta kita untuk memberikan penghargaan positif tak bersyarat kepada individu lain. Komunikasi antar pribadi sebenarnya merupakan suatu proses sosial dari orang-orang yang terlibat di dalamnya dan saling mempengaruhi.