Misteri Pembunuhan Rosa Luxemburg: Sang Perempuan Ikon Revolusi

Pada Mei 2007, jasad seorang perempuan tanpa kepala, kaki, dan tangan yang telah diawetkan ditemukan dalam ruangan bawah tanah sebuah rumah sakit di Berlin, Jerman. Muncul spekulasi bahwa jasad tersebut merupakan jasad Rosa Luxemburg, perempuan tokoh legendaris Jerman yang dibunuh secara misterius pada awal abad 20. Inilah permulaan dari pertualangan Dr. Tsokos untuk mengungkap jati diri jasad sang perempuan yang ia coba lakukan dengan menelusuri kekasih-kekasih Rosa Luxemburg.

Misteri Pembunuhan Rosa Luxemburg: Sang Perempuan Ikon Revolusi
Makam Rosa Luxemburg

Tubuh mungil perempuan setengah baya itu tersungkur jatuh ke jalan ketika popor senapan menghantam kepalanya. Tubuhnya yang tak berdaya diseret ke dalam sebuah mobil atap terbuka. Tak lama kemudian terdengar bunyi tembakan. Pada akhir Mei 1919, sekitar 4 bulan setelah kejadian tersebut, mayat seorang perempuan terapung pada permukaan kanal Kota Berlin. Pemerintah setempat mengonfirmasikan bahwa mayat tersebut adalah mayat tokoh aktivis perempuan, Rosa Luxemburg.

Hampir 90 tahun setelah kematian Rosa Luxemburg, yakni pada Mei 2007, jasad seorang perempuan yang diawetkan, tanpa kepala, kaki, dan tangan ditemukan dalam sebuah ruangan bawah tanah Rumah Sakit Charité di Berlin, Jerman. Jasad tersebut diketahui oleh Kepala Forensik Medis, Dr. Michael Tsokos, ketika ia sedang membereskan alat-alat rumah sakit yang akan dipindahkan. Muncul spekulasi, yang didukung oleh kesaksian-kesaksian petugas yang dahulu bekerja di rumah sakit itu, bahwa jasad tersebut merupakan jasad Rosa Luxemburg, pemimpin legendaris gerakan proletariat Jerman yang dibunuh pada awal abad 20. Menurut Dr. Tsokos, jasad tersebut memiliki ciri-ciri yang cocok dengan deskripsi tubuh sang martir kiri, salah satunya, kelainan pada panggul yang menyebabkannya berjalan pincang. Lantas, siapakah perempuan yang mayatnya terbawa arus kanal Berlin hampir 90 tahun yang lalu? Inilah kelanjutan dari tabir misteri yang mengitari pembunuhan Rosa Luxemburg.

 

Rosa Luxemburg

 

Dr. Rosa Luxemburg adalah aktivis dan pemikir asal Polandia yang hijrah ke Jerman. Ia menentang Perang Dunia I dan keterlibatan Jerman di dalamnya karena menganggap bahwa perang dan nasionalisme akan meruntuhkan solidaritas pekerja sedunia. Dalam berbagai tulisannya, Rosa menyakini bahwa gerakan buruh internasional melalui revolusi akan menumbangkan kapitalisme dan imperlialisme. Karena pandangannya ini, Rosa mendekam di penjara Jerman hampir selama Perang Dunia I berlangsung. Setelah dibebaskan pada 1918, ia bersama pemimpin sosialis, Karl Leibknecht langsung aktif kembali.

 

Malam Pembunuhan

Ketika situasi makin memanas, Rosa dan Karl terpaksa bersembunyi, tetapi keberadaan mereka akhirnya diketahui pihak lawan. Pada malam 15 Januari 1919, keduanya diciduk oleh anggota-anggota Freikorp, sebuah paramiliter yang dipimpin oleh tentara dan aktivis berhalauan kanan, Waldemar Pabst. Mereka dibawa ke Hotel Eden untuk diinterogasi. Beberapa saksi mata melihat Rosa di luar hotel dipukul kepalanya dengan popor senapan oleh salah satu Freikorp dan diangkut ke dalam sebuah mobil. Suara tembakan pun kemudian terdengar. Karl juga dihantam kepalanya dengan popor senapan di dalam mobil lain yang membawanya pergi.

 

Rosa Luxemburg saat berorasi, 1907

 

Dalam laporannya, para anggota Freikorp mengatakan bahwa Rosa meninggal akibat luka-luka yang disebabkan oleh penyerangan massa. Karl dikatakan mencoba melarikan diri sehingga ditembak. Namun, cerita kejadian yang sebenarnya pun beredar di tengah masyarakat, termasuk bahwa Karl telah ditembak di kepala di sebuah hutan.

Karl kemudian dikubur di pemakaman Friedrichsfelde. Setelah mayat perempuan yang muncul di permukaan Kanal Landwehr, Berlin diautopsi dan dinyatakan sebagai Rosa, mayat itu pun dikubur di samping Karl. Seandainya Rosa dan Karl tidak berhasil dibunuh, mungkin saja mereka dapat menggagalkan gerakan fasisme dan sejarah dunia pun akan sama sekali berbeda.

 

Mengidentifikasi Rosa melalui Kekasih-kasihnya

Kematian Rosa juga berbuntut pada kematian aktivis, Leo Jogiches, mantan kekasih Rosa yang dibunuh saat ia menyelidiki kematian Rosa. Surat-surat cinta Rosa kepada Leo—kekasihnya yang pernah mengancam akan membunuh Rosa kalau ia mengambil kekasih lain—merupakan bagian dari kumpulan surat-surat Rosa yang telah diterbitkan pada 2011.

Menelusuri kembali hubungan Rosa dengan kekasih-kasihnya dahulu adalah salah satu cara yang dilakukan Dr. Tsokos untuk memastikan identitas mayat perempuan yang diduga Rosa. Investigasi terhadap jasad perempuan ini membawa pada pencarian terhadap barang-barang peninggalan Rosa yang dapat digunakan untuk tes DNA. Awalnya Dr. Tsokos berusaha mendapatkan surat-surat Rosa, antara lain kepada Leo, untuk mengambil bekas liur Rosa yang mungkin melekat di balik perangko surat.

 

Rosa (kanan) dan sahabatnya Clara Zetkin, si "Ibu Hari Perempuan Internasional" (1910)

 

Ketika gagal, pencarian ditujukan kepada kerabat Rosa yang masih hidup. Hal ini membawa pada penelusuran terhadap salah satu kekasih Rosa, Kostja Zetkin. Kostja yang berusia jauh lebih muda dari Rosa adalah anak sahabatnya, Clara Zetkin, aktivis perempuan yang memelopori Hari Perempuan Internasional, 8 Maret. Dari keturunan Kostja yang kini hidup di Amerika Serikat tidak berhasil didapatkan benda bekas miliki Rosa yang mungkin disimpan Kostja. Bahkan pelacakan terhadap helaian rambut Rosa yang dimiliki mantan kekasih lainnya, pengacara Jerman, Paul Levi, juga tidak berhasil.

Akhirnya sampel DNA yang mengonfirmasikan identitas jasad tersebut sebagai Rosa diperoleh dari cucu perempuan dari pihak saudara laki-laki Rosa. Sayangnya, menurut Dr. Tsokos, hasil tes dari garis kerabat laki-laki ini hanya memiliki tingkat kepastian 60%. Sementara itu, jasad perempuan yang dikubur sebelumnya di pemakaman Friedrichsfelde tidak ditemukan lagi karena makam telah dirusak aparat Nazi pada 1935. Dr. Tsokos yang sempat memeriksa catatan autopsi mayat perempuan yang dikubur di makam itu mengakui menemukan beberapa kejanggalan. Ia menduga dokter-dokter yang waktu itu melakukan autopsi berada di bawah tekanan untuk menyatakan mayat tersebut sebagai Rosa.

 

Memperingati wafatnya Rosa dan Karl, Jerman, 1988

 

Siapakah yang Memerintahkan Pembunuhan Rosa?

Rosa Luxemburg lahir di Polandia pada 5 Maret 1871 di tengah keluarga kelas menengah-bawah Yahudi. Ketika remaja ia lari ke Swiss untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah Polandia dikarenakan kegiatan aktivismenya. Di situ ia menyelesaikan studi doktoralnya di bidang ilmu politik di Universitas Zurich. Ia kemudian pindah ke Jerman untuk bergabung dalam gerakan sosialis di negeri itu. Untuk dapat menetap di Jerman ia menikah, walau hanya sebagai formalitas, dengan aktivis sosialis warga Jerman, Gustav Lubeck.

Setiap tahun pada bulan Januari di Jerman, para pengagum “Red Rosa” melakukan long march ke pemakaman Friedrichsfelde untuk memperingati wafatnya sang ikon revolusi. Namun, hingga kini, misteri seputar kematian Rosa masih mengundang banyak tanya. Siapa yang memerintahkan pembunuhan Rosa dan Karl belum dapat dibuktikan, meski beberapa sumber mengatakan bahwa Waldemar Pabst adalah otak di balik pembunuhan kedua aktivis tersebut. Dengan penemuan jasad yang diduga sebagai jasad Rosa, Pemerintah Jerman pernah membuka kembali kasus pembunuhan Rosa Luxemburg pada 2009. Namun, seperti kasus-kasus pembunuhan politis lainnya di dunia, kasus kematian Rosa Luxemburg (dan Karl Leibknecht) masih menunggu keadilan.

 

Versi awal tulisan ini pernah diposting pada laman Facebook penulis, Some Thoughts from the Cappuccino Girl (https://www.facebook.com/feministpassion/).

 

Sumber

Coast Reporter (2017) ‘A headless corpse in Berlin and its Sunshine Coast connection.’ http://www.coastreporter.net/news/local-news/a-headless-corpse-in-berlin-and-its-sunshine-coast-connection-1.23075668 [Diakses 24 Mei 2018].

Connolly, Kate (2009) ‘The hunt for Rosa Luxemburg.’ The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2009/jun/10/rosa-luxemburg-berlin [Diakses 28 Mei 2018].

Gietinger, Klaus (2020) ‘The Man Who Murdered Rosa Luxemburg.’ Jacobinmag. https://jacobinmag.com/2020/01/rosa-luxemburg-murder-waldemar-pabst-germany/ [Diakses 16 Januari 2020].

Jagarnath, Vashna (2017) ‘Rosa Luxemburg: freedom only for the members of one party isn't freedom at all.’ The Conversation. http://theconversation.com/rosa-luxemburg-freedom-only-for-the-members-of-one-party-isnt-freedom-at-all-85865 [Diakses 20 Mei 2018].

Kauffmann, Audrey (2010) ‘Murder mystery over “Rosa the Red”’ Telegraph.co.uk. https://www.telegraph.co.uk/expat/expatnews/6980408/Murder-mystery-over-Rosa-the-Red.html [Diakses 16 Mei 2018].

Spiegel Online (2009) ‘Berlin Authorities Seize Corpse for Pre-Burial Autopsy.’ http://m.spiegel.de/international/germany/rosa-luxemburg-mystery-continues-berlin-authorities-seize-corpse-for-pre-burial-autopsy-a-667606.html [Diakses 29 Mei 2018]

Starke, Helmut Dietmar (2020) ‘Rosa Luxemburg: Life, Revolutionary Activities, Works, & Facts.’ Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Rosa-Luxemburg [Diakses 17 Mei 2020].

Witt, Emily (2011) ‘The Mystery of Rosa Luxemburg’s Corpse.’ Observer http://observer.com/2011/03/the-mystery-of-rosa-luxemburgs-corpse/ [Diakses 20 Mei 2018].

Wroe, David (2009) ‘Rosa Luxemburg murder case reopened.’ Telegraph.co.uk. https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/germany/6840393/Rosa-Luxemburg-murder-case-reopened.html [Diakses 18 Mei 2018].

Sumber Gambar: Pinterest