Mangkatnya Sang Phoenix (Bagian II)

Mangkatnya Sang Phoenix (Bagian II)

 

 

Gambar : Bikinan sendiri berdasarkan referensi

 

 

 

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

Perasaan pak tua itu campur aduk, terasa sedih, pedih, marah, putus asa meskipun  ada sedikit rasa senang karena ia akhirnya bisa bertemu dangan muridnya setelah berpisah bertahun-tahun. Suatu pertemuan yang ironis, dimana ia harus bertarung dengan muridnya untuk mempertahankan hidupnya.

"Li Rui, aku tahu engkau melaksanakan perintah Yuan Shikai," Yuan Shikai adalah seorang pejabat Dinasti Qing yang ikut andil dalam keberhasilan menumpas Pemberontakan Boxer di Cina, dan karirnya melesat sehingga ia diangkat menjadi Raja Muda Zhili. Ia tahu bahwa muridnya telah diampuni nyawanya oleh Yuan Shikai  tapi sebagai gantinya Li Rui dijadikan kaki tangannya.

"Maafkan aku Suhu, dia telah memberikan kehidupan baru bagiku," Li Rui menjawab gurunya, walaupun sebenarnya ia juga merasa terpaksa  melaksanakan perintah Yuan Shikai untuk merebut pedang shinobigatana milik gurunya. Pedang yang dikenal dengan sebutan Burung Phoenix Api dan telah menjadi rebutan di antara para pendekar bahkan orang-orang kaya, bandit, ketua persekutuan rahasia dan para penguasa pun ingin memilikinya.

 

 

Yuan Shikai, Gubernur Shandong (Sumber : Wikipedia)

 

Tiba-tiba Mata Hati, maju bergerak lurus dengan gaya khas seorang ahli rapier dan mengarahkan  mata pedangnya yang tajam ke arah pak tua itu. Bersamaan itu, sontak  sebuah tangkisan dari pak tua itu menghalau serangan mendadak itu dengan ujung sarung pedangnya. Sebuah gerakan tangkisan dari seorang maestro pedang dan tangannya masih memegang erat pedangnya  yang belum terhunus.

"Heeaahh.....!" Mata Hati tersentak mundur selangkah, tubuhnya condong  ke belakang, beruntunglah ia masih bisa menjejakkan kakinya dan segera mengatur kembali kuda-kudanya.

"Ternyata tua Bangka ini masih bisa melawan,"  Mata Hati bergumam pelan sambil memandang tajam kea arah pak tua.

"Tapi tak lama lagi pedangku pasti akan menancap dijantung tuamu itu," sumbar Mata Hati sambil mengatur kembali  posisi tubuh dan kuda-kudanya.

"Cabut pedangmu itu dan bertarunglah dengan kami."

Tiba-tiba wajah pak tua itu berubah menjadi sinis dan bermimik serius, "Baiklah kalau itu mau kalian maka aku akan menghunus pedangku."

Kedua tangannya terangkat ke atas, dan tangan kirinya menarik sarung pedang berwarna hitam itu. Sebuah percikan api muncul ketika pedangnya mulai dihunus, dan semakin dihunus kobaran api terlihat seakan membakar bilah pedang. Cahaya kuning  menyelimuti pedang itu disertai dengan bara api, kemudian ia membuang sarung pedangnya di tanah, tangan kanannya terangkat menggenggam.

Pedangnya ia genggam dan angkat ke atas dengan posisi sejajar dengan kaki langit, seakan-akan memperlihatkan kekuatan pedang itu ke alam semesta. Bara api terlihat jelas membungkus pedang itu dan pak tua itu melontarkan kata-kata bernada keras, "Inilah sang Phoenix Api!".

Bersambung.......................