[Cerbung] Rumah Jacaranda #1

... Sepasang pohon palem di depan pagar. ...

[Cerbung] Rumah Jacaranda #1


Kuhela napas lega begitu mendengar kabar dari Mas Diar. Dia sudah dapat rumah baru untuk tempat tinggal kami.


"Cukup besar," suaranya berlanjut kembali menyusup ke telingaku melalui ponsel. "Rumah pojok dua lantai. Ada di tepi jalan raya. Semi furnished. Halamannya lumayan luas. Kamar tidur ada empat di atas, satu di bawah buat ART. Ada kamar mandi di dalam kamar utama. Dua lagi di luar; satu di atas, satu di bawah. Garasi muat untuk dua mobil. Listrik, air, kondisi keseluruhan semua prima. Bukan rumah baru, sih. Tapi bangunannya sangat kokoh. Aku yakin Ibu pasti suka."


"Daerah mana?"


"Seroja."

 

Seketika aku ternganga. Seroja? Itu.... Tiba-tiba saja jantungku seolah terpacu untuk berdebar lebih kencang.

 

"Harganya, Yah? Pasti mahal banget."

 

Hanya itu yang bisa kupikirkan kemudian. Dengan fasilitas yang terdengar menggiurkan seperti itu, aku yakin harganya pasti tak main-main. Apalagi daerah lumayan elit macam Seroja.


"Tenang saja.... Setara dengan rumah kita sekarang, kok. Nggak nombok terlalu banyak."


Sekali lagi kuhela napas lega. Masih dengan sisa debar di dalam dada.


Sudah tujuh bulan ini, Mas Diar - suamiku - dipindahkan ke kota Regentum untuk mengepalai pabrik baru. Ini promosi, bukan dibuang. Aku tahu betul kondisi kota tempat Mas Diar harus bekerja, karena aku lahir dan besar di sana. Kota yang makin berkembang, terutama pembangunan kawasan industri di pinggirnya. Kota yang kutinggalkan sejak aku menikah dengan Mas Diar dan meniti karier baru. Kota yang kemudian hanya kukunjungi setahun sekali untuk nyekar.


Tiga bulan LDR dengan Mas Diar membuatku memutuskan untuk mengakhiri saja karierku sebagai staf sebuah bank swasta terkemuka. Lagipula, aku masih punya pekerjaan sampingan sebagai editor lepas sebuah penerbit papan atas, yang bisa kulakukan di mana saja. Hidup berjauhan dengan Mas Diar sungguh tak enak. Apalagi anak-anak sering merindukan ayah mereka. Solusinya bagiku hanya satu. Pindah ke Regentum, mengikuti Mas Diar ke tempat tugas baru.



Lalu, aku mulai mempersiapkan anak-anak. Yang sulung akan masuk SMA, yang bungsu akan masuk SMP. Urusan sekolah kini sudah beres. Tinggal menjual rumah dan menyelesaikan berbagai urusan lain. Mas Diar pun segera berburu rumah baru, karena selama ini dia tinggal di mess pabrik.


Empat bulan berlalu. Akhirnya kami pun siap untuk pindah. Tahun ajaran lama sudah berakhir. Yang baru belum mulai. Ijazah anak-anak belum keluar, tapi bukan masalah besar. Masih bisa diurus nanti. Toh, mereka sudah diterima di sekolah lanjutan. Sekolah swasta terkemuka yang yayasan induknya sama dengan sekolah mereka sebelumnya.


Rumah lama ini sudah laku dengan harga bagus dan sudah dibayar lunas. Pemilik barunya memberi kelonggaran kepada kami untuk pindah kapan saja. Dan akhirnya, rumah baru pun sudah didapat. Urusan packing dan kirim barang-barang akan dibereskan sepupuku, Jody, yang memang punya usaha ekspedisi. Semua terjadi pada waktu yang pas sesuai rencana.


"Aku pulang seminggu lagi, Bu."

 

Suara lembut Mas Diar kembali menyentuh telingaku.

 

"Aku dapat cuti khusus untuk pindahan," lanjutnya.

 

"Oke, Yah," jawabku.


"Oh, ya, segera kukirim foto rumah baru kita, ya? Tunggu."


"Baiklah."


Mas Diar kemudian mengakhiri pembicaraan kami dengan membisikkan kalimat rindunya. Kalimat yang masih bisa membuat jantungku terasa melompat-lompat nyaris tak terkendali.


Tak lama setelah ponsel kuletakkan di atas meja, benda itu berbunyi. Ada pesan masuk dari Mas Diar. Ia mengirimkan foto yang dijanjikannya. Seketika aku tercekat.

Rumah itu masih seperti yang pernah kukenal dulu. Warna catnya sudah berubah. Bentuk pagarnya juga. Tapi guratan wajahnya tetap sama. Juga...


Sepasang pohon palem di depan pagar.


Aku terduduk. Ya, Tuhan.... Jadi, rumah itu...?


* * *

 

Selanjutnya

(Ilustrasi diambil dari pixabay, dengan modifikasi)