Senja dan Sebuah Cerita [Bagian Kedua dari Rahasia Dalam Kotak]

Senja dan Sebuah Cerita [Bagian Kedua dari Rahasia Dalam Kotak]

Pesawat yang membawa Senja ke pulau indah ini baru saja mendarat. Tidak seperti penumpang lain yang tampak tergesa ingin segera turun dari pesawat, Senja justru duduk tenang di kursi penumpang, bahkan masih sempat membuka botol air mineral yang sudah dimasukkan dalam tasnya. Terasa hati yang cemas, membayangkan perjalanan yang akan dilaluinya beberapa hari ke depan. Tetapi rasa galau yang tak bisa dipungkiri justru lebih banyak berkecamuk.

Akhirnya sejenak dipejamkan matanya lalu dihirupnya udara, dipenuhi rongga dadanya dengan udara dan diembuskannya perlahan seolah membuang segala kegalauan hatinya. Setelah cukup merasa tenang, Senja berdiri dan melangkah keluar menuju pintu pesawat dengan diiringi senyum manis dua pramugari cantik dari maskapai penerbangan kebanggaan nusantara ini.

Senja sudah duduk di dalam taksi yang membawanya ke pusat kota di pulau ini. Siang ini dia sudah menginjakkan kaki di pulau Lombok, yang sebelumnya Senja hanya bisa memandang foto dalam brosur wisata yang berseliweran di agen travel dan juga majalah yang sering dibacanya. Pulau indah yang sangat eksotis, memanjakan pengunjung dengan keindahan pantainya yang sangat tersohor.

Tetapi kali ini Senja datang bukan untuk berjemur di pantai, bukan untuk hikking menyusuri hutan dan bermuara pada air terjun yang indah, bukan itu tujuannya. Senja datang ke pulau ini untuk menelusuri keberadaan seorang dokter senior yang kabarnya sudah puluhan tahun bertugas di pulau ini. Bahkan dari info yang diterimanya, dokter itu sudah memiliki tempat praktek yang sangat terkenal hingga tak akan susah untuk mencarinya.

Perjalanan panjang dari bandara menuju kota sangat dinikmati Senja. Menyusuri jalan yang lengang dengan pemandangan indah sepanjang jalan dirimbuni pohon peneduh yang memanjakan mata. Seberapa kerasnya Senja menepis bayangan semua kejadian yang dialaminya beberapa waktu kemarin, sekuat itu pula bayangan itu menguasai pikirannya. Seolah bayangan itu tak ingin lepas dan selalu mengikutinya.

"Dari mana Senja harus memulai mencari Papa? Tolong Ibu, berikan Senja petunjuk," ujar Senja pada ibunya yang duduk di hadapannya dengan senyum dan mata sembap habis menagis.

"Yang Ibu tahu, Papamu dulu dikirim sekolah ke Singapura untuk menjadi dokter. Tapi entahlah dia lulus atau tidak, Ibu tak pernah tahu lagi beritanya," jawab Ibu sambil matanya menerawang.

“Bahkan Ibu tak pernah berani mencari tahu keberadaan papamu, karena Ibu yakin dia akan mencari kita,” ujar Ibu pelan sambil berlinang air mata.

 

“Nyatanya Papa tidak mencari kita, maka kita harus mencari dia. Dia harus tahu bahwa kita ada, dia harus tahu bahwa Ibu seumur hidup menunggunya, mencintainya hingga menutup hati untuk siapapun juga.” Suara Senja pelan menahan emosi.

 

“Senja, Ibu sendiri demi kamu, Ibu hanya ingin hidup untuk kamu, Nak, bukan untuk yang lain. Dan Ibu bahagia … sangat bahagia.” Dielusnya rambut Senja dengan kasih.

 

Ibu dan anak ini saling menguatkan agar tidak jatuh, saling mendukung dan menyembuhkan luka. Bagai lukisan indah mereka menampakkan adegan penuh kasih. Dalam rengkuhan Ibu, Senja berpikir harus dari mana mencari jejak papanya yang tak pernah ia bayangkan seperti apa. Tetapi tekad akan terus mencari hingga berjumpa.

 

Dimulai dari menelusuri informasi di mesin pencari, diketiknya nama Dr.Handry Indrawidjaya. Dengan bergetar tangan dan hatinya saat menatap laptop dan membaca hasil mesin pencari.

 

“Dr. Handry Indrawidjaya Dokter Teladan di Daerah Terpencil.”

 

“Dr. Handry Indrawidjaya Peraih Dokter Pembantu Puskesmas Teladan dengan Menjadi Guru Pendamping Bagi Sekolah Pedesaan.”

 

“Dr. Handry Indrawidjaya Sebagai Dokter Daerah Tertinggal.”

 

“Dr. Handry Indrawidjaya Menjadi Wakil Indonesia Untuk Menjadi Pembicara di Forum Dokter Muda di Jerman.”

 

“Dr. Handry Indrawidjaya menulis, “Wajah Cina, Hati Jawa, Jiwa Indonesia” Peraih Penghargaan Internasional.”

 

Dan banyak lagi hasil pencarian tentang Dr. Handry Indrawidjaya yang mampu membuat Senja menangis tak percaya. Mungkinkah lelaki yang dicarinya itu adalah dokter hebat yang sedang dibacanya ini? Maka dengan berbekal informasi dari mesin pencari, Senja memutuskan pergi ke pulau Lombok. Ke tempat Dr. Handry praktek sejak puluhan tahun lalu. Di pulau ini dia menjadi dokter kandungan senior dengan berbagai prestasi.

 

Taksi yang ditumpangi Senja memasuki hotel yang berada di pusat kota. Hotel yang tampak nyaman sejuk dan hommy. Sengaja dimintanya sopir mencarikan hotel yang berada di pusat kota agar Senja bisa leluasa dan merasa aman sebab Senja belum pernah berkunjung ke Lombok.

 

Setelah istirahat sejenak, menikmati kopi dan makan siangnya dalam kamar hotel. Senja lalu membuka peta pulau Lombok, dibacanya beberapa tempat wisata yang kali ini sangat tidak diminatinya sebab ada banyak angan tentang misi khusus yang  menjadi alasan kedatangannya kali ini ke Lombok.

 

Dicarinya alamat praktek Dr. Handry Indrawidjaya yang berada di Klinik Sadewa. Dinikmatinya foto yang tertera di layar laptop tentang Klinik Sadewa seolah berkenalan secara batin dan ditatapnya foto beberapa dokter yang terpampang di sana. Tertegun saat dilihatnya lelaki yang dicarinya tersenyum 45 tahun. Lelaki yang menjadi harapan Ibu, lelaki yang menjadi cinta pertama Ibu, yang sangat dirindukannya seumur hidup. Mengingat Ibu, kembali linangan air mata Senja menderai, tak ada yang mampu membuat Senja melangkah sejauh ini, nekat pergi dengan membawa harapan agar Ibu bahagia.

 

Senja melirik arlojinya, sekali lagi Senja berputar di depan cermin mematut diri. Dilihatnya gadis dengan celana jins serta kemeja putih kasual dengan rambut ekor kuda hingga tanpa sadar senyumnya mengembang dan berkata pada cermin, “Senja, malam ini kamu akan bertemu Papa.”

*****

Taksi mengantarkan Senja sampai tepat di depan pintu gerbang klinik, dicarinya petunjuk di beberapa dinding yang bertuliskan segala macam informasi. Akhirnya diputuskannya untuk bertanya pada resepsionis yang berdiri sambil tersenyum dari balik meja.

 

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang dari mereka dengan ramah.

 

“Selamat malam, saya mau mendaftar di prakteknya dokter Handry,” balas Senja ramah.

 

Ada tatapan selidik dari wanita ramah ini, pastilah tampak bingung karena Senja malam ini terlihat seperti anak sekolah yang terdampar di tempat praktek dokter spesialis kandungan. Tapi tak berapa lama senyum kembali menghiasi bibir wanita itu.

 

“Sebentar ya, Mbak, saya lihat apakah pasien Dokter Han sudah penuh untuk malam ini,” sahutnya sambil mengalihkan pandangannya menghadap laptop di hadapannya. Dengan senyum Senja menunggu. Dialihkannya pandangan ke seluruh penjuru klinik. Tampak ruangan yang didominasi warna hijau segar dengan kombinasi putih hingga mata menjadi segar. Dalam hati Senja bergumam, pastilah desainer interior ini sangat pintar hingga aura yang dihasilkan oleh warna cat ruangan ini saja sudah mempengaruhi kita menjadi segar dan bersemangat.

 

“Mbak, masih ada kuota untuk tiga pasien lagi, silakan mendaftar dulu ya, Mbak,” ujar wanita itu ramah.

 

Tak berapa lama kemudian, Senja sudah duduk di kursi depan ruang praktek dokter Han. Gemuruh di dada Senja terasa tak karuan. Entah apa yang akan diungkapkan pada lelaki itu di dalam nanti. Untuk beberapa saat, dipejamkannya mata sambil berdoa meminta kekuatan dan ketenangan hati menghadapi detik pertemuannya dengan sang Papa.

 

“Nyonya Senja Kirana, silakan masuk,” panggil perawat yang berada di meja depan pintu mempersilakan Senja masuk sebagai pasien terakhir malam ini. Sontak Senja berdiri, tersadar dari lamunan dan bergegas masuk membuka pintu ruang praktek Dokter Han.

 

“Selamat malam, Dok, “ sapa Senja dengan suara yang bergetar.

 

“Selamat malam, mari silahkan duduk,” balas lelaki paruh baya yang tersenyum ramah dibalik meja.

 

Dengan langkah perlahan Senja mendekati meja duduk di kursi tepat di hadapan lelaki berkacamata itu. Senja memberanikan diri menatap mata lelaki yang sangat dirindukannya itu, masih dengan senyum ramah, lelaki itu menatapnya. Ada kontak batin yang membuat mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.

 

“Dok, perkenalkan saya Senja. Saya datang ingin menyampaikan ini,” ujar Senja pelan sambil menunduk mengambil amplop besar berwarna cokelat dari dalam tasnya serta mengeluarkan amplop kecil putih. Kedua amplop itu ditaruhnya di atas meja, disodorkannya mendekat pada dokter di hadapannya.

 

Dengan bingung diambilnya amplop yang kecil oleh Dokter Han, dibukanya dan dilihatnya isi amplop yang memuat selembar foto yang sudah menguning tetapi masih jelas tampak foto dirinya dan seorang wanita  yang sangat di kenalnya, Mayang. Terkejut dilihatnya foto itu, lalu dibukanya lembar foto kedua.

 

Dengan tertegun dilihatnya gambar banyak siswa berdiri di depan sebuah ruang kelas dengan rapi. Tampak Mayang berdiri dengan rambut kepang dua ciri khasnya, senyumnya sangat polos. Dilihatnya pula dirinya sendiri berdiri di samping atas dengan membawa bola basket. Tanpa sadar dibukanya kaca matanya dan diusapnya kedua matanya dengan jemarinya. Lalu ditatapnya gadis yang duduk di hadapannya itu. Diamatinya dengan saksama dengan senyuman, seolah ingin mencari jejak seseorang dalam wajah gadis itu. Tetapi justru yang dilihatnya adalah wajah lain yang juga sangat dikenalnya.

 

“Senja? Namamu Senja?” tanyanya mengawali pembicaraan. Tak ada jawaban. Yang didapatkannya hanya anggukan yang menandakan jawaban iya  dari Senja.

 

“Kamu putri Mayang? Bagaimana ibumu?” Pertanyaan itu diajukan dengan suara bergetar. Ternyata ia sangat ingin mengetahui keberadaan Mayang.

 

“Ibu sudah membaik, sekarang dalam proses pemulihan. Ibu ada di Jogja. Senja tidak bisa lama di sini, baiknya Papa membaca seluruh surat Ibu yang tak pernah sampai ke tangan Papa karena Ibu tak pernah mengirimnya,” ujar gadis itu terbata-bata. Ia sedang menahan tangisnya. “Senja bingung harus memulai dari mana, tapi Senja sudah menemukan Papa sekarang. Dan kalau Papa merasa perlu mencari kami Papa tahu kami ada di mana.”

 

Senja meremas ujung kemejanya erat-erat. Setengah takut akan penolakan, setengah sangat rindu lelaki di hadapannya itu, setengahnya adalah rasa bahagia yang tak terlukiskan.

 

“Tunggu, tunggu dulu,” ujar Dokter Han tiba-tiba. “Papa? Aku papamu? Oh, Tuhan … tolong Senja, jelaskan semuanya,” ujar lelaki itu berdiri dan mendekati Senja hingga ia bisa meraih bahu gadis itu dan mendekapnya.

 

Air mata Senja tumpah dalam pelukan lelaki yang selama ini dicarinya, akhirnya dirasakannya dekapan hangat papanya hingga ia dapat merasakan menangis sebagai seorang anak.

 

Seolah tak ingin melepaskannya, Dokter Han mendekap Senja sebelah tangannya mengelus kepala gadis itu. Seperti mimpi di hadapannya berdiri gadis yang tak pernah dia tahu keberadaanya, akhirnya ia paham wajah siapa yang ia temui dalam wajah gadis itu. Bukan wajah Mayang tetapi wajah dirinya.

 

Matanya ada pada Senja, bibirnya ada pada bibir Senja bahkan rambutnya adalah rambut Senja. Hanya hidung Mayang yang menjadi hidung Senja, serta postur tubuh kecil mungil itu adalah milik Mayang, wanita yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya.

 

Akhirnya Senja bisa menghentikan tangisnya, kini mereka berdua duduk di sofa yang berada di ruang praktek Dokter Han. Dengan penuh  emosi Senja menceritakan kronologis keberadaan surat Ibu yang tersimpan rapi dalam kotak.  Dengan berurai air mata mereka berdua merasakan sakit sekaligus kelegaan yang sangat dengan pertemuan ini. Senja bercerita bagaimana kondisi Ibu saat ini, kembali berkisah bagaimana perjuangan Ibu selama ini, membesarkan Senja, menjadi penjahit untuk membiayai kuliah Senja bahkan menceritakan bagaimana kesetiaan Ibu menunggu Papa untuk datang menjemput mereka hingga bisa kumpul bersama layaknya keluarga yang utuh.

 

“Ooh, Tuhan, apa yang harus aku katakan? Bagaimana cara aku menebus semua ini? Papa tak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi.” Dokter Han melepas kacamata untuk kesekian kalinya guna menghapus air yang jatuh dari matanya. “Selama pergi kuliah meninggalkan kampung, Papa tak pernah sekalipun diijinkan pulang berlibur oleh Engkongmu. Tak pernah sedikitpun Papa menaruh curiga, tetapi Papa yakin Mayang akan setia menunggu Papa selesai kuliah. Hingga tiba Papa pulang membawa gelar dokter, yang Papa jumpai ternyata kenyataan yang sangat berbeda, Mayang dan keluarganya sudah pindah entah kemana dan tak ada jejak yang tertinggal.” 

 

“Yang paling menyakitkan hati, Papa mendengar kabar bahwa Mayang tak pernah kuliah seperti janjinya, tetapi menikah dan saat pergi meninggalkan kampung bersama keluarganya Mayang sedang mengandung anak pertamanya. Sejak itu Papa merasa Mayang mengkhianati Papa, dan Papa pergi mengabdi jauh ke pulau Lombok.  Papa pergi dengan luka hati yang sangat, hingga Papa tak pernah sanggup untuk mengenal wanita lain selain Mayang,” tutur Dokter Han sambil terbata-bata pada Senja yang duduk menangis di hadapannya.

 

“Seandainya Papa tahu, bahwa Mayang hamil akibat perbuatan Papa, tak pernah ada yang bisa menghalangi cinta kami. Papa akan bertanggung jawab apapun itu. Papa akan menikahi ibumu dengan penuh cinta. Tapi tak pernah ada seorangpun yang memberitahu keadaan ini,” lanjut Dokter Han dengan emosional.

 

“Dalam surat yang tak pernah terkirim itu Ibu bercerita tentang semuanya, bagaimana Ibu berjuang tak pernah membocorkan siapa lelaki yang menghamilinya karena Eyang Kakung bersumpah akan membunuh lelaki itu. Ibu bertahan untuk merahasiakan semuanya. Bahkan Ibu rela dipukul Eyang Kakung,” balas Senja dengan suara pelan sambil tersedu.

 

“Ibu tak pernah kuliah, Pa. Karena Ibu mengetahui bahwa ia berbadan dua. Ibu dipaksa untuk menggugurkan kandungan oleh Eyang Uti tetapi ia selalu menolak. Bahkan Ibu rela menggantungkan cita-citanya menjadi guru demi tetap mempertahankan Senja dalam kandungannya,” lanjut Senja dengan hati yang berkecamuk.

 

Dokter Han menghela napas panjang, seolah itu dapat mengurangi beban emosional yang dirasakannya sekarang. “Ya Tuhan, Mayang … terima kasih untuk pengorbananmu. Papa ingin menemuinya, Senja,” ujarnya sambil mengapus air mata dengan punggung tangannya.

 

“Senja juga sangat menyesal, Pa, selama ini sering sekali marah tak beralasan pada Ibu. Senja tak pernah menjadi anak yang baik, Pa,” tutur Senja pelan.

 

“Tekad Senja demi kesembuhan Ibu, Senja harus berhasil menemukan keberadaan Papa. Apapun kondisi Papa saat ini. Mungkin Papa sudah memiliki keluarga hingga Senja putuskan menemui Papa di tempat praktek ini. Maafkan Senja mengusik kehidupan Papa, tetapi Ibu dan Senja sangat butuh mengetahui keberadaan Papa agar kami bisa melanjutkan kehidupan,” ungkap Senja masih sambil terisak karena membayangkan wajah Ibu yang selalu berbinar penuh cinta bila bercerita tentang lelaki yang berada di hadapannya kini.

 

“Senja, anakku … rasanya seperti mimpi mengetahui kenyataan Papa memiliki puteri cantik, dan sekarang ini berada di hadapan Papa. Hingga saat ini tak pernah ada wanita yang sanggup mengantikan Mayang di hati Papa. Papa tak pernah menikah, Nak. Sama sepeti ibumu, Papa setia menjaga perasaan ini,” tutur Dokter Han sambil mengelus surai anaknya. “Mungkin terdengar bodoh, tapi ini adalah keputusan Papa selain pergi jauh mengabdi pada masyarakat di pulau Lombok ini sebagai pelampiasan.”

 

“Papa masih mencintai Ibu?” Tiba-tiba pertanyaan itu terucap dari bibir Senja.

 

“Selalu, Nak. Papa selalu mencintai ibumu, selamanya,” jawab Dokter Han dengan tegas.

 

“Papa mau bicara denga Ibu malam ini?” tanya Senja pelan dengan penuh harap.

 

“Tentu saja, anakku. Papa rindu suara ibumu.” Dokter Han menyambut tawaran itu dengan penuh antusias.

 

Maka dengan gemetar Senja meraih telepon genggamnya. Segera dicarinya kontak Ibu, sambil penuh harap diliriknya lelaki di hadapannya dengan senyum. Melihat papanya gelisah menunggu jawaban dari seberang, mendengar dering nada sambung , Senja bisa memahami kenapa Ibu sangat mencintai Papa yang tampak sangat tampan dan bijaksana.

 

“Halo, Assalamualaikum.”

 

“Waalaikum salam, Senja? Di mana kamu, Nak? Malam sekali kamu menelepon Ibu, ada apa?”

 

“Ibu sehat? Ibu sudah minum obat?”

 

“Alhamdulillah Ibu sehat, sudah minum obat tadi jam tujuh malam. Bagaimana keadaanmu, Nak?”

 

“Sehat, Bu, Senja kangen pengin dipeluk Ibu.”

 

“Ibu juga kangen. Makanya cepat selesaikan tugasmu lalu ambil cuti dan pulanglah sebentar. Ibu juga kangen. Kamu tinggalkan Ibu sendiri, padahal selama Ibu sakit Ibu terlanjur kamu manjakan. Jadi Ibu sangat kesepian sekarang.”

 

Dokter Han terharu mendengar percakapan Mayang dan anaknya, rasa tak percaya kembali bisa mendengar suara wanita itu. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan tangis yang sudah hendak pecah lagi.

 

Senja melirik Dokter Han dan menganggukkan kepalanya, memberi kode bahwa sudah waktunya lelaki itu mengambil bagian. “Ibu, ada yang mau bicara dengan Ibu.”

 

“Siapa, Nak? Temanmu?”

 

Dokter Han mengambil ponsel yang disodorkan kepadanya dengan tangan bergetar. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum mendekatkan ponsel ke telinganya.

 

“Mayang,” panggilnya lirih.

 

Tak ada suara dari seberang sana. Sudah lama sekali tak ada orang yang memanggil wanita itu dengan nama panggilannya. Secara otomatis, benaknya memutar ulang serangkaian memori. Ingatan yang tak akan pernah dia lupakan.

 

*****

 

“Mayang, sore ini kita ke atas bukit, ya? Kita akan menikmati senja di sana. Kamu bakal liat pemandangan indah. Kita harus cepat jalannya, biar bisa menikmati senja. Kalau terlambat rugi. Ayoo! Jalannya buruan, biar cepat sampai!”

 

“Mayang, setiap sore aku tunggu kamu di sini, ya. Kamu harus datang! Janji?”

 

“Mayang, besok ada pasar malam di kampung sebelah.  Kita pergi, ya? Ada banyak teman yang ikut, kok. Nanti kamu dijemput Nissa dan Weni biar boleh sama ibumu. Aku tunggu di gerbang kampung sama yang lain, ya?”

 

“Mayang, tunggu aku pulan,  ya?  Aku keterima di Fakultas Kedokteran, tapi Papa menyuruhku sekolah di Singapura. Tidak lama nanti,  begitu selesai kuliah aku pulang dan kita menikah, tunggu aku, ya? Janji?”

 

“Mayang, jangan pikirkan soal perbedaan hari ini.  Aku cuma mau kamu menunggu aku pulang. Setelah selesai kuliah, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Papa Mama sudah tau itu, jadi jangan takut.”

 

Semua potongan percakapan dari seseorang yang selalu menjadi teman dalam hidupnya itu muncul, bagai alunan musik yang semua terasa indah. Ia tak mungkin salah. Hanya Koko Han yang selalu memanggil namanya dengan suara yang berbeda terdengar di telinganya.

 

“Koko?” ujar Ibu pelan, masih terdengar ragu apakah benar suara yang dia dengar itu milik Koko Han.

 

Tak ada suara dari seberang. Lelaki itu meresapi suara lembut yang baru saja memanggilnya.  Hanya Mayang yang memanggilnya dengan sebutan Koko, sementara teman yang lain memanggilnya cukup dengan sebutan Han.

 

“Koko Han, jauh benget, sih? Aku capek jalan, nih.  Jangan cepat-cepat. Di bukit ada apa, sih?”

 

“Koko Han, aku tuh, gak bisa olahraga, pasti nilaiku jelek … ujian olahraga menyebalkan!”

 

“Kalau besok aku dapat ijin ke pasar malam, Koko beliin aku manisan, ya? Aku gak bakal dikasih uang sama Ibu untuk belanja.”

 

“Koko Han, Singapura itu jauh, ya? Pasti lama sekali baru kita ketemu lagi. Aku akan kuliah biar jadi guru sambil menunggumu.”

 

“Tapi bagaimana kita akan menikah? Ibu dan Bapak tak akan memberi ijin, itu pasti! Agama kita berbeda, Ko.”

 

“Koko Han, janji pasti pulang, kan?”

 

Suara lembut itu terdengar kembali di telinga Dokter Han, tak terasa ada tetesan air mata mengalir di pipinya. Sepertinya dunia utuh kembali dan bayangan wanita yang sangat di cintainya kembali menjadi nyata.

 

“Lama sekali Mayang, maafkan aku. Kamu memberi nama Senja untuk anak kita? Oh, terima kasih Tuhan,” ucap Dokter Han dengan suara pelan penuh emosi.

 

“Iya, Koko, aku tak tau lagi harus memberinya nama apa selain Senja untuk mengingatmu. Bagaimana Senja bisa sampai menemukan Koko?”

 

Itu adalah pertanyaan paling indah yang pernah Dokter Han dengar.

 

Ternyata Mayang selalu mengingat senja di atas bukit waktu yang selalu mereka curi untuk berdua. Selalu menikmati waktu senja, mereka berdua selalu berlari dari arah berbeda untuk berjumpa di tempat yang sama kala senja. Mayang selalu berlari dari rumah Haji Koasim, tempat dia belajar mengaji setiap sore hingga menjelang maghrib. Lalu Koko Han berlari dari rumah Pak Iqbal tempat dia belajar les tambahan untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk kuliah kedokteran.

 

“Tunggulah aku, kali ini aku pasti datang menjemput kalian. Aku akan menebus semua yang hilang dengan apapun. Mayang, jangan menangis, aku tak ingin kamu menagis lagi.” Suara Dokter Han terdengar sangat penuh kasih.

 

Senja secara langsung melihat dua orang yang sangat dicintainya akhirnya bisa berbicara di hadapannya, seperti melihat adegan dalam film. Menyaksikan dengan senyum dan tangis secara bersamaan, tak pernah dibayangkannya akhirnya Ibu bisa mendengar kembali suara lelaki yang dicintainya. Ikatan mereka yang tak pernah putus membuktikan bahwa Papa pun tak pernah sanggup untuk menggantikan Ibu di hatinya.

 

Mungkin ini salah satu cara dari Tuhan sebagai hukuman karena perbuatan dosa mereka, dan semua itu sudah mereka tebus dengan cara yang sangat menyiksa batin. Tetapi sekali lagi, ini adalah bukti kesetiaan mereka.

 

“Koko Han? Ini bukan mimpi, kan? Rasanya aku seperti bermimpi, kau sudah berjumpa Senja? Dia mirip seperti Koko, semua seperti Koko. Karenanya aku selalu merasa Koko ada di sampingku, menemaniku untuk hidup selama ini. Koko, tolong peluk Senja untukku, dia selalu mencarimu sejak kecil, dia ingin merasakan kasih papanya.” Mayang terisak tanpa henti

 

Dokter Han menatap puteri cantiknya yang duduk di hadapannya dengan mata sembap. Direntangkan tangannya sebagai tanda ingin Senja mendekat padanya. Dengan langkah ragu, Senja menghampiri papanya dan langsung menagis dalam pelukan lelaki itu.

 

Tak ada pemandangan yang lebih memilukan daripada melihat pertemuan dua orang yang terpisah sejak lama. Seperti menyusun kepingan kehidupan, takdir menuntun pertemuan ini dengan sangat indah pada akhirnya.

 

“Aku memeluknya untuk kita, terima kasih kamu telah menjaganya untukku. Seandainya aku tahu tentang semua ini, tak pernah aku biarkan kalian hidup sendiri.”

 

“Ada banyak pertanyaan yang hanya bisa terjawab saat kita berjumpa. Mayang, tunggu aku, ya? Kita harus menikah,” ujar Dokter Han tegas.

 

“Koko, rasanya aku seperti  bermimpi, tak perlu memaksakan keadaan kita berjumpa, dan Koko bisa memeluk Senja saja sudah merupakan kebahagiaan untukku. Jadi,  terima kasih untuk pengakuan tulusmu tentang Senja. Karena  Senja  adalah anakmu. Tak pernah ada lelaki lain selain Koko,” ujar Mayang di seberang dengan suara bergetar.

 

Senja sangat memahami apa yang dipikirkan ibu tentang kehidupan Papa sekarang dan dia tak ingin menjadi perusak di kehidupan Papa saat ini.

 

“Dan kamu tahu, tak pernah ada perempuan lain dalam hidupku, Mayang. Hanya kamu, aku tak pernah tau untuk apa aku menunggumu sampai semua terungkap, kita memang harus menunggu lebih lama untuk bisa bersatu. Mayang, tunggu … aku akan datang,” ujar Dokter Han tegas dan jelas tak ingin dibantah.

*****

 

Senja berbaring dalam kamar hotel yang disewanya dengan perasaan lega, tetapi matanya belum sanggup untuk terpejam. Sampai tengah malam, masih saja pikirannya penuh dengan semua potongan adegan yang tak bisa dia rangkai malam ini. Terbayang bagaimana Ibu malam ini pasti juga tidak akan bisa tidur, dan bagaimana Papa malam ini bergelut dengan semua surat yang tadi diberikannya untuk dibaca. Senja sendiri berbaring memikirkan akhirnya dia memiliki keluarga utuh. Ada Ibu dan Papa yang bisa memeluknya dengan dekapan hangat.

 

Tak ada obrolan panjang dengan papanya setelah peristiwa telepon dengan Ibu. Tetapi Papa tak pernah jauh darinya. Ada dekapan hangat yang menuntunnya menuju mobil Papa yang terparkir. Tak peduli tatapan dari perawat dan pegawai klinik yang berpapasan dengan mereka berdua malam itu, Papa hanya membalas dengan senyuman dan Senja sendiri berjalan sambil tertunduk.

 

“Malam ini yakin tak ingin pulang ke rumah Papa?’ tanya Papa lembut sambil menyetir mobilnya.

 

“Senja ingin tidur di hotel saja. Sepertinya kita semua butuh waktu untuk sendiri dulu, Papa,” balas Senja pelan.

 

“Baiklah, besok pagi Papa urus surat cuti. Senja tunggu Papa, kemudian kita berdua pulang ke Jogja setelah ijin cuti turun,” balas Dokter Han.

 

“Tapi, Pa, kasihan Ibu sendiri. Apa sebaiknya Senja pulang ke Jogja duluan? Senja takut Ibu sakit sebab Ibu sedang dalam masa pemulihan,” ujar Senja sambil menatap Papa di sampingnya.

 

“Baiklah, kita bahas besok pagi, ya? Malam ini Senja tidur.  Terima kasih ya, Nak,” ujar Dokter Han dengan lembut sambil mengelus kepala puterinya.

 

Sampai di depan hotel, mereka turun Dokter Han yang menggandeng Senja dengan penuh kasih. Duduk berdua di sofa besar yang ada di lobby hotel, dengan tatapan khawatir, Dokter Han menatap puterinya.

 

“Yakin mau tidur di hotel? Atau pulang ke rumah Papa? Ada kamar tamu Senja bisa tidur di sana,” ujarnya penuh kasih.

 

“Tidak, Pa, malam ini Senja butuh sendiri,” ujar Senja dengan senyum.

 

“Papa yakin kita bisa menghadapi ini bersama, karena kita sudah melewati proses panjang untuk sampai pada tahap ini,” ujar Dokter Han dengan bijak.

 

“Papa pintar sekali, pantas Papa menjadi dokter teladan,” ujar Senja dengan tawa tertahan.

 

Dengan ekspresi terkejut Dokter Han memandang puterinya, dan tertawa bersama. “Dari mana kamu mendapat info itu?”

 

“Dari ponsel, Pa. Nama Papa banyak tertera di sana. Papa hebat,” ujar Senja bangga.

 

“Kalian punya andil besar untuk prestasi itu. Papa pulang dari Singapura membawa gelar dokter yang dipersembahkan untuk Engkongmu. Lalu Papa datang ke rumah Eyangmu untuk meminang ibumu, tetapi kenyataan yang Papa dapati adalah ibumu sudah pindah. Yang menyakitkan, ada informasi bahwa ibumu mengandung dan sudah menikah dengan lelaki yang dijodohkan dengannya. Papa patah hati, lalu menerima tanpa penolakan saat ditempatkan di pulau Lombok yang saat itu terasa seperti pulau terpencil.” Diembuskannya napas dengan berat seolah ingin melepas beban di hatinya.

 

“Tak pernah ada keinginan untuk kembali ke kampung, di sini Papa membangun semua dengan sebagian kenangan manis bersama ibumu. Tak pernah terpikirkan bahwa Ibu mengandung anak Papa. Karena waktu itu kami masih sangat kecil, bahkan tak pernah berpikir bahwa itu menjadi penghalang untuk ibumu meraih cita-cita.” Ditepuknya pelan keningnya tanda marah pada kebodohannya sendiri.

 

“Senja, Papa sangat menyesal membuat ibumu menderita. Dia gadis pintar sangat pintar hingga Papa sangat mencintainya. Ada banyak harapan yang ibumu bagi bersama Papa. Ingin menjadi guru, bahkan kami berjanji menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu agar kami bisa melangkah bersama tanpa beban pada orang tua.”

 

“Kamu tahu, kan? Bagaiman kerasnya Eyang kakungmu? Begitupula Engkongmu, yang pasti akan menentang niat kami menikah karena kami terlahir dengan banyak perbedaan. Agama kami berbeda, budaya kami berbeda, bahkan seluruh kultur kami berbeda. Kami hidup di desa yang masih sangat kolot hingga kami tak pernah berani menyatakan secara nyata bahwa kami menjalin hubungan.”

 

Ada tawa kecil berderai saat Papa menceritakan kisahnya pada Senja. Kisah berbeda yang tak pernah Ibu kisahkan pada Senja. Bagaimana mereka menjalin cinta dengan sangat rahasia. Hanya berani berbalas senyum dan lirikan di depan semua orang tetapi mereka merasakan gemuruh di dada dengan takut ketahuan orang lain.

 

“Tiap sore menjelang senja kami selalu bertemu di bukit, kami berlari dari tempat berbeda dengan harapan berjumpa berdua. Ibumu selalu membawa perlengkapan mengaji. Tak pernah ada sentuhan karena dia masih dalam keadaan menjaga wudhu. Kamu tau apa yang Papa pikirkan? Betapa susahnya menjadi wanita muslim yang harus terus menjaga dirinya, takut untuk bersentuhan karena ketaatan menjaga wudhu. Kemudian pada suatu hari Papa tahu ibumu harus menjaga wudhu karena sesaat setelah senja hilang dia harus berlari kencang kembali ke langgar untuk sholat berjamaah dan bila wudhunya hilang dia tak akan bisa sholat sebab jelas tak akan ada tersisa air untuk berwudhu di langgar kecil di desa kami, hahahaha!” Suara derai tawa Papa terdengar sangat bahagia, sampai Senja ikut tertawa sambil menagis bahagia mendengarnya.

 

“Trus Papa ngapain di bukit?” tanya Senja ingin tahu.

 

Ditatapnya puterinya dengan sisa tawa di bibirnya. “Duduk di rumput, menikmati angin sejuk yang mengilangkan keringat kami karena berlari jauh. Trus Papa pasti mencuri permen coklat cap jago dari toko Engkongmu untuk ibumu. Dulu coklat jago itu coklat mahal. Mencarinya butuh perjuangan, hahahaha!”

 

“Senja, ibumu gadis baik, gadis yang sangat taat, dan pintar. Dia adalah cinta pertama Papa, banyak yang ingin menjadikan ibumu pacar, tetapi dia memilih Papa walaupun hubungan kami harus dijalani secara rahasia. Itu adalah pengorbanan yang tak ternilai.” Kali ini suara Dokter Han terdengar bergetar.

 

“Ternyata ibumu mengorbankan banyak hal untuk Papa. Kalian hidup tanpa Papa selama ini. Ada banyak waktu yang terbuang dan Papa ingin membalas semuanya,” ujarnya penuh keyakinan.

 

“Papa, Ibu tak pernah menceritakan apapun pada Senja. Hingga Senja menemukan semua surat Ibu untuk Papa yang tak pernah dia kirimkan.” Suara Senja terdengar penuh kesedihan.

 

“Iya, Nak, malam ini Papa ingin membaca semuanya. Sepertinya surat itu butuh waktu yang sangat panjang untuk sampai ke tangan Papa. Bukan tukang pos yang mengantarkannya, tetapi Tuhan menginginkan anak Papa yang mengantarkannya sendiri. Tuhan masih sangat baik untuk kita, Nak,” ujar Dokter Han.

 

“Sekarang Senja mengerti mengapa Ibu sangat yakin Papa setia padanya. Berulang kali Ibu menuliskan bahwa bila Koko masih memiliki rasa yang sama, tolong berikan tanda bahwa kita akan berjumpa, dan Senja mengerti Papa dan Ibu masih memiliki ikatan yang kuat dan saling setia,” ujar Senja lirih.

 

Malam itu mereka akhiri dengan pelukan hangat dan kecupan kening sebagai ucapan selamat tidur bagi Senja. Masih terasa canggung bagi Senja karena hingga dia dewasa tak pernah ada perlakuan hangat seperti itu dari seorang laki-laki padanya. Tetapi dengan sikap dewasa, Dokter Han langsung mengambil alih semuanya, memposisikan dirinya sebagai Papa yang tak ingin kehilangan puterinya lagi. Maka ucapan selamat tidur menjadi momen terindah untuk menutup indah hari ini.

 

*****

 

Di rumah mungil kediamannya, Dokter Han duduk di kamarnya dengan lampu yang terang. Mulai dibukanya setiap amplop putih yang ia dapatkan dari Senja. Diperhatikannya tulisan indah Mayang dan terkenang kembali bagaimana Mayang dengan setia menyalin catatan pelajaran dalam dua buku karena yang satu adalah milik Mayang sendiri dan yang satunya adalah untuk dirinya. Tulisan tangan yang rapi itu selalu dinikmatinya untuk belajar di rumah, karena tidak mungkin catatan yang dibuat Mayang dibawa ke sekolah. Yang unik, Mayang selalu memberi gambar lucu di setiap lembar catatan itu. Entah tulisan konyol yang selalu membuatnya tertawa saat membacanya.

 

“Ingat, bayar pakai coklat, ya!”

 

“Sebelum belajar, cuci muka biar gak ngantuk!”

 

“Catatan itu dibaca, bukan dibakar trus dikubur, ya!”

 

“Koko, ada pensil lucu gak, di toko? Curiin satu, ya?”

 

“Koko + Mayang = kangen!”

 

“Pegel, nih. Butuh coklat koin se-toples!”

 

Dan masih banyak lagi catatan konyol yang membuat Koko Han tertawa saat belajar. Walaupun bila mereka berjumpa di bukit, sikap Mayang tidak pernah bisa seluwes tulisan konyolnya. Tetap malu dan menjaga jarak hingga dia menjelaskan tentang susahnya mengambil air wudhu di langgar karena tidak ada yang menimba dan dia tidak bisa menimba.

 

Mayang selalu menjadi gadis manis dan pemalu. Hingga suatu sore saat pengumuman dari universitas di Singapura datang mengabarkan bahwa dia diterima sebagai mahasiswa, semua orang di rumah tertawa dan mengungkapkan kebahagiaan. Bahkan Koh Lim, ayahnya, menyuruh istrinya memasak makanan istimewa sebagai perayaan syukuran. Seluruh karyawan toko memberi selamat pada pemuda itu dengan suka cita serta doa kesuksesan. Bahkan setiap pembeli yang belanja hari itu mendapatkan informasi langsung dari Koh Lim dan menerima potongan harga sebagai ucap syukur atas prestasi anak lelakinya yang akan menjadi dokter.

 

Tetapi hati Koko Han justru sangat galau, karena perpisahannya dengan Mayang tidak akan tertunda lagi. Kuliah yang sangat jauh tentu akan membuat mereka tak bisa berjumpa dalam waktu yang lama. Rasa hati gelisah tak dapat dipungkiri, ingin cepat sore agar dia bisa menemui Mayang dan membicarakan berita itu secara langsung.

 

“Mayang, kenapa matamu sembap? Kamu menangis?” tanya Koko Han tanpa berani menyentuh Mayang, walau sangat ingin dipeluknya gadis itu.

 

“Tadi Nissa bercerita, katanya Koko sudah dapat surat panggilan dari luar negeri dan besok Koko akan pergi. Mayang sedih mendengar beritannya,” ujar gadis itu dengan suara parau.

 

“Hmm, ternyara berita lebih cepat menyebar, padahal aku mau menyampaikannya langsung padamu sore ini,” sahut Koko Han sambil menatap Mayang yang masih saja menangis dalam diam.

 

“Terus, kamu masih mau menangis? Gak mau menatap aku? Cuma mau nunduk liatin rumput? Udah ah, Koko jadi rumput aja,” sahutnya mencoba melucu sambil langsung berbaring di rumput tepat di sebelah Mayang duduk.

 

Ditolehnya lelaki yang berusaha konyol dengan menjadi rumput di sampingnya dan tawa mereka berderai menggantikan tangis sedih Mayang. Lalu dicubitnya lengan Koko Han karena gemas.

 

“Eitss! Batal wudhu, lho! Gak ada yang nimba air, lho!” ujar Koko Han menggoda Mayang.

 

“Biarin! Habis sebel! Jahaat, orang sedih diketawain!” ujar Mayang sambil terus mencubit lengan Koko Han.

 

Lelaki itu meringis kesakitan dan tertawa bersamaan sangat membantu melupakan kegundahan hati mereka sore itu. Hingga saatnya mereka menikmati senja berdua, kali ini keduanya duduk lebih dekat, kepala Mayang bersandar di bahu Koko Han dan mereka menikmati dalam diam seperti biasanya.

 

“Besok kalau Koko sudah pergi, aku bakal duduk di sini menikmati senja sendiri,” celetuk Mayang pelan.

 

Sontak Koko Han menoleh, menatap Mayang dengan tatapan tidak setuju.

 

“Dengerin ya, kalau aku sudah tidak ada, kamu tidak boleh sendirian ke sini. Ingat, ya! Di sini bahaya.  Apalagi sendiri, apapun itu kamu tidak boleh ke sini tanpa aku!” ujarnya dengan suara tegas.

 

“Tapi kenapa? Aku mau menikmati senja,” ujar Mayang polos.

 

“Kamu terlalu cantik, jadi diam di rumah dan jaga dirimu. Nikmati senja dalam bayangan saja, karena bahaya kalau kamu ke sini sendiri. Aku tidak akan pernah mengijinkan,” ujar Koko Han tegas tanda dan tak bisa dibantah.

 

Tatapan mata mereka saling mengunci. Hanya anggukan tanda patuh yang diberikan Mayang hingga senyum Koko Han tampak begitu menawan. Lelaki itu percaya akan janji Mayang untuk tidak pernah ke bukit sendirian.

 

“Mayang, hari ini aku begitu bahagia karena akan sekolah ke luar negeri, tetapi sekaligus bersedih karena akan meninggalkanmu di sini sendiri. Janji ya, tunggu aku sampai aku selesai kuliah lalu kita menikah. Aku cuma ingin kamu menjadi istriku. Soal yang lain, kita pikirkan nanti,” ujarnya sambil menatap Mayang.

 

Lalu dikecupnya pipi Mayang yang berlinang air mata. Itu adalah kecupan pertama mereka, dan diraihnya pundak gadis itu dalam pelukannya. Sejenak mereka berbagi kesedihan dan sekaligus saling menguatkan. Kaos Koko Han basah oleh air mata Mayang, tetapi ada kelegaan yang tak pernah bisa tergantikan yang mereka rasakan.

 

“Koko di sana juga harus setia, di sana pasti banyak gadis cantik,” ujar Mayang dengan suara parau.

 

“Tak ada gadis secantik dan sebaik kamu di manapun.”

 

“Gombal! Dokter kok gombal, awas aja kalau boong!”

 

Mereka tertawa bersama dan kembali Koko Han mencium Mayang dengan kasih. Kali ini tidak ada penghalang.  Yang mereka inginkan hanya berdua bersama senja demi menikmati hari-hari menjelang perpisahan. Tidak ada air mata karena perpisahan ini demi masa depan mereka, tak pernah ada penyesalan karena yang mereka tahu adalah menjaga cinta dalam kesetiaan, hingga semua menjadi kisah panjang yang tak pernah berujung.

 

Masih ada pertemuan di bukit sebelum mereka berdua benar-benar berpisah. Ada kenangan yang mereka ukir berdua, menikmati senja di bukit, mendengarkan alunan musik dari recorder kecil yang dimiliki Koko Han, merekam suara mereka berdua sebagai  kenangan yang akan lelaki itu bawa ke luar negeri. Tak pernah ada penyesalan ,  Koko Han berjuang menyelesaikan studinya agar cepat bisa kembali pada Mayang.

 

Dokter Han mengusap air mata dengan punggung tangannya. Ingatan-ingatan itu terus berputar dalam benaknya sementara ia membuka amplop surat kelima.

 

Koko Han,

Aku harus menceritakan kondisiku dan Senja saat ini, lima hari yang lalu aku sudah melahirkan anak kita. Putri kecil kita yang cantik, putih dan mungil. Aku tak ingin menceritakan bagaimana proses persalinannya karena suatu hari nanti aku yakin kamu akan banyak membantu proses persalinan orang-orang. Ya, bukankah kamu akan menjadi dokter?

 

Membayangkan Koko menjadi dokter aku sudah bahagia. Bantulah banyak orang ya, karena hari ini aku masih bisa merasakan betapa sakitnya perjuangan melahirkan.

 

Koko Han, aku menamai anak kita Senja Kirana, aku tak tahu nama apa lagi yang indah selain memanggilnya Senja. Karena sejak kepergian Koko, hanya dua yang aku rindukan. Melihat Koko dan melihat senja dari bukit bersama Koko.

 

Koko Han, Ayah dan Ibu menjual rumah kami di desa beberapa bulan yang lalu. Bahkan sengaja Budhe Marni menyebar berita bahwa aku sudah menikah dengan saudara sepupu yang menjadi tentara. Ini semua demi menyelamatkan nama baik keluarga kami. Aku sudah tidak bisa berpikir apapun. Yang aku pikirkan semoga Koko tidak pernah mendengar berita bohong itu, karena hampir seluruh warga kampung mempercayai berita itu.

 

Koko Han, malam ini Senja sangat rewel, tidak seperti biasanya. Mungkin dia tahu bahwa aku saat ini menangis merindukanmu. Entahlah kita akan terpisah sampai kapan. Tetapi yang aku tahu sampai kapanpun itu aku akan setia menunggumu. Terlebih ada Senja yang menguatkan aku.

 

Koko Han, aku rindu duduk menikmati senja di atas bukit, mungkinkah suatu hari nanti kita bisa menikmati bertiga dengan Senja kita?

 

Doaku untuk kesuksesanmu, dan doaku untuk perjumpaan kita yang entah kapan.

 

Malam ini Senja tidur dalam senyum bidadarinya. Dan aku di sini bahagia bersamanya.

 

Salam rindu,

 

Aku dan Senja

 

 

“Ooh, Tuhan! Mengapa tidak kau pertemukan kami sejak dulu? Aku bisa merasakan sakitnya perjuangan Mayang melahirkan, merawat bayi dalam keadaan depresi, maafkan aku, Mayang.” Tangis dan jerit Dokter Han membaca surat Mayang untuknya tak dapat tertahankan.

 

Terbayang bagaimana ia berjuang menjadi dokter muda saat itu, pergi jauh untuk menyembuhkan luka hatinya. Entah yang ada di pikirannya saat itu hanya pergi jauh, melupakan Mayang yang ia pikir sudah mengkhinatinya tetapi kenyataannya, Mayang justru berjuang untuk menyelamatkan hasil buah cinta mereka yang tidak pernah diketahuinya.

 

Malam panjang itu sangat melelahkan jiwa. Disesapnya kopi pahit untuk menghilangkan penatnya. Hingga menjelang pagi, Dokter Han belum bisa sedetikpun memejamkan mata. Lalu diputuskannya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi nomor telepon Mayang yang baru diketahuinya dari Senja.

 

Menunggu nada sambung dengan gelisah, diliriknya jam dinding. Dia tersenyum, yakin Mayang sudah bangun sepagi ini karena dia pasti bangun pagi untuk sholat subuh.

 

“Halo, Assalamualaikum? Ini siapa?” sapa lembut suara wanita di seberang telepon.

 

“Waalaikumsalam, Mayang sudah bangun?” sapa Dokter Han dengan suara bergetar.

 

“Koko? Sepagi ini? Sudah, sudah bangun dari tadi,” ujar Mayang gugup tak menyangka bahwa yang meneleponnya adalah Koko Han.

 

“Kamu masih saja gugup bila bicara denganku. Senja tidur di hotel, aku semalaman membaca suratmu untukku dan sekarang aku belum bisa tidur. Mayang, maafkan aku, ya? Tunggu aku. Kali ini aku akan datang menjemputmu.”

 

Mengetahui Koko Han-nya di seberang menangis, maka Mayang ikut menangis.

 

“Iya Ko, aku tunggu di sini.”

 

“Terima kasih sudah menjaga Senja, dia anak yang kuat sepertimu.”

 

“Senja sangat mirip Koko, semuanya sepertimu. Suatu hari nanti, Koko akan melihatnya secara utuh dan Koko serasa bercermin padanya.” Tangis Mayang sedikit terganggu oleh tawa, membuat Dokter Han ikut tertawa.

 

“Mayang, maukah kamu menjadi istriku?” tanya Koko Han dengan suara bergetar.

 

“Koko tahu jawabannya, apa yang akan aku katakan. Kenapa masih juga bertanya?”

 

Seandainya ada cara untuk merekam wajah kedua orang yang terpisah jarak ini, maka akan tampak wajah penuh suka cita yang menyebarkan kebahagiaan dari keduanya.

 

“Koko, titip Senja selama dia di sana. Anak itu tidak jujur mengatakan akan pergi mencarimu,” ucap Mayang penuh rasa khawatir sebagai seorang ibu.

 

“Iya, tentu saja aku akan menjaganya. Ijinkan dia bersamaku di sini beberapa hari ya, Mayang?” pinta lelaki itu penuh harap.

 

“Iya, berbahagialah bersamanya. Dia sangat merindukanmu,” ucap Mayang lembut.

 

“Terima kasih, Mayang.”

 

“Istirahatlah, Koko belum tidur, kan, semalam?” tanya wanita itu dengan penuh perhatian yang membuat hati Dokter Han terharu. Akhirnya kembali dia merasakan perhatian tulus dari wanitanya yang telah lama hilang.

 

 

 *****

 

Pagi ini Ibu dan Senja duduk sambil menikmati kopi dan mengobrol berdua di meja dapur. Sudah dua hari sejak kepulangan Senja dari Lombok dan berbagi cerita tentang perjumpaannya dengan Papa. Selalu ada binar bahagia dari matanya saat bercerita. Seminggu Senja menghabiskan waktu bersama Papa, ada acara makan bersama di sela kesibukan praktek ada acara mencari oleh-oleh daster untuk Ibu, Papa yang mengajaknya menikmati udara pantai, minum kelapa muda dan makan ikan bakar yang sangat berkesan baginya.

 

Bagaimana mereka menghabiskan waktu berdua seakan ingin membalas semua waktu yang hilang. Hingga tiba saatnya Senja kembali pulang ke Jogja terlebih dahulu. Malam itu Papa merasa sangat kehilangan. Ada pesan yang panjang pada anak gadisnya, seperti hati yang saling mengisi bagaimana Dokter Han mengisi jiwa Senja yang sangat haus perhatian papanya hingga banyak obrolan yang tak pernah dilupakan Senja.

 

Selalu ada telepon untuk Ibu dari Dokter Han, hingga wajah Ibu pun tampak selalu berseri bahagia.

 

Masih dengan obrolan pagi mereka, masih dengan baju tidur mereka semalam, serta masih dengan wajah alami bangun tidur mereka menghabiskan pagi dengan banyak cerita. Suara bel pintu mengagetkan mereka, dan dengan malas Senja beranjak dari tempat duduknya untuk pergi membuka pintu pagar yang masih terkunci.

 

“Paling Pak Ali mau ambil sampah, Nak. Ibu lupa menaruh sampah di luar semalam,” ujar Ibu dari dapur.

 

“Kunci pagar Ibu taruh di mana?” tanya Senja sambil mencari kunci di meja ruang tamu tempat kunci biasanya diletakkan.

 

“Tempat biasanya, Senja, digantung dekat hiasan dinding bunga Anggrek.”

 

Dilihatnya Senja berjalan menuju ruang tamu, hilang di balik pintu yang tertutup.

Ibu langsung mencuci peralatan dapur yang semalam belum sempat dicucinya, sambil berdendang kecil asik dengan sabun pencuci piring dan air keran yang mengalir. Hingga tidak didengarnya suara langkah Senja menghampirinya.

 

“Ibu …” panggil Senja dengan lembut.

 

Tanpa menoleh Ibu menjawab panggilan Senja.“Iya, Nak, habiskan kopimu, lalu tolong kamu petik sawi, tomat di kebun belakang. Ibu mau buat jus tomat hari ini,” sahutnya sambil masih sibuk mencuci.

 

“Buatkan aku jus tomat tanpa gula, Mayang.”

 

Suara yang tidak asing terdengar di telinganya, panggilan namanya terasa berbeda. Seketika itu Ibu menoleh mencari sumber suara. Tampak di ambang pintu dapur rumahnya, berdiri Koko Han-nya dengan senyum penuh kerinduan. Ibu tak kuasa menahan air matanya hingga melangkah pelan menghampiri Koko Han yang nyata berada di depannya.

 

“Koko Han? Ooh, Tuhan terima kasih.” 

 

Lelaki itu merentangkan tangannya yang segera disambut oleh rengkuhan Mayang pada tubuhnya. tidak ada lagi batasan bagi mereka. Waktu terasa berhenti ketika keduanya dapat merasakan kehangatan pada pelukan itu.

 

Tak pernah ada adegan yang paling indah selain pertemuan Ibu dan Papa dalam kenangan Senja. Air mata bahagia mewakili semuanya. Lalu seakan tersadar, Dokter Han menoleh mencari Senja dan memeluknya bersama Mayang.

 

“Maafkan Papa, maafkan aku, Mayang.” Hanya itu kalimat yang terucap dari Dokter Han.

 

Kebahagiaan itu berlanjut pada acara pernikahan sederhana yang hanya dilangsungkan di rumah. Dihadiri oleh Pakdhe Ardy sebagai wali Ibu. Sungguh pernikahan sederhana tetapi sangat hikmad. Doa dan restu untuk kedua mempelai mengalir bagai air. Tak pernah ada yang mempertanyakan tentang keberadaan Papa selama ini, yang keluarga tahu hanyalah kebahagiaan dan suka cita yang memang pantas untuk semuanya.

 

Kehidupan menjadi sedikit berbeda, masing-masing butuh proses adaptasi untuk membiasakan diri hidup bersama layaknya keluarga utuh. Semua berjuang untuk itu tanpa terkecuali Dokter Han. Selama berada di Jogja dia menikmati masa cuti dan bulan madu bersama Ibu, banyak waktu yang mereka habiskan berdua hingga Senja bisa meluangkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang memang dia bawa selama berlibur di rumah Ibu.

 

“Besok pagi kita semua pulang ke Magelang, kita pergi ke rumah Engkong, ya? Ada acara keluarga namanya Ceng Beng,” ujar Dokter Han memulai pembicaraan di tengah malam yang mereka bertiga habiskan duduk di sofa ruang keluarga. “Itu acara ziarah kubur. Kita harus kumpul keluarga untuk menghormati para leluhur. Meilan sudah menunggu kita di rumah.”

 

Senja dan Ibu tampak terkejut, tak pernah membayangkan akan kembali ke kampung mereka bertemu dengan keluarga besar Dokter Han. Seperti mengetahui keraguan dari istrinya, dengan tenang Dokter Han menjelaskan semuanya.

 

“Jangan takut, sebelum aku memutuskan datang menemui kalian aku sudah memberi kabar pada Meilan. Ia bisa memahami keputusanku untuk bersama kalian, ia bisa menerima semuanya dengan suka cita tetapi memohon untuk tetap menjadi selayaknya lelaki tertua dalam keluarga kami hingga apapun yang berhubungan dengan tanggung jawab Papa harus tetap terlibat. Jadi untuk acara Ceng Beng besok kita harus datang,” ujarnya. “Ini acara penting, kita harus datang bersama membersihkan makam leluhur termasuk berdoa meminta restu pada leluhur. Maaf, mungkin ini terdengar asing tapi mulailah belajar untuk mengenal tradisi keluarga Papa. Jangan lupa Papa adalah anak lelaki tertua dalam keluarga. Papa mohon pengertiannya,” ucap Dokter Han dengan kelembutan serta dibalas senyum dan anggukan  oleh Ibu dan Senja.

 

“Apa yang harus kami persiapkan, Pa?”  tanya Senja.

 

“Semua sudah dipersiapkan Kukuh Mei di rumah, kita cukup datang saja.”

 

“Yang jelas menyiapkan mental,” ujar Ibu dengan suara pelan yang disambut tawa Papa dan Senja.

 

“Sanggupkah aku kembali ke kampung? Bisakah aku melangkahkan kaki masuk ke rumah Mama? Bertemu Meilan?” ucap Ibu menyuarakan kepanikannya dengan gemetar.

 

“Kenapa harus takut? Ada aku di sampingmu. Tak ada yang bisa menghalangi kita. Aku sudah menjadi suamimu sekarang. Jadi kita hadapi tahapan ini. Senja, bantu ibumu untuk tenang,” ujar Papa sambil tersenyum dan mengedipkan mata.

 

“Papa, ajak Senja nanti ke atas bukit, ya?” pinta Senja dengan polosnya.

 

Ibu tampak kaget dengan permintaan Senja, dan menatap Dokter Han dengan tatapan kaget meminta penjelasan.

 

“Itu agenda wajib kita, Nak, selain mengunjungi makam Engkongmu. Kita bertiga akan menikmati senja di atas bukit. Kali ini pasti suasananya berbeda,” sahut Dokter Han sambil meraih Senja dalam pelukannya.

 

Jarak kota Jogja dan Magelang tidaklah jauh, sebenarnya makam Engkong dilewati saat perjalanan menuju kota Magelang sebab letak makam cina yang indah di atas bukit itu terletak  di jalan utama yang selalu dilewati bila melakukan perjalanan Jogja-Magelang.

 

Sejak kecil Senja selalu mengagumi pemakaman indah itu, walau hanya dari jauh karena makam itu tampak aneh, unik, dan indah dengan banyak patung dan ukiran warna-warni. Tak disangka ternyata leluhurnya berada di sana. Di mobil banyak pertanyaan yang diajukan tentang hari raya Ceng Beng. Papa dengan sabar menjelaskan pada Senja.

 

“Ini hari raya penting selain Imlek, biasanya untuk orang perantauan seperti Papa harus menyempatkan untuk hadir di hari raya Ceng Beng. Kita akan kumpul keluarga, membersihkan makam leluhur, mendoakan mereka, membawa alat bersih-bersih ke makam, dan tak lupa kertas perak yang gunanya nanti akan kita sebarkan di area makam sebagai tanda makam sudah dibersihkan keluarga.”

 

“Lho, jadi kotor lagi dong, kalau disebarin kertas?” ujar Senja disambut tawa Papa.

 

“Itu sebagai tanda, Nak, besok kamu lihat sendiri. Lalu di makam itu akan ada nama keluarga yang sudah

tertulis. Seperti daftar nama anggota keluarga yang akan menempati makam besar itu bila meninggal kelak. Yang membedakan hanya tintanya.  Bila orang yang sudah meninggal berwarna kuning dan yang belum meninggal berwarna merah, makanya makam orang Cina selalu tampak besar, kan? Karena itu dipersiapkan untuk seluruh keluarga,” ujar Papa dengan sangat jelas seperti dongeng bagi Senja.

 

Dokter Han melirik istrinya yang duduk tegang sejak berangkat tadi. Dengan lembut digenggamnya jemari Ibu memberi kekuatan dan ketenangan karena Papa sangat paham bagaimana perasaan Ibu untuk menemui keluarga besar Papa. Terbayang bagaimana sambutan keluarga Dokter Han nanti.

 

Mobil memasuki kota Magelang, Papa mematikan AC mobil dan menyuruh Senja membuka jendela menikmati udara sejuk kota Magelang. Hingga jalur mobil mengarah terus ke timur, menyusuri pedesaan yang lumayan jauh dari kota. Tiba saatnya mobil melaju dengan pelan memasuki gerbang desa, menyusuri jalanan yang lumayan ramai hingga mobil berbelok arah memasuki halaman rumah yang luasa berarsitektur khas Cina-Jawa. Rumah itu dicat merah terang, dan ada berbagai ornamen ukiran khas Cina.

 

Mobil diparkir di halaman samping. Dengan mengembuskan napas, Ibu berusaha menenangkan hatinya. Tak lupa Papa menepuk punggung istrinya dengan lembut.

 

“Ayo Senja, gandeng ibumu, kita sudah sampai rumah Engkong.”

 

Dari dalam pintu depan sudah terbuka. Tampak Meilan—adik Dokter Han—dan suaminya menyambut mereka dengan senyum ramah. Melihat senyum ramah itu timbul keberanian Ibu untuk melangkah menghampiri tuan rumah.

 

“Akoh, Mbak Mayang, selamat datang di rumah,” ujar Meilan sambil memeluk mereka berdua. Ada pelukan hangat hingga air mata tak mampu dibendung.

 

“Ini pasti Senja, kan? Cantik sekali kau, mirip Engkongmu,” sapa Tante Meilan sambil memeluk Senja dengan kasih.

 

Tak ada yang berubah dan tak ada yang perlu ditakuti. Mereka melebur dalam suasana kekeluargaan. Senja menjadi sangat istimewa karena sejak menikah Meilan belum memiliki anak. Hingga kehadiran Senja sangat mengobati kerinduan Meilan akan seorang anak.

 

“Senja, sini Tante kasih tahu. Ini adalah altar keluarga, itu foto Engkong dan Popohmu. Seandainya dia sempat bertemu denganmu, pasti dia sangat menyayangimu. Apapun doa yang kamu ucapkan, tolong sebut nama mereka dalam doamu, ya, Nak, karena dia sangat menyayangi papamu,” ujar Tante Meilan dengan kasih.

 

Senja melihat altar keluarga yang dimaksud. Ada harum dupa yang sangat khas, ada foto Engkong dan Popoh di sana. Ditatapnya foto itu lalu dengan suara lembut Senja berucap,“Hai Engkong, Popoh, kami datang. Senja dan Ibu datang terlambat hingga belum sempat mengenal Engkong dan Popoh. Tapi mata kita sama, rambut kita sama, kulit kita sama, ya? Cuma hidung Senja yang mancung seperti hidung Ibu. Engkong, Popoh … restui kami ya, bantu kami untuk terus saling belajar mengasihi. Bantu Ibu untuk tenang karena Ibu sangat takut menghadapi Engkong dan Popoh.” Sungguh salam kenal yang terdengar sangat lucu, membuat semua yang berdiri di belakang Senja tertawa.

 

“Tak ada yang perlu ditakutkan, Ibu dan papamu layak untuk bahagia. Mungkin ini rahasia Tuhan untuk kita semua. Papa dan ibumu dipertemukan kembali saat semua orang tua sudah pergi dengan tenang karena bila saja mereka belum pergi pasti ada hati yang terluka dengan cinta mereka. Jadi Tante selalu menunggu kalian untuk kembali pulang kapanpun juga. Seringlah pulang, Tante menunggu kalian,” ucap Meilan dengan penuh haru.

 

Tak ada keraguan untuk sebuah kasih yang tulus, bahwa semua akan menjadi indah. Keberagaman tak menjadi penghalang lagi untuk memulai kisah baru. Cinta dan kasih adalah sesuatu yang bisa dirasakan dan dimiliki semua orang tanpa memandang suku, agama, warna kulit dan segala sesuatu yang disebut berbeda. Mereka kini mengerti, cinta itulah yang menyatukan segala perbedaan.